
"Hihi... Liat deh honey, adikku ganteng banget kan?" Marriane sedang asyik menscroll layar ponselnya, menstalking instagram Darrel. Kemudian ia melihat instragam Leia yang tercantum di bio profil instagram Darrel.
Marriane menstalking Instagram Leia karena penasaran dengan sosok adik iparnya itu. Mata Ann terhenti ketika melihat foto Leia beserta Eden dan Darrel yang sedang tengkurap. "Ckckck... Udah jadi ayah aja nih anak" Ann memperhatikan kembali foto tersebut. "Hmm... Tapi, baby ini mirip kamu deh honey" Ann menunjukkan foto Eden pada Nicholas.
Nicholas hanya memandang sekilas tanpa memperhatikan foto baby Eden, ia acuh tak acuh terhadap tunangannya itu, yang terpenting ia sudah melihatnya supaya Marriane berhenti berceloteh. "Perasaan kamu aja kali, rambutnya aja hitam seperti Darrel" sangkal Nick. Ia duduk dengan menyilangkan kakinya sambil menyesap espresso yang dipesan sebelumnya.
Ann mendengus kesal karena perhatian Nick terhadapnya akhir-akhir ini agak berkurang.
Kita liat ntar siapa yang mencium kaki duluan, tsk. Marriane
"Aku mau ke toilet dulu sekalian mau nelpon mommy, kamu tunggu sini ya! Jangan jelalatan tuh mata!!" Ann menunjuk kedua mata Nick dengan jari telunjuk dan manisnya pada Nick.
"Pergilah... Aku milikmu" Nick menunjuk cincin pertunangan di jarinya lalu mengibaskan tangannya ke udara mengisyaratkan Ann untuk cepat pergi.
Marriane pergi ke toilet, selama itu Nick menghubungi asisten barbienya yang bernama Ariel untuk mengecek pekerjaan yang di alihkan sementara kepadanya.
"Halo Ar..."
"Yap sir" jawab Ariel dengan nada centilnya.
"Apa kau sudah membereskan anak perusahaan yang membangkang?"
"Owh, perfectly done sir. Don't worry about that" dengan gaya melambainya ia merincikan pekerjaan yang telah di bereskannya.
"Good boy" puji Nick yang membuat Ariel mesam-mesem sendiri. "Aku percayakan kerjaan selanjutnya padamu Ar, jangan mengecewakanku!" tegas Nick pada Ariel.
"Yes sir" Ariel merubah intonasi suara selayaknya lelaki sejati.
Nick segera memutuskan panggilan telponnya dengan Ariel saat melihat Marriane mendekat ke arahnya.
"Nelponin siapa?" tanya Ann seraya duduk di samping Nick.
"Ariel" jawab Nick singkat lalu memainkan ponselnya kembali.
"Ck... Asisten kamu tuh pro-kontra banget sih. Gendernya ga jelas, bikin was-was aja" gerutu Ann sambil menyeruput smoothies miliknya.
Lagi-lagi Nick mengabaikan gerutuan tunangannya itu. Ia hanya memeriksa dokumen yang telah selesai di kerjakan Ariel untuk ia setujui selanjutnya.
KEDIAMAN LEIA
"Hurry up Katie!!" teriak Smith dari dalam mobil yang di supiri oleh Yugi di pekarangan rumah Leia.
"Sebentar bawel" balas Katie yang juga berteriak dari dalam rumah. "Sayang, mommy jemput Marriane dulu ya di bandara" Katie mengelus kepala Leia yang sedang menggendong Eden. "Utuk.. Utuk... My lovely boy" Katie menciumi pipi Eden bertubi-tubi.
"Baby girl mom" sanggah Leia membenarkan ucapan Katie yang selalu salah menganggap Eden bayi laki-laki.
"Ups... Sorry, mommy selalu lupa. Abis namanya Eden sih kaya nama anak laki-laki, hihi" kekeh Katie seraya menutup mulut dengan satu tangannya. "Mommy pergi dulu ya sayang" Katie mencium pipi kiri dan kanan Leia.
"Hey wanita tua!! Apa yang kau lakukan!! Aku sudah berjamur menunggumu!!" teriak Smith kembali karena sudah kesal menunggu Katie.
Katie yang baru saja selesai dari ritual cipika-cipiki dengan menantu itupun di buat gereget dengan teriakan suaminya, ia berdecak kesal lalu memasuki mobil. "Let's go Yugi" perintah Katie yang di balas anggukan oleh Yugi. Mereka pun berangkat menuju bandara untuk menjemput Marriane dan Nicholas.
Darrel mengunjungi Handoko di penthouse yang menjadi ruang kerja khusus Handoko. Tanpa mengetuk pintu, Darrel langsung masuk ke ruangan Handoko.
"Ups... Sorry" ucap Darrel, kemudian menutup kembali pintu yang dengan lancang ia buka tadi. "Ckck... Orang tua juga butuh asupan" tiba-tiba ia membayangkan melakukan itu bersama istrinya, Darrel melihat bawah perutnya yang sedikit menonjol. "Shit..." umpatnya sambil berlalu meninggalkan penthouse Handoko. Saat Darrel hendak masuk lift, ia mendengar panggilan Handoko yang hampir membuatnya tuli.
"Hey bocah edan!! Kau mau kemana?" teriak Handoko sambil mengejar Darrel.
"Aku tidak mau mengganggu kesenanganmu pak tua" jawab Darrel sambil melambaikan tangannya dan menekan tombol agar pintu lift lekas tertutup.
Selama di dalam lift, Darrel terpikirkan Leia. Entah kenapa benda yang berada di bawah perut Darrel terus-terusan berdenyut ketika memikirkan istrinya itu. Ahh... Apa ini reaksi dari adegan panas yang ia lihat barusan?
Darrel kembali melihat senjata biologis yang berada di bawah perutnya. "Bakal di kasih gak ya?" gumam Darrel, tak lama kemudian pintu lift terbuka, membuat Darrel terkejut spontan menutupi senjatanya dengan coat. Wajah Darrel seketika memerah, ia sama sekali tak menyangka bendanya itu semakin mengeras tatkala terngiang wajah Leia. Ini pertama kali bagi Darrel, ia bingung harus bagaimana, jalan terbaik yah, dengan menyalurkannya kan?
Pulang ke rumah dulu aja deh. Di coba dulu, siapa tau Leia juga mau. Darrel
Darrel pulang ke rumah dengan menggunakan bus. Dalam perjalanannya ke halte, perlahan senjatanya melemas dengan sendirinya. Namun tak di sadari oleh Darrel, ia terus melanjutkan perjalanannya. Begitu sampai di rumah Darrel mencari-cari keberadaan Leia.
"Leia... Leiaa..." Darrel berteriak memanggil Leia namun tak ada sahutan dari istrinya itu. Ia mencari ke setiap ruangan yang ada di rumah itu, sampai akhirnya ia di taman belakang. Ia menangkap sosok Leia yang sedang berada di paviliun tengah menyapu dedaunan yang gugur di sisi paviliun seraya menggendong Eden dengan kain. "Istrikuuu..." teriak Darrel sambil berlari menghampiri Leia.
"Hushh..." Leia meletakkan jari telunjuk di atas bibirnya. "Eden lagi bobok jangan teriak-teriak!" bentak Leia dengan suara yang tertahan.
Darrel memeluk Leia dari belakang, tangan kekarnya melingkar di perut Leia, sementara tangan satunya lagi membelai punggung Eden. Darrel menenggelamkan wajahnya di leher Leia, ia menghirup aroma Camelia yang bercampur keringat, menambah kesan eksotis bagi penciuman Darrel.
"Hey, kamu kenapa?" Leia kegelian ketika Darrel mengendus-endus leher putihnya. Darrel tak menjawab, ia hanya sibuk menghirup aroma khas istrinya, pelukannya pun semakin mengerat. Tangan yang tadinya membelai punggung Eden, kini berganti membelai perut rata Leia.
"Oppa..." Tubuh Leia semakin bergetar tatkala tangan Darrel mulai menjelajahi setiap jengkal kulit tubuhnya.
Apa ini saatnya? Apa dia minta jatahnya? Ya Tuhan, aku musti gimana nih? Leia
Darrel mengangkat wajahnya dari leher Leia, ia membalikkan tubuh Leia berhadapan dengannya. Darrel menarik dagu Leia ke atas agar bisa melihat wajah cantiknya dengan leluasa. Ia memperhatikan manik abu milik Leia, senyum Darrel mengembang saat melihat rona merah pipi Leia. Darrel menyibak rambut Leia yang menutupi sebagian wajahnya kemudian menangkupkan telapak tangannya di kedua telinga Leia.
"Bolehkah?" suara Darrel terdengar parau menandakan birahinya mulai terpancing.
Beneran, dia minta jatahnya!! Ahh... Harusnya aku mandi dulu kan? Bau keringat ini. Leia
"Hem??" imbuh Darrel menyadarkan Leia dari lamunannya. Jempol Darrel membelai bibir tipis Leia.
Cepat atau lambat ini pasti akan terjadi. Leia memejamkan matanya kemudian membuka matanya menatap manik biru milik Darrel.
Leia mengangguk malu menandakan ketersediannya melayani suaminya. Perlahan Darrel mengecup bibir Leia, hanya kecupan loh, Leia mengernyitkan dahinya.
Kenapa pria ini tidak pandai berciuman? Harusnya segini doang dia bisa kan? Sudah pasti ini bukan yang pertama untuknya, secara udah ada hasilnya kan? Apa lagi kalo bukan Eden. Leia
Karena malas bertanya Leia menuntun Darrel agar melakukan ciuman yang lebih bergairah. Leia menyelusupkan lidahnya di antara bibir atas dan bawah Darrel, menyapu gigi putih Darrel dengan lidahnya, menggigit pelan bibir bawah Darrel. Perlahan Darrel membuka mulutnya, tanpa ragu-ragu Leia menyelusupkan lidahnya ke dalam mulut Darrel, saling menghisap dan menyatukan saliva mereka.
Mereka saling berpangutan melupakan Eden yang berada di antara mereka. Seperti di perintah hasratnya, tangan Darrel mulai sibuk merem*s bok*ng Leia yang berisi dan montok. Eden terlihat anteng berada di antara kedua orang tuanya, malahan dia memperhatikan appa dan maminya sambil mengemut jemari mungilnya.
"OH MY GOSH!! Apa kita sedang menonton live straming film biru??"
To be continue...