
Darrel mengemudikan mobil seraya menepuk-nepuk sayang bokong Eden yang masih merasai sisa-sisa kemelowannya. Hingga bayi cantik itu terlelap seraya menggenggam erat tali hoodie yang Darrel kenakan.
Bayi yang mulai mengenali rupa orang terdekatnya itu mulai rewel, merasa gelisah karena ikatan batin yang terjalin dengan kedua orang tuanya merenggang. Bayi itu turut merasakan kegalauan ayahnya yang meragu dengan perasaan yang dimiliki sang ibu. Begitupun perasaan sang ibu yang hanyut akan pemikirannya sendiri.
Seolah menyalahkan sang ibu atas kesedihan yang ayahnya rasakan. Berulang kali Leia mencoba untuk mengambil kendali gendongan Eden. Namun, bukannya semakin tenang, Eden malah semakin menangis kencang sampai mengejangkan tubuhnya. Khawatir putrinya step, Leia pun membiarkan Eden dalam naungan suaminya.
Tak sampai disitu, kini giliran sang suami yang bertingkah tak wajar, sikapnya yang tiba-tiba dingin, sedikit menyentil hati leia. Bule bermata sayu itu kekeh menyetir mobil dengan Eden yang berada dalam hip seat yang melekat di tubuhnya sedari tadi, membuat Leia khawatir. Ingin sekali Leia menggantikan suaminya menyetir, tapi Darrel tidak memperbolehkannya. Yah, apa boleh dibuat?
Darrel sudah mengurus pemindahan Syahura dan Yugi ke rumah sakit yang ada di kota. Sebelum meninggalkan klinik, pasangan suami-istri itu sempat bertemu dengan pihak yang berwajib untuk memaparkan kejadian yang mereka ketahui dari Yugi, guna memperlancar penyelidikan.
Berhubung kondisi saksi dan korban belum stabil, jadi penyelidikan itu akan di lanjutkan setelah pemindahan Syahura dan Yugi ke kota.
Kondisi tubuh Yugi melemah, selepas serangan panik kembali menerpa dirinya. Pria ceking itu sempat tak sadarkan diri saat perawat wanita menyentuhnya. Ia pun ikut dirawat akibat kadar oksigen yang masuk ke tubuhnya menurun pasca serangan paniknya kambuh. Beruntung oksigen masih mengaliri otaknya. Jika tidak, mungkin Yugi sudah menyusul ibundanya ke alam kubur.
Dari ekor matanya, Leia melirik sang suami tanpa merubah posisinya. Rasa canggung seketika ia rasakan saat ekor matanya itu menangkap sorot mata yang dingin dan tajam dari suaminya. Ia menundukkan pandangannya seolah terhipnotis oleh aura pekat penguasa dari suaminya.
Tangan Darrel memang membelai Eden dengan penuh kasih, begitu kontras dengan aura mencekam yang ia tebarkan. Tapi Leia tak tahan dengan kecanggungan yang nyergapnya ini. Ia pun memberanikan diri menatap Darrel. "Oppa..." tersemat nada keraguan darinya.
"Hem" deheman singkat darinya berhasil menyentak kuping Leia.
Kenapa dia? Menapa aku merasa ini bukan seperti dirinya? Leia
Leia memejamkan mata, menormalkan telinganya yang tertusuk. Bukan tertusuk oleh suara tinggi suaminya, melainkan tertusuk aura dingin nan mencekam dari deheman itu. "Kenapa diam?" tanyanya setelah membuka mata.
Hening, hanya suara deru mobil yang merambat di telinga pasangan itu.
"Kenapa diam?" tanyanya lagi. Leia memutar posisi duduknya menghadap Darrel. Leia merasa risih dan tak nyaman dengan sikap yang belum pernah suaminya tunjukkan ini. "Biasanya oppa banyak ngomong. Sekarang kenapa jadi pendiam?" jujur saja sisi dingin dan mencekam yang suaminya tunjukkan ini sungguh menyesakkan hati Leia. Biasanya kan, dirinya yang selalu bersikap dingin.
Darrel menepikan mobilnya sesaat, memejamkan matanya, seolah mengumpulkan kembali topeng-topeng yang selama ini menjadi tameng untuknya.
Perlukah aku menunjukkan sisi asliku sesungguhnya? Sisi kejam penuh dendam dan kebencian yang aku tanam selama ini, perlukah? Apa wanita seperti Leia bisa menerima sisi asliku yang buruk itu? Darrel
Darrel menggengam erat stir mobil hingga tercipta guratan disana. Ia menyenderkan dirinya di sandaran jok mobil, menyandarkan kepalanya yang kian berdenyut. Berusaha menetralisir perasaannya yang kacau akibat rasa asing yang membakar hatinya.
Bukan keinginannya bersikap kejam seperti ini. Ia juga tak mau menunjukkan secuil sisi aslinya ini kepada Leia. Tapi apa daya, kontrol akan perasaannya seakan rusak, meledak-ledak dan tak terkendali. Tapi seharusnya Leia musti tau baik buruk dirinya, kan? Dia saja sudah tau segala hal tentang istrinya itu, melalui pillow talk setiap malamnya.
Sedari tadi Leia memperhatikan suaminya yang tiba-tiba menjadi aneh. Mata Darrel terpejam dan pangkal hidungnya mengerut. Tangan dingin Leia memberanikan diri untuk menyentuh kerutan yang makin mengetat itu. Seperti ditempelkan es, Darrel merasa sejuk di pangkal hidungnya. Seolah meredam emosi yang sedari tadi membelenggunya. Darrel membuka mata dan mengalihkan pandangannya ke Leia. Netra abu yang biasanya tegas dan penuh pendirian itu, tampak kuyu dan sendu. Membuat Darrel tersadar dan berhasil meraih topengnya yang mengambang.
Sorot mata Darrel meneduh, hatinya tiba-tiba melunak. Sorot mata Leia yang berbeda dari biasanya membuat Darrel terenyuh. Terbersit dalam benaknya, apakah dirinya berhasil menyusup pertahanan Leia? Darrel menengadahkan telapak tangannya di console box. "Kemari kan tanganmu" pintanya lembut seraya tersenyum.
Leia sedikit heran dengan suaminya, semudah itu dia merubah ekspresinya. Leia pun menautkan tangannya pada ruas jemari Darrel. Pria itu mengeratkan tangannya agar ujung syaraf mereka saling merasai. Lalu mendaratkan punggung tangan Leia ke bibirnya.
Bibir bawahnya yang tebal dan terbelah membuai permukaan kulit Leia, begitupun bibir atasnya yang tipis, menyesap habis permukaan itu hingga melukiskan noda kemerahan di permukaannya.
Tapi setidaknya, kini ia tau walau Leia tak mengatakannya. Bahwasannya, ia berhasil menyematkan dirinya di relung hati sang istri.
_________________________________
"Papah...!"
"Astaga putriku...!! Dari mana saja kamu??"
"Kenapa tidak masuk ke dalam saja sih?"
Baron melipat tangannya di depan dada, menatap tak senang dengan pertanyaan putrinya. Baron menaikkan sebelah alisnya, menunggu putrinya peka dengan situasi yang mengharuskan dia menunggu selama kurang lebih satu jam di dalam mobil.
Sesaat Neftari teringat akan perombakan sistem keamanan yang menantunya terapkan di rumahnya. Baron tentu tidak tau sandi barunya, kan? "Ah iya... Aku lupa, hehe... Sorry, papah" Neftari mencium pipi Baron yang masih duduk di kemudinya. "Ayo masuk, ada mamah dan Luke di dalam" ujarnya seraya menarik salah satu tangan ayahnya yang bersedekap.
Tapi Baron malah menarik tangan putrinya sampai tubuhnya ikut berbalik. Pupilnya mengecil menandakan keterkejutannya, "Siapa kamu bilang?" tanyanya dengan nada yang tinggi.
Neftari menghela nafasnya sebelum menjawab pertanyaan ayahnya itu. "Mamah pah... Mamah is come back!"
Baron memijat pangkal hidungnya, "Astaga, berbulan-bulan papah membujuknya, tapi mamah mu bersikukuh tak ingin pulang. Tapi barusan apa kamu bilang? Sekarang mamah mu ada disini?" Baron memastikan kembali, takut yang di dengarkan nya kini hanyalah ilusi.
"Masuk dulu deh pah, biar percaya" ayah dan anak itu pun memasuki kediaman Neftari.
Pupil mata Baron membesar penuh damba setelah memastikan kepulangan sang istri dengan mata kepalanya sendiri.
_________________________________
"Saayaaang~ Kamu sungguh mengecewakan ku!" Baron langsung memeluk manja tubuh istrinya, yang kala itu tengah membantu Luke mengeluarkan koper-kopernya dari dalam bagasi mobil.
Ayu berdecak, merasa risih dengan suaminya yang bersikap vulgar tanpa tau tempat dan situasi. "Kamu bocah ya? Lepaskan!!" ia menggoyangkan bahunya yang ditempeli kepala Baron di salah satu sisinya.
"Oh God!! babe i miss you" Baron mengecupi leher Ayu yang sudah berkeriput itu.
"Ya Tuhan!! Sadar umur, wahai bule tua" ujarnya geram. Haaa..." helaan Ayu begitu keras terdengar. Membuat Neftari hanya sanggup menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum.
Andai saja abang masih bersamaku, mungkin dia juga akan bersikap kekanakan yang tak mencerminkan usianya seperti ini saat bersamaku. Haa... Aku merindukannya... Neftari
Senyuman itu berubah penuh kegetiran saat Neftari kembali teringat dengan mendiang suami yang amat sangat dicintainya begitu dalam.
To be continue...