
"Aku sedang hamil brengsek!!" Marriane meraih benda apapun yang ada di sekitarnya.
Praangg...
Sebuah gelas mendarat di tembok tepat di sebelah Nick, membuat serpihan beling itu sebagian mengenai beberapa bagian tubuh Nick karena tempias nya.
Nick memakai pakaiannya, tanpa perduli luka yang di akibatkan pecahan beling itu. "Kenapa kau sensitif sekali Ann, bukankah kau menyukainya, hem? Disetubuhi oleh tunangan mu yang gagah ini" ucapnya acuh tanpa melihat Marriane, wanita yang barusan menjadi pelampiasan hawa nafsunya.
Marriane menangis tersedu-sedu, pastinya akan membuat siapapun yang mendengarnya menjadi prihatin, kecuali pria dingin bermata hijau itu. "Ka-lau a-ku ke-gugur-an gi-mana? Anak ki-ta, hhuhuhu" sendu Marriane di balik selimut yang menutupi tubuh ***** nya. Perut bagian bawahnya terasa tegang, "Saakiit Nick" Ann merintih seraya memeluk perutnya seakan ingin melindungi janin yang ada di rahimnya.
Nick mendekati Marriane lalu menarik rambutnya ke atas, memaksa wanita yang sedang tertunduk merintih itu mendongakkan kepalanya. "Apa yang sakit?" ucap Nick tanpa rasa bersalah. Padahal Nick yang membuat Marriane semakin menjerit karena rambut yang di tarik oleh tunangannya itu.
"Aakhh... Lepaskan rambutku!!" teriak Marriane, memukuli tangan kekar Nick yang menarik rambutnya.
Nick memperhatikan wajah tunangannya yang sedang tersakiti itu. Marriane meringis, menggigit bibir bawahnya yang telah memudar warnanya itu, hingga berdarah.
Wajahnya pucat, apa Ann beneran sedang sakit? Dia sedang menahannya? Ck... Ternyata dia tak sedang berakting. Nick.
Bukannya kuatir, Nick malah menyingkap selimut yang membalut Marriane dan menurunkan celananya lagi. Pria bengis itu hendak menyetubuhi Marriane lagi.
"Kau gilaaa!!" teriak Marriane. Ia memberontak dengan sisa tenaga yang sudah tak seberapa lagi. Namun tetap saja Ann kalah kuat dengan pria berambut keriting itu. Nick memasukkan keperkasaan miliknya kedalam lubang intim Marriane dengan paksa. Menghentak-hentakkan pinggulnya dengan kasar, membuat Marriane semakin histeris. Nick sangat menikmati pergulatan kasarnya itu.
Tiba-tiba Nick menghentikan aksi kasarnya, saat melihat darah yang merembes di pangkal pahanya dan Marriane. "Oh fu*k... Sayang, kau datang bulan!!" ucap Nick tanpa mencabut kejantanannya di dalam Marriane.
Marriane melirik organ intimnya, "AAAAAAAHH.... HELP MEEE!!!!" Marriane teriak terisak melihat darah yang mengucur dari organ intimnya hingga meninggalkan bekas di atas seprei.
Brakk...
Pintu paviliun di dobrak dari luar, "STOP IT!!" Yugi mendorong tubuh Nick hingga terjatuh di lantai. Yugi mengambil selimut dan membaluti tubuh polos Marriane yang hampir hilang kesadarannya. "Thank you, save my baby, please" ucapnya lirih sebelum benar-benar kehilangan kesadaran. Yugi menggendong Marriane, membawanya ke dalam mobil yang berada di garasi.
------------------------------
Ternyata Yugi mendengarkan pertengkaran pasangan itu dari luar. Seperti biasanya, kesibukan Yugi di pagi dan petang hari adalah mengurusi kebun di kediaman Leia. Awalnya Yugi tak perduli dengan pertengkaran Nick dan Marriane, ia juga tak mengerti bahasa prancis yang mereka gunakan saat berdebat dalam pertengkaran itu.
Tapi saat mendengar suara pecahan kaca, ada sedikit perasaan tak tenang dari lubuk hatinya. Apakah mereka melakukan tindak kekerasan? pikir Yugi saat itu.
Yugi pun mulai menguping untuk memastikan kebenarannya. Ia mendengarkan tangisan dan teriakan Marriane yang membuatnya prihatin. Ia pun memberanikan diri mengetuk pintu paviliun itu. Saat ia akan mendaratkan buku jarinya di permukaan pintu, terdengar desahan dan erangan Nick yang membuatnya mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu.
Aahh... Mungkinkah itu hanya fantasi seksual liar yang dipraktekkan pasangan itu? pikir Yugi saat itu. Ia pun memutuskan tak ambil perduli lagi dengan apa yang terjadi dengan pasangan itu di dalam paviliun. Saat Yugi membalikkan dirinya dan mulai melangkah meninggalkan paviliun, Marriane berteriak 'HELP ME' yang artinya, tentu saja Yugi tau.
Tanpa pikir panjang Yugi langsung mendobrak pintu itu dengan beberapa kali gebrakan. Yugi tau saat ini Marriane sedang hamil dan sedang mengalami pendarahan. Tubuhnya sempat bergetar ketakutan saat menyentuh tubuh Marriane, walaupun sudah terbalut selimut. Biasanya ia akan terkena panic attack saat bersentuhan dengan kulit wanita yang asing bagi dirinya.
Ia hanya menolong seperti yang nona nya selalu ajarkan, agar tak mengabaikan permintaan seseorang yang sedang meminta pertolongan.
Walau keadaan tubuh Yugi panas dingin karena melawan syndrome nya. Ia pun tanpa ragu segera membawa Marriane ke garasi lewat pintu samping, karena itu jalan tercepat menuju tempat mobil Leia terparkir.
Beruntunglah, saat di halaman depan, Handoko tiba di rumah Leia untuk melakukan part timenya mengasuh Eden. Saat melihat Yugi menggendong seorang wanita berbalut selimut yang sudah terkontaminasi darah, masuk ke dalam sebuah mobil yang terparkir di garasi. Handoko menghampiri Yugi yang terlihat panik dengan nafas yang sudah tersengal-sengal.
"Yugi, ada apa ini?" tanya Handoko yang menepuk pundak Yugi.
"Tolong" ucap Yugi yang sudah kesulitan bernafas. Rupanya serangan panik mulai menguasai tubuh Yugi.
Handoko merebut kunci mobil dari tangan Yugi, ia tau betul kondisi Yugi yang sedang terkena serangan panik. Handoko menangkup wajah Yugi dan menatap mata Yugi Dalam-dalam, "Kendalikan dirimu!! Aku yang akan membawanya ke rumah sakit. Kau beri tau nona Leia dan Darrel dengan kejadian ini!! Sadarlah Yugi!! Kau harus menepis serangan panikmu itu!!" Handoko berteriak seraya menepuk-nepuk pipi Yugi agar tak collapse dan mengalami serangan jantung. Handoko tak mau kehilangan golden time nya dalam menyelamatkan Marriane, ia pun berlalu meninggalkan Yugi yang masih memegang dada karena syndrome nya di garasi.
Yugi mengeluarkan sebuah kotak dari dalam sakunya, dan membuka kotak itu. Ternyata di dalam kotak itu terdapat sebuah suntikan penenang yang memang diresepkan untuk nya dan selalu Yugi bawa di dalam saku. Ia pun menyuntikkan obat penenang itu, perlahan detak jantungnya kembali normal. Saat dirasa ia mampu berjalan untuk menemui majikannya, ia pun beranjak dari garasi.
Yugi berjalan terhuyung-huyung menuju kamar Leia, ia mengetuk pintu itu perlahan. Kakinya sudah lunglai tak sanggup berdiri tegak.
Leia membuka pintu kamarnya, ia shock saat melihat Yugi yang sudah terduduk di depan pintu kamarnya dengan keringat yang membasahi tubuhnya. "Ya Tuhan... Apa yang terjadi Yugi? Kamu kambuh?" tanya Leia yang panik.
"Nona hah hah adik tuan pendarahan hah hah" ucap Yugi ngos-ngosan.
Leia langsung membulatkan matanya, ia berteriak memanggil Darrel yang sedang mandi, "Oppa... Oppa...!! Urgent!! Buruaan mandinya!!"
Darrel langsung keluar dengan tubuh yang masih berbusa oleh sabun karena kaget dengan teriakan istrinya. "Kenapa sayang?" tanya Darrel yang melihat kejanggalan pada Yugi.
"Peluk Yugi sekarang! Dia terkena serangan panik, dia perlu ketenangan. Aku ke paviliun dulu, aku perlu memeriksa sesuatu" ucap Leia yang tergesa-gesa menuju paviliun.
Darrel pun menghampiri Yugi dan memeluknya, menenangkan pria yang selalu berbusana ala butler itu. "Tenanglah kau pria menyebalkan" Darrel menepuk-nepuk punggung Yugi dengan agak keras.
Sementara Leia membulatkan matanya saat melihat kondisi paviliun yang di tempati Marriane bersama tunangannya, Nick.
Pintu yang engselnya terlepas karena di dobrak. Bantal dan baju yang berserakan. Pecahan kaca yang bertaburan. Kain seprei yang bersimbah darah. Itulah pemandangan yang Leia Lihat saat memasuki paviliun itu. Nick sedang terduduk di pinggir ranjang hanya mengenakan boxer.
"What happened?" tanya Leia dengan aura dinginnya.
"I'm just riding my fiance" ujar Nick yang menirukan gerakan saat menunggang kuda.
Leia yang naik pitam, langsung melakukan sesuatu yang mengerikan pada Nick di luar kendalinya.
To be continue...