Traffic Light

Traffic Light
WORRY PERSISTENTLY



Kecanggungan menyelimuti dua insan yang tak jua angkat bicara. Lidah mereka seakan kelu untuk memulai pembicaraan. Bagaimana cara agar kedua orang yang pernah saling mencinta itu, bisa saling berkomunikasi dengan nyaman?


Entahlah,


Leia enggan memulai. Dewa pun, masih diliputi rasa bersalah dan sesal yang tak akan bisa ia perbaiki.


Hasna dan Gagit yang sudah datang lima menit yang lalu pun, disuruh pulang oleh Leia. Menyisakan tanda tanya bagi dua karyawan yang telah bersamanya selama merintis bisnis kecilnya itu.


Sebenarnya Hasna enggan meninggalkan bosnya dengan pria berwajah khas mas-mas Jawa itu. Nalurinya berkata pria bernetra hitam itu memiliki aura pekat yang mungkin saja dipenuhi niatan busuk kepada bos bulenya.o


Alhasil, Gagit mengeret paksa kerah baju Hasna, membuat wanita berjilbab yang tak pernah memaki itu, jadi mengotori mulutnya dengan segala umpatan yang di tujukan untuk si rese', Gagit.


Pria bermata tipis itu tak mau teman kerja imutnya terlalu ikut campur dengan masalah bos cantik, yang pernah ia bidik untuk dijadikan buruan koleksi pacarnya.


Leia berdiri dari duduknya, pergerakan itu tak luput dari sorot netra hitam, mantan kekasihnya yang masih belum mengatakan maksud kedatangannya itu.


"Aku hanya membuatkan kopi" ucap Leia yang paham mimik mantannya itu.


"Ah..." hanya itu yang terucap dari bibir tipis yang pernah membuai Leia dengan kata-kata manisnya itu.


Leia berjalan ke pantry dengan menahan gemuruh di dadanya. Menguatkan hati, untuk memasang tampang dinginnya yang mampu membekukan hati pria berwajah manis itu. Sejujurnya Dewa masih berharap akan secercah cinta yang pernah Leia curahkan kepadanya dulu.


Sosok gadis yang masih dicintainya itu telah hilang di balik sekat yang membatasi kantor dan pantry, sementara lantainya terdapat kaca besar yang memperlihatkan bengkel kayu di lantai satu. Tempat Leia menciptakan meubel karyanya, menjadi barang yang memiliki nilai seni dan kegunaan.


Mata belo Dewa tampak sendu, saat sosok wanita yang amat dirindunya itu menghilang. Ia memiliki alasan yang kuat saat meninggalkan Leia dulu. Entah bisa atau tidak ia mengungkapkan alasan tersebut. Sanubarinya meragu.


Diperhatikannya sekeliling ruangan Leia yang tampak seperti kamar bayi ketimbang kantor. Ada baby box, tikar berbahan matrass yang membentang di bawah, mainan gantungan, dan perlengkapan bayi yang lengkap. Bahkan meja kerjanya di berbentuk bulat demi menghindari benturan bagi bayi.


Senyum getir terukir di bibir tipisnya. Dewa sadar, sekarang gadisnya itu sudah memiliki keluarganya sendiri. Berkeluarga dengan Leia adalah angan-angannya yang sudah tercetus saat menjalin kasih dengan Leia dulu. Bahkan hingga saat ini, ia masih berupaya mewujudkan angan itu. Ego telah mendorongnya untuk melakukan tindakan tercela, merebut istri orang.


Pertanyaannya sekarang, apa Leia masih mencintainya?


Hatinya ter-remas jika jawabannya dari pertanyaannya itu 'Tidak'. Perasaannya belum siap jika pujaan hatinya berpaling dengan mudahnya. Sementara ia harus menahan rasa yang membuncah itu, demi alasan yang tak sanggup ia jelaskan. Tapi ia melihat secercah harapan dari netra kelabu Leia, seketika rasa hangat menjalar ke hatinya, walaupun tatapan yang Leia hunuskan padanya begitu dingin.


Dewa terkesiap dari lamunannya saat secangkir kopi hitam yang tengah mengepul, diletakkan di hadapannya. Dewa mendongak, mendapati wajah wanita yang selalu ia rindukan dalam diam itu, menatapnya datar.


Leia kembali duduk di kursinya, mengamati gurat penyesesalan di wajah Dewa. Wanita cantik itu berdecak sebal lantaran kesal akan sikap yang menurutnya memuakkan itu. Rasanya sudah terlalu terlambat untuk menunjukkan penyesalan itu.


Telah usai kisah mereka sejak empat tahun yang lalu. Sejak Dewa menghilang tanpa sebab, tanpa tau kejelasan dari akhir hubungan manis itu.


"Apa kabar?"


Leia berdecak, pertanyaan apa itu? Bukankah mata Dewa masih berfungsi? Dia bisa melihat keadaan Leia dengan mata kepalanya sendiri, bukan?


Enggan meladeni basa-basi Dewa, Leia malah menelak pria itu dengan pertanyaannya. "Kenapa kamu kembali?" sorot mata nan dingin, kembali Leia hunuskan ke pemilik netra legam itu.


Helaan nafas berat Dewa mengudara seakan sanggup merobohkan studio bertingkat dua itu. Ia menunduk, menata kembali kepingan puzzle memori, yang sempat hilang tertelan oleh kegugupannya sendiri. ia memejamkan matanya sembari mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan tujuannya.


"Bercerailah, kembali sama mas...!" titahnya. Sejenak ia ragu untuk melanjutkan pembicaraannya, tapi ia meyakinkan diri agar egonya terpenuhi.


"Kamu masih mencintai mas Dewa kan? Perasaan mas masih sama, mas mencintai kamu, Ele" tercetuslah tujuan utama Dewa dengan segala keyakinan yang dimilikinya.


Dewa yakin, netra abu itu tak akan pernah berbohong. Perjumpaan pertama setelah empat tahun berlalu, di depan pintu studio tadi menjadi alasannya, netra abu itu tampak goyah saat menyadari kehadiran Dewa di belakangnya. Dewa sadar, perasaan Leia kepadanya belum sirna seluruhnya. Ia masih memiliki harapan. Dewa akan menggebrak pintu hati Leia yang sempat tertutup oleh waktu.


Hening...


Mendadak otak Leia ngeblank. Wanita itu hanya menunduk seraya menatap tangannya yang berada di atas meja, dengan jemari yang bertautan, seakan saling menguatkan.


"Sejujurnya kita belum berakhir El. Mas punya alasan kuat saat meninggalkanmu. Dan, untuk saat ini pun mas belum sanggup mengatakan alasannya"


Dewa meraih tangan Leia, yang tulangnya tercetak jelas di balik kulit putih itu. Menyalurkan perasaan tulusnya lewat genggaman penuh damba. Sifat posesifnya seketika teraktifkan.


_________________________________


Mata Leia membola, saat Dewa menggenggam tangannya dan mengendus aroma kulit tangannya. Seketika bulu roma-nya merinding, memorinya memutar waktu, mengingat kebiasaan pria yang pernah mengisi hatinya dulu. Sudah menjadi kegemaran pria itu, memindai setiap inci kulit Leia dengan hidung bangirnya, menghirup aroma alami Leia yang menguar dari pori-pori kulitnya. Matanya terpejam dikala otak sialannya mengingat hal itu, seolah ikut menikmati setiap hembusan nafas Dewa yang menyentuh kulitnya.


Dewa menyeringai, gebrakan pertamanya berhasil ia lakukan. Respon Leia juga di luar dugaannya. Dewa pikir setidaknya ia mendapat tamparan atas perlakuan kekurang-ajarannya itu. Tapi pujaan hatinya itu malah terpejam, seolah menikmati setiap perlakuannya.


Terhanyut dalam buaian sang Dewa, tanpa Leia sadari, hidung Dewa sudah menjalar sampai tulang selangkanya. Sedikit lagi, hidung mancung itu akan mencapai area tersensitif Leia, yaitu leher.


Tanpa sadar Leia melenguh, saat itu pula kewarasannya kembali.


Sial...


Leia mendorong Dewa yang tengah menyesap harumnya kulitnya. Nafas Leia terengah, dadanya naik-turun mendapati kemaksiatannya sendiri.


Sial...


Ada apa dengan otaknya. Baru tadi pagi Leia merasa bahagia bersama keluarga kecilnya, bersama suaminya. Kenapa Leia menjadi perempuan sundal yang menikmati sentuhan mantan kekasihnya?


Sial...


Pertahanannya roboh, perasaannya bercabang, Dewa berhasil memercik api yang telah lama padam.


Seketika pemikiran tentang perceraian menguar, Leia tertawa remeh. Bukan Darrel yang akan jadi alasan perceraiannya, melainkan dirinya sendiri. Dada Leia bergemuruh, jantungnya memberat, seolah tak mampu menopang gejolak ini.


Leia dilanda gulana...


To be continue...