
Leia dan Darrel sudah siap untuk pergi menjenguk kakek Kim, mereka sedang menunggu kedatangan baby sitter pilihan Darrel.
Ting tong... Suara bel di depan pagar rumah berbunyi.
Segera Leia membukakan pagar rumah lewat tombol yang berada dari dalam rumahnya. Otomatis kunci pagar terbuka, Leia pun membuka pintu rumahnya untuk menyambut sang baby sitter.
"Astaga!" Leia menutup mulutnya yang ternganga karena tak habis pikir dengan baby sitter yang di utus oleh suaminya. "Oppa! Oppa!" teriak Leia dari ambang pintu.
"Kenapa istriku" sahut Darrel yang ternyata sudah berada di belakang Leia. Tangan Darrel tak segan melingkar manja di pinggang istrinya. Leia yang tak siap menerima kejutan tangan sang suami di bagian sensitifnya pun menjadi tegang.
"Ya Tuhan, bisa kah oppa lebih santai? Jangan terus-terusan membuatku tegang karena ulah tanganmu itu!" omel Leia seraya memukul dan menyingkirkan tangan Darrel dari pinggangnya.
Pandangan Leia kembali ke arah dua orang pria yang akan mengasuh dan menjaga anaknya untuk sementara waktu. Leia masih mengingat pria tua bertubuh tegap itu. Tentu saja, pria itu adalah kakek kandung Eden dan satu-satunya tamu Darrel yang pernah mampir ke rumah selama pernikahannya.
Lalu pria muda satunya, mungkin seumuran Yugi dan memiliki penampilan yang nyentrik. Eh, tidak, tidak, bukan penampilannya yang nyentrik , tapi rambutnya. Bagaimana tidak? Pria itu mewarnai rambutnya seperti warna permen gulali, berwarna warni. Leia hampir terbahak saat melihat rambutnya itu.
"Pak Handoko dan siapa---" belum selesai Leia bicara hendak menanyakan identitas pria muda itu, sudah di selip dulu oleh pria muda berrambut gulali itu sendiri.
"Hai kakak ipar, saya Jeki. Pria tertampan seantero jagat raya ini" Jeki menjulurkan tangannya sebagai salam perkenalan.
Leia menyambut tangan pria muda itu sambil terkekeh. Ia tak mampu menahan tawanya saat pria gulali itu menundukan kepalanya. Helaian rambut warna-warni itu membuat Leia teringat dengan badut-badut yang ada di taman hiburan. Bedanya jika badut itu wajahnya jelek, sedangkan pria itu memiliki wajah yang imut dan berkulit putih.
Bersyukurlah dengan keimutan wajahnya itu. Jika tidak, Jeki tak ayal seperti badut yang sedang tak menggunakan make up.
Sepintas, ada rasa tak yakin untuk menitipkan bayi yang sudah di anggap buah hatinya sendiri itu pada kedua orang tersebut.
Handoko dan Jeki mengerti arti pancaran mata yang Leia tunjukkan. Tanpa di komando, mereka berdua serentak mengeluarkan lisensi dari dalam tas masing-masing, kemudian menunjukkan itu kepada Leia.
Sungguh, Leia tak habis pikir dengan kedua orang pilihan suaminya itu. Apa mereka memiliki ilmu telepati? Hingga bisa membaca pikiran di kepalanya.
"Percayakan saja pada mereka istriku" Darrel menyapukan tangannya di pucuk kepala Leia.
Leia mengangguk, kemudian memanggil Yugi untuk mengawasi kedua pria yang menjadi baby sitter sementara untuk buah hatinya.
Dari raut wajah yugi, nampak guratan kecewa karena nonanya sekarang sudah jarang mengajaknya untuk mendampingi Leia, hal yang biasanya ia lakukan.
Tapi sudahlah, Yugi memilih berpikir positif. Eden sangatlah penting untuk Leia, oleh karenanya Leia mempercayakan Yugi untuk mengawasi baby sitter yang diperkerjakan Darrel itu, demi Eden, orang terpenting nonanya saat ini.
Darrel dan Leia pun meluncur ke rumah sakit menggunakan mobil van yang pernah di pakainya untuk menculik Darrel, saat memaksanya untuk menikah waktu itu. Mereka akan menjemput kakek Kim beserta orang-orangnya di rumah sakit.
Sebelumnya mereka mendapatkan kabar dari sekertaris Nam, bahwa kakek Kim sudah bisa pulang dari rumah sakit. Beliau sebenarnya sangat membenci bau disinfektan dan obat-obatan dari rumah sakit. Oleh karena itu, saat dokter mengatakan tensinya sudah stabil, beliau meminta untuk rawat jalan saja.
Mereka berencana membawa kakek Kim, sekertaris Nam dan Aera ke apartemen milik Darrel. Ah, tentu saja sekarang Apartemen Darrel sudah rapi dan bersih. Apartemen kapal pecah itu sudah dibereskan oleh jasa kebersihan yang Darrel utus sebelumnya.
Pasangan suami istri itu sudah sampai di parkiran rumah sakit. Leia tak awas saat turun dari mobil membuat seorang pengendara sepeda terjatuh karena menghindari wanita itu yang membuka pintu mobil secara tiba-tiba.
Brruukk... Pengendara sepeda itu dengan mulus mendarat di atas aspal yang licin.
"Astaga! Maaf, maaf anda tidak apa-apa?" Leia merasa bersalah, segera ia mengecek pengendara sepeda itu. "Paman Luke?" ia terperanjat, ternyata pengendara itu adalah paman Luke, tetangga sebelah rumahnya.
"Oh Leia, syukurlah kamu tidak kenapa-kenapa" gurat kekhawatiran terpancar dari wajah Luke. Saat Leia tiba-tiba keluar dari mobil van yang di tumpangi nya. Sepintas Luke melihat Leia dan membanting stang sepedanya agar tak mengenai putrinya itu. Jika itu bukan Leia, tentu saja Luke tak perduli jika menabrak orang yang tak awas saat keluar dari mobil.
Untung saja Luke menggunakan helm, elbow dan knee pad, baju zirah sepedanya pun cukup tebal membungkus kulitnya. Jadi luka yang di derita Luke tak terlalu parah. Tetapi, ujung jemarinya yang tak tertutup sarung tangan mengalami luka yang cukup parah. kuku tanganya bahkan ada yang terjungkit ke atas.
"Leia tak apa, paman yang seharusnya di obati dulu. Ahh, tangan seorang dokter terluka akibat ulahku" Leia hampir menangis karena telah menyebabkan kecelakaan itu dan membuat tangan penyelamat itu terluka.
Luke tersenyum melihat raut wajah putrinya. Ini pertama kalinya Leia mengkhawatirkan Luke, ayah biologis yang tak di ketahui Leia. Darrel menangkap wajah tersenyum Luke saat melihat Leia. Pikiran-pikiran aneh berkeliaran di otaknya.
Ada yang aneh dengan uncle ini, apa dia menyukai istriku? Darrel.
Darrel menampakkan wajah tak sukanya kepada pria paruh baya itu, saat Leia memegang tangan Luke yang terluka.
"Sayang, biar aku saja yang memapah uncle ini ke UGD untuk mengobatinya. Kamu pergi dulu ke ruang rawat harabeoji, ruangan VVIP 01" Darrel.
"Maafkan Leia paman" ucap Leia merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, asal kamu baik-baik saja. Pergilah, biar temanmu ini yang membantu paman"
Darrel membelalakkan mata birunya yang indah itu. "Uncle, aku ini suaminya bukan temannya" bantah Darrel yang tak terima dengan ucapan teman yang Luke katakan.
"Benarkah? Kalian sama sekali tak cocok" celoteh Luke dengan santainya.
Darrel memejamkan matanya, guna meminimalisir amarah yang sudah di ubun-ubun. "Terserah, ayo uncle. Obati dulu lukamu" Darrel menarik tangan Luke yang tak terluka agar bangun, ia memapahnya ke ruang UGD.
"Hey, kau ayahnya Eden?" tanya Luke tiba-tiba saat Darrel hendak pergi meninggalkannya di ruang tunggu UGD.
Darrel menghentikan langkah kakinya dan kembali menghadap Luke. "Benar" jawabnya singkat. Darrel tau, Luke adalah salah dokter yang menangani Stevi saat melahirkan Eden.
"Jadi, kenapa kau menikahi Leia?" tanya Luke Lagi. Wajah Luke layaknya seorang ayah yang tak terima putrinya direbut pria brengsek seperti Darrel. Di mata Luke, Darrel hanyalah bajing*n tak bertanggung jawab.
"Leia yang memintanya" Jawab Darrel datar.
Darrel bertanya-tanya, kenapa dengan pria paruh baya ini? Dia terlalu ikut campur menurutnya. Wajahnya sangat jelas menunjukkan ketidak sukaannya pada Darrel.
To be continue...