Traffic Light

Traffic Light
EKSISTENSI



Ting...


Neftari membuka pesan yang dikirimkan menantunya. "Mereka mau pergi kemana jam segini? Astaga, apa mereka tidak memikirkan bayinya??" Neftari mengomel kesal.


Jam segini harusnya cucu tersayangnya sedang pulas-pulasnya tertidur, tapi orang tuanya malah membawa serta cucunya entah kemana. "Kemana baby sitter laki-laki itu? Lalu Yugi? Pria muda itu, apa dia tidak ada di rumah juga? Mustahil, pria yang selalu mengekori putriku itu keluar kandangnya" Neftari berdecak, mendadak ia menjadi bimbang. Pasti ada hal yang tidak beres terjadi di rumah itu.


Neftari sedikit cemas, posisinya sekarang sedang di luar kota. Batinnya bertanya-tanya, hal apa yang terjadi hingga meninggalkan rumah dalam keadaan kosong. Sekelibat kejadian tentang Marriane dan Amrali membayanginya. Neftari menggelengkan kepala, rumahnya mungkin perlu di siram air kembang tujuh rupa untuk menolak bala. Terlalu banyak kejadian spektakuler yang membuat jantung hampir terlepas dari tempatnya, terjadi di rumah itu.


Sepasang tangan kekar melingkar di dadanya, Neftari tersentak kaget. Dilihatnya wajah pemilik tangan kekar itu, "Apa yang kamu lakukan Luke? Lepaskan!!" ucapnya sinis.


"Kenapa? Bukankah sebentar lagi kita akan menikah?" jawab Luke. Bukannya melepas tangan yang melingkar di tubuh Neftari, ia malah semakin mengeratkan dekapannya. Hingga tubuh belakang Neftari semakin bersinggungan dengan tubuh bagian depan Luke.


"Aku tidak bisa menganggap mu lebih dari teman Luke, sadarlah!! Di hati ku hanya ada Amrali" tegasnya. "Jadi... Lepaskan ini dulu!!" Neftari melerai kedua tangan Luke yang mendekapnya.


Luke memutar tubuh Neftari menghadapnya, ia terdiam sejenak, menelisik mata Neftari dalam-dalam. "Kalau begitu, kenapa kamu terima lamaran ku?" tangan Luke bertengger di atas kedua bahu Neftari.


"Itu salah kamu, yang melamar aku di depan mamah. Aku tidak bisa menolak, mamah terlihat bahagia" Neftari menatap netra abu itu dengan keyakinan. Ia tak ingin membuat pria itu semakin salah paham. Neftari menegaskan, hatinya sudah dipenuhi Amrali tanpa cela sedikitpun, Luke tak akan bisa menginterupsinya.


Luke mencengkram bahu Neftari, rasanya ingin berteriak mengatakan kebenaran tentang putrinya. Berharap dengan kuasa putrinya itu, Luke bisa memasuki ranah perasaan Neftari. Luke mengatur nafasnya yang sedang tidak stabil, emosi mengerubungi dadanya hingga membuatnya sesak. Ia sebenarnya sudah memprediksikan hal ini, tapi hatinya masih saja belum siap menerima penolakan Neftari.


"Biarpun begitu, aku akan tetap menikahi mu. Aku punya alasan, lagipula pernikahan tak semuanya tentang cinta. Cinta bisa tumbuh belakangan" ucapnya dengan suara sedikit bergetar. Luke melepaskan cengkraman di bahu Leia, ia masuk ke dalam, meninggalkan Neftari di balkon yang sangat dingin itu.


Neftari mendesah keras, ia pun tak punya pilihan. Cukup sekali ia mengecewakan sang mamah, saat memutuskan untuk menikah dengan Amrali. Selama pernikahan itu, Neftari tak sekalipun bertegur sapa dengan sang mamah. Entah hal apa yang membuat mamahnya membenci suaminya saat itu.


_________________________________


Leia berlari kecil sambil mendekap Eden dalam pelukannya . Matanya terlihat gusar berlinang menyusuri parkiran sampai ke depan meja resepsionis klinik. Sementara Darrel ikut menyusul Leia dari belakang.


"Yugi!! Yugi!! Pria berambut panjang!! Dimana?" tanyanya ngos-ngosan. Perawat jaga yang standby di meja resepsionis mengernyit kebingungan.


Belum sampai perawat itu membuka mulut, suara Yugi dengan lantangnya memanggil Leia. "Kakak..." panggilnya tanpa sadar. Saat Yugi melihat sosok Leia disana, hatinya terenyuh.


Leia menoleh ke arah suara, tiba-tiba saja kakinya terasa lemas. Tubuhnya luruh kebawah sambil memeluk putrinya yang berindikasi akan menangis. Tangis Leia pecah disambut Eden yang ikut-ikutan menangis. Darrel langsung mengurung kedua wanitanya ke dalam pelukannya.


Yugi menghampiri keluarga inti itu, matanya bersibobrok dengan mata Darrel. "Kenapa kamu tidak memberi kabar yang jelas? Leia sungguh menghawatirkan mu" ucap Darrel kesal.


Melihat keadaan Yugi yang sehat-sehat saja membuat Darrel dongkol sekaligus lega. Ternyata prasangkanya meleset, syukurlah Yugi tak terlibat kecelakaan pikirnya. Tapi, pertanyaan yang menyesakkan dada Darrel sedari tadi adalah, sebesar apa perasaan istrinya terhadap Yugi? Sampai khawatir berlebih seperti ini. Apa Leia menaruh perasaan terhadap asistennya ini?


Leia menarik ingusnya, mendongak memandang Yugi yang sedang bersimpuh di depannya. "Kamu gapapa? Ga ada yang luka?" ia berbicara sambil mengusap pipinya yang basah.


"Saya tidak apa-apa kak"


Leia menangis kembali, rasanya begitu Lega melihat bocah yang ikut bersamanya sejak umur enam belas tahun itu baik-baik saja. Lalu kenapa gerangan ia berada di klinik sampai membuat orang khawatir? "Terus ngapain kamu disini?" Leia membeliakkan matanya. "Jangan-jangan... Kamu..." ucapnya putus-putus.


Yugi yang tau arah pikiran Leia langsung menyangkal. Ia pun menjelaskan kronologi sampai ia berakhir di klinik. Sementara Darrel menimang putrinya yang masih terisak, mungkin Eden masih kaget. Tapi ia masih bisa mendengar cerita Yugi. Rasanya ada yang janggal saat mendengar cerita Yugi.


_________________________________


Sudah belasan botol kaca minuman keras dipecahkan oleh lelaki bertubuh besar dengan kulit kecoklatan itu. Amarahnya di ubun-ubun, rahangnya yang tegas semakin mengeras tatkala melihat foto-foto yang berhamburan di lantai.


"Sialan...!!" umpatnya. Ia mengambil sesuatu di atas kasur, yang akhir-akhir ini menjadi teman tidurnya.


Bola matanya masih memerah, amarahnya meluap-luap saat sudut matanya menangkap foto wanita yang berserakan di lantai. Di dalam foto itu, seorang wanita tampak bergandengan mesra dengan seorang pria sambil tersenyum bahagia.


Pria itu tertawa dengan mirisnya, perlahan-lahan berubah tergelak sejadinya.


Lalu menangis...


Ia mengusap dada sampai perut. Seolah ada yang menyayat organ dalamnya. Perutnya terasa diaduk-aduk, jantungnya seolah di hantam batu besar bersudut tajam. Kepalanya di cerca kejadian masa lalu, mereka ulang kejadian bejat yang diperbuatnya tanpa belas kasih. Mengingatkan kembali akan niat busuknya terhadap wanita yang pernah menjadi tunangan sekaligus calon ibu dari anaknya.


Apa ini balasan untuknya?


Sekarang tak ada lagi yang bisa menahan wanita itu disisinya. Seratus persen ia yakin, wanita itu tak memujanya lagi seperti dulu. Pupus lah perasaan yang baru-baru ini ia sadari, selepas kepergian wanitanya itu.


"Don't leave me, babe" Nick terisak menyayat hati, memeluk tabung berisi janin yang sudah diawetkan dan diberi fiber di dalamnya.


"I'm so sorry sweetie" ia menciumi tabung itu dengan berurai air mata. Penyesalan membawanya ke ujung kehancuran.


Pria yang dulunya menolak mentah-mentah perasaan itu. Perasaan yang membuat dirinya terlihat lemah, ia tak suka. Apalagi setelah mengetahui keberadaan sang buah hati. Egonya semakin gencar meronta, mendorong perasaan itu kian menjauh. Supaya eksistensinya sebagai pria terkuat tak terbantahkan.


Tapi lihatlah sekarang, tubuh dan hatinya begitu rapuh. Sungguh tak sesuai dengan kepribadiannya dahulu. Casanova sepertinya, terus hanyut dalam pilu, yang menundukkan birahi liarnya. Pria bengis yang kekejamannya melebihi Hitler. Tunduk takluk di bawah kaki seorang wanita yang bernama Marriane.


To be continue...