
"Tunggu dulu!! Cincin?" Darrel membelalakkan mata birunya. "Sepertinya harus aku deh, yang kasih" segera Darrel mengeluarkan kotak perhiasan rustic dari saku celana. Membuat Leia hampir saja terjungkal karena gerakan Darrel yang spontanitas. Untung saja tangan Darrel yang bebas menahan punggung Leia agar tak jatuh ke belakang.
Mata indah Leia menangkap cincin, permata berlian dari tutup kotak perhiasan tembus pandang, berbahan akrilik. "Eh... Pantesan pahaku kayak ada yang ngeganjel, ternyata kotak cincin. Waah... Cantiknyaaa..." Leia menutup mulutnya setelah membenarkan posisi duduknya. Ia sungguh tak percaya, ternyata Darrel juga menyiapkan cincin pernikahan mereka. Leia merasa sehati sejiwa dengan Darrel. "Kok bisa samaan sih?" tanyanya penuh antusias.
"Aku pesannya beberapa hari yang lalu, waktu ngunjungin harabeoji di apartemen. Hari ini aku ditelpon, katanya udah bisa di ambil" sebenarnya Darrel tak terima karena kalah start dari Leia. Hal seperti ini kan harusnya inisiatif laki-laki duluan.
"Hing... Terharu" Leia kembali menciumi wajah Darrel bertubi-tubi. Sekarang Darrel mengerti perasaan Amy, ketika Leia menciuminya dengan gemas, seperti yang Leia lakukan pada Darrel saat ini. Pantas saja Amy menyukainya. Ciuman Leia menghantarkan rangsangan ke neuron yang membuat Darel bergetar menanggapi setiap rangsangan itu di tubuhnya.
Darrel menahan kepala Leia yang hendak menciuminya lagi. "Stop it!" sergah Darrel.
Leia merengut, kecewa mendapat penolakan dari suaminya. Leia merajuk, wanita itu hendak bangkit dari pangkuan suaminya. Belum sempat berdiri, tangan Leia langsung ditahan oleh Darrel. Membuatnya kembali terduduk di pangkuan sang suami.
"Di kamar aja" ucap Darrel. Ia menggendong Leia di depan seperti menggendong anak kecil.
Leia tersipu malu, ia menyerukkan kepalanya di leher Darrel. Menghirup aroma maskulin dari kulit yang sensitif itu. "Emang di kamar mau ngapain?" lirihnya, hampir tak terdengar. Tapi telinga ultra sonic Darrel menangkapnya.
"Mandi air hangat, aku kedinginan" jawab Darrel.
Leia menghela nafas panjang, dikiranya mereka akan melanjutkan sesi sayang-sayangan tadi di kamar. Leia semakin mengeratkan pelukannya, menikmati aroma tubuh Darrel yang mampu membuai alam bawah sadarnya.
Darrel berjalan perlahan menuju kamar. Ia sengaja berlama-lama di posisi sekarang, ia menikmati kehangatan tubuh istrinya. Darrel sampai tak sadar ada seseorang yang sedang memperhatikannya.
"Senangnya, main gendong-gendongan" Neftari baru saja masuk ke rumah, hendak ke kamar. Tetapi ia mendapati pasangan muda yang kesannya sedang pamer kemesraan itu, cukup menggoyahkan jiwa kesepiannya.
Darrel menghentikan langkah saat mendengar suara ibu mertua. Ia berbalik, menghampiri Neftari. Darrel menahan tubuh Leia di gendongannya dengan satu tangan, persis seperti bocah. "Lembur ya bu?" Darrel meraih tangan Neftari untuk di cium punggung tangannya.
Salim untuk menghormati orang yang lebih tua mulai diterapkan Darrel dalam kehidupannya sekarang. Kelak ia akan bersosialisasi dengan keluarga istrinya yang notabene orang jawa, kental akan atitude. Kecuali opa Baron, dia bule Amerika asli, no tipu-tipu.
"Iya nih, semenjak mommy kamu bawa Ann liburan, kerjaan di pusat juga ibu yang handle" keluh Neftari. Wanita yang masih cantik di hampir pertengahan abadnya itu, menghempaskan tubuhnya di sofa panjang ruang tengah, dekat kamar mereka. "Ngomong-ngomong, banyak banget yah, drama keluarga kamu. Bolak balik Indonesia-Brussel ngurusin kamu, ngurusin Marriane. Untung kakak kamu yang nomor dua anteng" cerocos Neftari.
Darrel tertawa mendengar celotehan mertuanya. Memang benar, banyak sekali kejadian yang menggegerkan di keluarganya. Katie menjadi super sibuk mengurus anak dan perusahaan sekaligus. Untung saja ada ibu mertuanya yang menghandle sebagian pekerjaan di perusahaan. "Bilang Darrel aja bu, kalo butuh bantuan. Darrel kan dulu pernah disuruh Katie buat bantuin ibu pas awal masuk ke perusahaan" tawar Darrel. Ia juga tidak tega melihat ibu dari istrinya itu kelelahan. Kalau sampai sakit kan, membuat istrinya khawatir juga.
Neftari mengangguk, menyetujui tawaran Darrel. Toh Darrel putra pemilik perusahaan itu. Tak dipungkiri anak direktur perusahan nya ini sangat cakap dalam pekerjaannya. "Gak capek apa gendongin Leia? Duduk sini!" Neftari menepuk sofa di sampingnya.
Darrel merasa aneh, kenapa istrinya ini hanya diam saja saat kepergok ibunya sedang gendong-gendongan. Padahal dulu pernah ada kejadian yang serupa pas hujan-hujanan. Leia sungguh malu karena kepergok ibunya waktu itu. Akhirnya Darrel mengangkat sedikit wajah Leia. Darrel mengulum bibirnya yang hendak tertawa.
"Tidur bu..." Darrel berkata lirih. Ia tersenyum, menyadari istrinya yang dengan cepat terlelap dalam gendongannya. Neftari tertawa karena tingkah Leia yang selalu menjadi putri kecil baginya.
_________________________________
Seminggu telah berlalu, anak berseragam putih biru sedang kebingungan, karena tak tau harus meminta pertolongan pada siapa.
Dia sudah melapor ke polisi, saat kakak perempuannya seharian tak pulang. Di luar dugaan, kakaknya tak pernah bermalam di luar rumah, semenjak kedua orang tuanya berpulang ke Rahmatullah.
Tak mau berputus asa, setiap hari bocah lelaki itu menyebarkan selebaran pencarian kakaknya, seraya mengasong jajakan jualan sepulang sekolah. Berharap ada orang yang mengetahui keberadaan kakaknya.
_________________________________
"Boss... Sampai kapan anda begini?" wajah manusia mutan, perpaduan antara dua gender itu tampak khawatir.
"Sampai aku menemukan wanita itu" Nick terkulai lemas di atas bed hotel, tempatnya menginap.
"Seperti bukan anda saja! Ck..." Mutan itu memasukkan ponselnya ke dalam pouch dengan gerakan lentik tangannya.
"Lakukan saja pekerjaanmu! Jangan mencampuri masalah kehidupanku!" bentak Nick
"Ah, yaa yaa..." Ariel mencibir atasannya. Mulutnya menye-menye tidak jelas lantaran kesal dengan ketidakprofesionalan big bossnya itu.
"Kau mengejekku?!" Nick bangkit dari pembaringannya, menatap Ariel dengan tatapan membunuh.
"No!!" Ariel berjalan cepat ke arah pintu agar terlepas dari jeratan neraka yang dibuat bossnya.
"Sial...!!" Nick melempar asbak ke dinding, tepat di samping pintu yang Ariel lalui. Hampir saja asbak berbahan kaca itu mengenainya. Segera Ariel menutup pintu kamar yang bagaikan neraka itu. "Where are you babe?" ucap Nick lirih. Ia menarik rambut keritingnya tinggi-tinggi.
_________________________________
Tin tin...
Suara klakson mengagetkan Neftari yang sedang berdiri di trotoar jalan. Menunggu taxi yang akan membawanya ke sebuah restoran untuk melakukan meeting dengan klien.
"Luke?"
"Come in! Abang anterin" goda Luke, menggerakkan kepalanya ke samping, isyarat menyuruh Neftari masuk ke mobilnya.
"Haha, muka bule, manggil dirinya sendiri abang... Yakin abang? Haha" Nefatari tergelak.
"Cepetan masuk! Kamu mau kemana? Aku anterin" Luke membuka pintu dari kemudinya agar Neftari segera masuk.
Neftari pun langsung masuk ke dalam mobil. Untunglah pikirnya, ia tak perlu menunggu taksi lama-lama di jam sibuk seperti ini. "Royal Resto perempatan jalan Sukarno bang supir, hehe" Neftari memakai sabuk pengaman sambil cengengesan.
"As you wish, lady" Luke bergaya ala-ala jaman kerajaan dahulu. Membungkukkan kepala dengan tangan kanan di dada dan tangan kiri di belakang pinggangnya.
Neftari tertawa. Haah... Sudah berapa lama ia tak tertawa selepas ini bersama seorang pria selain suaminya. Tiba-tiba ia merindukan Amrali, sudah sekian tahun berlalu tak mengikis rindunya yang kian menumpuk. Sepertinya Luke harus lebih berusaha mengalihkan dunia Neftari, yang saat ini hanya berpusat pada mendiang suaminya, Amrali. Padahal anak yang dilahirkannya itu, juga berasal dari sumbang asih Luke sebagai Ayah biologis putrinya.
To be continue...