Traffic Light

Traffic Light
SEPENGGAL KISAH MASA LALU



Waktu kian menjauh, Baron tetap menjala seluruh negeri agar bisa menemukan sang istri. Namun, sampai hari dimana Ayu melahirkan pun Baron masih tak dipertemukan dengan istrinya. Ia dipersulit oleh pihak keluarga Ayu yang ningrat. Satu keluarga turunan darah biru itu sangat kompak menyembunyikan Ayu darinya.


Orang berpengaruh seperti Baron pun sampai tak sanggup menemukan istrinya di seluruh penjuru negeri. Bahkan Tresno, saudari kembar istri Baron, yang jadi biang keladi permasalahan rumah tangganya pun hilang tanpa terendus jejaknya.


Saat bulan kedua pencariannya, Baron mendapatkan kabar yang membahagiakan sekaligus mengharukan untuknya. Kabar sang istri yang sudah melahirkan pun ia dapati lewat surat kaleng yang sengaja dilemparkan ke pekarangan rumahnya.


Baru kali itu Baron menitikkan air matanya lagi setelah sekian lama sepeninggal orang tuannya. Memang benar Ayu adalah kelemahannya, kehilangan Ayu sama dengan kehilangan jiwanya. Ruang hati yang sudah didedikasikan untuk Ayu, kini begitu hampa tak bernyawa.


Baron menangis sejadi-jadinya, memeluk surat kaleng yang ia temukan tergeletak di halaman rumahnya. Berulang kali ia merutuki kebodohannya, masuk ke dalam perangkap wanita gila, yang sialnya adalah kakak kembar Ayu.


Berbagai cara telah Baron lakukan untuk menemukan belahan jiwanya yang bersembunyi entah dimana. Selama itu pula, cerutu dan vodka menjadi kawan yang setia menemaninya.


Kumis dan jenggot yang tak tercukur, semerbak alkohol yang menyengat di dalam rumahnya, pakaian yang amburadul tak serapi dulu, wajah lesu dan mata yang kian memerah. Begitulah kondisi Baron selepas menerima surat kaleng yang menghantarkan kabar terakhir tentang sang istri.


Apa buah hati ku yang lahir perempuan? Sesuai harapan ku?


Ataukah laki-laki? Ayu sangat ingin memiliki anak laki-laki yang mirip dengan ku.


Apakah Ayu merindukan ku?


Dalam benaknya, Baron selalu bertanya-tanya. Tentang segala kekhawatiran, keraguan, pengharapan, dan tekadnya.


Saat ia telah sampai di titik paling lemah di hidupnya. Ketika banyak hal yang ada dalam benaknya melebur dan luruh dalam keputusasaan.


Wanita yang selama ini di carinya datang, menggendong bayi berambut tebal dengan pita di kepalanya. Pengaruh alkohol, seakan tak berdampak pada penglihatannya. Ia begitu yakin dengan apa yang ia lihat saat ini.


Walupun Baron berjalan dengan sedikit sempoyongan, ia mendekati wanita yang telah mengisi penuh hatinya itu. Sumringahnya, merontokkan tampilan kusut dan lelah di wajahnya. Senyum dari matanya, berbanding terbalik dengan telaga bening yang menggenangi bola matanya. Kristal bening itu seakan siap untuk diluncurkan dari kedua matanya.


Baron merengkuh kedua tubuh yang menjadi bagian penting dalam hidupnya itu. Pria besar itu kembali tersedu saat merasakan hangatnya kedua makhluk dalam dekapannya itu. Menjatuhkan kristal-kristal bening yang luruh dari matanya di bahu sang istri.


Ayu merasakan gemuruh di dadanya. Jantungnya berdebar kencang, namun Ayu harus bersikap dingin dan tenang di depan Baron. Ayu ingin sekali memberi ganjaran pada suami yang sudah bersetubuh dengan saudarinya itu. Biarpun Ayu tau Baron tak salah, tapi tetap saja suaminya menikmati percintaan panas itu.


Baron harus merasakan sesak, sama sepertinya saat itu. Setelah melihat kondisi terburuk suaminya saat ini, Ayu sedikit puas. Dendamnya sedikit terbayarkan ketika melihat penampilan Baron yang kacau balau. Walaupun seperti itu, Ayu masih merasa sakit hati.


Setelah dua bulan berlalu setelah perzinahan itu, Ia harus menerima kenyataan yang berimbas dari hubungan terlarang itu. Kakaknya yang gila itu tengah mengandung benih dari suaminya. Tak dipungkiri, saat mendengar kabar itu jantungnya serasa tercabik-cabik.


Baron melerai pelukan itu, ia merasa kehadirannya tak disambut oleh Ayu. Tak ada kata yang keluar dari mulut Baron, matanya mengiba saat merasakan sikap Ayu yang dingin dan mengacuhkannya.


Lalu netra hijau itu turun ke bawah, memperhatikan bayi cantik yang mirip dengan Ayu. Baron tersenyum walau tatapannya sendu. Ia berterimakasih, setidaknya Ayu dan buah hatinya kembali. Ia tak masalah jika Ayu tak lagi mencintainya. Biar ia saja yang mencintai istri dan anaknya itu.


Rumah tangga Ayu dan Baron pun kembali normal sekian tahun berlalu. Ayu perlahan mengubur lukanya dan menggantinya dengan kebahagiaan yang Baron curahkan hanya untuknya dan putrinya.


Sampai suatu ketika, Ayu bertemu Tresno yang tubuhnya begitu ringkih. Kembarannya itu masih mengenakan pakaian rumah sakit seraya menggendong batita yang Ayu prediksi usianya hanya berbeda bulan dengan Neftari, putrinya.


Tresno memohon-mohon pada Ayu untuk menggantikan dirinya mengurus bayi laki-laki yang perawakannya mirip seperti Baron. Ayu berdecak kesal, perasaan dendam terhadap sang kakak yang telah berhasil ia kubur, kini kembali mencuat.


Seringai licik tersungging di salah satu sudut bibirnya, Ayu menerima bayi yang tampaknya baru pandai berjalan itu. Setelah itu, Tresno bergegas pergi, seolah ada yang menargetkannya. Ayu hanya melihat punggung kakak kembaran yang telah merenggut kebahagiannya itu menjauh darinya.


Saat wanita dengan pakaian pasien itu hendak menyebrang, sebuah van putih bertuliskan Rumah Sakit Jiwa berhenti tepat di depan Tresno. Beberapa pria berpakaian serba putih tampak menarik paksa Tresno yang berteriak-teriak dan meracau tidak jelas.


Sudut hati Ayu merasakan nyeri yang mampu menyesakkan dadanya. Biar bagaimanapun ikatan batin dan darah tidak bisa dipungkiri. Ada sedikit keraguan saat merencanakan sesuatu yang akan menghancurkan kakaknya itu. Lagipula sekarang kakaknya sudah hancur, mau apa lagi?


Hatinya pun menggoyah...


Tapi ia juga tak sudi merawat anak hasil hubungan terlarang dari suaminya.


Pada akhirnya, Ayu menitipkan anak yang ia beri nama Satrio itu ke panti asuhan yang letaknya di luar kota.


_________________________________


Karena tak sanggup menjawab pertanyaan putrinya, Baron berlalu meninggalkan kedua wanita yang masih menjadi penguasa hatinya. Baron masuk ke paviliun yang sempat ditempati Marriane dulu. Pria itu menyugar rambutnya yang beruban. Tak ayal helaan kasar nafasnya terhembus berulang kali menandakan kegusarannya.


Ayu mengikuti suaminya masuk ke dalam paviliun. Wanita renta itu masih terisak, tangan keriputnya sibuk membenarkan selendang yang melorot dari bahunya. Selain untuk menutup bahu yang terekspose, selendang itu juga jadi media untuk menghapus air mata di wajahnya.


Lagi-lagi Baron mendesah berat, dari dulu sampai sekarang, istrinya itu memang menjadi titik kelemahannya. Pria yang sudah tak muda itu menepuk sebelah kasur yang ia duduki. Matanya berisyarat agar Ayu lekas menuruti perintahnya untuk duduk di sampingnya.


"Sekarang jelaskan..." Baron menatap lekat mata istrinya yang memerah. "Ah, sebentar..." sesaat ia melupakan sesuatu. Ia beranjak dari duduknya dan keluar paviliun. Diperhatikannya sekeliling paviliun agar tak ada yang mendengar pembicaraannya dengan Ayu. Setelah memastikan keadaan sekitar kondusif, ia pun mengunci pintu dan menutup jendela, berusaha meredam percakapan sensitif yang akan ia bahas bersama sang istri.


To be continue...