
Disinilah Yugi, menapakkan kakinya di tempat yang akan menjadi peristirahatan terakhir bagi umat manusia. Kawasan pemakaman Kristen yang jauh dari pusat kota, hampir mendekati area hutan dan pegunungan.
Kaki kurusnya melangkah melewati deretan batu nisan yang tersusun rapi dan terawat. Tapak sepatunya berhenti pada satu nisan yang bertuliskan sebuah nama.
MARIA THERESA
Bola mata hitamnya, menatap lekat makam yang ditanami rumput jepang di atasnya. Setelah puas memandanginya, Yugi meletakkan buket bunga yang ia bawa di atas batu nisan sang ibunda.
Wajahnya begitu sendu, tapi bibirnya enggan untuk berucap. Tak seperti layaknya orang-orang yang berziarah ke makam orang tua mereka, yang akan memanjatkan doa atau sekedar berkeluh kesah. Pria itu hanya terpaku dengan tangan yang ia sembunyikan dalam saku celananya.
Satu jam Yugi terpaku di sana, dengan posisi yang tidak berubah. Tak mengindahkan sinar matahari yang membakar kulit putihnya. Pria itu melangkahkan kakinya kembali, menjauhi makam ibunda yang menjeratnya dalam belenggu lingkaran setan. Dalam kebisuan, ia meninggalkan area pemakaman elit itu.
Yugi kembali memacu mobilnya di jalan aspal komplek area pemakaman yang begitu sepi. Saat ia akan berbelok keluar dari komplek area pemakaman, ia mendapati seorang wanita yang tergeletak dalam keadaan yang mengenaskan.
Yugi mengabaikannya, namun sayang. Seseorang telah memergokinya, seolah dirinyalah pelaku yang menjadi penyebab gadis itu tergeletak tak berdaya.
"Ngapain bengong? Turuun...!!" kakek-kakek yang memergoki Yugi menggedor kaca depan mobil Yugi. Lalu beralih pada ganggang pintu mobil, menarik-nariknya agar Yugi membuka pintu dan turun dari mobil.
Yugi menurunkan kaca mobilnya, "Saya tidak menabraknya" ucap Yugi datar. Wajahnya tak menunjukkan rasa simpati sama sekali.
"Lihatlah bagian depan mobil saya, tidak ada jejak yang menjadi pelaku penabrakan" imbuhnya lagi, ia hendak menaikkan kaca jendela, tapi di tahan kakek tua itu.
Tangan renta nya menarik kerah kemeja yang Yugi kenakan. "Apa kau tak punya hati? Membiarkan gadis malang itu tergeletak hingga mati disana!! Padahal dia masih bernafas!!" amuk kakek tua itu. "Dasar iblis!!" kakek itu menghempaskan kerah Yugi dengan tenaga renta nya.
Kakek itu sedikit berlari seraya memegang punggungnya. Mendekati gadis malang itu. "Nak... Nak... Apa kau mendengarkan ku??!!" ucapnya sambil menepuk pipi si gadis. Gadis itu hanya mengerjap-ngerjapkan matanya yang sayu.
Yugi menghela nafasnya kasar. Sungguh, Yugi sangat tak ingin terlibat di dalam masalah ini. Ia bukan pria baik yang dengan mudahnya berempati akan kemalangan orang lain.
Dengan sisa tenaganya, kakek itu membopong tubuh yang penuh luka itu ke arah mobil Yugi. "Cepat buka pintu mobil mu, bodoh!!" serapahnya. Kakek itu sangat kesal dengan wajah Yugi yang santai saja, seolah tak melihat kemalangan gadis itu.
Lagi-lagi Yugi menghela nafasnya. Mau tak mau ia mengikuti arahan kakek tua itu untuk membawa gadis yang tergeletak di jalan tadi ke klinik terdekat. Toh ada si kakek, jadi ia tak masalah selama bukan dirinya yang susah-susah membopong tubuh gadis itu. Ia juga sayang akan nyawanya sendiri, ia tak mau serangan paniknya kambuh lagi, seperti saat menolong Marriane.
Dengan kecepatan tinggi, Yugi mengendarai sedannya ke klinik terdekat. Rumah sakit sangat jauh dari sini, memakan waktu kurang lebih tiga jam untuk ke sana. Oleh karena itu Yugi hanya membawa gadis itu ke klinik terdekat yang jaraknya tak sampai lima belas menit, dengan kecepatan tinggi.
Sesampainya di klinik, kakek itu mengoceh di dalam mobil. Memaksa Yugi untuk menggendong gadis yang kesadarannya sudah menghilang sejak di perjalanan tadi. Jadi kakek itu tak bisa membopongnya. Tubuhnya yang renta, sudah tak sanggup jika harus menggendong gadis malang itu.
Yugi keluar dari mobilnya, lalu memanggil perawat untuk mengeluarkan gadis malang itu dari dalam mobilnya.
Saat ia kembali lagi ke mobil, Yugi tak mendapati si kakek tua yang tadi ikut bersamanya.
Apakah kakek itu melarikan diri? Atau jangan-jangan si kakek itu pelaku sebenarnya yang menabrak gadis ini? prasangka-prasangka berseliweran di kepala Yugi.
Gadis itu ditangani oleh dokter dan perawat di trauma center yang tampaknya sangat sering digunakan. Sepertinya sering terjadi kecelakaan lalu lintas di wilayah ini.
Seorang dokter membuka tirai pembatas di ruangan itu. Tampaknya ia habis melakukan operasi kecil, terlihat dari lumuran darah di sarung tangan latex-nya yang belepotan. Kemeja putihnya pun terciprat darah yang cukup banyak.
Dokter itu menghampiri Yugi dengan wajah kesalnya. "Apa anda walinya pasien tadi?" tanya dokter itu sedikit menggeram. Sepertinya ada yang membuat dokter itu marah.
"Bukan, saya hanya orang yang melintas dan menolongnya saja" jawab Yugi tegas.
"Lalu identitas pasien?"
"Saya tidak tau, makanya saya memberi data anonim. Karena saya tidak mau ada kejadian yang menyulitkan saya kedepannya"
Si dokter mengesah, ia memejamkan matanya sebelum mengangkat bicara. "Sepertinya pasien tadi harus dilaporkan ke polisi. Dia bukan korban tabrak lari, tapi korban penganiayaan, bisa jadi pemerkosaan juga. Saya akan melakukan visum dari klinik sebagai bukti untuk melanjutkan gugatan dari kasus pasien itu" putus si dokter. Lalu meninggalkan Yugi yang masih kebingungan karena terlibat masalah yang sepertinya tidak sepele.
_________________________________
Leia mulai khawatir, pasalnya Yugi tak pernah bermalam saat mengunjungi makam ibunya. Paling lambat jam tiga sore ia sudah sampai di rumah. Saat ini pukul 12 malam, namun batang hidung Yugi tak muncul juga. Ponselnya pun tak bisa di hubungi semenjak senja tadi. Yugi tak mungkin mampir ke tempat Lain. Pria itu menjadi introvert, semenjak keluar dari lingkaran setan tempat pelacuran, yang dulu pernah ia tinggali. Leia paham betul sifat asisten yang ia anggap seperti adiknya sendiri itu.
"Ga biasanya dia begini" gurat kekhawatiran tampak jelas di wajahnya.
Darrel memeluknya dari belakang, "Tenanglah" ia mengusap lengan atas wanitanya.
Haah... Leia akan terus gelisah jika memikirkan bocah kayu itu. Kemana sebenarnya anak ayam yang tak pernah jauh dari induknya itu? Hufft... Jeki sedang sibuk tidak, ya...? Dalam benaknya, Darrel ingin meminta bantuan Jeki untuk melacak keberadaan Yugi, melalui titik terakhir dari GPS ponsel Yugi.
_________________________________
Pandangannya begitu buram, mata kirinya pun sulit untuk ia buka. Tubuhnya tak bertenaga, untuk menggerakkan kepala saja rasanya sulit. Lidahnya terasa kelu, terasa lapang, seperti tak memiliki lidah.
Aahh... Dia lupa.
Lidahnya memang sudah tidak ada. Hilang di tangan pria bengis, yang menyelamatkan seekor anjing jalanan, tapi malah menyiksa sampai memotong lidahnya.
Beberapa saat setelah penglihatannya kembali normal, barulah tampak jelas wajah kecil pucat pasi dengan dagu runcing dan berambut panjang tergerai di bahunya. Sedang tidur di atas kursi, tepat di samping bednya dalam posisi duduk
Apakah wanita cantik ini adalah malaikat penolongku?? Batin si gadis malang.
To be continue...