
"Hai..." sapa pria bernetra abu-abu, menyunggingkan senyum maskulin penjerat kaum hawa.
"Feeling ku benar kan!!" pekik Lexia saat melihat Luke yang tengah melambaikan tangannya dari lantai bawah. Wanita itu semakin cepat menuruni tangga seraya bertepuk tangan seperti bocah yang diberi mainan kesukaannya.
Sesampainya di bawah, Lexia mengatur nafasnya yang ngos-ngosan. Menormalkan detak jantungnya yang berdebar karena berlari, melompati anak tangga itu.
Memang luar biasa tante-tante ini. Om yang di atas mau di nikahin, sedangkan om yang ada di depannya ini, mau minta dikelonin. Huh, tidak konsisten!
Lexia mengalungkan tangannya di leher Luke. Sebenarnya Luke merasa tak nyaman dengan posisi ini. Tapi ia juga tak bisa menolak bentuk sapaan dari juniornya di kampus dan rumah sakit dulu.
"Sudah, lepaskan!" Luke mengurai tangan yang menggelung lehernya.
"Ck..." wanita itu berdecak kesal, ia tau Luke menolaknya secara halus.
Dari lantai atas, tampak Satrio dengan raut wajah yang tak terbaca. Memperhatikan keakraban dari tamu yang katanya teman dari kekasihnya itu.
Dewa tertawa kecil melihat ekspresi ayahnya. Apa mungkin karena ikatan batin keduanya, Dewa bisa merasakan perasaan yang tak dapat terdeteksi dari wajah sang ayah. Ia heran, kenapa ayahnya terlihat biasa saja? Apa kadar cinta kedua orang tuanya hanya sebatas 'itu'?
(Maksud dari kata itu yang diberi tanda putik tunggal adalah hubungan intim antara suami dan istri)
Sudahlah, Dewa juga sudah lelah dengan hubungan aneh kedua orang tua kandungnya itu. Ia sudah tak berharap memiliki keluarga harmonis, seperti sinetron keluarga cemara di televisi. Keinginannya untuk membuat keluarga bersama pujaan hatinya pun tampaknya samar.
Seketika, mimik wajah tampan pria itu menjadi getir. Beberapa hari yang lalu, saat menjemput ayahnya yang baru sampai di tanah air. Satrio mengajak Dewa ke sebuah makam.
Ia dikejutkan dengan kenyataan yang pelik. Ayahnya berkata, bahwa makam yang mereka kunjungi merupakan makam pamannya. Ia tau betul makam itu, bahkan nama di pusara itu tercetak jelas pemiliknya. Disitu letak jasad tak bernyawa ayah dari pujaan hatinya bermuara.
Sempat mengelak, ia bahkan bercanda dengan sang ayah, yang yatim piatu. Tidak, tidak mungkin ayahnya memiliki keluarga. Begitulah jalan pikirnya, sampai saat sang ayah menyebutkan nama kekasih hatinya. Jantungnya seolah berhenti berdetak, detik itu juga.
Lamunan Dewa buyar, tatkala Satrio melenggang masuk ke dalam kamar Lexia. Mata hitam pekat itu menyoroti gerak-gerik sang ayah.
Satrio merapihkan kemejanya yang berantakan, mengalungkan kembali dasinya yang tercecer di lantai. Mengeratkan belt di pinggang, meraih jam tangan di atas nakas, lalu memakainya. Tak lupa kaca mata persegi panjang yang selalu membingkai matanya, ia kenakan.
"Mau ke mana?" tanya Dewa basa-basi saat melihat Satrio menenteng briefcase andalannya.
"Pulang" jawab Satrio seraya melenggang ke tangga yang letaknya terhubung ke garasi.
_________________________________
Sebuah mesin pemotong rumput bergerak mendekati pria yang terduduk tak berdaya karena syaraf motoriknya terbius.
"AAARRGGHHH... HEENTIKAAN!!!"
Walaupun terbius, nyatanya tak membuat rasa sakit mencabik karena tergilas mesin pemotong rumput otomatis itu ayap. Pisau-pisau pemotong itu menari-nari di atas kakinya. Mengoyak kulit dan daging yang terbalut celana kain.
Amrali kembali teriak tatkala benda berbentuk pulpen menusuk leher, tepatnya di atas pangkal tulang selangkanya. Panas, mata pulpen itu sangat panas. Ujungnya seperti dialiri elemen penghantar panas. Sekuat tenaga Amrali menahan agar tusukan itu tak menusuk semakin dalam.
"Harusnya, setelah ku peringati, kau langsung mengerti!" ucapnya datar, tanpa ekspresi. Ia menarik benda yang bentuknya seperti pen lancet, berbentuk bolpen yang di rancang khusus.
"A... Ayaah!!" teriakan yang sedikit gagap, memecah ketegangan diantara kedua orang itu.
"Ele" bibir Amrali yang mulai membiru, bergumam lemah memanggil nama kecil putrinya.
Ia melihat ekspresi Amrali yang berubah ketakutan saat melihat sosok gadi, yang tiba-tiba masuk ke area permainannya. "Ck, dasar lemah" sindir orang yang bersenjata pen itu. Rona kasih sayang terpancar di mata pria yang hampir kehabisan darah itu. Membuat monster berhoodie yang menyerang Amrali semakin benci. Kemudian ia berdiri, melangkah pendek mendekati Heleia.
Ternyata gadis ini adalah kelemahan pria yang menjadi mangsanya ini, batin orang itu. Ia berdecak kesal, tau begitu ia lebih memilih bermain-main dengan gadis yang sedang bergetar ketakutan di sana. Pasti lebih menyenangkan.
"E-Ele!! Sa-yang, ja-ngan lihat a-yah!! Larilah...!! Sel-lamat-kan dirimu!!" Amrali bersusah payah meneriaki putrinya yang terisak melihat kondisi sang ayah yang bersandar pada pohon ek, maskot keluarga kecilnya. Wajah Heleia sangat pucat saat melihat kemeja sang ayah bersimbah darah.
Beruntunglah halaman belakang rumah pribadi Amrali sangat luas. Jika Leia mendengarkan teriakan lirihnya, ia rasa Leia bisa kabur menyelamatkan diri dari predator yang baru saja memangsa dirinya.
Amrali merasa nafasnya mulai tercekat, putus-putus ia rasa nafasnya saat ini. Ia harus sadar, ia harus memastikan putrinya selamat, itu lebih penting dari pada kematian yang sebentar lagi akan ia rengkuh. Ia berdoa pada tuhan, untuk menjeda waktu kematiannya sedikit lebih lama. Sebentar saja, hanya sebentar. Sampai ia memastikan putrinya lolos dari cengkraman predator itu.
Pandangannya mulai samar, namun Putri yang dicintainya masih diam di tempatnya. Sementara predator itu semakin dekat ke arah Leia. Ia membuka mulutnya ingin berteriak, namun tak ada suara yang keluar. Tangannya masih menekan titik pendarahan di leher, tapi ia rasa percuma. Tangan itu pun melemas, melepas titik pendarahan itu di luar keinginannya. Tapi, apalah dayanya?
Kesadarannya sedikit demi sedikit mulai menghilang. Ah, sepertinya doa yang di panjatkannya tidak di ijabah. Nyatanya sang putri masih stagnan di tempat, dan predator itu sudah berada di depan putrinya.
Tolonglah, Tuhan!! Itulah doa keputusasaan yang Amrali panjatkan sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, menitikkan air mata ketidakadilan terhadap kehidupan yang susah payah ia jalani. Demi orang yang ia cintai, istri dan putri cantiknya.
Zzztt... Passt---
Leia tersentak dari tidurnya, buliran air mata jatuh membasahi pipi putihnya.
Apa itu?
Mimpi?
Kenapa begitu nyata?
Leia terhenyak dalam pikiran bangun tidurnya. Bagaikan reka ulang, ia melihat kejadian mengenaskan yang di alami ayahnya. Leia seperti menonton film thriller tentang dirinya sendiri. Bahkan, ia bisa ikut merasakan keputusasaan sang ayah. Wanita itu semakin sedih, mimpinya masih membayang di dalam otaknya. Ia terisak, membiarkan air mata semakin membasahi wajahnya.
"Hey" Darrel terbangun. Menyadari sang istri menangis membelakanginya, membuat Darrel menyelipkan lengannya di antara bantal dan leher istrinya. Menarik Leia dalam dekapannya. "Why?" suara berat nan serak itu berhasil menghentikan air mata Leia.
Leia membalikkan tubuhnya menghadap Darrel. "Aku hanya bermimpi buruk" Leia menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Darrel. Darrel menanggapinya dengan usapan di punggung Leia.
To be continue...