
Darrel menggeser pintu ruang rawat Marriane, ia bergeming, belum beranjak dari ambang pintu. Pria berkulit putih bersih itu menatap punggung kakak sulungnya.
Darrel mengetuk permukaan kaca yang ada di pintu slide ruang rawat Marriane. Mendengar suara ketukan, Marriane menoleh ke belakang dengan raut wajah sendunya. "Dasar bodoh!!" umpatnya pelan. "Untuk apa mengetuk kalau sudah membuka pintu" omel Marriane dengan suara lemahnya.
"Ayo pulang! Kau sudah sehat Ann, buktinya kau sudah bisa mengomel" canda Darrel. Walaupun hubungan Darrel dan Marriane kurang akur, tapi ikatan darah tak bisa dielakkan. Darrel turut sedih dengan apa yang telah menimpa kakaknya tersebut.
"Bocah nakal!" rutuk Marriane ke adik yang sering di ganggunya itu. Mata Marriane sudah penuh dengan air mata, ia seperti sudah mengetahui apa yang terjadi dengan bayinya. Padahal Marriane baru saja sadar dari pengaruh obat bius pasca operasinya.
"Jabang bayinya harus dikeluarkan, dia sudah tak tertolong" jelas Darrel pada Ann yang sudah berkaca-kaca matanya. Marriane membalikkan tubuhnya memunggungi Darrel lagi. Ia meringkuk, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, menangis tertahan sejadi-jadinya.
"Jika tidak, kau akan mati juga. Kalau kau mati, lalu siapa yang akan membully ku selanjutnya?" sambung Darrel dengan polosnya. Merubah tangisan Marriane menjadi kekehan yang membuat wanita itu sedikit tergelak.
"Haha... Segitunya kau ingin hidup mu aku ganggu?" Marriane mengusap air mata dengan punggung tangannya. "Jujur saja Darl, kau sebenarnya menyayangiku kan? Hihi" begitulah tangis Marriane berubah menjadi tawa akibat ulah Darrel. "Kemarilah! Bantu aku duduk" titah wanita berbadan sintal namun tinggi itu.
Darrel menuruti perintah kakak sulungnya itu dan membantunya duduk. Marriane meringis saat posisi tubuhnya diubah. "Kau tak apa?" tanya Darrel khawatir. Ia lansung menduduki tepian brankar Marriane.
"Tak apa, mungkin biusnya sudah habis" Marriane mengambil nafasnya dalam-dalam Wanita cantik yang mirip ayahnya itu menatap bola mata adiknya yang persis seperti miliknya. "Jangan beritahu mommy dan daddy Darl, biarkan aku mengurus pria brengsek yang telah membunuh anak ku itu" ucap Marriane serius.
"Aku tak berniat ikut campur urusanmu dan Nick, aku tau batasan ku Ann. Tapi, jika kau perlu bantuan ku, kau tak perlu sungkan memintanya dariku" Darrel.
"Aku mencintainya" lirih Marriane.
"Ya, aku tau. Makanya aku dan daddy menghormati pilihanmu sendiri" balas Darrel.
"Aku membencinya Darl" seketika tangis Marriane kembali pecah. Berbagai perasaan mengaduk-aduk antara dada dan perutnya sampai membuatnya mual. Tubuhnya gemetar menahan gejolak yang ada di dalam dirinya.
Perasaan cinta dan benci itu hanya terpisah oleh seutas benang takdir, dan kita berada di antaranya. Entah perasaan apa yang lebih mendominasi, itulah akhir dari kisah kehidupan itu sendiri.
Darrel memeluk erat tubuh kakaknya, mencoba memberi ketenangan dan ketabahan atas musibah yang menimpa Marriane.
________________________________
Rona kemerahan langit mulai menggelap. Dua jam yang lalu, Nick selesai menjalani operasi fraktur tulang rusuknya. Namun pria itu masih belum sadarkan diri.
Jeki dan Handoko lebih dulu pulang untuk mengurus pekerjaan di W Castle. Tinggal lah Darrel berjaga di rumah sakit seorang diri, menjaga dua orang pasien, sekaligus menunggu Nick sadar untuk mengintrogasinya.
Ponselnya berbunyi, menampilkan nama penelpon yang menghubunginya. Dengan cepat Darrel menggeser layar ponselnya untuk menerima panggilan tersebut.
"Halo prof"
.........
"Ya, dia adalah istriku"
.........
"Gejalanya sesuai dengan email yang ku kirimkan"
..........
"Baiklah, kapan kita bertemu?"
..........
"Terimakasih profesor Lexia"
Darrel mematikan sambungan telponnya. "Semoga kamu baik-baik saja sayang" gumam Darrel di samping brankar Nick.
Darrel mengangkat kepalanya yang tadinya tertunduk saat bergumam. Darrel menggertakkan giginya saat melihat senyum di wajah Nick. Hampir saja kepalan tangannya mendarat di hidung mancung Nick.
Bisa-bisanya dia tersenyum setelah membunuh bakal anaknya sendiri. Mafia tak berhati!! Aahh, apa memang semua mafia tak memiliki hati? Gerutu Darrel dalam hati.
"Ck, kenapa kau memperlakukan kakak ku seperti itu?"
"Pfftt... Kau mengakuinya?" Nick berusaha menahan tawanya agar tak pecah di dalam masker oksigen yang sedang dikenakannya. Setahunya hubungan Darrel dan tunangannya itu tidak akur, jarang berinteraksi malah.
"Kau!!!" Darrel mengeram menahan amarahnya.
"Slowly boy" Nick mengangkat tangannya sebatas dada. Ia melepaskan masker oksigen yang menutupi hidung dan mulutnya. "Haahh... Alat ini mengganggu ku saja!" Nick melempar sembarang masker oksigen di tangannya. "Aku hanya melakukan hubungan yang biasa dilakukan sepasang kekasih, yang sedang di mabuk cinta" ucapnya tanpa beban. Padahal ia dalam keadaan tak berdaya selepas operasi. Nyatanya itu tak menyurutkan keberanian pria berkulit kecoklatan itu.
Darrel merapatkan giginya, mengeratkan kepalan tangannya sampai muncul vena hijau kebiruan di lengannya. "Marriane keguguran" singgung Darrel. Ia tak mengungkit kematian bayi malang itu. Ia hanya menyinggung kekasih yang katanya tadi sedang dimabuk cinta.
Nick mengalihkan pandangannya ke langit-langit ruang rawat inapnya. "Artinya ada dua bayi yang sudah ku bunuh" lirihnya seperti merenungkan sesuatu. "Semua ini gara-gara kau!!" mata hijau itu bertemu dengan mata Darrel.
Darrel terbelalak kaget, kenapa jadi dia yang di salahkan? Darrel memijit pelipisnya. "Hentikanlah" ujar Darrel dengan mengatupkan giginya.
Tok tok tok... Drrrrtt... Pintu sleding ruang rawat bergeser terbuka. Seketika pandangan dua pria yang sedang bersitegang tadi teralihkan ke arah pintu.
Tampak wanita cantik dengan wajah pucat duduk di kursi roda, ditemani pria berseragam putih yang mendorong wheel chair yang diduduki wanita tersebut.
"Aan" lirih pria bertubuh kecoklatan yang sedang terbaring lemah di brankar.
"Bagaimana bisa kau tau?" Darrel terkejut lantaran ia tak pernah memberitahu insiden penyerangan istrinya terhadap Nick, yang membuatnya harus dirawat di rumah sakit.
Marriane tak menjawab pertanyaan adiknya, dengan gerakan tangan, Ann menyuruh perawat pria yang membawanya untuk mendorong kursi roda mendekat ke brankar.
"Tinggalkan kami" Ann menatap perawat yang membawanya, sejurus kemudian ia mengalihkan matanya ke Darrel. Mengisyaratkan kepada adiknya itu untuk keluar juga. Yang di maksud Ann kami itu adalah dirinya dan tunangannya.
Darrel menghela panjang nafasnya, tersirat kekhawatiran dari raut wajah tampannya. "Percayalah Darl" Marriane menggenggam tangan adiknya yang sedikit dingin.
Darrel hanya mengangguk dua kali, lalu meninggalkan sepasang kekasih itu. Tak lupa ia menggeser pintu slide ruangan itu agar tertutup kembali. Darrel meyenderkN punggnya di dinding, menyibak rambut legamnya ke belakang, tak jarang helaan nafasnya mengikuti gerakan bahunya.
Sementara di dalam ruang rawat Nick, keheningan menerpa dinding yang tak bergema sedikitpun. Suara detak jam bahkan tak terdengar, akibat suasana dingin di antara sepasang kekasih itu.
Nick memalingkan wajahnya yang terus diratapi oleh Marriane dengan raut wajah yang sulit di artikan. Nick sangat risih dengan perubahan sikap Marriane yang biasanya liar dan cerewet, menjadi pendiam dan datar.
"Maafkan aku" entah kenapa kata itu yang lolos dari bibir pria bajing*n seperti Nick.
Hening...
Marriane masih terpaku dalam diamnya, bahkan bola matanya tak bergetar sedikitpun saat kata haram 'Maaf' bagi Nick terlontar begitu saja.
Nick mengalihkan sedikit pandangan yang sebelumnya ia pusatkan di langit-langit kamar, ke wajah cantik tanpa rona Marriane. Setelah mengintip raut wajah tunangannya yang tak dapat ia artikan itu, ia mengalihkan kembali pandangannya ke langit-langit.
Hening...
Sampai akhirnya, Nick menatap tanpa ragu wajah kekasihnya yang juga sedang menatapnya. Sejenak, pandangan mereka bertemu. Nick menangkap getaran di bola mata tunangannya itu, Nick tersenyum.
Nick mengalihkan kembali pandangannya ke langit-langit kamar. "Kau tau? Ini adalah kali kedua aku membunuh darah daging ku" ucap Nick tanpa ragu.
Marriane melebarkan matanya, giginya sudah gemetaran, saling bergesek di dalam sana. Ann sudah tak tahan menahan gertakan gigi atas dan bawahnya itu, ia membuka sedikit mulutnya, lalu menggigiti bibir bawahnya. Menahan agar giginya tak saling berbenturan lagi.
To be continue...