
"Katakanlah sesuatu, Tyas..." suara Baron begitu rendah, mungkin sampai menyentuh lantai. Tapi tekanan di dalam suara yang tak seberapa besar itu begitu kuat mengguncang psikologis lawan bicaranya.
Ayu bergeming, menunduk ketakutan. Tangannya saling bertaut seolah saling menguatkan. "Apakah yang ada di pikiranku sekarang ini benar?" selidik Baron lagi. Sebenarnya pria humble itu sangat benci jika amarah menyentuhnya. Tapi, setelah mendengar percakapan antara putri dan istrinya tadi, sanggup menjebol batas kesabaran yang selama ini ia bangun susah payah.
"Kenapa kamu diam saja, hah??!!" bentak Baron, kendati tak mendapat jawaban dari mulut istrinya.
Neftari meraih tangan ayahnya yang mengepal erat, diusapnya tangan yang kulitnya sudah alot dan berkeriput itu. "Paah..." panggilnya dengan nada memelas. "Kenapa sih pah? Ada apa sebenarnya?" Netra hitam itu menatap lekat pria renta yang urat-urat vena-nya bertimbulan.
Baron membisu, ia masih tak sanggup menceritakan kesalahan terbesar yang ia perbuat dalam rumah tangganya dengan Ayuningtyas.
Empat Puluh Enam Tahun Yang Lalu
"Demi tuhan aku ga ingat apapun, sayang..." Baron bersimpuh di hadapan wanita berperut buncit yang sedang menyangga tubuhnya pada pagar teralis yang membingkai selasar rumah sakit jiwa tempat saudarinya dirawat.
|<<<<<<<<<<<<<<<<<<
Wanita berwajah ayu yang menyanggul rambut hitamnya itu tersedu sejadi-jadinya. Bagaimana tidak? Di dalam ruang inap tempat saudara kembarnya dirawat, ia harus melihat pemandangan yang meluluh-lantakkan perasaannya.
Dengan mata kepalanya sendiri, wanita itu harus menyaksikan adegan erotis yang dilakukan oleh kembarannya.
Di atas tubuh suaminya, dengan tidak tau malu, sang kakak meliuk-liukkan tubuhnya menikmati kegagahan suami dari adiknya sendiri.
Wanita berwajah ayu, yang selaras dengan namanya itu tak sanggup berkata-kata. Ia membekap mulutnya yang akan teriak karena amarah.
Kakak dan suaminya masih belum menyadari keberadaannya, posisi kakak kembarannya yang membelakangi Ayu, membuat wanita yang sedang tenggelam dalam hasratnya itu, tidak sadar dengan suara pintu ruang inap yang dibuka adiknya.
Ayu memastikan sekeliling koridor sepi sebelum ia mengunci ruangan laknat itu. Dengan langkah gemetar dan tangis yang tertahan, Ayu menghampiri sofa yang menjadi arena perzinahan antara suami dan kembarannya.
Wanita yang wajahnya begitu mirip dengan Ayu itu mengerang penuh kenikmatan saat tubuhnya bergetar merasakan hasratnya yang meledak-ledak.
Belum sempat Ayu menyadarkan perbuatan amoral kakaknya, ia harus menahan langkahnya kembali. Tampaknya sang kakak telah mengalami pelepasan. Jantung Ayu serasa terhentam godam, matanya pedih tersayat melihat perilaku hina di hadapannya.
Wanita yang habis menikmati fisik, suami dari adiknya itu tersenyum dengan bangganya. Ia begitu menikmati permainan yang rupanya hanya ia mainkan sendiri.
Ah, ternyata suaminya itu sedang tak sadarkan diri. Tapi keperkasaannya itu masih dalam keadaan tegak berdiri.
Disini Ayu menyadari sesuatu, ternyata suaminya diberi obat perangsang. Seberapa banyak ia meneguk obat itu, sampai suaminya yang bule itu tak sadarkan diri? Licik sekali kakak kembarannya ini.
Di sini Ayu tak mampu menahan gemuruh yang meruntuhkan kepercayaannya pada saudarinya itu. Tubuhnya luruh, diikuti air mata yang jatuh ke lantai.
"Kenapa...?" lirihnya. Ia bukan tipe wanita yang akan berteriak-teriak saat tali kesabarannya putus. Ayu wanita cerdas yang pandai menjaga martabat dan wibawanya di depan orang lain termasuk keluarganya sendiri.
Barulah, wanita yang masih merasai sisa-sisa kenikmatannya itu menoleh setelah mendengar suara lirih sang adik. "Ah... Ayu... Adikku..." senyumnya tak menghilang dari wajah yang begitu identik dengan Ayu itu. "Terima kasih, sudah membaginya denganku..." imbuhnya lagi.
Wanita yang bernama Tresno itu beranjak dari pangkuan Baron, yang tampak seperti orang mabuk, antara sadar atau tidak. Wajah Baron yang memang kemerahan jadi semakin memerah karena pengaruh obat perangsang yang dicekoki oleh kakak iparnya.
Tresno mengganti posisinya menghadap ke Ayu dan membelakangi Baron. Ia kembali mengulang permainannya di atas pusaka Baron dengan posisi membelakangi pria bule yang tampak seperti orang mabuk itu.
Ayu yang tengah hamil besar itu kembali dibuat naik pitam, ia memegang perutnya, air matanya semakin mengalir, walaupun isakannya tak begitu jelas terdengar. Ia tak menyangka, kakak kembar yang selama ini disembunyikan oleh keluarganya itu bertindak gila sampai sejauh ini.
Tidak, tidak...
Kembarannya itu memang sudah tidak waras, makanya ia diasingkan oleh keluarga besarnya sejak remaja.
Perut bagian bawahnya terasa kencang, dan itu semakin menyakitinya. "Aaakkhhh...!!!" pekik Ayu, menyentakkan pendengaran pria yang setahun ini hidup bersamanya.
Baron tersentak saat mendengar suara familiar yang begitu dicintainya memekik. Dalam keadaan linglung, pria yang berasal dari Amerika itu berusaha untuk tersadar.
Kepalanya terasa berputar, masih belum bisa mencerna situasi yang terjadi. Ia menggelengkan kepala, berusaha mendapatkan kesadarannya kembali.
Terlintas ingatan terakhirnya yang membuat pria itu terbelalak tak percaya, jantungnya berdebar kencang seperti punching ball yang dipukul dengan kecepatan tinggi. Firasat tak nyaman mulai menggerayangi dirinya yang masih dalam keadaan setengah sadar.
Sesaat matanya menangkap sosok familiar sedang terisak pelan seraya menggusak dadanya di lantai. Matanya beralih ke wanita yang membelakanginya, sedang bergerak naik turun di atas keperkasaannya. Saat Tresno menoleh ke arahnya, wanita itu kembali tersenyum bangga, seolah berhasil memonopoli dirinya.
Baron mengumpat, segera ia dorong wanita yang baru ia sadari ternyata saudari kembar istrinya. Dengan cepat ia menaikan celananya tanpa memperdulikan batangnya yang basah karena penyatuan itu.
Wanita itu tersungkur ke lantai, senyuman di wajahnya masih belum pudar. Ia menekuk kakinya lalu memeluk kedua lututnya. Tresno menyugar rambut hitamnya yang berantakan ke belakang, setelahnya ia menempelkan pipi di atas dengkulnya. Mata dan bibirnya tersenyum, menonton pertunjukkan yang akan memecahkan rumah tangga sang adik.
"Percaya sama aku... Aku ga tau kenapa ini bisa terjadi... Believe me, please..." tangan Baron gemetaran saat mengaitkan kancing dan menaikan resleting celananya. Baron kembali mengumpat karena batang sialannya masih berereksi.
Baron bangkit dengan kesadaran yang mulai terkumpul, dadanya begitu sesak mendapati dirinya yang tak bisa menjaga diri dari wanita ular yang berulang kali menjeratnya di belakang sang istri. "Maaf... Maaf... Aku berdosa..." mohonnya.
Tak sepatah katapun keluar dari bibir istrinya. Wanita yang sangat dicintainya itu menunduk bersimpuh seraya mengelus perut besarnya yang semakin terasa sakit
"Bagaimanapun, aku tetap melakukannya. Terlepas sadar atau tidaknya diriku. Tapi aku mohon... Trust me!!" tanpa ragu ia mendekati wanita yang ia yakini sebagai pelabuhan terakhirnya itu.
Baron meraih dagu sang istri, dengan pelan ia menengadahkan wajah ayu istrinya, "I just loving you... I'am swear..." mata hijaunya menatap lekat netra pekat istrinya penuh keyakinan.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>|
"Demi tuhan aku ga ingat apapun, sayang..." Baron bersimpuh di hadapan wanita berperut buncit yang sedang menyangga tubuhnya pada pagar teralis yang membingkai selasar rumah sakit jiwa tempat saudarinya dirawat.
Ayu melihat sekelilingnya, ada beberapa orang yang berlalu lalang memperhatikan dirinya dan Baron di selasar itu. Dari tadi Baron terus menerus memohon maaf pada dirinya. Tapi ayu tak menanggapi, wanita hamil itu malah keluar dari tempat laknat itu. Tetap berjalan, walau sambil tertatih-tatih menahan sakit di perut besarnya.
To be continue...