Traffic Light

Traffic Light
PESONA



Tanpa terasa, matahari mulai menenggelamkan dirinya. Handoko pamit undur diri, matanya yang tadi sendu kini berbinar. Ia masih meratapi baby Eden. Ia mengingat Stevi saat kecil tatkala melihat Eden, yang saat ini di dalam gendongan Darrel. Ia kembali mengusap-usap kepala bayi yang rambutnya masih jarang itu. Syukurlah batinnya, tuhan masih berbelas kasih menggantikan anaknya yang sudah lebih dulu pergi ke pangkuan Illahi, dengan kehidupan baru yang lahir dari rahim anaknya. matanya seakan memohon kepada Darrel, untuk menjaga dan mengasihani cucunya yang malang. Darrel memahami arti dari tatapan sang guru, ia pun mengangguk mengerti.


Di kamar, Leia baru saja selesai mandi, ia mendudukkan dirinya di depan meja rias. Tubuhnya masih terbalut kimono handuk berwarna maroon. Jemarinya dengan lembut memoleskan skincare pada wajahnya. Darrel mengetuk pintu kamar Leia, setelah mendengar sahutan dari Leia, ia pun membuka pintu dan masuk ke dalam kamar. Darrel menuju tempat tidur untuk membaringkan Eden yang matanya sudah mulai mengantuk sehabis menikmati susu buatan sang kakek. Darrel melirik Leia dengan raut wajah yang canggung.


"Ehm... Leia, boleh aku menumpang mandi lagi di kamarmu?" tanya Darrel ragu-ragu.


Leia menjawab "Hem" lalu menunjuk bufet yang berisi segala macam peralatan mandi di dalamnya. Darrel pun menuju bufet yang di tunjuk Leia, ia mengambil handuk dan sikat gigi baru, kemudian beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Leia masih di depan cermin, hendak mengeringkan rambutnya dengan hairdryer. Leia pun mencolokan steker hairdryer ke soket listrik kemudian menekan tombol on pada hairdryer. Namun, hairdryer nya tidak berfungsi, Leia mengetuk-ngetuk hairdryer dengan buku jemarinya dan mengotak-atik tombol power pada hairdryer.


Ceklek...


Darrel keluar dengan kimono handuk yang berwarna senada dengan Leia kenakan, ia mengusap rambutnya yang basah dengan handuk kecil yang bertengger di lehernya. Ia melihat Leia sedang mengutak-atik hairdryer nya.


"Kenapa?" Darrel berjalan mendekati meja rias.


"Hairdryernya ga bisa nyala. Aku ga bisa tidur kalo rambutku masih basah, bisa flu"Leia mendongak memandang Darrel yang berdiri di sampingnya.


"Berikan padaku" Darrel menengadahkan tangannya.


"Mau di apain?" Leia memberikan hairdryer kepada Darrel.


Darrel melengos tanpa menjawab pertanyaan Leia. Ia mengambil kotak perkakas seukuran dompet kartu nama di saku jasnya. Darrel hendak menyimpulkan rambutnya ke belakang. Namun diurungkannya setelah menyadari kekosongan di tangan saat menarik helaian rambutnya. Dia lupa kalau rambutnya yang panjang itu sudah binasa, di pangkas oleh Leia. Mata Leia yang memperhatikan gerak-gerik Darrel pun menangkap kelakuan Darrel yang dianggapnya lucu, ia pun terkekeh. Darrel hanya melirik Leia sambil menghembus kasar nafasnya.


Tangan Darrel dengan cekatan membenarkan hairdryer yang ternyata mengalami kerusakan di kabelnya. Kabel dalamnya ada yang terputus sehingga perlu di sambung lagi agar aliran listrik mengalir. Tak sampai lima menit Darrel telah selesai memperbaiki Hairdryer Leia. Darrel menyarankan untuk mengganti kabelnya, karena kabel yang Darrel sambung itu sifatnya hanya untuk sementara. Supaya Leia bisa menggunakannya untuk sementara waktu, demi mengeringkan rambutnya agar tidak terkena flu. Darrel memasukan steker ke soket lalu mencoba hairdryer yang diperbaikinya. Setelah di cek dan menyala, ia memberikan hairdryer tersebut ke Leia.


Mulut Leia membulat, tanpa ia sadari ia melontarkan kata kekagumanya pada Darrel, "Woaahh... Hebat" ia menepuk tangannya dengan heboh. Ia sungguh respect pada pria yang bisa memperbaiki barang-barang rusak, seperti ayahnya, Amrali.


Darrel dan Leia menghampiri Eden di tempat tidur, mereka berusaha menenangkan si bayi. Buaian Leia tak berhasil menenangkan Eden, kini Darrel yang mengambil alih. Darrel menyelipkan satu tangan di antara kepala dan leher Eden, lalu meletakkan tangan lain untuk menopang punggung dan bokongnya. Ia pun meletakkan Eden di dadanya yang terbuka, karena ia sedang memakai kimono handuk. Dibuainya bayi Eden sambil menyenandungkan lullaby song.


Perlahan tangisan Eden berhenti, berganti dengan alunan nafas yang teratur, mengantarkan nya pada alam mimpi yang di penuhi domba-domba berbulu lembut dalam fantasinya.


Leia sedari tadi memperhatikan Darrel dengan terkagum-kagum. Ia tidak menyangka, pria yang di kiranya brengsek dan menjijikan itu begitu penuh dengan pesonanya sendiri. Pantas saja Stevi memilih Darrel sebagai tambatan hatinya.


Aahh... Aku jadi ingin memberinya kecupan... Leia


Deg deg deg...


Ritme jantung leia berubah cepat, wajahnya merona merah. Ia memejamkan matanya seraya merutuki dirinya sendiri.


Otak kotor, enyahlah? . Leia mengibas tangannya di udara seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kamu kenapa?" ia memandang Leia dengan heran.


"Ingin mengecup mu!!!" Jawabnya tanpa sadar. Sontak ia membelalakkan matanya, mulutnya membulat sempurna, setelah sadar ia menutup mulutnya yang terbuka dengan kedua telapak tangannya.


Sial, keceplosan. Leia


To be continue...