
Seorang pria lansia berbaju serba hitam, tengah berdiri di atas peron menunggu kereta tujuannya tiba, di tangannya terdapat payung hitam besar untuk menjadi penopang tubuhnya. Ia terlihat sedang membetulkan letak fedora di atas kepalanya dan mengusap rambut putihnya yang jarang karena diterpa oleh angin, ketika kereta ekspress bertujuan Gapyeong itu tiba.
Untung saja saat itu bukan jam pulang atau pergi kerja yang selalu ramai akan manusia. Karena penumpang yang sedikit, memudahkan pria renta itu masuk ke dalam kereta tanpa perlu berdesak-desakan. Ia mencari kursi terdekat, karena kakinya sudah lelah akibat terlalu lama berdiri saat menunggu kereta tadi.
Ia mengeluarkan ponsel dari saku dalam jas yang ia kenakan. Mulai menilik contact person untuk menghubungi seseorang.
"여보세요"
"yeoboseyo"
"Halo"
"예 회장님"
"Ye hoejangnim"
"Ya pimpinan direktur"
"내 손자가 찾았나요?"
"Nae sonjaga chaj-assnayo?"
"Apa cucuku sudah ketemu?"
"예, 찾았습니다. 이제 손자가 인도네시아에 있습니다"
"Ye, chaj-assseubnida. Ije sonjaga indonesia-e issseubnida"
"Ya, sudah ketemu. Sekarang cucu anda berada di indonesia"
"수고 헤소. 준비해, 지금 인도네시아로 떠난다"
"Sugo heso. Junbihae, jigeum indonesialo tteonanda"
"Kau sudah berkerja keras. Bersiaplah, sekarang berangkat ke indonesia"
Pria renta itu memutuskan panggilannya, ia menatap layar ponsel pintarnya yang terpasang wallpaper seorang wanita muda dan anak kecil yang tengah berpelukan.
"할아버지가 미안해"
"hal-abeojiga mianhae"
"Maafkan kakek"
Kakek bermarga Kim (김) itu tertunduk sendu sambil meratap foto anak perempuan dan cucunya dari layar ponsel.
W CASTLE
"Heleia !!" teriak Darrel sedikit membentak karena Leia, istrinya itu nyelonong pergi tanpa memikirkan keadaan suaminya yang sudah emergency.
Leia menghentikan langkah kakinya yang terbalut slip on rumahan itu. Ia terlalu malas mencari sepatunya yang di lempar sembarang oleh suaminya, mungkin sepatu itu sudah terbaur oleh tumpukan-tumpukan barang Darrel.
"Kok bentak suami gitu sih? Sini dulu" suaranya melembut, Darrel menepuk-nepuk sisi ranjang di sebelahnya.
Leia bergeming dari tempatnya berdiri, ia memandangi wajah suaminya yang memerah entah karena menahan hasrat atau marah, Leia tak perduli. Ia memutar-balik badannya meninggalkan suaminya di dalam apartemen, tanpa memperdulikan lolongan suami yang memanggil-manggil namanya.
Di dalam lift, Leia memperhatikan bentuk visualnya yang acak-acakan akibat melakukan foreplay dengan suaminya di dalam lift tadi. Ia menyisir rambut dengan jemarinya, dan membetulkan letak daster yang kancing atasnya sudah terlepas menampakkan buah dada yang terbalut BH brukat berwarna putih. Leia mengatup kancing jaketnya, beruntung jaket itu masih melekat di tubuhnya. Bayangkan jika tidak, betapa malunya Leia dengan penampilan dirinya sendiri. Tubuhnya merosot di sudut lift, ia menekuk kaki dan memeluknya, menutupi wajahnya yang tiba-tiba di banjiri air mata karena melihat penampilannya kini.
Darrel mengacak rambutnya ketika Leia membanting pintu apartemennya.
"그 여자는 왜 그래?"
"geu yeojaneun wae geulae?"
"Wanita itu kenapa sih?"
Darrel mengambil kunci mobil dan ikut-ikutan membanting pintu seperti Leia saat keluar dari apartemen. Sesaat kemudian ia kembali lagi ke dalam rumah menuju ke ruangan tengah yang terdapat empat seri lukisan Les Femmes d'Alger di sana. Ia menepatkan tangannya pada lukisan tersebut. Rangkaian lukisan karya Pablo Picasso itu seketika terangkat ke atas menampakkan sebuah ruangan yang pastinya tak dapat di sangka keberadaannya.
Sungguh pemandangan yang luar biasa, di ruangan itu terdapat jejeran senjata dan peralatan elektronik yang memiliki banyak tombol, serta monitor-monitor yang menunjukan berbagai hal. Dari map sampai grafik bursa saham dan masih banyak lainnya. Di sana juga terdapat tabung yang kegunaannya seperti lift. Tabung itu dapat di atur kecepatan turun atau naiknya, memudahkan para agen untuk berpindah lantai dengan cepat tanpa hambatan penghuni apartemen lainnya. Darrel menggunakan tabung tersebut untuk ke basemen dengan cepat.
Leia masih tersedu ketika pintu lift terbuka karena sudah tiba di lobby apartemen. Leia tak kunjung keluar dari lift, pintu lift pun mulai menutup otomatis. Saat pintu hampir tertutup, sebuah tangan besar menghalanginya tanpa takut jika pintu lift itu menjepit lengannya. Pemilik tangan itu tampak ngos-ngosan, ia melihat Leia yang terduduk sendu di sudut lift. Pria itu membelai kepala Leia, membuat yang di belai kepalanya mendongak.
"Oppa" lirih Leia seraya menghapus jejak air di sudut matanya.
Darrel membangunkan tubuh Leia lalu berjongkok di depannya. Ia menarik tangan Leia agar bertopang pada bahunya, karena Darrel melepaskan slip on yang asal di pakai Leia tadi dan menggantinya dengan sepatu yang tadi Leia kenakan.
Darrel mengangkat tubuh Leia dan menggendongnya seperti anak kecil, lalu menekan tombol paling bawah yang menghantarkan mereka ke basemen. Darrel mengusap-usap punggung Leia penuh kasih. Di dalam pikiran Darrel masih bertanya letak kesalahannya di mana? Otaknya tak mampu menganalisis perbuatannya yang membuat istrinya tersedu. Entahlah pikirnya, yang jelas sekarang nalurinya menuntut agar mengejar wanita yang telah hampir empat bulan ini menjadi istrinya dan memberikan rasa nyaman hanya untuk wanita pendamping hidupnya itu.
Ia bahkan membuka kotak pandoranya supaya bisa dengan cepat menyusul istrinya, pikirnya Leia akan ke basemen. Namun, saat tak di dapati keberadaan istrinya di basemen, Darrel berlari menaiki tangga untuk sampai ke lobby apartemen. Pas sekali waktunya saat Darrel tiba di ujung tangga, yang letaknya berada di depan lift, pintu lift terbuka menampakkan istrinya yang sedang duduk meringkuk di dalam lift. Hati Darrel seketika melemah, bergegas ia mencegat pintu lift yang hampir melenyapkan sang istri dari pandangan Darrel.
"Maaf" satu kata terlontar dari mulut pria bertubuh tegap itu. Berhasil meluluhkan kerasnya hati wanita yang kini berada dalam gendongannya.
Leia semakin mengeratkan pelukan di leher suaminya, saat ini Leia sangat terharu dengan sikap gentleman pria yang tadi membuatnya kesal sampai menangis itu. Leia membenamkan wajahnya di ceruk leher suaminya, ia kembali menghirup aroma maskulin khas suaminya.
"Ke hotel" bisik Leia di telinga Darrel.
Darrel menghentikan langkahnya, ia berusaha melihat wajah istrinya yang kembali bersembunyi di balik lehernya.
"Ayolah, biarkan aku melihat wajahmu" ucap Darrel dengan wajah menggodanya.
Leia masih bergeming dari posisinya, Darrel kembali melangkahkan kakinya menuju mobil. Darrel membuka kunci pintu mobil dengan remote yang terdapat di kunci mobilnya. Darrel membuka tuas pintu mobil dengan satu tangannya, ia mendudukkan Leia di kursi sebelah kemudi dan memasangkan sabuk pengamannya.
Darrel menatap lekat manik cantik istrinya, Darrel semakin mendekatkan wajahnya membuat mata Leia otomatis terpejam karena Leia berpikir akan mendapatkan ciuman panas dari suaminya lagi. Darrel mencium kelopak mata Leia satu persatu. "Kita pulang aja yah? Firasat ku bilang bentar lagi anak kita bakal bangun deh kayaknya"
Pipi Leia bersemu merah ketika Darrel mengatakan kata 'anak kita' di dalam dialognya. Leia menggelengkan kepalanya menyadarkannya dari kenyataan.
Ga mungkin aku suka sama oppa bule ini kan, sementara cintaku hanya untuk mas dewa. Apa perasaan memang akan semudah ini berubah? Leia.
To be continue...