
Saat fajar mulai menyingsing, wanita yang masih bergelung di bawah selimut tebal, plus di dalam dekapan pria tampan bertubuh kekar itu, mulai mengerjap, membuka mata.
Mengawali harinya dengan meregangkan otot-otot sekujur tubuhnya yang kaku akibat olahraga erotis semalam. Rintihan kecil terdengar saat ia meliukkan pinggang yang mungkin encok karena pergulatannya dengan pria buas yang bernama Darrel semalam.
Kedua sudut bibirnya terangkat, sampai tulang pipinya menyembul berhiaskan rona kemerahan di kedua sisinya. Tangan kurusnya terjulur menyibakkan rambut hitam yang semakin panjang seiring berjalannya pernikahan mereka.
Memutar memory kembali, pada saat memangkas rambut panjang suaminya dengan kedua tangannya sendiri, sesaat sebelum pernikahannya. Leia terkikik geli dikala mengingat rupa buluk suaminya di pertemuan pertama mereka, sungguh berbanding terbalik dengan sekarang. Di luar dugaan, takdir Tuhan mengikatnya dengan lelaki bule itu, bersama bayi yang ia beri nama Eden sebagai sebabnya.
Sudah sembilan bulan ia mengarungi pernikahan dengan pria bernetra biru itu. Menjadi terbiasa dan saling menyamankan diri. Serta menikmati timbal-balik hubungan yang saling menguntungkan. Saling memaafkan dan saling membuka diri. Sepenuhnya sudah Leia lakukan demi kelangsungan rumah tangganya.
Boleh saja pernikahan mereka dilakukan secara dadakan, tapi jangan sampai mereka berakhir dengan perceraian secara dadakan pula. Leia tak ingin hal itu terjadi. Lagipula suaminya sudah berkata di awal pernikahan, tidak ada kata bercerai dalam hidupnya. Leia boleh sedikit tenang, kan? Pikirannya bisa tidak menghawatirkan tentang hal semacam itu, bukan?
Wanita itu menggelengkan kepala guna menetralkan pikiran negatifnya. Matanya kembali menyoroti wajah tampan percampuran korea dan eropa milik suaminya, senyum itu kembali terbit bersamaan dengan sinar berwarna oranye yang menelusupkan kehangatan dari cela ventilasi dan jendela kamarnya.
Bibir nan lembab itu membelai permukaan bibir merah jambu milik Darrel. Sang empu bibir merah jambu itu terusik akan kelembaban yang dihantarkan bibir Leia, pergerakan-pergerakan sensual bibir Leia seolah mengaktifkan radar keperkasaan milik Darrel. Sehingga bukan kesadaran si pria bule itu yang lebih dulu bangun, melainkan batangan silinder bertulang lunak miliknya lah yang kian mengacung dengan gagahnya.
Leia terkekeh saat menyadari ada yang menjulang dari bawah selimut yang membalut tubuh Darrel. Jiwa binalnya semakin liar, dan semakin menjahili suami bulenya itu. Leia semakin gencar menyentuh bagian-bagian sensitif yang selalu berhasil membuat suaminya mengerang.
Pupil dengan netra biru itu melebar lalu mengecil menyesuaikan intensitas cahaya yang masuk ke dalam retina matanya. Sedikit terkejut saat mendapati wajah istrinya hanya berjarak satu inci darinya. Barulah ia tersadar, kelembaban yang mengecapnya dan sentuhan sensual yang menggerayanginya itu ternyata ulah istri cantiknya.
Darrel membuka mulutnya, membiarkan lidah sang istri menelusup kedalam rongga basah itu. Menari-nari dengan indah, membelit dan meraba rongga mulutnya. Matanya terpejam sembari menikmati permainan lidah istri, yang telah memporak-porandakan tatanan hidupnya.
"Morning..." suara serak yang menggetarkan hati Darrel itu, menyadarkannya bahwa pertautan rongga mulut penuh gelora itu telah usai. Darrel membuka matanya yang di iringi deru nafas yang memburu.
Sungguh dahsyat kenikmatan yang istrinya berikan itu, membuat Darrel malu. Harusnya, dia yang lebih expert memuaskan sang istri, bukan?
Darrel menarik selimut menutupi wajahnya yang merona. Apalagi setelah ia menyadari dampak atas perbuatan Leia yang membuat dedek kandungnya menjulang ke atas.
"Ugh... 젠장 (Jen-jang/Sial)...!!!" umpat Darrel seraya mengeratkan bibir bawah dan gigi bagian atasnya.
"Apa itu? Apa itu balasan dari ucapan selamat pagi?" tanya Leia sembari berusaha menarik selimut yang menutupi wajah tampan suaminya. Sayangnya, upaya Leia tak mampu untuk menarik selimut yang ditahan Darrel dengan sekuat tenaga.
Di dalam selimut, Darrel kembali mengumpat lantaran kelepasan memaki di depan sang istri. Sungguh tidak sopan!
_________________________________
Suasana pagi Leia secerah mentari yang menyinari bumi dengan kelembutannya. Leia bersenandung ringan seraya membuka kunci pintu studio tempat ia berkerja. Dengan nada ceria wanita itu mendorong pintu yang menghasilkan suara gemerincing saat dibuka.
Langkahnya terhenti saat sebuah tangan besar menahan tangannya yang masih memegang ganggang pintu.
Menyeruakkan kerinduan akan pria yang selama ini tertanam di hatinya. Walau sudah layu, namun akarnya tetap tercacak disana. Menyisakan gelora yang telah padam sejak lama.
Jantung Leia berdebar, bukan karena rasa lama yang pernah ada. Namun, karena rasa was-was akan kebenaran dari prediksi singkatnya.
Netra abu itu kembali menyorot lengan padat walau tak sekekar suaminya, hingga ke pangkal leher pemilik lengan itu.
Leia menegak salivanya, dari sini keyakinannya meningkat seratus persen akan prediksinya.
Ya, lelaki itu...
Lelaki yang pernah mewarnai masa mudanya.
Lelaki yang kehadirannya saja sudah menebar kebahagian si masa kuliahnya.
Lelaki berlesung pipi, yang wajahnya selalu manis saat tersenyum.
Lelaki yang pernah merengguk kenikmatan duniawi bersamanya, walau tak sampai mengoyak kegadisannya.
Lelaki yang menjadi konflik di antara sang ayah, yang menentang jalinan kasih mereka...
Lelaki yang meninggalkannya tanpa kabar, mencabuti setiap kenangan indah yang ditoreh, meremukkan hatinya yang semakin merasa ditinggalkan selepas kepergian orang tuanya.
Lelaki yang berhasil merubah sifat hangatnya menjadi dingin dan terkesan tak perduli.
Kehadiran lelaki itu bukannya menerbitkan rasa rindu di hatinya, melainkan meluluh-lantakkan paginya yang ceria.
"Mas Dewa..." mata Leia membeliak.
To be continue...
Ini bonus... 😊
Happy reading
and
Calangeooo... ❤️❤️❤️