Traffic Light

Traffic Light
BERLANJUT



Darrel sudah menikah, bahkan telah memiliki anak dengan wanita itu? Kenapa aku tidak mengetahuinya? Tsk... Gimana sih kerja anak buah papa itu? Ga guna banget punya papa mafia. Gerutu Hestia


Darrel masih melakukan video call dengan mertuanya, kamera menyorot Eden yang sedang mengulum kepalan tangannya.


Leia sedang mengelap genangan air di meja dan di lantai yang tadi di tumpahkan Hestia. Si pelaku penumpah air bukannya membereskan kekacauan yang ia buat, malah sibuk memperhatikan Darrel dengan wajah yang sepat.


Setelah membersihkan genangan air yang tumpah, Leia langsung menyantap hidangan yang telah di sajikan sebelumnya. Leia benar-benar lapar, tenaganya terkuras habis menahan rasa kesalnya terhadap wanita yang bernama Hestia ini.


Lagi-lagi Darrel tak memahami situasi, ia baru saja menyelesaikan obrolan videonya sambil senyum-senyum sendiri, membuat Leia semakin kesal dengan cengiran nya itu. Padahal yang sangat ingin melihat baby Eden lewat video call itu Leia tapi Darrel malah merebut ponselnya dan menikmati sendiri kelucuan bayinya.


Darrel begitu gemas dengan Eden yang begitu anteng, biasanya Eden akan menangis jika tak ada Leia atau dirinya yang menemani bayi menggemaskan itu.


"Eden nya anteng banget say--- Loh... Kamu udah selesai makan?" Darrel kaget ketika melihat piring lauk Leia yang tandas, hanya sisa tulang belulang, bahkan cumi cabe ijo yang sebelumnya Darrel pesan pun sisa seperempat saja. Darrel mencium gemas pipi Leia yang tengah penuh karena mengunyah makanannya.


Hestia otomatis melihat adegan romantis itu, ia merem*s tangannya yang bersembunyi di balik meja. "Ekheemm" Hestia sengaja berdehem, berusaha menghentikan Darrel yang terus-terusan mencium pipi istrinya.


Darrel melihat ke arah Hestia, ia benar-benar lupa dengan keberadaan Hestia di antaranya dan istrinya. "Maaf kalau membuatmu tidak nyaman" Darrel meminta pengertian pada Hestia. "Kami pasangan menikah, wajar jika bermesraan seperti ini, kadang lupa tempat dan situasi. Maaf ya" imbuhnya lagi.


"Oh ya?" respon Hestia yang berpura-pura tidak tau. "Aku pikir kamu akan menikah dengan Stevi" celetuknya sambil melirik Leia. Wanita itu sengaja untuk memanas-manasi Leia. Padahal ia sendiri begitu jijik saat menyebut nama Stevi.


Leia tak merespon perkataan Hestia, wajahnya tetap datar. Lain halnya dengan Darrel, ia mengernyitkan keningnya. Kini ia baru paham dengan situasi yang terjadi. Dilihatnya Leia yang masih berwajah datar, mengacuhkannya. Darrel menghela nafas panjang, "Itu masa lalu Hes, sekarang aku punya istri dan anak yang sangat aku sayangi" ucap Darrel pada Hesti.


Kenyataannya Darrel memang tak memiliki hubungan yang seperti itu dengan Stevi. Saat itu, hanya karena tuntutan pekerjaan yang mengharuskan mereka memainkan peran untuk mengungkap korupsi yang terjadi di universitas itu. Hubungannya hanya sebatas pertemanan saja tidak lebih. Selain itu, Stevi kan anaknya pak Handoko, atasan Darrel sekaligus teman sejawatnya di BIN.


"Eeiii... Dulu kamu juga seperti ini, bermesraan di kampus, serasa dunia milik berdua" Hestia memadukan kedua tangannya seolah sedang berciuman. "Padahal aku loh yang deket sama kamu, kan yang ajarin bahasa indonesia ke kamu itu aku" tukasnya. Ia melepaskan tautan tangannya dan meletakkannya di bawah meja. "Tapi mesraan nya malah sama Stevi, apa karena kalian sejurusan ya jadinya deket banget" sungutnya.


Leia mulai menatap sinis ke arah Darrel, Hestia berpikir Leia sedang cemburu, ia tertawa di dalam hati.


Teruslah terbakar cemburu, sampai kepercayaan mu terhadap Darrel habis terlalap. Tanganku selalu terbuka untuk menampung suamimu itu, hahaha. Hestia


Bukan! Leia bukan sedang cemburu, ia hanya membayangkan penderitaan Stevi akibat perbuatan Darrel. Sebab yang ia tau Stevi dan Darrel sudah pasti pernah melakukan hubungan intim. Jadi wajar saja jika mereka sering bermesraan di kampus, seperti yang di katakan Hestia tadi.


Darrel melihat gelagat tak enak dari istrinya, ia menyudahi makannya, jika ia memaksa untuk makan, yang ada perutnya akan sakit karena terkena gangguan pencernaan.


Ambyar sudah... Baru aja baikan, sekarang udah perang lagi. Batin Darrel.


"Kamu udah selesai makan kan sayang? Kita pulang aja yuk, takut Eden nyariin" Darrel berdiri dari duduknya dan mendirikan tubuh Leia.


Darrel tiba-tiba mencium bibir Leia tanpa memperdulikan Hestia yang sedang terbakar api cemburu. Ekspresi Leia? Tentu saja ia kaget jika mendapat serangan fatal di salah satu area sensitifnya. Darrel meraih tangan istrinya dan mengenggam nya dengan mesra. "Kita tinggal dulu ya Hes". Saat Darrel hendak beranjak pergi, pelayan datang membawa pesanan Hestia, "Pas banget, udah datang makanan pesanan mu. Selamat makan" Darrel meninggalkan Hestia.


Hestia sebenarnya ingin sekali membalikan meja lesehan yang tepat berada di depannya. Namun, karena ia masih menangkap bayangan Darrel di meja kasir, ia urungkan niatnya untuk membanting meja tersebut karena tak mau melakukan hal yang memalukan di depan Darrel.


Selama perjalanan, di mobil. Leia lagi-lagi hanya terdiam, arah pandangannya lurus ke depan melihat pengendara yang melaju di depannya. Darrel meraih tangan Leia, menggenggam lembut dan menaruhnya di atas paha Darrel. "Maaf" ucap Darrel dengan nada yang menyesal.


Darrel memang tak ahli dalam hal bujuk membujuk, hanya kata itu yang ia rasa pas diucapkan untuk saat ini. Leia merubah arah pandangannya ke samping, ke arah suaminya yang sedang mengemudi. "Kok kamu jahat banget sih" Leia mulai melepaskan keluh kesahnya.


"Hah? Apa maksudmu? Kok ga manggil oppa lagi sih?" rengek Darrel saat Leia mulai berbicara formal padanya seperti saat pertama kali bertemu.


Leia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan nya. "Oppa kok jahat banget sama Stevi? Sampai sekarang oppa ga pernah cerita prihal Stevi" Leia memberi jeda, berharap Darrel mau terbuka tentang Stevi. Mulut Darrel bungkam, ia hanya fokus mengemudi. "Jadi kisah cinta oppa dan Stevi bersemi di kampus gitu?" timpalnya, memancing Darrel agar mau menjawab pertanyaannya.


"Hehe"


"Ngapain nyengir?" ketus Leia karena kesal dengan sikap Darrel yang jadi cuek saat bersinggungan dengan masalah Stevi.


"Kamu cemburu ya sayang?" Darrel mengecup tangan Leia, menatap dalam manik Leia sesaat, kemudian ia mengalihkan pandangannya ke jalan kembali.


Jantung Leia berdegup kencang, ia memegang dadanya yang tiba-tiba sesak, serasa dipenuhi sesuatu.


Lagi-lagi begini. Batin Leia


Leia menundukkan kepalanya, untung saja saat ini Darrel tak melihat rona merah di pipi Leia.


Sesampainya di rumah, Leia langsung nyelonong masuk ke dalam rumah tanpa menunggu Darrel.


Darrel menggelengkan kepalanya, saat Darrel membuka safety belt yang mengikat dirinya di kursi mobil, keberadaan Leia sudah hilang di balik pintu utama rumahnya.


"Amarah berkelanjutan istriku, sungguh membunuhku" Darrel berkata sambil bercekak pinggang, wajahnya memperlihatkan ekspresi sedih tersiksa, matanya menatap langit yang mulai teduh karena beranjak sore.


Di taman bunga, tampak Yugi yang tercengang melihat suami majikannya yang tengah meratapi nasib itu.


Apa tuan Darrel memang begini sifatnya? Cih, lemah. Ucap Yugi dalam hati sambil menggunting dahan mawar yang kering.


To be continue...