
Selesai sudah adegan mengharukan anak dan ibunya, Neftari melepaskan pelukannya dari Leia.
"Udah nak, jangan nangis lagi" menghapus air mata Leia dengan tangannya. "Bawa suami kamu kembali ke kamar mu, istirahatlah. Ibu mau menenangkan diri dulu. Besok kita bicara lagi" ia memegang kedua bahu Leia dan membantunya berdiri. Lalu menarik tangan Darrel dan tangan Leia kemudian menyatukan tangan suami istri itu.
Leia dan Darrel berpegangan tangan meninggalkan kamar Neftari.
KAMAR LEIA
Masih tetap berpegangan tangan, Leia yang lelah menghempaskan bokong nya di atas empuknya kasur. Leia menghela nafas panjang. Darrel pun mengikuti Leia duduk di sebelahnya dan tentunya masih dalam berpegangan tangan.
"Hmm... Maaf..." tegur Darrel. "Kapan kita bisa saling melepaskan tangan yang saling menggenggam ini?" menunjuk tangan kanannya dan tangan kiri Leia yang saling bertaut.
"Ekh..." sontak langsung melepaskan tangannya dari tangan Darrel. "Maaf, aku ga sadar" lirih Leia.
Darrel tersenyum, di lihatnya telinga putih Leia yang sedikit memerah karena malu.
"Oh iya, jam berapa sekarang?" membuyarkan keheningan.
"Jam 12 siang, kenapa?"
"Eden ga di kasi makan?"
"Mungkin udah d kasih sama Yugi, soalnya Eden anteng - anteng aja, aku telpon bentar" ia mengeluarkan handphone dari saku celananya dan menelpon Yugi. "Yu, kamu udah kasih Eden makan?... Ahh... Ok, terimakasih..." ia memutus sambungan telponnya. "Udah dikasih sama Yugi" ucapnya lagi pada Darrel.
"Baiklah... Leia... Bolehkah aku pinjam hanphone mu sebentar? handphone ku ketinggalan di apartemen"
"Pakailah" Leia menyodorkan handphone nya.
Darrel pergi ke kamar mandi yang ada di kamar Leia, ia bertelepon ria di sana.
Cih... Apa siapa sih yang d teleponnya? Sampe musti ngumpet ke kamar mandi gitu. Leia
KAMAR MANDI LEIA
Kedengaran dari luar ga yah? Bodo ah, urus akta nikah dulu. Aku harus membuat akta nikah yang seolah olah udah di buat dari satu tahun yang lalu. Aku minta tolong kepala tim aja deh buat ngurusin nya. Lagian ini pasti ada sangkut pautnya sama kasus tahun lalu, kematian Stevi juga. Darrel
"Hallo..." suara dari dalam telepon.
"Apa?" singkatnya.
"Ada informasi tentang kasus BLUE. Agen Rose 003 gugur dalam misi. Saya butuh berkas penyamaran secepatnya untuk melindungi saksi. Data selengkapnya akan saya kirimkan 30 menit lagi dari W Castle"
"Apa kamu bilang? Rose meninggal? Kenapa? Ahh tidak, cepat kau kirimkan!!! Tidak perlu menunggu 30 menit, cepat laksanakan!!!" teriaknya.
Cih... Giliran denger Rose aja langsung panjang ngomongnya. Darrel
"Baik!!" posisi siap seperti tentara, lalu mengecek layar HP yang koneksi panggilannya telah terputus.
Arrggh... Sial, pak tua bangka ini selalu menjengkelkan. Darrel
Ia keluar dari kamar mandi. Leia yang sedang berusaha mencuri dengar pembicaraan Darrel tertangkap basah, ia langsung gelagapan.
"Err... Aku kebelet pipis" LeIa langsung nyelonong masuk ke dalam kamar mandinya.
Pfftt... Imut sekali. Darrel
"Kalau sudah selesai cepat keluar, ada yang mau aku bicarakan" berteriak di depan pintu kamar mandi.
Aduuhh... Malu aku!! Malu banget!! Lagian kenapa sih pake acara kepo segala??. Leia sambil menoyor - noyor kepalanya sendiri.
Leia pun keluar dengan menyembunyikan wajah malunya.
"Ngomong apa?" ia kembali duduk di sebelah Darrel.
"Jam 2 siang aku tunggu di kantor agama, kita lakukan wedding ceremony biar sah di mata Tuhan. Untuk surat - suratnya biar aku yang urus. Aku akan membuat kita seolah - olah sudah menikah setahun yang lalu. Sekarang aku mau balik ke apartemen untuk mengurus sesuatu dan mengambil hp ku" jelas Darrel, lalu ia beranjak dari duduknya.
"Kamu ga kabur kan?" Leia menahan tangan Darrel.
"Ga, kamu tenang aja. Kita ketemu lagi jam 2 di kantor agama yah" ia pergi meninggalkan Leia
Leia mangut - mangut tanda mengerti.
To be continue...