Traffic Light

Traffic Light
25 YEARS AGO



Sekitar 25 tahun yang lalu, Amrali mengeluh sakit di daerah kejantanannya terutama di bagian testis. Ia pun memeriksakannya ke dokter tanpa di ketahui oleh Istrinya, Neftari.


Akan sangat memalukan jika Neftari tau tentang kondisi organ reproduksinya yang sedang sakit. Padahal Amrali yang selalu gencar melancarkan serangan terhadap istrinya di ranjang, karena ingin segera memiliki momongan. Itulah sebab Amrali merahasiakannya dari Neftari.


Setelah melakukan berbagai pemeriksaan atau medical check up, Amrali di minta untuk datang kembali seminggu kemudian untuk memeriksa hasilnya.


Seminggu telah berlalu, sesuai jadwal periksa yang telah ditentukan sebelumnya. Amrali pergi ke rumah sakit untuk memeriksa hasil dari medical check upnya.


Kaki Amrali terus bergerak naik turun dikarenakan gelisah menunggu hasil pemeriksaan. Seorang dokter duduk di belakang mejanya, berhadapan dengan Amrali seraya menelaah, membuka tiap lembaran kertas di tangannya.


Dokter mengerutkan dahinya, ia membenarkan letak kacamata oval miliknya untuk menetralkan ekspresinya. Dokter yang bernama Albert itu meletakkan hasil laporan pemeriksaan milik Amrali di atas meja, menautkan tangannya di atas lembaran laporan medis milik Amrali.


"Sir, apakah anda sudah memiliki anak?" tanya Albert.


"Belum, saya sedang berusaha memilikinya" Amrali memajukan tubuhnya ke depan agar bisa bicara lebih dekat dengan dokternya. "Tolong jelaskan hasil pemeriksaannya dok"


Dokter Albert menarik dalam-dalam nafasnya kemudian ia menjelaskan hasil pemeriksaan Amrali dengan bahasa medis. "Akibat kegagalan testis atau hipogondisme primer, anda dinyatakan infertilitas, sir Amrali" ucap Albert mengakhiri penjelasannya.


"Sebentar dok". Amrali terhenyak, ia diam sebentar, otaknya mencerna informasi yang masuk dari telinganya. Ia mengusap kasar wajahnya, "Intinya, saya tidak bisa menghasilkan keturunan dok, begitu?" tanya Amrali dengan suara bergetar.


"Anda jangan berputus asa dulu sir, di dunia ini ada variabel-variabel yang bergerak mengikuti perintah penciptanya, anda hanya perlu berusaha dan sabar. Ada kasus yang seperti anda, namun pasien tak patah arang melakukan pengobatan, akhirnya setelah sepuluh tahun berusaha, mereka di karuniai bayi yang cantik" kata Albert menyemangati.


Heh... Omong kosong. Sepuluh tahun? Haha... Aku tak bisa menunggu selama itu! Aku harus segera memiliki momongan dengan Tari agar ikatan kami semakin kuat. Dengan begitu, ibu mertuaku tak mungkin tega memisahkan kami lagi. Amrali.


"Apa saya bisa di obati dalam jangka waktu dekat dok?" tanya Amrali memastikan.


"Untuk kasus anda, bukannya tidak bisa, tapi akan sulit dan pastinya akan memakan waktu yang lama sir. Problem anda terletak di testis yang tidak sehat dan masalah ejakulasi yang abnormal, anda tidak dapat menghasilkan benih yang bagus sir" ucap Albert.


Tsk, sudah ku duga. Aku harus membuat Tari hamil bagaimanapun caranya! tegas Amrali dalam hati.


"Baiklah" ucap Amrali tanpa semangat. "Kalau begitu, apakah ada cara lain agar istri saya cepat hamil dok? Tanpa benih saya pun tak apa dok asalkan itu dari rahim istri saya". Amrali memegang tangan Albert, "Saya mohon, berikan solusi" mohon Amrali.


Albert melebarkan matanya, ia sangat kaget dengan pernyataan Amrali.


Bukan benihnya sendiri pun tak apa, asal istrinya bisa hamil? Suami mana yang mau istrinya mengandung anak dari benih lelaki lain? Sungguh irasional pasien ini. Ah sudahlah, aku hanya menjalankan kewajiban ku sebagai dokter saja. Albert.


"Kalau begitu, anda bisa melakukan IUI atau inseminasi intrauterine terhadap istri anda dengan donor sperm*. Kendalanya di indonesia, donor sperm* masih di nyatakan ilegal" Albert menjelaskan.


"Kalau begitu kita bisa melakukan itu di luar negeri yang melegalkan donor ****** saja" ucap Amrali sedikit bersemangat karena telah menemukan solusi agar Neftari bisa secepatnya hamil, walaupun bukan dari benihnya sendiri. "Hmm, kalau pendonornya saya sendiri yang memilih apa bisa dok?" tanya Amrali lagi.


"Tentu saja bisa, itu hak anda"


"Baiklah, terima kasih dok atas informasinya. Saya permisi" pamit Amrali. Ia bergegas mengumpulkan informasi tentang IUI dan donor sperm* sebagai bekal untuk melancarkan aksinya membuat Neftari hamil.


Dinyatakan mandul oleh dokter dan harus merelakan istrinya mengandung benih yang bukan dari dirinya, tak dipungkiri membuat Amrali sedih. Walaupun begitu, asal itu dilahirkan dari istrinya, ia akan sangat mencintai dan menyayangi anaknya kelak, layaknya seorang ayah.


Amrali sungguh akan kehilangan muka di depan mertuanya. Hubungan dengan mertuanya memang sedikit sengit, karena ibu dari Neftari tak menyetujui pernikahan anaknya dengan Amrali. Baron, ayahnya Neftari, hanya mengikuti kemauan sang istri. Jika sang istri setuju maka ia juga akan setuju, itulah jalan pikir Baron.


Amrali mengutak-atik ponselnya mencari sebuah nama yang telah lama dikenalnya sejak masih tinggal di panti asuhan. Lexia, Amrali memilih nama itu di daftar kontaknya kemudian memanggilnya lewat ponsel.


"Hello"


"Hi Lex, it's me Rali"


"Ada apa brother? Tumben sekali kau menghubungiku" sindir Lexia.


"Kau benar sekali, adikmu ini patut di banggakan bukan?" Lexia berbangga diri.


"Sukurlah, aah... Aku baru benar-benar bangga jika kau mau membantuku" goda Amrali.


"Heh, dasar!! Dari dulu kau selalu memanfaatkan ku" gerutu Lexia.


"Aku akan memohon di kakimu jika itu perlu" Amrali berucap serius, menurunkan suaranya jadi terdengar sendu.


"Hey, hey... What's going on? Katakanlah, apa mau mu?" tanya Lexia yang penasaran, sebenarnya apa yang membuat kakak pantinya ini bersedih.


"Apa di inggris bisa melakukan donor sperm*?" tanya Amrali ragu.


"Kau ingin mendonorkan sperm* mu?" selidik Lexia.


"Jawab saja pertanyaan ku, boleh tidak?" tekan Amrali memastikan jawaban yang belum didengarnya dari Lexia.


"Tentu saja boleh, di sini bisa memiliki anak tanpa menikah, asalkan dia di kategorikan mampu" jawab Lexia.


"Kalau begitu, apakah prosedur IUI bisa kau lakukan?"


"Tentu saja bisa, di rumah sakit tempat aku berkerja adalah spesialisnya"


Amrali menceritakan tentang kondisinya yang mandul dan ingin memiliki bayi secepatnya kepada Lexia, yang sudah seperti adik saat di panti dulu. Lexia memahami apa yang Amrali alami, ia pun bersedia membantu Amrali melakukan proses IUI terhadap Neftari secara rahasia di negaranya, bahkan Neftari pun tak akan tau tentang proses IUI yang akan di jalaninya nanti.


Untuk pendonor sperm* nya, Amrali memilih Luke, teman satu klub dan roomatenya saat kuliah dulu di inggris. Pikirnya Luke orang yang tepat, gen nya bagus. Dan dia orang yang tidak menyukai anak-anak dan tidak ingin berkeluarga, malah ia berencana melakukan vasektomi pada saat usianya 35 tahun. Jadi Amrali tak perlu khawatir jika bayinya akan di ambil ayah biologisnya nanti.


Amrali dan Neftari pun berangkat ke inggris untuk melakukan pemeriksaan dan menghitung masa ovulasi Neftari, sebagai persiapan untuk melakukan IUI. Setelah melakukan berbagai macam prosedur, dan penetapan tanggal ovulasi. Amrali melancarkan rencana penjebakan Luke.


Amrali memaksa Luke yang sedang di irlandia untuk menemuinya di inggris, semua biaya pesawat dan akomodasi Amrali yang tanggung. Alasannya, rindu dengan kegilaan bersama roomatenya itu. Karena sedang senggang, Luke pun menuruti Amrali untuk menyusulnya di inggris.


Sesampainya di inggris, Amrali mengajak Luke membuat taruhan, sebagai permainan. Padahal Amrali membuat taruhan sebagai tameng untuk mendapatkan hal yang diinginkannya. Jika Luke yang menang, Amrali akan memberikan satu unit perumahan elite, yang di bangunnya sendiri di indonesia. Amrali tau kelemahan Luke, ia lemah jika berhubungan dengan Indonesia. Karena Luke memiliki kenangan indah di sana.


Tanpa curiga sedikitpun, Luke menyetujui taruhan itu. Ia pikir ini hanya kekonyolan yang di buat Amrali untuk menantangnya. Kalau di pikir-pikir mereka memang kekanak-kanakan, tapi bagi Amrali, segala cara rela ia lakukan demi cairan putih milik temannya itu.


Mereka melakukan taruhan ketahanan seksual, bukan siapa yang paling lama bertahan di atas ranjang, tapi siapa yang paling lama bertahan dari wanita cantik yang akan menggoda kedua lelaki itu. Siapa yang tak mampu menahan libido dan melakukan hubungan intim, dia yang akan kalah, dan memberikan sperm*nya pada si pemenang. Begitulah rule permainannya.


Permainan di mulai, dua wanita sexy yang menggoda iman, masuk ke dalam kamar hotel yang di sewa Amrali. Mereka berlenggak-lenggok, menari menampakan kelebihan yang di milikinya. Kedua wanita binal itu mulai melakukan foreplay untuk menaikan libido kedua pria yang menyewanya selama semalam itu.


Mereka bergantian menggoda Luke dan Amrali. Begitulah seterusnya, hingga pertahanan Luke jebol, dan memangsa kedua wanita yang telah membangunkan birahinya yang terpendam sekian lama. Dalam semalam Luke menjebol dua gawang secara bergiliran. Luke menggunakan kond*m yang sudah di siapkan sebelumnya untuk menampung air mani milik Luke.


Setelah pergumulan threesome itu selesai, Luke menyerahkan dua kond*m yang berisi air maninya kepada Amrali. Amrali tertawa bahagia karena berhasil membuat temannya itu menyerahkan sperm* miliknya dengan tangannya sendiri.


Setelah mendapatkan benih Luke, Amrali mulai melakukan kelanjutan proses IUI bersama Neftari. Tentu saja kesadaran Neftari dihilangkan untuk sementara. Sebenarnya, pembiusan tidak perlu dilakukan saat melakukan injeksi sperm* ke dalam rahimnya. Namun atas permintaan Amrali, Lexia melakukan pembiusan pada Neftari agar ia sepenuhnya tak mengetahui proses injeksi yang dilakukan.


Setelah melakukan injeksi sperm*, Neftari merasakan keram di bagian perutnya dan sedikit pendarahan di bagian intinya.


Suami istri itu kembali ke tanah air setelah proses IUI selesai. Lexia menyuruh Amrali mengawasi Neftari selama masa krusial nya, yaitu selama dua minggu.


Dua minggu ber lalu, selama itu Amrali melarang Neftari untuk berkerja. Dengan dirinya yang sakit sebagai alasan. Eh bukan alasan, itu kenyataannya. Karena memang benar Amrali acapkali merasakan sakit di bagian testis nya.


Neftari mulai menunjukkan gejala kehamilan, dengan sigap Amrali membeli alat tes kehamilan untuk Neftari. Setelah di periksa ternyata hasilnya, positif.


To be continue...