Traffic Light

Traffic Light
RING



Darrel membuka kotak perhiasan bergaya rustic. Sepasang cincin titanium bermata berlian tertata cantik di dalam kotak paduan kayu dan akrilik, yang di isi taburan foam warna warni dan bunga-bunga kecil di dalamnya.


Seulas senyum terpatri di bibir tipisnya. Setelah perdebatan dengan kakek Kim terjadi, otak Darrel terus terpikiran dengan perkataan yang ia lontarkan saat itu.


'Aku mencintai istriku, sungguh' ucapnya penuh kesungguhan.


Benarkah seperti itu?


Kenapa setelah mengucapkannya, dada Darrel menjadi begitu lega. Desiran hangat mengalir deras ke relung jiwanya. Apa karena ia mulai bisa merasakan emosi lagi?


Berkat Leia?


Darrel menutup kembali kotak yang terukir nama kedua sejoli itu di atasnya. Senyum di bibir Darrel masih bersarang, tak memudar. Ia duduk di kursi teras belakang rumah, tempat favoritnya bercengkrama dengan Leia.


Darrel menyandarkan punggung bidangnya di kursi taman. Kepalanya terkulai di kepala sandaran kursi taman, lantaran mata indahnya sibuk mengamati langit malam itu.


"Apa dia bakal telat lagi pulangnya?" Darrel menghela kasar nafasnya. "Padahal bawa baby Eden, pulangnya tetep aja telat" omelnya.


Walaupun mengomel, Darrel tetap setia menanti kepulangan sang istri dan putri kecilnya.


_________________________________


Ba'da isya berkumandang saat Leia melewati mesjid raya di perjalanan pulangnya. Terlalu terpaku pada cincin couple mahakaryanya, membuat Leia tak sadar bulan sudah meninggi.


Leia memacu vespanya dengan kecepatan sedang. Sesekali ia mengusap punggung Eden dengan tangan kirinya. Leia khawatir putrinya akan kedinginan karena angin malam yang menerpa keduanya. Nyatanya sang putri tampak tenang di dalam hip seat yang terbalut selimut.


Kasian kamu nak, mami sampai lupa waktu gini, jadi kemalaman deh pulangnya. Mana ponselku lowbat lagi, oppa pasti nungguin deh di rumah. Leia


Tak sampai lima belas menit berselang, Leia sudah sampai di kediamannya. Yugi sudah standby menunggu di halaman depan rumah, begitu tau nonanya telah tiba.


Leia memarkirkan vespanya secara asal dan melemparkan helm ke asisten serba bisanya itu. Yugi sudah dalam posisi sedia untuk menangkap pelindung kepala milik nonanya.


"Ah... Darrel ada, kan?" tanya Leia. Ia berbalik menghadap Yugi lagi.


"Ada nona, sepertinya tuan sedang menunggu nona" jawab Yugi seraya menaikan standar vespa.


"Cepat parkirkan skuter ku, lalu ke kamar Eden, bantu aku menjaganya sebentar" dilihatnya Eden yang pulas tertidur. Leia mengecup ubun-ubun yang rambutnya kian menebal itu.


"Baik" Yugi segera melaksanakan titah nonanya. Memasukkan kendaraan kesayangan nonanya ke dalam garasi.


Leia berlalu ke kamar Eden, ia mengangkat Eden dari dalam hip seat dan menidurkannya di dalam box bayi. Ia melepas katup hip seat dan menaruh gendongan bayi itu di atas buffet.


Tak lama kemudian Yugi masuk ke kamar Eden. Leia menoleh ke arah Yugi yang semakin mendekatinya. "Tolong awasi Eden sebentar. Oh iya, Darrel ada di mana?"


"Dari tadi sore tuan ada di halaman belakang nona" jawab Yugi.


"Okeh, thank you" Leia mengedipkan sebelah matanya, lalu menepuk pundak Yugi sebelum meninggalkan kamar Eden.


Yugi tersenyum, sudah lama rasanya Leia tak menjahili dirinya. Ia kira nonanya sudah melupakan intensitas dirinya di rumah ini, semenjak memiliki keluarga baru yang sah di mata tuhan dan hukum.


"Aku terlalu terbawa suasana, tsk" Yugi berdecak seraya mengusap cairan bening yang menyeruak di ujung matanya.


Leia berlari kecil menyusuri ruang tengah dan dapur untuk menemui suaminya di halaman belakang.


Leia duduk di sisi lain kursi taman yang Darrel duduki. Leia memandangi lelaki yang sudah melorot duduknya itu, dengan mulut yang sedikit terbuka.


Leia tersenyum manis melihat ketulusan sang suami yang menunggunya pulang.


Eh... Bukannya kebalik ya? Harusnya kan istri yang nungguin suaminya pulang kerja. Leia


Mata Leia menyusuri setiap jengkal tubuh suaminya. Matanya terpaku pada bentolan kemerahan di tangan dan kaki Darrel.


Kasian suamiku, sampai digigitin nyamuk gini. Leia


Leia menjulurkan tangannya hendak mengolesi bentolan itu dengan minyak telon yang siap sedia di saku celananya.


Dingin...


Jantung Leia mulai berdebar tak karuan, tubuh Darrel begitu dingin layaknya es. Pikiran Leia mulai mengambang tak tentu arah. Kulit Darrel yang sudah pucat jadi semakin pucat, membuat prasangka buruk menghampiri Leia.


Dengan tangan yang gemetar Leia menyurukkan telunjuknya ke depan lubang hidung Darrel, mengecek hembusan angin yang keluar dari hidung Darrel. Ada, nafas suaminya berhembus teratur.


Tanpa sadar Leia menangkup wajah kedinginan Darrel dengan telapak tangan kecilnya. Diciumnya lembut seluruh permukaan wajah Darrel teramat sayang.


Setitik air menguap di sudut mata Leia. Bayangan kelam kembali menyelimuti pikirannya. Trauma menemukan jasad tak bernyawa orang terkasihnya di halaman belakang, membuat mentalnya down. Dalam benaknya, bagaimana jika aku mengalaminya lagi? titik air itu kian menguap, mengalirkan air mata yang semakin deras jatuh ke permukaan kulit wajahnya.


Darrel terbangun saat merasakan buliran air yang terasa hangat membasahi wajah dinginnya. Wajahnya dihujam ciuman dari bibir lembut Leia yang bergetar. Otaknya masih belum menangkap maksud kejadian saat ini.


Leia menghentikan kecupan di wajah Darrel saat menangkap pergerakan lentik bulu mata Darrel yang terangkat ke atas. Sejenak, tatapan mereka beradu. Menyiratkan sesuatu yang sulit untuk terungkap.


Tangan Darrel yang kokoh mengangkat tubuh langsing Leia ke atas pangkuannya. Leia mengalungkan tangan di leher Darrel, mengalihkan pandangan untuk menyembunyikan wajah basahnya di hadapan sang suami. Darrel menatap Leia, membaca raut wajah Leia yang biasanya sukar terbaca. Namun kini berbeda, ekspresinya jelas tercetak di wajah istrinya itu. Leia menunjukan raut kecemasan yang luar biasa.


"Kulitmu tadi sangat dingin dan pucat" ucap Leia. Ia mengusap lengan Darrel yang masih dingin dengan kehangatan telapak tangannya.


Darrel tak langsung membalas awal percakapan yang Leia lontarkan. Ia tau betul, tampak ada kegusaran dari gestur tubuh Leia. Wanita itu pasti sedang menyusun kata yang sangat-sangat ingin ia ucapkan.


"Seberapa lama sih kamu nungguin aku di luar gini? Udaranya kan dingin! Bisa-bisanya kamu sampe ketiduran gitu, digigitin nyamuk, hiks. Aku pikir kamu meninggal, tau!! Huhu" omel Leia sekaligus menangis. Hilang sudah panggilan 'oppa' dari list pebendaharaan katanya.


Darrel mengusap air mata Leia, tangan satunya mengusap punggung istrinya. Mencoba menghadirkan ketenangan di sana. Dan itu berhasil, perlahan tangisan Leia menyurut.


"Jangan mati mendahului aku... Pokoknya jangan membuat aku menjanda" Leia menenggelamkan tubuhnya ke dalam dekapan Darrel. Mengendus aroma natural dari pria yang jarang menggunakan parfum itu.


Darrel berdehem sebagai jawaban dari permintaan istrinya. Darrel mengelus rambut panjang Leia seperti mengelus bulu Amy.


"Aku punya sesuatu untuk oppa" sudah agak tenang, barulah kata itu muncul di dalam list-nya. Leia mengeluarkan sepasang cincin yang digabungkan dengan helaian rotan yang di ikat. "Taraa... Cincin pernikahan" Leia memasang raut wajah se-ekspresif mungkin untuk menunjukkan perasaannya.


Sayangnya wajah Leia begitu kaku, berbanding terbalik dengan keinginannya. Darrel yang mulai bisa membaca gestur istrinya pun jadi terbahak.


Dia sudah membuka hatinya untukku rupanya. Darrel


Dalam hati, Darrel kegirangan. Istrinya mulai menerima dirinya secara utuh sebagai suami. Rasanya lebih menyenangkan ketimbang mendapatkan cincin.


"Tunggu dulu!! Cincin?" Darrel membelalakkan mata birunya.


To be continue...