
Hembusan dingin menggerogoti ruang tamu Darrel, ia duduk di sofa sambil menautkan kedua tangan yang sedang berada di atas lututnya, kakinya bergoyang naik turun karena gelisah. Sementara Leia berdiri di dekat jendela besar yang ditutupi tirai. Sambil menggendong Eden dengan hip seat, tangannya membuka tirai yang menghalangi sinar matahari pagi. Tangan kanannya mengibas debu dari tirai yang ia buka tadi, sementara itu tangan kirinya mendekap Eden kedalam dadanya, menjauhi Eden dari debu yang bertebaran. Kemudian matanya menilik setiap inci rumah Darrel.
Cih... Ini rumah apa kandang sapi sih? kenapa kotor gini? Liat tuh, telapak kaki ku item kaya abis jalan di aspal, seenggaknya kasih slip kek Padahal dia pake slip, huh. Terus liat deh dapurnya, menjijikan. Alat makan yang kotor bertumpuk ga di cuci sampe kering kerontang, gimana entar mau bikin susu buat Eden coba? Tuh, tuh... Segala baju kotor, celana dalam, kaos kaki, bantal, selimut, sprei semuanya berserakan di lantai. Haahh... mana bisa Eden ku yang cantik tinggal di tempat ini!!. Leia
Leia menatap tajam ke Darrel. Darrel menunduk mengalihkan tatapan menyeramkan Leia.
Apa - apaan cewek ini, tatapannya mengintimidasi banget. Duuhh.. Gimana jelasinnya ya? Aku takut cewek ini salah paham. Tapi, aku juga ga bisa cerita ke orang asing tentang ini. Eh, engga deh! Dia kan kenal Stevi sampe mempercayakan bayinya ke orang kaku kaya kayu ini. Apa aku kasih tau aja ya? Eh, engga deh. Lebih baik kita pantau dulu orang ini. Siapa tau dia mata - mata !! . Darrel
Darrel masih menggoyangkan kakinya naik turun, kemudian melirik Leia sesekali lalu menggeleng - geleng kan kepalanya. Diliriknya kembali Leia sambil mengacak rambutnya. Matanya kesana kemari kehilangan arah, seperti orang linglung yang tersesat di jalan.
Ya Tuhan, lihat tampangnya itu, rambutnya di panjangin sampe sebahu, acak - acakan lagi! kumis sama jenggotnya ga keurus, muka kucel, belek nya! Astaga. Ga, ini ga bisa di biarin, Eden ga bisa tinggal di apartemen yang luarnya mewah dalemnya kaya tong sampah ini. Aku pikir tinggal di kawasan elit kaya gini dalem apartemennya juga elit, huft... Tapi aku sudah terlanjur bilang ini anaknya Stevi. Aku ga berhak kalo bapaknya mau mengambilnya dariku. Duh... Gimana yah? . Leia
Tangan kanan Leia bercekak pinggang, tangan kirinya memijit pelipisnya. Wajah Leia terlihat serius, sampai ia tidak sadar ketika Darrel terus menatapnya.
Dia orang blasteran juga apa yah, warna bola matanya mencolok banget, rambutnya juga berwarna terang, cantik. Hehe... Darrel
Menurut data yang di berikan asisten Leia, Darrel merupakan blasteran eropa - korea. Ibunya seorang mantan atlet ice dancing asal korea, sedangkan ayahnya direktur utama dari sebuah perusahaan besar di Brussel, Belgia. Hanya saja di data yang di berikan asisten Leia tidak menjabarkan nama perusahaannya, karena Darrel merupakan anak haram dari direktur tersebut. Oleh karena itu data pribadi Darrel sangat rahasia, beruntung Leia memiliki asisten yang kompeten.
Oh iya, nama asisten itu Yugi. Yugi bisa meretas hampir semua data yang ia inginkan, ia jenius tapi tidak banyak bicara, dia juga menguasai dua belas ilmu bela diri. Yugi menganggap Leia sebagai malaikat penyelamatnya, sebagai bukti budinya ia bersumpah melayani Leia sampai akhir hayat hidupnya. Segitu dulu cerita Yugi si secret assistant, hehe.
"Teman" singkatnya
"Teman bikin anak maksudnya?" nyinyir Leia.
"Eh... Bukan gitu!!" mengibaskan kedua telapak tangannya. "Aku..." belum selesai bicara langsung di potong Leia.
"Ahh... Kecelakaan? terus anda tau Stevi hamil?" ketus Leia.
"Ekh.. Hmm itu..." jawab Darrel terbata - bata
"Sudahlah, saya sudah punya solusi buat kelanjutan kehidupan Eden kedepannya. Anda hanya perlu setujui saja. Deal?" Leia berjalan ke depan Darrel lalu menyodorkan tangannya.
"Apa maksudnya?" Darrel yang duduk di sofa mendongak melihat Leia.
"Ayo kita menikah!!" senyum seringai Leia muncul.
To be Continue...