Traffic Light

Traffic Light
SWEETIE, MOMMY IS COMING



"Hey!! Apa anda memukulnya? Saya hanya menyuruh kalian membawanya!!!" tanya Leia pada salah satu bodyguard itu.


"Tidak nona, kami hanya menyeretnya tanpa memukul sama sekali" lirih bodyguard ketakutan.


"Katakan!! Siapa yang memukulmu?" mata Leia menatap Darrel


"Ehh.. Tidak, tidak... Mereka tidak memukulku. Emm... tapi apa yang akan kau lakukan dengan bayi yang menangis itu?" Darrel menunjuk Eden yang tanpa Leia sadari dari tadi menangis terkejut karena bentakan nya pada bodyguard tadi.


"Ya Tuhan!! Apa yang aku lakukan!?" berbicara pada dirinya sendiri. Ia menimang - nimang Eden, tapi bayi itu tak kunjung menghentikan tangisnya. "Hey, tolong bukakan kaitan hip seat nya!" perintah Leia ke Darrel.


"Eh, i.. iya..." Darrel pun membukakan kaitan hip seat yang berada di punggung Leia. Jantungnya berdebar ketika tak sengaja menyentuh punggung Leia, padahal ada baju kaos yang melapisi punggung Leia. ia kembali menelan liurnya.


"Terima kasih" ia menggendong Eden tanpa hip seat, di peluknya tubuh mungil Eden sambil menepuk pelan punggung bayi cantik itu sampai tangisannya berhenti. Beberapa menit kemudian Eden kembali tertidur.


Setelah menempuh 20 menit perjalanan, mobil van itu berhenti di depan kediaman Leia. Yugi membukakan pagar dan mobil itu terparkir di depan rumah sejajar dengan dua mobil lainya.


"Selamat datang nona" Yugi membukakan pintu mobil dan memegang tangan Leia, membantunya turun dari van tersebut. "Apa Eden mau saya taruh di kamar nona?"


"Eung..." Leia mengangguk "Hati - hati jangan sampai dia terbangun!" mengalihkan gendongan Eden kepada Yugi. "Apa yang anda lakukan? Turunlah!" perintahnya pada Darrel yang dari tadi melongo setelah melihat keimutan Leia yang mengatakan Eung sambil mengangguk itu.


"Eeh... Iya... By the way kita sekarang di mana?" dengan ragu-ragu Darrel keluar dari mobil menghampiri Leia.


"Rumah saya" masih konsisten dengan nada bicaranya yang datar. "Masuklah, kita urus pernikahan" berjalan menuju pintu rumah.


"Haah... Kamu serius?" Darrel menarik tangan Leia yang sudah di depan pintu. Leia membalik badannya menghadap Darrel.


"Haah... Apa - apaan ini?" menggosok kasar kepalanya sendiri. "Kamu mau jadi ibunya? Lalu stevi?" tanya Darrel seraya menatap mata Leia.


"Ehh... I... itu... Hmm..." jawabnya ragu, Leia menghela nafas panjang, lalu kembali menatap Darrel "Sebenarnya, Stevi sudah meninggal" ia mengepalkan kedua tangannya.


"APA??!! Bagai mana?? Bagaimana bisa??" Darrel mencengkram bahu Leia


"Akkhh..." Leia merintih kesakitan, Yugi yang melihat Leia kesakitan langsung mencengkram leher baju Darrel.


"Lepaskan tangan anda dari nona!!" Yugi bicara sambil menggertak kan giginya menahan amarah.


"Aahh... Maafkan aku, tanpa sadar aku..." Darrel melepaskan cengkraman nya dari bahu Leia. Darrel menunduk, Leia mengambil tangan Darrel dan menggenggamnya.


"Saya mengerti" Leia menepuk punggung tangan Darrel yang di genggamnya. Darrel menegak kan kepalanya. "Masuklah kedalam dulu, akan saya ceritakan semuanya" ia menarik tangan Darrel ke dalam. Sementara Yugi diam mematung melihat perlakuan Leia terhadap Darrel.


Waahh waahh.... Pemandangan apa ini, perlakuan nona Leia terhadap tuan Darrel sangat hangat. Yugi


Leia menceritakan semua hal yang terjadi pada Stevi, termasuk buku kecil yang terdapat alamat Darrel yang menyatakan bahwa ia adalah ayahnya. Darrel pun mengepalkan tangan nya, urat - urat di wajahnya menimbul, ia berusaha menahan amarahnya.


Nick brengsek!! Setelah menghamili Stevi malah menikah dengan kakak tiriku!!! Haahh... Benar - benar bajing*n... Mungkin hal ini yang Stevi minta tolong dulu padaku. Baiklah, biar aku yang menjadi daddy nya. Darrel


To be continue...