Traffic Light

Traffic Light
CURAHAN HATI



Hmm...


Aroma manis praline bercampur vanila dan peach menyeruak, merasuki rongga hidung Darrel. Bersahut dengan aroma bedak bayi, minyak telon dan kayu putih khas bayi. Seakan tak mau kalah menyerang penciuman pria yang baru setengah sadar itu. Alhasil, kelopak mata yang sebelumnya tertutup, perlahan bergerak ke atas, menampilkan bola mata indah sang empunya.


Hal yang pertama kali mata itu lihat adalah sosok wanita dengan rambut indah tergerai, membuat mata bernetra biru itu semakin silau oleh warna rambut terangnya.


Leia sedang menyisir rambut di depan meja rias, memunggungi ranjang yang sedang ditiduri oleh suaminya. Wanita itu masih belum sadar, sepasang bola mata bak lautan dalam, sedang memperhatikan setiap jengkal tubuhnya yang sedang berpatut di depan kaca.


"Give me a kiss" serak suara Darrel menggema, seraya meraung meregangkan otot-ototnya.


Kemudian, Darrel tidur menyamping dengan kepala yang bertopang pada tangan kanannya, menghadap ke arah sang istri. Sedangkan tangan kirinya sibuk menggaruk perut abs-nya yang menggoda.


Leia membalik tubuhnya, memperhatikan visual suaminya dari ujung rambut hingga ujung kaki, sangat berantakan. Namun di mata Leia, suaminya itu terlihat begitu sensual. Apalagi di saat Darrel mengecup hidung Eden penuh kasih. Memancarkan daya pikat yang begitu kuat untuk menariknya ke dalam pelukan pria itu.


Uuhh dasar!! Feromon menyebalkan. Rutuk Leia dalam hati.


Wanita itu tak dapat menahan reaksi tubuhnya yang begitu lebay. Jantung Leia berpacu semakin cepat, aliran darah pun kian mengalir deras di tubuhnya. Tanpa sadar, Leia menelan air liur yang tiba-tiba membanjiri rongga mulutnya.


Oh, astaga... Gumam Leia tanpa suara, hanya bibirnya yang bergerak.


Melihat ekspresi istrinya yang aneh tapi lucu, membuat Darrel nyengir hingga menampakkan gusi merah mudanya.


Diusapnya kepala yang kian ditumbuh rambut lebat nan legam milik baby Eden. Jemarinya mengapit kedua belah pipi bayi itu, kemudian memainkannya dengan senang. Bibir Eden terlihat mangap-mangap akibat apitan jemari Darrel yang berpundah ke hidung Eden. Sialnya, bayi itu sangat masa bodoh, bahkan mata bayi itu masih terpejam, seolah tak merasa terganggu oleh ulah ayahnya.


Setelah bosan mengganggu baby Eden yang masih terlihat enggan untuk bangun, membuat Darrel beranjak dari kasur empuknya. Dengan gerakan cepat, Darrel menghampiri Leia untuk mencuri kecupan di pipi kiri sang istri.


Satu detik...


Dua detik...


Tiga detik...


Bibir Darrel masih melekat di kulit pipi Leia yang lembut dan beraroma manis. Perlahan bibir itu merayap mencari sebangsanya, menuntut keintiman yang lebih. Sesekali hidung bangir Darrel menyentuh permukaan kulit Leia yang merona.


Bibir itu menyatu dalam cecapan dan ******an, saling sahut menyahut, menghisap habis saripati yang ada di dalamnya.


Enam puluh detik saling bertaut, berhasil membuat kedua insan itu dilanda gelanyar aneh di tubuh mereka. Mereka melepas tautan itu dengan deru nafas yang tak teratur, menghasilkan satu melodi yang di sebut gairah.


Darrel menyatukan hidung bangirnya dengan hidung mungil yang terlihat proposional di wajah kecil Leia. "Udah ga risih ya, sama bau jigong nya?" kelakar Darrel. Pria itu teringat first morning nya sebagai suami Leia. Pasalnya pria itu mencium Leia dalam keadaan belum menggosok gigi saat itu.


Leia terkekeh saat mengingat kejadian itu. Waktu itu Darrel belum tau arti jigong yang Leia ucapkan, sampai Neftari datang dan memberitahunya. "Sekarang udah nerima lapang dada dan mulai terbiasa" balas Leia, tiba-tiba mata Darrel menatap syahdu mata kelabu milik istrinya.


Darrel mengecup pangkal hidung Leia dengan perasaan sayang. Entahlah, ia sendiri geli untuk mengakuinya, memang benar kata Leia barusan. Tak hanya Leia, Darrel pun merasakan hal yang sama. Pria itu sudah sepenuhnya menerima Leia sebagi istrinya, mungkin lebih dari itu?


Darrel mengangkat tubuh Leia, mendudukkannya di atas meja rias. Sebelumnya Darrel sedikit sulit mensejajarkan dirinya, saat Leia duduk di kursi tadi.


Uuhhh...


Leia begitu menggemaskan semenjak penyatuan perdana mereka waktu itu, wajahnya memerah. Apa ini bisa Darel jadikan pertanda bahwa Leia menginginkannya lagi? Hehe...


Leia menjadi sangat salah tingkah karena di perhatikan suaminya sedekat ini. Tapi Leia suka, dia senang. Begitulah... Pagi ini pun begitu, lima bulan lebih berumah tangga, membuat senyuman tanpa bosan hadir menyambut pagi kedua sejoli itu di setiap harinya.


"Kamu di ajak kemana sama paman Luke? Ada urusan apa sebenarnya, hem?" selidik Darrel.


Duh... Kasih tau ga ya? Leia.


Leia memejamkan matanya sejenak, membiarkan otaknya berkerja memilih keputusan yang tepat.


"Heemm...??" desak Darrel, membuat Leia membuka matanya.


Lensa abu-abu Leia menatap Lekat mata suaminya, bibirnya terbuka mengatakan kejujuran. "Aku ke psikiater"


Oke, dugaan Darrel kali ini tidak meleset. Pria bule itu menarik kursi rias yang tadi terdorong lututnya ke bawah meja rias. Bokongnya mendarat di atas kursi beralas busa empuk itu. Lengan kokohnya menggelung pinggang Leia. "Jelaskan!!" titahnya bossy, seolah dirinya adalah atasan Leia di rumah. Tapi emang benarkan? Darrel itu kepala keluarga sekarang!


Leia menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskan perlahan, otaknya bekerja, menguntai kata untuk memberi penjelasan pada suaminya. "Jadi gini" berhenti sejenak, mencari jeda, menimbang perkataan yang akan keluar dari mulutnya "Katanya aku mengidap DID*" akhirnya hanya kata itu yang terucap, Leia tak sanggup menjabarkan kisahnya.


"Uncle Luke udah cerita tentang Nick?" tanya Darrel, pria itu menggenggam tangan Leia. Membuat Leia mengangkat dagunya, menatap sorot mata Darrel.


Leia mengangguk, "Ada kemungkinan juga aku mengidap Alter Ego*" sambungnya dengan wajah yang tertunduk. Leia menghela nafas "Setelah mendengar cerita paman Luke, samar-samar seklabat bayangan saat aku memukuli pria itu terlintas" Tambahnya, tersirat kekhawatiran di sana.


Leia beringsut turun dari meja rias, duduk di atas pangkuan Darrel. Punggung Leia bersandar pada tepian meja rias, jemarinya saling bertaut di belakang leher Darrel, melengkungkan tubuhnya ke belakang, hingga kepalanya menyentuh permukaan meja rias. "Apa aku gila?" lirihnya, tapi masih terdengar oleh Darrel.


Sepuluh menit sudah Leia dalam posisi itu, tak ada sahutan dari Darrel. Pria itu hanya memperhatikan istrinya dalam kebisuan. Sedari tadi manik abu Leia tak menampakkan dirinya, terhalang oleh kelopak mata bak bunga yang belum mekar. Istri Darrel ini sangat cantik, bahkan lubang hidungnya saja cantik.


Pelan-pelan wanita itu mengeluarkan keluh kesahnya dalam posisi yang sama dan mata yang masih terpejam pula. Begitulah Leia, dia akan cerita dengan sendirinya, dalam kondisi yang paling nyaman untuknya. Ia akan kesulitan saat bercerita dalam keadaan yang serius atau tegang.


Saat Leia menceritakan tentang cinta masa lalunya pun begitu. Wanita itu mencari posisi nyamannya dan dengan sendirinya ia akan berterus terang dengan kisahnya. Oleh karena itu Darrel hanya diam dan mengamati, bukan karena ia tak menanggapi cerita Leia. Tapi menunggu istrinya itu nyaman untuk bercerita dengannya.


Darrel menanggapi cerita Leia dengan cara lain, bukan dengan cara menyela atau mengomentari cerita Leia. Darrel menanggapinya dengan sentuhan-sentuhan penuh kasih, yang biasa Kim Heena terapkan padanya dulu. Nyatanya hal itu berhasil membuat Leia menjadi tenang dan berani untuk melanjutkan ceritanya.


"Oppa pria yang hangat" pujian itu Leia lontarkan untuk menutup sesi keluh kesahnya. Leia mengangkat kepalanya belakangnya dari atas permukaan meja rias. Mengikis jarak antara ia dan suaminya.


Pelukan Leia di leher Darrel semakin mengerat, "Setelah mendengar ceritaku, apa oppa berniat akan meninggalkan ku?" tanya Leia dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


To be continue...


DID \= Dissociative identity disorder, gangguan mental yang ditandai oleh pemeliharaan setidaknya dua keadaan kepribadian yang berbeda, akibat keadaan traumatis yang ekstrem.


Alter Ego \= Kepribadian diri kedua yang dipercaya berbeda daripada kepribadian yang sebenarnya. Berbeda dengan DID, alter ego memiliki kesadaran akan kepribadian lain yang ada di dalam dirinya. Biasanya kepribadian lain yang di bentuk memiliki alasan untuk melindungi kepribadian sebaliknya.