
Luke menetralkan pikirannya yang semrawut dengan menghirup lembabnya udara malam. Pikirannya terhenyak, memikirkan kejadian lima tahun yang lalu. Jika saat itu Lexia tak sengaja menceritakan tentang prihal Amrali kepadanya, mungkin sampai saat ini Luke tak akan pernah tau tentang kebenarannya. Lexia, Amrali dan Luke memang cukup dekat, mereka menimba ilmu di universitas yang sama.
Lexia dan Luke menjalin hubungan khusus. Ketika Lexia pindah bertugas ke Irlandia, tanpa sengaja bertemu Luke di bar, dan berakhir panas di ranjang. Hubungan itu terus berlanjut, terjalin tanpa kejelasan status.
Luke tak ingin menjalin hubungan yang serius, hal itu akan memerlukan komitmen. Sedangkan Luke? Ia pria bebas yang tak memiliki komitmen.
Lexia tak masalah dengan itu, malah ia sangat senang dan merasa bebas. Lexia senang saat menjalin hubungan intim dengan Luke, ia selalu dipuaskan olehnya. Lexia hanya suka bersetubuh dengan Luke.
Mereka sering bercerita, bahkan menumpahkan keluh kesahnya selama melakukan pergaulan di kasur, dari situlah Luke tau kebenarannya. Lexia meracau tentang Amrali yang mandul di saat ia hampir mencapai pelepasannya.
Setelah itu, Luke memaksa Lexia untuk menceritakan prihal Amrali dengan jelas. Lexia tak tau menahu tentang identitas si pendonor sperm*. Lexia pun menceritakan semuanya tanpa terkecuali.
Luke sungguh tak menyangka, teman kecilnya ternyata telah melahirkan anak dari benihnya. Ia juga tak menyangka, teman sekamarnya saat menimba ilmu di negeri orang ternyata suami dari teman masa kecil yang melahirkan anaknya itu. Sungguh konyol, pikir Luke.
Tak di pungkiri, ada sedikit kelegaan di dalam hatinya. Mengingat benih miliknya tertanam di rahim wanita yang sangat ia kenali. Yaah, walaupun bukan melalui hubungan intim antara pria dan wanita selayaknya. Entah mengapa perasaan Luke begitu bahagia walaupun tanpa proses sewajarnya.
Sesungguhnya, Luke sangat mengutuk tindakan Amrali yang menyalahgunakan benihnya untuk kepentingan pribadi. Sungguh egois bukan perilaku temannya itu? Padahal, Amrali tau betul, jika Luke sama sekali tak menginginkan anak atau keluarga di dalam hidupnya. Kini, hati dan pikirannya berubah. Jika bersama Neftari, sepertinya ia tak keberatan untuk membina rumah tangga.
Luke memandang langit gelap berbintang dari balkon rumahnya, matanya seolah berbicara dengan para bintang dengan kedipan.
"Dasar brengs*k, pantas saja kau memberi rumah ini kepada ku, meskipun aku kalah taruhan waktu itu. Kau memiliki maksud lain kan? Bocah licik!!" Luke memaki Amrali seolah orang yang di maki berada di depannya.
"Hey man, bolehkah aku serakah?" ucap Luke sendu. "Sepertinya membina keluarga bersama istrimu itu ide yang bagus" wajah Luke tersenyum getir, timbul sedikit rasa bersalah di dalam hatinya. "Kau sudah tidak bisa menjaga kedua wanita itu. Sekarang ijinkan aku menggantikan tugasmu"
Terhanyut hening nya malam, Luke jadi lupa niat awal bertemu dengan Neftari tadi sebenarnya untuk membahas prihal Eden.
"Akh, aku lupa menanyakan tentang bayi itu" Luke menepuk jidatnya. "Sudahlah, aku percaya pada putriku. Hehe" Luke tertawa malu karena kata 'putriku' yang terlontar dari mulutnya. "Putriku... Putriku, Heleia" ia terus-menerus mengatakannya sambil menyengir.
"Terimakasih kawan, sudah menghadirkannya" lirih Luke seraya menatap kawanan bintang yang bertebaran di atas sana, seolah-olah Amrali menjadi salah satu di antaranya.
.................
Waktu masih dini hari, Leia merasa terganggu hingga terbangun dari tidurnya. Leia menatap sumber pengganggu tidurnya.
"Oppa... Ngapain?" tanya Leia sambil membersihkan kotoran di matanya.
"Eh.." Darrel terkejut karena Leia terbangun.
"Mau kemana item-item begitu? Mau maling?" celetuk Leia sembarang, heran dengan penampilan suaminya yang seperti aktor di film laga Hollywood.
Darrel menghampiri Leia di sisi ranjang, memeluk Leia sambil mengusap-usap punggungnya. "Tidur aja lagi. Aku mau pergi bentar ada urusan, pagi sebelum jam 9 aku pulang" ucap Darrel yang masih memeluk istrinya.
Leia melihat jam dinding yang menempel tepat di depannya. "Oppa, sekarang masih jam 2 dini hari. Ada urusan apa sedini hari gini?" Leia semakin penasaran dengan urusan suaminya.
"Kerjaan" ucap Darrel sambil mengecup kening Leia. "Entar aku cerita pas balik. Sekarang ga sempet. Aku pergi dulu ya" pamit Darrel.
Leia tak bisa tertidur kembali, padahal Eden begitu anteng saat tidurnya. Tidak rewel seperti malam-malam biasanya. Pikiran tentang suaminya terus melayang-layang di kepalanya. Sedikit informasi yang dia ketahui, tentang pria yang kini menyandang status sebagai suaminya itu.
Sedikit demi sedikit, Leia mulai tertarik dengan cerita kehidupan suaminya. Karena informasi tentang Darrel yang di dapatkan Yugi dulu begitu minim. Sama sekali tak memuaskan dahaga dari penasarannya Leia.
Leia membereskan kamar demi membunuh rasa penasarannya. Matanya masih terjaga hingga menyambut pagi. Eden mulai membuka matanya karena sudah risih dengan isi popoknya yang sudah penuh dengan kotoran.
Leia memulai paginya dengan mengurus bayinya yang kian membesar. Leia tersenyum saat melihat lesung pipi yang tercetak di pipi kiri Eden ketika bayi itu tertawa. Satu kata yang melukiskan tentang perasaannya sekarang, 'bahagia'.
Leia bercanda dengan putrinya, menyentuh-nyetuh lesung pipi putrinya dengan telunjuk. "Bener-bener anak appa kamu yah. Rambut hitam, punya lesung pipi" jemari Leia menyentuh rambut dan pipi Eden. "Mirip appa mu" kemudian Leia menatap bola mata Eden yang warna nya seperti emerald, Leia mengerutkan dahinya. "Bola matamu ini mirip siapa?" tanya Leia pada bayi yang belum bisa mencerna pertanyaannya itu.
Tok tok tok...
Pintu kamar Leia di ketuk oleh seseorang, orang itu Marriane. Leia membuka pintu kamarnya, tampak raut terkejut di wajah Leia. Ada apa gerangan kakak iparnya yang menyebalkan ini datang ke kamarnya?
Marriane nyelonong masuk ke dalam kamar Leia, ia menghempaskan bokongnya di atas kasur, membuat tubuh baby Eden ikut bergoyang. Dengan segera Leia mengambil Eden dari atas kasur dan memindahkannya ke dalam box nya.
”Apa kau melakukannya di sini?" Marriane menepuk-nepuk kasur yang ia duduki.
"Apa menyenangkan di bawah adik ku?" tanya Ann kembali dengan wajah yang ceria, membuat Leia kesal
"Ah... Apa bayimu juga mendengarkan desahan percintaan mu dengan adik ku?" pertanyaan Marriane yang ini membuat Leia membelalakkan matanya.
Sungguh, Leia ingin sekali menyentil bibir wanita yang ada di depannya ini.
Sabar... Sabar... Dia hanyalah kakak ipar berbasis ibu tiri. Batin Leia menggeram.
Tak kunjung mendengar jawaban dari Leia, membuat Ann berdecak kesal. Moodnya berubah menjadi buruk, padahal tadi Ann bersenang-senang melontarkan pertanyaan absurd ke adik iparnya itu.
"Hey, aku ingin minuman yang kau buatkan kemarin" Marriane menyilang kan kedua tangan di depan dadanya.
"Jus mangga?" tanya Leia memastikan. Maklumlah, Leia tau kakak iparnya ini sedang hamil dan sedang di kontrol oleh hormonnya. Membuat Ann kadang kehilangan kendali akan sikapnya.
"Pokoknya yang kental itu, berwarna kuning ke orenan"
Leia tersenyum simpul, "Baiklah, tunggu sebentar. Aku akan segera membuatkannya" Leia pergi ke dapur meninggalkan Marriane dan Eden di dalam kamarnya.
Ann mendekati box bayi Eden, ia bermain bersama bayi menggemaskan itu sambil menunggu jusnya. Marriane memperhatikan kilauan bola mata Eden.
"Matamu sungguh mirip dengan Nick" ujarnya sambil membelai pipi Eden.
To be continue...