Traffic Light

Traffic Light
HYDE & JEKYLL



Leia terhuyung saat melihat kelakuan Nick, seolah sedang mengolok-olok dirinya. Kepalanya berdenyut kencang, sampai akan membuatnya hilang kesadaran. Ia terduduk di ambang pintu seraya memegangi kepalanya.


Tiba-tiba Leia menunduk, membuat rambut lurus indahnya tergerai menutupi wajah. Kemudian, Leia membangkitkan tubuhnya bertumpu pada pintu yang akan terlepas itu. Terdengar suara tawa Leia yang tertahan saat ia menyingkap rambut blonde yang menghalangi wajahnya ke belakang.


Perlahan, Leia berjalan menghampiri Nick yang sedang tertawa seraya mempraktikan gaya saat menunggangi kuda di tepi ranjang. Tangan Leia mencengkram kedua bahu lebar milik Nick, yang mana membuat pria itu terdiam seketika. Leia menancapkan kuku-kuku tajamnya di kulit kecoklatan milik Nick. Pria itu meringis merasakan cengkraman dari kuku Leia.


Leia mendekatkan wajahnya ke wajah Nick. Nick yang gugup dengan tingkah calon adik iparnya itu, sempat salah tingkah dan berpikiran bahwa Leia akan menciumnya, ia pun memejamkan mata.


Tanpa diduga, ternyata bibir Leia sudah berada di dekat telinganya. "Enyahlah..." bisik Leia di telinga Nick yang membuat bulu kuduk pria bertubuh besar itu tiba-tiba merinding. Hawa dingin yang Leia keluarkan membuat tubuh Nick bergeming, pikirannya serasa dihipnotis, kosong melompong seakan memory di otaknya ter-reset.


Sungguh, Leia sangat tak perduli ataupun tergiur dengan tubuh atletis nan eksotis milik Nick, yang mana membuat wanita pasti meleleh saat melihatnya. Matanya hanya kesal melihat pria brengsek semodel Nick ini.


Kelakuan bar-bar Leia mulai muncul saat kembali melihat bercak darah di atas seprei yang masih terlihat segar itu. Ia seperti membayangkan kejadian nahas yang menimpa kakak iparnya. Nick juga masih terdiam tak mengacuhkan perintah Leia.


Dengan santainya Leia berjalan keluar paviliun. Perlahan Ia mengambil tongkat baseball yang berada di dalam gudang, yang letaknya tak sampai empat meter dari paviliun. Menimang-nimang benda panjang berbahan besi itu. Setelah yakin memutuskan senjata pilihannya, ia pun berlari dengan kencang menuju paviliun, tak sesantai saat ia keluar tadi. Semantara Nick, pria itu masih terdiam tanpa ekspresi di tepi ranjang, seakan tenggelam di alam bawah sadarnya.


"AKU BILANG ENYAHLAH" teriak Leia di ambang pintu paviliun. Ia menyeret tongkat baseball yang terlihat usang itu. Kemudian Leia mengangkat tongkat baseball itu dengan wajah datarnya. Dengan santainya Leia memukuli tubuh Nick dengan brutal. Nick sampai tak mampu mengelak atau melawan. Ia hanya meringkuk menutupi wajah tampannya.


Untung saja Leia tak melihat kondisi Marriane yang memprihatinkan tadi pagi. Jika ia melihatnya, mungkin Leia sudah menggantung jasad pria bule itu di atas pohon ek di halaman belakang rumahnya.


Pikiran Leia sekarang memang sedang di luar akal sehatnya. Tanpa sadar tubuhnya bergerak sendiri tak sesuai dengan keinginan Leia. Bagaikan ada setan yang mengatur setiap gesturnya. Sampai akhirnya Darrel datang dan menghentikan aksi brutal Leia.


______________________________


Sebelumnya, Yugi memaksa Darrel untuk menyusul Leia saat mereka berpelukan di ambang pintu kamar Leia. Samar-samar Yugi mendengar teriakan Leia tadi, dan ia menjadi khawatir. Ah, bukan khawatir dengan nonanya, tapi dengan pria bule bermata hijau yang menjadi tamu di paviliun itu.


Yugi sudah pernah melihat kebar-baran Leia, saat menolongnya keluar dari hostes bar dulu. Leia begitu gahar dan menyeramkan saat itu, tapi itulah hal yang membuat Yugi menjadi takluk terhadap nonanya. Yugi merasa aman dan nyaman saat bersama Leia, walaupun Leia seorang wanita. Ia juga merasa memiliki penyakit yang sama dengan Leia, mungkin selamanya penyakit itu tak akan bisa di sembuhkan pikirnya. Oleh karena itu Yugi memutuskan untuk mengabdikan diri untuk Leia, karena bisa saling menjaga.


Akhirnya setelah melakukan kesepakatan dengan Yugi, Darrel pun menyusul Leia ke paviliun. Alangkah terkejutnya saat Darrel tiba di sana. Ia bahkan tak memperhatikan pintu yang mengarit karena engselnya lepas atau kondisi ruangan yang kacau balau bekas insiden Marriane. Fokusnya hanya pada istrinya yang sedang memukuli punggung Nick, pria dengan kulit kecoklatan itu sudah meringkuk melindungi kepalanya agar tak terkena pukulan tongkat baseball yang Leia pegang.


Darrel langsung memeluk tubuh sang istri dan menariknya menjauh dari Nick. Darrel merebut tongkat baseball dari genggaman Leia lalu melemparkannya jauh dari pandangan Leia. Nafas Leia terengah-engah, dadanya naik-turun tak beraturan, bola matanya memerah seakan api amarah sedang membakarnya. Wanita cantik itu memang sudah kerasukan setan! Ia memberontak di dalam pelukan suaminya. Sampai akhirnya Leia berhenti berontak karena tak sadarkan diri.


______________________________


Neftari berteriak memanggil penghuni rumah. Sayangnya yang menyahut bukanlah manusia, melainkan Amy, kucing peliharaan Leia. Ada perasaan tidak enak yang di rasakan Neftari, ia merasa sesuatu yang buruk telah terjadi. Tapi tak ada seorangpun di rumah yang ia bisa tanyai.


Katie pun merasakan hal yang sama. Entah mengapa, ia merasa bimbang dengan putrinya sejak kemarin. Wanita bermata almond itu menghampiri paviliun yang di tempati putrinya, ia bahkan lupa untuk meletakkan kopernya ke dalam kamar Neftari.


Setelah Mr. Smith kembali ke Brussel untuk menghandle masalah di perusahaannya. Katie memutuskan untuk tetap tinggal untuk menemani putrinya yang masih urung untuk kembali. Oleh karena itu sekarang ia pindah dari kamar Eden yang di tempati sebelumnya ke kamar Neftari, ia enggan untuk tidur sendiri.


Katie mengetok pintu paviliun yang terlihat baik-baik saja. Namun, tak ada jawaban dari dalam sana. Ia pun meraih ganggang pintu dan mencoba membukanya, siapa tau pintu itu tak terkunci.


Ceklek... Pintu itupun terbuka.


"Ann... Nick..." panggil Katie.


Di dalam paviliun terlihat rapi tak seperti sebelumnya. Katie pun terduduk di kasur yang beberapa hari ini di pakai putri beserta calon menantunya. "Kemana sih kalian?" gumamnya seraya mengotak-atik ponselnya dengan kaki yang bergoyang. Katie menelpon nomor internasional yang di gunakan putrinya, tapi nomor telponnya di luar jangkauan, begitupun nomor calon menantunya itu.


Katie pun beranjak dari atas kasur, sesaat kemudian ia menghentikan langkahnya saat kakinya tanpa sengaja menginjak benda pipih yang tak asing baginya. Benda itu keluar dari kolong kasur yang tadinya ia duduki karena tanpa sengaja kakinya menarik keluar benda itu dari sana, saat ia menggoyang-goyangkan kakinya ketika menelpon tadi.


Katie menutup mulutnya, tak percaya dengan apa yang di lihatnya saat ini. Perasaannya campur aduk, hingga tak sanggup ia jelaskan sendiri. Ia pun memasukkan benda pipih itu ke dalam clutch nya, kemudian keluar dari paviliun itu dengan perasaan bimbang.


Katie meletakkan kopernya di dalam kamar Neftari secara asal, segera ia menghampiri Neftari yang sedang duduk di ruang keluarga. Neftari terlihat sedang menghubungi seseorang lewat ponselnya, tapi sepertinya tak mendapatkan jawaban dari panggilan telponnya. "Putrimu tak mengangkat telponnya?" tanya Katie, seolah tau siapa yang sedang Neftari Hubungi.


Neftari mengangguk, mengiyakan pertanyaan Katie. Katie menghela nafasnya sampai terdengar hembusannya oleh Neftari, bahunya menurun pertanda asa yang sedang menyurut. Guratan kekhawatiran tampak jelas dari kedua ibu itu.


Sesaat kemudian Handoko datang...


To be continue...