
Malam itu, tepatnya di ruang makan. Tak ada tangisan rewel Eden seperti semalam yang direcoki kedua buyutnya. Tak ada adu mulut antara Neftari dan Ayu, sebagai cara merefleksikan kerinduan setelah sekian lama hanya saling mengawasi. Bahkan Baron yang gemar melontarkan guyonan recehnya pun mendadak diam seribu bahasa.
Menikmati dengan khidmat, hidangan makan malam seadanya, yang dimasak oleh Neftari. Suasana malam ini berubah seratus delapan puluh derajat dengan suasana semalam yang hangat dan penuh suka cita.
Leia melirik ke arah ibunya, lalu beralih ke eyang dan opanya, wajah wanita paruh baya dan pasangan lansia itu begitu suram. Diliriknya lagi suami yang ekspresinya berbanding terbalik dengan para orang tua, pria itu tampak sumringah menyuapkan bubur yang di campur sayuran ke dalam mulut Eden. Hanya suami dan putri kecilnya yang tampak memancarkan rona kebahagiaan.
Ada apa ini? Batin Leia bingung.
Leia mengusap lengan Darrel yang sedikit berbulu, sedikit menyentak bulu halus itu untuk menarik perhatian suaminya. Benar saja, Darrel langsung mengalihkan pandangannya ke Leia. "Ada apa ini?" ucap Leia tanpa suara, saat Darrel meliriknya.
Darrel mengendikkan bahu, lalu kembali fokus menyuapi gongju-nim* nya.
*Gongju \= Princess maksudnya.
Leia menghela nafas, lama tak bersua dengan ibu, eyang dan opanya membuat jarak di antara mereka kian merenggang. Leia enggan mendekat atau menjauh, ia memilih jalan aman yaitu stagnan di zona namannya. Ia tak menolak jika keluarganya mengulurkan tangan mereka untuk menyambutnya, pun tak merasa keberatan jika kehadirannya tak begitu diharapkan. Begitulah pola pikir Leia yang beberapa tahun terakhir. Hidup sebatang kara menjadikannya sosok yang dingin dan selalu bersikap skeptis.
_________________________________
Setelah berhasil menjinakkan putrinya yang tumbenan sukar untuk terlelap, Darrel kembali ke kamar Leia. Entah mengapa lelaki itu sangat ingin dibelai oleh jemari kecil nan kokoh milik sang istri. Apa lagi saat mengingat pertempurannya di ranjang semalam, membuat bule berambut pekat itu senyum-senyum sendiri.
Darrel membuka pintu kamar, hal yang pertama kali ia lihat adalah Leia yang sedang duduk di depan meja riasnya.
Sekedar berbasa-basi Darrel menanyakan keadaan asisten kesayangan istrinya itu, "Gimana keadaan Yugi?". Kemudian ia menutup pintu kamar lalu menguncinya.
Menghampiri Leia yang sedang mengeringkan rambut. Darrel mengambil alih hair dryer dari tangan istrinya, lalu melanjutkan aktivitas sang istri.
Dengan lembut Darrel menyugar rambut blonde nan lurus milik Leia, menyisir dengan jemarinya seraya mengarahkan alat pengering rambut itu ke helaian rambut sang istri.
"Sepertinya Yugi harus konsul ke psikiatris deh. Traumanya jadi semakin parah" Leia berucap, tersirat kekhawatiran di wajahnya.
"Kalau dulu dia masih bisa bersosialisasi dengan wanita, sekarang melihat wanita mendekatinya saja udah bikin dia panik" Leia menjelaskan lagi keadaan asistennya yang semakin memprihatinkan.
Darrel tampak mengangguk, gerakan itu dapat Leia lihat dari pantulan cermin. "Oppa..." panggilnya kemudian.
Darrel memandang cermin yang terdapat pantulan istrinya seolah sedang bertatap muka. Padahal posisi Leia sedang membelakanginya. "Kenapa?" tanya Darrel ke pantulan cermin itu. Begitu pun Leia, ia melihat mimik wajah suaminya itu melalui cermin. Tapi rasanya kurang afdhol.
Leia berbalik, tak memperdulikan rambutnya yang masih setengah basah. Ia mendongak, memperhatikan wajah Darrel yang memiliki garis rahang yang tegas, elusable banget pokoknya.
Tangan Leia yang kasar karena pekerjaannya itu, terjulur menyentuh rahang suaminya. Jempolnya bergerak lembut di kedua sisi pipi Darrel, seolah takut jemari kasarnya melukai kulit mulus sang suami. Matanya mulai liar menyoroti setiap lekuk leher dan wajah Darrel yang sensual. Sampai netra abunya berbentrokan dengan netra biru Darrel.
Sebenarnya Leia mau mengintrogasi Darrel tentang apa saja yang terjadi di rumah hari ini. Mau tidak perduli bagaimanapun, tetap saja ia penasaran, membuat Leia jadi tetap terus kepikiran dengan situasi janggal di meja makan tadi. Namun diurungkan, karena radarnya menangkap kilatan hawa nafsu dari mata sayu suaminya.
"Lagi?" Leia mengerling nakal saat merasakan denyut nadi di leher Darrel yang kian mencepat dan tak beraturan. Netra abu itu bergerak naik turun saat memperhatikan jakun Darrel bergerak seirama dengan pergerakan netra Leia.
Leia mengerutkan dahi, ia mengira Darrel menyebutnya kebo, tapi setelah di ingat lagi suaminya menyebut yobo bukan kebo. Apa itu? pertanyaan itu tercetak jelas di wajah Leia.
Darrel tertawa,
Darrel menundukkan kepalanya sejajar dengan wajah Leia. Perlahan ia dekatkan bibirnya bersiap mencumbu bibir Leia. Diawali dengan kecupan, Darrel yang terbawa gairahnya mulai mencium serampangan istrinya, gigi mereka saling bertubrukan karena Darrel masih belum ahli dalam berciuman. Membuat Leia berdecak, ia kesal, kemudian memutus pertautan bibir mereka.
"Kamu gimana sih??" Leia menggeram. "Jangan ga sabaran gitu dong!!" Leia mengusap giginya yang sedikit ngilu karena ulah Darrel. "Aku heran deh, kamu pas main sama Stevi gimana sih?? Yang kaya begini kan sebenarnya secara naluriah udah paham" omelnya lagi.
Darrel hanya terdiam, sedikit tertohok karena Leia selalu mengaitkan Stevi dengannya. Memang Leia tak tau kebenaran yang sesungguhnya, bahwasannya Darrel melepas keperjakaannya, hanya dengan Leia. Ini pertama baginya, wajar saja jika Darrel masih awam. Ilmu dan pengalamannya sedikit, tak seperti Leia yang sebelumnya pernah menjajahi kenikmatan itu walaupun tak sampai ke permainan intinya.
Gairah Leia langsung down karena fantasi seksualnya dibuat berantakan oleh Darrel. Terbersit dipikiran Leia untuk mengajari Darrel secara private, cara berciuman yang baik dan benar.
Walaupun Darrel merasa sedikit dongkol karena kedangkalannya dalam berciuman, pria itu memilih mengalah, kalah sebelum menang. Walaupun tetap saja dedek kandungnya yang di bawah ketar-ketir, takut tak dapat melepaskan susu kental asinnya.
"Maaf.." sesal Darrel. Pria bertubuh besar itu merosot, berjongkok di depan Leia. Tangannya memilin-milin daster Leia yang berwarna ungu. Dengan ekor matanya, Darrel mengintip wajah sang istri yang masih masam, firasatnya mulai tak nyaman.
Duh, gawat... Alamat gagal dapat jatah nih... Darrel.
Leia mengulum bibirnya, melihat Darrel yang sedang jongkok di depannya seperti itu, sungguh menggemaskan. Badan besarnya tak mencerminkan kemacho-an seperti fantasi liarnya. Darrel seperti siberian husky berbulu putih bersih, seperti kulitnya yang memang lebih putih dari Leia. Lalu mata biru yang tajam itu juga sangat lucu bagi Leia, sama dengan mata mayoritas anjing jenis itu. Pupilnya besar dan dalam saat sorot itu menatapnya memelas. Leia kan gemas jadinya.
Firasat hanya sekedar firasat. Buktinya sekarang Darrel dan Leia sedang memadu kasih nan membara di atas bedcover yang baru Darrel ganti hari ini. Kalau seperti ini, Darrel rela jika harus mencuci bedcover setiap hari.
Luar biasa, rasanya menyenangkan ketika Leia menginvasi kehidupan Darrel yang hambar jadi memiliki rasa-rasa yang baru diketahui Darrel.
Begitupun Darrel yang menginvasi rongga intim Leia, membuat wanita itu kembali mendapatkan gairah dan kepercayaan diri. Apalagi Darrel memberinya kepuasan yang berlebih di banding mantan pacarnya yang meninggalkannya. Selama berpacaran, mereka hanya sebatas making out tanpa melakukan invasi yang seperti suaminya lakukan.
Jika biasanya wanita lebih mementingkan perasaan dari pada logika, lain hal dengan Leia. Wanita cantik bernetra biru itu lebih mementingkan nalarnya ketimbang nuraninya. Berkebalikan dengan Darrel sekarang.
Jatuh cinta memang aneh.
Rasa dan logika kadang saling bertentangan, namun sejalannya keadaan membuat kedua hal itu dapat memercikkan kebahagiaan.
To be continue...
PS:
Yellow... Aku balik lagi... 😁
Berikan komentar dan apresiasinya ya jika menyukai novel ini...
Calangeeooo... ❤️❤️❤️