
"Daddy? Katie?"
Darrel menjatuhkan kotak perkakas itu hingga menimpa kakinya sendiri.
"Darrel!!!" Leia yang terkejut menghampiri suaminya dan menjauhkan kotak yang menimpa kaki Darrel. Leia heran dengan suaminya yang tak bereaksi sama sekali saat kakinya tertindih kotak yang berat itu.
"Apa kakimu tidak sakit?" pertanyaan Leia menyadarkan Darrel.
"Ahh... Sakit" jawab Darrel datar.
"Sapalah para orang tua, setelah itu masuklah ke kamar, aku akan mengobati kakimu" bisik Leia pada Darrel yang di jawab nya dengan deheman.
Darrel pun memeluk Baron kemudian mencium tangannya. "Kau suami cucuku?" tanya Baron yang masih menahan tangan Darrel.
"Iya kek" tampak seulas senyum yang dipaksakan menghiasi wajah tampan Darrel.
Baron mengernyitkan keningnya, heran dengan tingkah Darrel. "Panggil opa, Leia memanggilku dengan sebutan opa" Darrel mengernyit heran.
Kenapa musti opa?? Bukannya itu panggilan wanita untuk kakak laki-laki atau pacarnya ya? Pikir Darrel menjurus pada sebutan Oppa dari bahasa ibunya.
Lamunannya terbuyarkan oleh suara berat Baron. "Kita harus bicara nanti!!" sergah Baron pada Darrel.
Darrel pun mengangguk tanda mengerti. Kini ia beralih ke arah Neftari kemudian mencium tangan mertuanya. Setelah itu ia menghampiri Katie yang sedang menggendong Eden, ia mengambil Eden dari dekapan Katie dan mengalihkan gendongan Eden ke Leia.
"Masuklah lebih dulu, tampaknya Eden mulai risih" bisik Darrel ke Leia yang di balas anggukan oleh istrinya itu.
"Opa, Ibu Leia ke kamar dulu ya mau menidurkan Eden. Emm... Mr and Mrs Lagrou, saya permisi ke kamar mau menidurkan bayiku" izinnya pada seluruh orang di ruang tamu, ia pun bergegas ke kamar karena Eden mulai gelisah menggerak-gerakkan tubuhnya.
Note penulis: Di ingatkan lagi, percakapan yang menyangkut pasangan Lagrou menggunakan bahasa inggris atau prancis yaa.
"Katie, I miss you" Darrel merentangkan tangannya, memeluk Katie dengan hangat.
"Sudahlah Tari dia memang seperti ini, dia selalu menganggap ku kakaknya" kilah Katie, ia terkekeh mendengar omelan Neftari pada putra bungsu di atas kertasnya itu.
Dewasa ini, Darrel baru mengetahui bahwa ibu tirinya itu tak seburuk yang ia pikirkan dulu. Malahan sang daddy yang dianggap orang paling jahat, karena acapkali menyakiti hati dua wanita sekaligus.
Usut demi usut, tragedi pembakaran villa yang membuat ibunya meregang nyawa itu sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan ibu tirinya. Sudah terbukti, karena Darrel sendiri yang menyelidikinya.
Tentu saja itu membuat hati Darrel melunak, sebab selama ini yang selalu menyuruhnya pulang bukannya si daddy tapi Katie, ibu tirinya. Tapi tetap saja, ia masih enggan menyebut Katie dengan sebutan Mommy, seperti kedua saudara tirinya sebut terhadap Katie.
Sudahlah... Jangan di bahas lagi!! Anak mana sih yang mau ibu yang telah melahirkannya digantikan perempuan lain? Cih... Batin Darrel berontak.
Krik... Krik... Krik... Satu orang yang di lewati Darrel tanpa menyapanya. Mr. Lagrou mematung akibat ulah anak lelaki satu-satunya nya itu yang mengabaikannya. Namun semuanya terdiam tanpa ada yang bersuara atau bertanya. Darrel hanya berlalu ke arah yang ia tuju.
Setelah meletakkan perkakas dan membuka sepatu miliknya, beberapa saat ia bebicara pada para orang tua yang tiba-tiba ramai memborbardirnya dengan pertanyaan seputar pernikahannya dengan Leia. Yang di jawab sekenanya oleh Darrel, ia pun mulai jenuh.
Darrel pun memohon izin pada para tetua yang berkumpul di ruang tamu rumah istrinya itu untuk masuk ke kamar. Jujur saja, saat ini Darrel tampak lelah, ia ingin bebersih tubuhnya. Ahh... Luka, lukanya juga harus di obati kan? Huh, para tetua ini memang kurang perhatian.
Sementara di kamar, Leia sudah bosan menunggu karena Darrel tak kunjung datang, ia memilih mandi membersihkan debu-debu halus kayu yang masih menempel di tubuhnya.
Darrel menyeret lunglai kakinya yang tampak membengkak. Ia pun masuk ke kamar dan merebahkan dirinya di samping baby Eden yang sedang serius menatap langit-langit kamar. Darrel memiringkan tubuhnya menghadap Eden, ia tertawa geli melihat ekspersi Eden. Ia pun mendaratkan kecupan bertubi-tubi di pipi Eden dengan gemas.
Cklek... Leia keluar dari kamar mandinya
Leia melihat Darrel yang sedang gemas mencium putrinya, tanpa sadar seulas senyum tebit di bibir Leia. Entahlah, ada rasa aneh yang menggelitiki rongga dadanya, yang jelas rasa itu membuatnya bahagia.
Eden adalah berkah untuk Leia. Seperti magnet, yang berhasil menarik orang-orang terkasihnya kembali, membuatkannya keluarga baru dan pastinya terlepas dari bayang-bayang kesepian yang menggerogotinya empat tahun ini. Satu kata yang melukiskan perasaannya saat ini, Terimakasih. Entah, untuk siapa.
To be continue...