Traffic Light

Traffic Light
IUI (intrauterine insemination)



Leia sudah tiga kali mencapai klimaksnya, karena Darrel terus memainkan lidah dan jemarinya di sekujur tubuh Leia terutama area kewanitaannya. Dadanya naik turun seiring tarikan nafasnya yang cepat. Ia memandang heran wajah suaminya dari celah kedua pahanya.


"Apa yang oppa lakukan? Kenapa tidak memasukkannya?" tanya Leia terengah-engah.


Masukin ke lubang yang mana? Di sini ada dua lubang!! Shit!! bodoh sekali aku ini. Darrel menggerutu di dalam hati.


"Oppa?" panggilan Leia membuat Darrel menerjapkan kedua matanya.


"Hah?"


"Ayo lanjut" rengek Leia yang dikabuti oleh nafsu. "Aku sudah hampir kelelahan, tapi oppa belum juga menyatukannya. Pokoknya Ini kesempatan terakhir!! Kalau oppa cuma mau bermain-main, seterusnya ga akan aku ladenin" ancam Leia.


Ya Tuhan, apa dia sudah lupa caranya bercinta? Leia


"Ba--Baiklah" jawab Darrel gugup.


Setelah menimbang-nimbang gua mana yang akan ia masuki, Darrel mulai mengarahkan senjatanya ke salah satu lubang yang di yakini nya itu lubang yang benar. Saat benda tumpul itu mengenai lubang itu, Leia mengerang, menancapkan kuku-kukunya di punggung Darrel. Darrel semakin yakin, jika lubang yang ia masuki itu benar. Saat Darel akan menekan kejantanannya agar lebih masuk ke dalam kemalu*n Leia tiba-tiba,


Ooeekk... Oeekk... Oeekkk...


Tangisan Eden membahana, menghentikan aktifitas Darrel yang hendak menuntaskan ritualnya itu. Leia menolehkan kepalanya ke arah box bayi Eden, kemudian mengalihkan pandangan matanya ke Darrel sambil mengigiti bibirnya.


"Pending dulu oppa, Eden nangis" Leia menepuk punggung suaminya, kemudian mendorongnya pelan agar bisa terlepas dari kukungan suaminya. "Kamu sih ga gercep" omel Leia sambil memakai dasternya kembali tanpa underware.


Darrel menghempaskan tubuhnya ke ranjang dengan raut wajah yang tak bisa dijelaskan. "Gercep?" tanya Darrel yang sedang menatap nanar awang-awang kamarnya.


"Iya, gerak cepat" jawab Leia sambil mengambil bayinya di box dan menimangnya.


Ya sudahlah, yang penting sekarang udah tau letak sarang my dicky. Darrel**


NAMISEOM (PULAU NAMI)


Seminggu yang lalu, setelah sampai di Gapyeong, Kakek kim turun dari kereta ekspress yang ia naiki, lalu menaiki kapal ferry pribadi yang telah menunggunya di dermaga. Pria tua itu menikmati suara desiran angin dan ombak di sekelilingnya saat kapal ferry berlayar menyebrangi lautan menuju Namiesom.


Kakek Kim di sambut wanita muda cantik yang langsung memeluknya ketika melihat kakek kim saat tiba di villa.


"Harabeoji" teriak wanita berambut ikal di ujungnya.


"Aera ya" sambut kakek Kim seraya merentangkan tangannya.


Aera melepaskan pelukannya dari tubuh pria renta itu. "Apa harabeoji masih merindukan halmeoni makanya ke sini lagi?" cerca Aera yang sedikit bingung dengan kedatangan kakek Kim yang tiba-tiba. Pasalnya, seminggu yang lalu kakek kim sudah berkunjung ke pulau nami karena abu jenazah istrinya di tebar di lautan pulau nami, atas permintaan sang istri sebelum wafat.


"Tidak, harabeoji datang untuk menemui mu" jawab kakek Kim yang memegang kedua pundak Aera.


"Apa harabeoji ingin meminta bantuanku?" tanya Aera dengan wajah imutnya yang baru berusia 19 tahun (dalam hitungan kelahiran di korea, bayi yang baru lahir dihitung umur satu tahun)


"Iya Aera, ikutlah harabeoji ke Indonesia, bertemu cucu kakek" pinta kakek kim ke Aera.


"Shin Jae oppa?" tanya Aera yang setaunya cucu kakek kim hanya Kim Shin Jae seorang.


Kakek Kim menggelengkan kepalanya, membuat Aera mengerutkan dahinya.


Harabeoji punya cucu lain, cucu rahasia? Batin Aera.


"Harabeoji mengajakku karena aku mengerti bahasa indonesia?"


Kakek kim menganggukkan kepalanya, di ikuti Aera yang juga menganggukkan kepalanya, pertanda setuju untuk mengikuti kakek Kim ke indonesia.


Dulu, saat Aera kelas 3 jung hakgyo (kelas 3 SMP di korea) Kakek Kim dan Nenek Shin pernah menolongnya saat hilang ingatan, akibat terjatuh di gunung Bukhan, saat mengikuti orang tua dan saudaranya hiking.


Benar saja, saat kakek Kim berhasil menemukan keluarga Aera, kakek Kim membawa ayah dan ibu Aera ke kediamannya. Orang tua Aera memeluk putrinya yang masih kebingungan karena tak mengingat kedua orang tuanya.


Saat Aera di bawa kedua orang tuanya untuk pulang ke rumah, Aera sedikit sedih karena harus meninggalkan pasangan lansia yang telah merawatnya dengan tulus. Karena melihat ekspresi Aera yang sedih, kakek Kim memperbolehkan Aera untuk mengunjungi kakek Kim dan nenek Shin di kediamannya kapanpun Aera mau.


Hingga sekarang hubungan itu semakin dekat. Aera sudah di anggap cucu oleh kakek Kim dan nenek Shin. Walaupun sekarang nenek Shin telah di surga, tak menyurutkan kasih sayang Aera ke kakek Kim.


Kini, kakek kim, Aera, dan sekertaris Nam sedang berada di bandara incheon, menunggu jam keberangkatannya tiba. Aera melihat raut wajah kakek Kim yang sumringah bahagia. Aera memegang tangan kakek Kim kemudian mengusapnya pelan seraya tersenyum cantik.


"Sudah lama harabeoji tidak tersenyum semenjak kematian halmeoni. Apa cucu harabeoji yang di indonesia begitu berharga?"


"Tentu saja" jawab kakek Kim dengan bangga.


"Tapi kenapa baru sekarang menemuinya?"


"Anak nakal itu hobinya bersembunyi semenjak kematian ibunya. Harabeoji jadi sulit untuk menemuinya" ucap kakek kim sedih.


Aera mengusap punggung kakek Kim yang agak membungkuk dengan belas kasih. Menyalurkan semangat muda yang dimilikinya supaya kakek kim ikut bersemangat juga.


BARLEY TEA SHOP


Luke dan Neftari sedang berbincang di sebuah cafe yang menyediakan berbagai racikan teh beserta makanan pendampingnya. Sesekali Neftari melihat keluar kaca jendela cafe yang berkonsep oldiest dengan nuansa cafe yang tenang.


Kebanyakan pelanggan yang ke sini memiliki hobi membaca buku, tersedia berbagai buku lama yang sudah tidak terbit lagi dan buku edisi limited yang sulit di cari. Buku-buku itu hanya dapat di baca di dalam cafe. Membuat cafe berkonsep unique ini terkenal di kalangan bookaholic.


Neftari yang sangat menyukai buku menjadi pelanggan tetap di cafe ini. Neftari bahkan mengenal akrab pemilik cafe ini, karena berasal dari komunitas yang sama. Setelah memiliki Leia, Neftari memang tak memiliki pekerjaan akibat hengkang dari dunia pramugari. Setelah melahirkan, Neftari mulai ikut ke dalam kegiatan komunitas yang bernama LOOK.


Prioritas pertama Neftari tetap Amrali dan Leia, jika memiliki waktu luang barulah ia ikut berkumpul dan melakukan berbagai kegiatan yang di selenggarakan oleh komunitas LOOK. Tentu saja Leia ikut serta bersama Neftari saat masih kecil.


"Luke, kau seperti bayi" Neftari membersihkan krim cake yang menempel di tepi bibir Luke dengan jemari lentiknya.


Luke merasakan getaran aneh saat Neftari menyentuh tepian bibirnya. Luke memperhatikan wajah sahabat kecilnya itu, kecantikannya tak luntur walau termakan usia. Sifatnya juga lebih bijaksana, banyak hal di diri Neftari yang membuat Luke tertarik.


"Luke? Sadarlah! Kenapa jadi bengong?" Neftari melambaikan tangannya di depan wajah Luke.


"Hah? Ooh, hehe" ucap Luke pelongo.


"Dasar bodoh, haha" Neftari menoyor kening Luke dengan telunjuknya.


"Tari" panggil Luke yang menghentikan gelak tawa Neftari.


"Heem?" jawab Neftari menetralkan tawanya dengan menyedot ice mint tea nya.


"Leia, yang tinggal di rumahmu"


"Kenapa Leia? Apa anak itu membuat masalah?" tanya Neftari penasaran, karena nama anaknya di sebut-sebut.


"Eemm... Leia itu adik kamu ya?" tebak Luke karena tak mau Neftari menaruh curiga kepadanya.


"Tentu saja bukan, Leia itu putriku, anak ku satu-satunya"


"Haah!! Anak kamu bilang?" teriak Luke dengan mata yang melotot sambil menggebrak meja di depannya, membuat pelanggan cafe yang lain menoleh ke arahnya.


Amrali melakukan injeksi sperm* milik ku ke dalam rahim Neftari? Takdir macam apa ini sebenarnya? Ucap Luke dalam hati.


To be continue...