
Satrio masuk ke dalam officetel yang di sewanya untuk beberapa bulan ke depan. Pekerjaannya kali ini mengharuskan pria yang umurnya menginjak hampir setengah abad itu harus menetap di negara ini sementara waktu.
Ia melemparkan briefcase ke atas meja satu-satunya di dalam officetel itu. Kemudian ia meletakkan jam tangan dan kacamatanya di atas minibar yang menyatu dengan ruang tamu.
Pria itu menggulung lengan kemeja biru lautnya sampai siku. Memperlihatkan urat-urat kehijauan yang menghiasi lengannya yang tampak sedikit berotot.
Ia membuka sebuah lemari yang letaknya di antara meja dan minibar, tempatnya meletakkan barang-barangnya tadi.
Tampak jejeran serangga yang disusun rapi. Serangga itu terlihat asli, namun anehnya serangga-serangga itu tak bergerak sama sekali.
"Hmm..." Satrio mengusap dagunya. Matanya menilik satu persatu spesies serangga yang beragam, seperti tampilan etalase di toko mainan.
"Tunggulah beberapa hari lagi anak-anak, papa akan membawakan teman baru untuk kalian" gumamnya sendiri.
Ia mengambil bahan dan alat yang ia butuhkan di laci paling bawah lemari itu. Setelah mendapatkannya, pria itu menutup kembali lemari.
Satrio menghempaskan bokongnya pada sofa di dekat meja. Meraih briefcase yang tergeletak di atas meja itu, lalu mengambil sesuatu di dalamnya.
Ia mengeluarkan toples kecil yang berisi kupu-kupu yang masih bergerak mengepak-ngepakkan sayap indahnya.
Dengan hati-hati ia mengambil kupu-kupu itu dibantu dengan pinset. Setelah itu, ia menyuntik mati serangga itu dengan bahan kimia. Satrio sangat menikmati saat-saat makhluk itu secara perlahan kehilangan nyawanya. Sayap cantik dengan kombinasi warna ungu dan biru, dengan corak bagai lukisan itu perlahan berhenti mengepak.
Ia mulai melakukan tahap awal spesimen untuk mengawetkan makhluk indah itu.
_________________________________
Setelah mengantar Neftari ke Royal Resto, Luke menunggunya di meja lain tempat Neftari membicarakan bisnis dengan kliennya.
Awalnya Neftari menolak, saat Luke ingin menungguinya, sekalian mengantar pulang katanya. Neftari menjelaskan, mungkin saja meeting kali ini akan berjalan alot. Tapi bule Irlandia itu ngotot, karena ada sesuatu yang ingin ia sampaikan juga.
Neftari berhenti membantah, dan membiarkan teman kecilnya itu menikmati kesendirian di meja sudut, yang masih dapat dijangkau pandangannya.
Proyek kali ini berkolaborasi dengan museum yang mengoleksi dan memajang ribuan spesies hewan yang di awetkan. Awalnya Neftari merinding, kolaborasi kali ini di luar nalarnya, agak seram genrenya. Entah bagaimana Katie bisa mendapatkan klien seperti ini. Rasanya tidak pas, perusahaan perhiasan berkolaborasi dengan museum itu.
Mungkin ini tren baru yang akan menarik minat konsumen untuk membeli produk kolab-nya. Begitulah pikir Neftari, ia pun melaksanakan perintah direktur utama perusahaannya itu tanpa banyak tanya.
Neftari sedang membolak-balikkan katalog dari pihak museum untuk diteliti. Ia masih belum mendapatkan inspirasi untuk karyanya dalam kolaborasi ini. Banyak aspek yang harus ia pertimbangkan demi mendongkrak kepopuleran produknya nanti. Awalnya ia sangat percaya diri, tapi setelah melihat katalog itu, Neftari jadi bergidik ngeri.
Membaca bagaimana proses taxidermy dilakukan, membuat Neftari ketar-ketir sendiri. Yang jelas, ia tak akan sanggup jika Amy binatang kesayangan putrinya melakukan proses taxidermy itu. Yah, walaupun itu tak akan mungkin terjadi sih. Leia tak mungkin melakukan taxidermy pada Amy demi mengabadikan jasad peliharaan tercintanya itu.
Ahh... Rasanya Neftari ingin angkat tangan dengan proyek kolaborasi ini. Ia masih menimbang, apakah ia sanggup mengemban tugas sebagai kepala tim dari kolaborasi ini? Sekaligus sebagai desainer utama yang akan membuat kolaborasi ini sukses. Tampaknya Neftari harus merundingkan kegamangan ini pada Katie nanti.
Luke memperhatikan Neftari dari sudut restoran bergaya klasik khas Eropa itu. Di atas mejanya terdapat bekas hidangan yang telah tandas dinikmati. Ia kembali memanggil waiters untuk memesan segelas latte macchiato, agar glukosa di dalam darahnya mendongkrak. Mata kelabunya menangkap raut tak nyaman di wajah Neftari. Buru-buru ia mengirimkan pesan pada wanita yang telah mengandung benihnya itu.
PESAN
Luke:
Kamu kenapa?
Neftari membaca pesan itu setelah mendengar notifikasi dari ponselnya. Ia memandang ke arah Luke dan mengerutkan dahinya.
Luke kembali mengirimkan pesan, ia mengerti raut wajah bingung yang Neftari tunjukkan.
Luke:
Luke kembali melihat Neftari yang masih mematung memandang ke arahnya, yang kemudian teralihkan karena suara dering penghantar pesannya. Wanita itupun membaca pesan yang dikirim Luke, lalu membalasnya.
Neftari:
Ah, hanya sedikit persimpangan pendapat saja. Tak masalah, kau bisa melanjutkan aktivitasmu. Atau pulang saja, tak usah menungguku.
Luke:
Tidak! Aku akan menunggumu.
Neftari menghela nafasnya, sudahlah. Percuma pikirnya, teman bulenya itu sangat keras kepala.
Neftari:
Ya sudah, jadi anak baik! Jangan nakal, diam saja di kursi mu.
Luke:
Iyaa bawel...
Sudut bibir Neftari terangkat ke atas, ia merasa kembali muda setelah bertemu lagi dengan Luke. Ia merasa konyol saat menyadari saling bertukar pesan di jarak yang hanya di batasi lima buah table itu. Seperti remaja saja.
Ia pun melanjutkan meeting yang sempat tertunda karena perhatiannya teralihkan oleh pria bule berkebangsaan Irlandia itu,
_________________________________
Kini, Neftari dan Luke sedang berada di dalam mobil Luke, menuju ke rumah mereka yang bersebelahan. Sesekali Luke mencuri padang kearah wanita yang duduk tepat di sebelah kemudinya.
Neftari tampak sedang sibuk bersama tabletnya. Jangan ditanya kenapa, tentu saja karena pekerjaannya. Luke menghela nafas keras, membuat wanita satu anak itu menoleh ke arahnya.
"Kenapa?" Neftari memberhentikan kesibukan bersama tabletnya dan menoleh ke arah pria itu.
Haruskah aku mendesah dulu baru mendapat perhatiannya? Luke
Luke memejamkan matanya sekilas, lampu lalu lintas memaksanya berhenti untuk mempersilahkan pengguna jalan lain menyebrang di depannya. Ia mendelik ke arah Neftari, "Kamu lupa? Tadi aku bilang ada yang mau aku sampaikan ke kamu"
"Kasih tau aja, aku dengerin kok" Neftari kembali melanjutkan kesibukannya bersama benda yang disebut tablet itu. Sudah seperti sepasang kekasih saja, tak bisa dipisahkan.
"Sudahlah... Nanti saja!" rajuk Luke. "Kau juga tak akan menyimak!" ucapnya sedikit ketus.
Lagi-lagi Neftari menghentikan kesibukan dengan tabletnya. Kini giliran Neftari yang mendelik tajam, "Auuhh bocah SD!! Dikit-dikit ngambek, dikit-dikit ngambek!! Apaan coba? Tinggal ngomong aja sih, apa susahnya?" Neftari memukuli kepala Luke secara brutal.
Pria itu mengaduh, hingga suara klakson mobil di belakang menghentikan jeplakan maut Neftari.
"Udah... Udah... Entar kita di amuk masa lagi" Luke menahan tangan wanita itu agar berhenti memukulinya. Ia pun melajukan lagi sedan Bentley keluaran Inggris itu karena lampu lalu lintas menyala hijau.
Luke memacu kendaraannya ke arah yang berlawanan dengan rumah. Neftari belum sadar karena masih berkutat dengan pekerjaannya. Omongannya yang bilang akan mendengarkan Luke tadi ternyata hanya isapan jempol belaka. Buktinya sampai sekarang ia masih tak sadar sedang di culik oleh teman ciliknya itu.
To be continue...