Traffic Light

Traffic Light
MY GRANDDAUGHTER



Penthouse yang menjadi ruang kerja kepala tim investigasi mendadak sendu senyap. Biasanya, pria yang rambutnya penuh uban itu selalu menyuruh bawahannya untuk sekedar mengobrol atau bermain kartu. Namun hari ini gelagatnya menjadi aneh, ia tak membiarkan siapapun masuk ke dalam ruangannya, termasuk sekertaris nya sekalipun. Entah kenapa hari ini, tubuh pria yang masih tegap itu tampak lesu, ia duduk di atas meja kerjanya sambil menatap langit siang itu. Diperhatikannya awan yang berjalan perlahan menubruk gumpalan awan lainnya, hingga akhirnya gumpalan-gumpalan itu membaur.


"Kasihan anak ku... Stevi..." gumamnya, ia mengusap kasar wajahnya yang telah basah oleh air mata.


Tok... Tok... Tok...


Pria itu tak menggubris ketukan pintu ruang kerjanya, ia masih dalam posisi yang sama, terhanyut dalam pikirannya. Sesekali ia menahan isak tangisnya. Tiba-tiba terdengar suara kenop pintu yang terbuka. Pria itu pun mengeluarkan sesuatu dari laci meja kerjanya, ia membalikkan tubuhnya menghadap ke pintu ruang kerjanya yang sudah terbuka. Keningnya mengkerut saat tau siapa yang telah lancang membuka pintu ruangannya. Lalu dia duduk di singgasana kerjanya sambil menyembunyikan pistol yang tadi di ambilnya ke bawah meja.


"Permisi pak Handoko" ucap wanita yang membuka kenop pintu.


"Kau mengabaikan perintahku?!!" Handoko berbicara dengan suara yang berat namun tegas.


"Bukan seperti itu pak. Saya ingin menyampaikan pesan penting dari Black 001. Ini tentang Rose 003, dan ini dokumen rahasia yang baru saja Black 001 kirimkan" wanita itu berbicara dengan wajah yang tertunduk sambil menaruh amplop dokumen yang berwarna coklat itu ke atas meja.


"Apa pesannya?" mata Handoko membulat ketika kata Rose terlontar dari mulut sekertarisnya. Ia pun meletakan pistol jenis BAP itu kembali ke dalam laci dan membuka amplop yang berisi dokumen itu kemudian membacanya. Aura kemarahan terpancar di wajahnya.


"Kata Black, pak Handoko di suruh membawa dokumen* yang di minta Black ke koordinat ini" Ia memberikan catatan koordinat lokasi pertemuan dengan Darrel.


(kata dokumen yang di beri tanda* maksudnya adalah surat nikah Darrel dan Leia yang sudah di kamuflase)


"Dasar bawahan brengsek!! Berani sekali menyuruh atasan membawakan dokumen yang dimintanya. Awas saja kau Darrel si bocah tengik". geram Handoko menimbulkan urat di lehernya


"Keluarlah" Handoko mengibaskan tangan kirinya ke udara mengisyaratkan agar si sekertaris cepat pergi dari ruangannya. Sementara tangan kanan nya menepuk tengkuk yang dirasanya sudah menegang. Ia mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja dan menelpon Darrel. Namun, sambungan telpon itu tak kunjung bersahut. "Aakkhh... Bocah Edan!!" ia berteriak. Tak lama kemudian ia mengambil jas yang bertengger di stand hanger yang tak jauh dari sofa, lalu mengambil dokumen* yang diminta Darrel ke front secretary di depan ruangannya. Ia bergegas menuju koordinat yang di berikan Darrel.


RUMAH LEIA


"Oeekk... Oeekk..." tangisan Eden menggema hingga masuk ke dalam kamar Neftari


Neftari mengerjapkan matanya, ia baru saja terbangun dari tidur siang karena riuh nya suara tangis Eden. Ia mengucek matanya yang terasa gatal. Lalu bangkit dari tempat pembaringannya, ia mengambil ikat rambut di atas meja riasnya. Kemudian mengikat asal rambutnya yang sebahu itu. Ia beranjak dari kamarnya ke kamar bayi Eden. Tangan Neftari membuka kenop pintu kamar bayi Eden, di lihatnya Yugi yang sedang menggendong bayi Eden, berusaha menenangkannya.


"Mungkin dia lapar. Berikan dia padaku! Apa kamu bisa membuatkan susu untuknya?" Neftari menghampiri Yugi dan menjulurkan kedua tangannya agar bisa menggendong Eden.


"Eh... Nyonya?" mata sipitnya membesar, tubuh Yugi sedikit bergetar, untunglah ia bisa mengendalikan tubuhnya dalam keadaan normal. "Namanya Eden" dengan cepat Yugi memberikan Eden kedalam gendongan Neftari. "Saya permisi membuatkan susu untuk Eden dulu nyonya" Yugi membungkukkan tubuhnya lalu pergi ke dapur untuk membuatkan Eden susu. Ia tak mau berlama-lama di dekat ibu dari majikannya itu. Entah kenapa, tubuhnya selalu bergetar jika bertemu dengan tante-tante.


Eh... Kemana anak muda tadi? Cepat sekali perginya. Padahal aku belum selesai bertanya


. Neftari


Neftari kembali menatap Eden dengan gemasnya. "Ibumu itu keterlaluan! Masa dia tidak memberikan aku kabar baik tentang dirimu sih? Pulang pulang sudah jadi eyang ?" ia menepuk pelan hidung bayi manis itu dengan telunjuknya. Eden merespon Neftari dengan tawa lucu yang menampakkan gusi tanpa gigi itu.


Neftari terus mencium bayi mungil itu saking gemasnya. Tanpa ia sadari dua pasang kaki sedang melangkah ke dekatnya.


To be continue...