
"Hoejangnim, besok saya akan menjadwalkan kepulangan kita ke korea. Tolong! Kali ini dengarkan saya!"
"Kau cerewet sekali Nam biseo"
"Tetapi kita harus segera kembali, manajemen perusahaan mulai goyah, para direksi mulai membelot karena anda lengah seperti ini"
"Haaahh..." kakek Kim menghembus kasar nafasnya. "Hanya satu yang bisa membuat kita pulang" tukas pria renta itu, lalu menjeda perkataannya, mengetuk-ngetukkan telunjuk keriputnya di atas armrest kursi pijat. "Bawa Darrel ikut serta! Aku perlu membawa anak nakal itu kembali. Ini hak dan kewajibannya" pria renta itu kembali terdiam, mengambil ancang-ancang sebelum mengeluarkan unek-uneknya. "Bukankah dengan kembalinya Darrel bisa membungkam mulut dewan direksi yang selalu meributkan pewaris selanjutnya itu?" kesah pria sepuh yang duduk di atas kursi pijat milik Darrel di apartemen.
"Hoejangnim!" seru sekertaris Nam pelan tapi penuh dengan penekanan, membuat kakek Kim mendelik tak suka ke arahnya. "Maaf" sesal sekertaris itu seraya menundukkan pandangan. "Kalau anda berlama-lama di sini, saya takut kejadian serupa terjadi lagi. Anda telah memberi celah untuk perebutan hak waris yang amat sangat anda hindari, bukan? Jadi tolong, dengarkan permintaan bawahan anda yang rendah ini" sekertaris Nam kekeuh memohon, pada atasan yang selalu menjadi prioritasnya itu.
"Aku tau. Anak itu mulai menunjukkan gelagat keserakahannya" pria sepuh itu menyandarkan dirinya pada kursi pijat bernilai ratusan juta milik Darrel. "Ya Tuhan, harta dan tahta membuat keluargaku porak poranda" keluhnya, kakek Kim memejamkan matanya, menikmati pijatan-pijatan yang dilakukan teknologi mutakhir itu, jemarinya ikut-ikutan memijit pelipisnya.
"Harabeoji?" Aera mengucek matanya yang lengket sehabis bangun tidur.
"Aga-ya*" kakek Kim menegakkan punggung bungkuknya saat melihat gadis manis berpiyama strawberry mendekat ke arahnya.
Sekertaris Nam undur diri dengan sendirinya meninggalkan kakek Kim dan Aera di ruangan itu tanpa perintah. Usia kepala empat membuatnya memiliki intelegensi yang tinggi.
"Kenapa belum tidur? Udara malam tak baik untuk kesehatan. Aera ga mau harabeoji sakit" omelan gadis itu sangat lembut dan manis di telinga. Membuat siapapun bersedia diomeli olehnya.
Aera bersimpuh manja di depan kakek Kim, meletakkan kepalanya di atas lutut pria yang sedang menahan nyeri, karena sendi lututnya sakit di tekan gadis manis itu.
Ia bertahan dengan rasa sakit sendinya, demi gadis yang sudah bersedia merawatnya, setelah sang istri tiada. Pria renta itu tersenyum, memperlihatkan gurat usia di wajahnya. Terbayang niatnya dahulu, yang hendak menjodohkan gadis manis itu dengan salah satu cucunya.
Namun apalah daya, cucu laki-lakinya hanya ada dua. Yang satu sudah menikah, yang satunya lagi sangat tak bisa diharapkan. Tentu saja ia merasa sayang jika harus menjodohkan gadis kecilnya dengan sang cucu, yang diberi julukan 'King of Scandal' itu.
Tapi gelagat Aera aneh beberapa hari ini, ia selalu mencari Darrel. Memang benar cucu kesayangannya itu terkadang mengunjunginya di apartemen. Namun seminggu terakhir, Darrel tak menampakkan hidungnya. Ia hanya berkabar lewat selular.
Apa Aera menyukai cucunya, Darrel?
Terbersit satu rencana yang bisa membuat Darrel mau kembali ke korea, menggunakan gadis kecilnya ini. Membuka pandora yang selama ini hanya ia yang tau.
*Aga-ya \= bayiku (panggilan sayang ibarat, nak)
_________________________________
"Mas, kamu tinggal bareng aku aja ya di sini?" Lexia mengenakan outer lingerie, tanpa lingerie di dalamnya. Alias polos, cuma outernya aja yang dipake.
"Ngga, aku udah nyewa officetel*" pria yang terlihat seumuran dengan Lexia, juga kembali memakai pakaiannya yang tadinya tergeletak di lantai.
"Malem ini nginep sini deh, aku ga ada temennya" rengek wanita bermata sipit itu dengan manja.
Pria gagah, berkulit coklat itu menatap wanita yang semalam ia cumbu di bawah kuasanya sarat arti. Pria itu menaikkan ujung alis sebelah kirinya.
"Baiklah, aku mengaku" Lexia mengangkat tangan tanda menyerah dengan egonya. "Aku merindukanmu mas" cicit Lexia layaknya gadis muda yang sedang malu-malu.
Pria itu tergelak atas pengakuan wanita satu anak itu.
"Yoo!!" geram Lexia tak terima karena pria yang ia panggil mas itu berhasil merendahkan egonya.
"Kamu kebiasaan deh, kalo marah dikit panggilan masnya jadi ilang gitu"
"Kamu sih!!" rajuk Lexia.
Lexia yang sedang mendekap kakinya memasang raut cemberut dengan bibir manyun-manyun.
Jubah lingerie yang di kenakan Lexia tersingkap, menampakkan gundukan gua merah jambu nan tandus di sana. "Ciee ngintip, mau lagi sayang?" goda Satrio seraya membelainya. Pria itu menegak salivanya yang tiba-tiba berproduksi lebih.
Lexia malu-malu, membenamkan wajah di atas lututnya. Ia semakin memprovokasi lelakinya, supaya melakukan lebih. Pahanya ia buka sedikit demi sedikit untuk menggoda lelaki yang telah menghasilkan seorang putra bersamanya itu.
"Bundaaa!" teriak seseorang yang suaranya tak asing di telinga kedua insan yang saling menggoda itu
"Haah gedek aku denger suaranya!!" kesal Satrio pada putranya, tak lain dan tak bukan ialah Dewa.
Lexia tertawa melihat ekspresi kesal lelakinya, ia rindu dengan segala ekspresi pria yang semalam berhasil membuatnya melayang ke langit tujuh.
"Ayaah!! Aku tau ayah di dalem! Bukaa!!" pekiknya lagi dari luar kamar.
"Kamu, cepat selimuti seluruh tubuhmu" perintah Satrio pada wanita yang sangat ia cintai, namun enggan ia nikahi itu.
"Kenapa? Biarin aja, Dewa udah dewasa juga"
"Kamu kelamaan di luar negeri adab mu jadi nyusut ya? Ikutin aja perintahku!" geram Satrio, tingkah wanitanya ini memang selalu di luar nalar. Masa sih membiarkan putra semata wayang mereka melihat jejak pergumulan barusan?
"Jadiin istri dong, kalo mau aku turutin perintah kamu" pancing Lexia yang sebenarnya sangat teramat ingin menyandang gelar istri dari satu-satunya pria yang dapat ia terima perasaannya.
Satrio memejamkan mata seraya menepuk-nepuk tengkuknya yang menegang. "Nanti Dewa kira, kamu jelmaan macan tutul kalo lihat tubuhmu itu. Ah, terserah kamu lah" ucap Satrio malas. Moodnya berantakan karena wanitanya itu lagi-lagi mengungkit soal pernikahan.
"Bundaaaa!!!" Dewa semakin tak sabar, menaik-turunkan handle pintu seperti mau merusaknya saja.
Satrio membuka kunci pintu kamar Lexia. "Apa?" ucapnya datar saat melihat anaknya di depan pintu.
"Ada teman bunda di luar"
"Astaga! Aku kira ada kebakaran"
Dewa memukul lengan ayahnya. Ucapan adalah doa menurutnya, "Huuss! Ayah ga boleh sembarangan gitu ngomongnya" Dewa memelototi sang ayah penuh peringatan.
Sementara di dalam kamar, Lexia mengerutkan keningnya saat sang putra mengatakan ada teman yang datang mengunjunginya. Pasalnya, ia tak mengabarkan kepulangannya ke tanah air pada teman-temannya. Kecuali orang-orang panti dan Luke, Luke?
"Astaga!" Lexia terlonjak dari tempat tidur. Mencari sembarang baju untuk ia kenakan, mungkin saja bule Irlandia itu, datang berkunjung karena merindukannya.
Biarlah jika memang Satrio tak ingin tinggal lebih lama dengannya. Sebagai gantinya, ia akan merayu Luke agar tinggal. Bule Irlandia itu pria yang baik, pasti dia bersedia mengabulkan permintaan Lexia.
Dewa dan Satrio hanya menggeleng saat melihat tabiat wanita yang mengisi hati mereka masing-masing. Seperti apapun rupanya, wanita itu memiliki nilai berharga bagi kedua pria itu.
"Minggir!!" Lexia membelah jalan antara kedua pria yang masih setia di ambang pintu.
Siapakah tamu Lexia?
*Officetel \= Studio apartemen
To be continue...