Traffic Light

Traffic Light
TURNING POINT



Zraasshh... zraasshh... Angin beserta hujan menerpa seorang wanita tanpa alas kaki. Berjalan pincang menapaki jalan aspal di dekat sebuah rumah sakit. Tubuhnya menggigil, giginya gemeretak. Ia memeluk tubuhnya sendiri seraya bergumam "Mengapa kau beri cobaan yang seperti ini Tuhan? Sekarang aku harus gimana?".


.......


Kriiet... kriieet.. (suara lantai papan)


"Amy, kau kah itu?"


Kriieett... Kriieett...


"Ayolah, jangan bercanda. aku akan memelukmu jika tertangkap!"


(Senyap)


Leia melangkah ke suara decitan itu.


"Amy... Amy..."


Meong... meong...


"Aahhhh... Amy, kau menakutiku. Aku pikir ada orang yang masuk rumah"


Drap... Draap... Draaap... (Suara langkah kaki)


"Aaakkhhh..."


.......


Ciitt.. Chrip.. Chriip.. Ciitt.. (Suara burung berkicau)


 


 


"Ngghh... Aahh.. Kepalaku pusing. Aku.. Mmhh.." Leia mengucek matanya.


"Aku kenapa ada di sini sih. Huuft.. Lagi-lagi kayak gini"


Setahun setelah ayahnya meninggal, Leia seringkali tidur sambil berjalan. Leia tertidur di bawah pohon ek di belakang rumahnya. Pohon itu ditanam oleh orang tua Leia saat Leia lahir.


"Ayah... Leia rindu. Ayah tau tidak kabar ibu? udah setahun ibu ga telpon. Mungkin itu sebabnya Leia tidur ngelindur* lagi. Leia kangen" Air mata Leia menetes.


 


Ayah Leia sudah meninggal 3 tahun yang lalu. Sedangkan ibu Leia pergi melancong ke luar negeri. Setahun setelah Ayah Leia meninggal dunia, ibu Leia merasa kesepian. Sempat depresi, kehilangan suami yang sangat dicintainya secara mendadak. Ibu Leia memutuskan untuk menenangkan hati dan pikirannya dengan bepergian. Leia pun mendukung keputusan ibunya itu. Sudah dua tahun ibu Leia pergi melancong, entah berapa negara yang sudah disinggahinya. Tahun pertama, Neftari masih sempat bertukar kabar dengan putrinya. Namun setelahnya ibu Leia tidak menghubungi putri semata wayangnya itu. Tentu saja rasa khawatir kerap diderita Leia yang kini hanya punya ibu sebagai sandarannya. Tapi yaah, mau gimana lagi? Ini sudah menjadi keputusan sang ibu. Hanya untuk 'sementara' katanya, sampai depresi ibu Leia membaik.


Ayah Leia semasa hidup bekerja sebagai arsitek dan developer bangunan yang cukup di kenal dan sukses. Berkatnya, dia meninggalkan Leia dan ibunya rumah yang cukup luas dengan halaman depan dan belakang yang menarik. Sebuah mobil import, dan perusahaan developer yang dikelola sang ayah. Sebelum menikah dengan ayah Leia, Ibu Leia merupakan seorang pramugari maskapai nasional. Setelah tau sedang mengandung Leia, melalui pertimbangan yang cukup membuat sakit kepala. Ibu Leia memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya. Kandungannya juga sangat lemah pada saat itu. Padahal ibu Leia sangat menyukai pekerjaan yg sudah di dapatkannya dengan usaha dan keringat setelah sekolah pramugari 1 tahun. Namanya juga wanita kodratnya menjadi ibu. Belum lagi ibu Leia sangat mencintai suaminya, Amrali Yusop.


Berkorban demi anak dan suami jauh lebih utama bukan? Biarpun begitu, keputusan Neftari Marilla menjadi ibu rumah tangga juga tidak salah. Dia sangat dicintai suaminya, sangat dimanja. Menjadi nyonya rumah juga tidak terlalu buruk.


Leia lahir membawa berkah untuk pasangan itu. Rumah beraroma khas bayi bercampur bau rumput dan getah pohon. Bunga-bunga juga hampir mekar merayakan kehadiran Leia buah cinta dari pasangan ini. Kenangan demi kenangan mereka buat d rumah ini. Sudut-sudut ruangan menjadi saksi kebahagiaan keluarga ini sampai Leia memasuki usia 20 tahun. Dalam sekejap kebahagiaan itu menjadi abu... Membiru... Perlahan memutih...


 


*Tidur sambil berjalan