Traffic Light

Traffic Light
AKANKAH...



Gema pergeseran pintu mengalihkan perhatian kosong dari seorang pria berseragam pasien, di sebuah rumah sakit universitas. Pria itu tersenyum, saat seseorang yang menggeser pintu ruang rawat inapnya, hingga menggema ke pendengarannya. Seseorang itu masuk dan menghampirinya yang kini berada di atas brankar pasien.


"Wajahmu sudah tampak cerah, tak pucat lagi" ucapnya. Bibir bawahnya yang tebal dan terbelah dua itu, mengulas senyum ke pria berseragam pasien itu. Ajaibnya, senyum itu berhasil menular ke si pria, bibir tipisnya turut mengulas lengkungan, yang mana dapat melemahkan syaraf para wanita hingga terkulai.


"Kau sudah tidak kejang-kejang lagi, setelah melihatku?" ucap seseorang itu. Yang di balas anggukan oleh si pria, hingga rambut panjang pria itu tergerai menyapu bahunya.


"Syahura..." suara berat yang lembut itu menggema.


Seakan mengalirkan sengatan listrik ke seluruh penjuru aliran darah si empunya nama. "Kau mengingatku?" ekspresi terkejutnya tak bisa ia tampik, begitu kentara di wajah sang pemuja pria berambut panjang, yang pernah ia salah pahami gendernya.


Pria itu kembali mengangguk, saat Syahura hendak melangkah, suara nan serak Yugi menghentikannya. "Stop di situ, jangan mendekat lebih dari itu... Saya lebih nyaman di jarak segini" ungkapnya. Kalau boleh jujur, bulu kuduknya sudah merinding saat ini. Wanita adalah kelemahannya, dan saat ini ada wanita yang ia selamatkan di dalam ruangannya.


Syahura menunduk begitu dalam, bukan keinginannya membuat Yugi seperti sekarang. Ia tak tau-menahu, pun tak sadar akan refleksnya saat itu.


Ia pun mengira Yugi yang memiliki wajah cantik, sebagai perempuan. Disitulah letak kebodohannya, masa ia tidak menyadari jakun yang timbul di leher jenjang Yugi? Begitu pula tangannya yang berurat itu sudah mencerminkan kelelakian-nya. Syahura menunduk, menatap kakinya yang terbalut sendal rumah sakit.


"Kau tidak takut padaku?" tiba-tiba saja Yugi menanyakan itu. Bukan tanpa alasan, Syahura pun mengidap kelainan mental yang sama sepertinya, takut akan lawan jenis.


"Umm... Kalau itu kau, aku tak masalah" jelasnya, dengan posisi yang masih menatap jemari kakinya yang penuh luka.


Yugi tersenyum, sebenarnya saat itu, ia menyelamatkan gadis itu dengan setengah hati. Jujur saja, kepeduliannya terhadap perempuan memang minus, terkecuali yang berhubungan tentang Leia, nonanya.


Entah mengapa kalbunya sedikit tergerak saat melihat Syahura yang tergeletak di atas aspal jalan dengan kondisi yang mengenaskan. Lebih seperti mayat, jika tidak memastikan hembusan nafasnya.


Yugi tetap bersyukur, walaupun imbasnya pada penyakit mental sialannya itu semakin menggila. Ia takut. Takut jika tak bisa berinteraksi dengan nonanya lagi. Ia berteriak pada dirinya, ia harus sembuh. Setidaknya seperti Syahura, gadis itu sudah berusaha keras melawan ketakutannya. Buktinya ia bisa menemui Yugi (terlepas dari kesalah pahamannya tentang gender Yugi) tanpa ada rasa takut.


Tiba-tiba Syahura merasakan kejanggalan di perutnya, rasa mual mulai naik ke kerongkongan. Gadis itu menutup mulutnya dengan sebelah tangan, tangan satunya lagi ia daratkan ke permukaan perutnya yang serasa diaduk.


Mata sipit Yugi tak luput dari pergerakan Syahura yang tiba-tiba berlari ke toilet pasien yang ada di kamarnya. Terdengar suara muntahan Syahura yang begitu menjijikan bagi Yugi. Namun terselip rasa kasihan karena muntahan itu di barengi dengan rintihan dan isakkan gadis berambut pendek itu.


Sudah lima menit gadis itu tak kunjung keluar dari toilet. Yugi mulai khawatir, suara muntahan pun masih di dengarnya.


Ada apa dengannya?


Ini mencurigakan...


Bukankah Syahura korban kekerasan seksual?


Oh, tidak...!!!


Dengan seluruh kekuatannya yang tak seberapa, Yugi turun dari brankarnya. Meraih stand infus, yang memiliki kegunaan lain sebagai penyangga tubuh lemahnya. Ia harus menemui Om Luke, ruangannya tak jauh dari ruang perawatannya.


Aku takut. Gimana kalau di luar banyak perempuannya? Kalau aku tiba-tiba collapse karena bertatapan dengan wanita, bagaimana? Sial...


Suara Syahura yang merintih semakin intens terdengar. Yugi memejamkan matanya, kerutan di pangkal hidung dan keningnya tercetak jelas. Rahangnya ikut mengeras tatkala otak pintarnya tiba-tiba buntu.


Bodoh...


Apa gunanya transmitter calling di samping brankar itu?


Pria bertubuh ceking itu berbalik badan menuju brankarnya lagi, buru-buru ia memencet botton transmitter calling itu berkali-kali.


Benar saja, bukan perawat atau dokter lain yang datang, melainkan Luke. Yugi benar-benar Luke istimewa kan di sini.


"What happened??" pria paruh baya itu tak terlihat panik dari luar, namun sebenarnya jantungnya ketar-ketir saat mendengar sirine penanda transitter di bunyikan berkali-kali. Ia harus menjaga emosinya sebagai dokter sebagai langkah awal untuk menenangkan kondisi pasiennya.


Lantas, Yugi menunjuk toilet, dimana rintihan Syahura masih menggema di sana. Luke yang fokusnya hanya pada Yugi, menghiraukan gema itu. Akhirnya Luke tersadar, segera ia menyusul gadis itu di toilet, untuk memeriksanya.


Yugi menghembuskan nafas lega, entah mengapa gadis malang yang bernama Syahura itu begitu mengusik dasar kalbunya. Baru kali ini ia tergerak untuk membantu perempuan, karena getaran di hatinya.


Ck...


Setelahnya ia kesal setengah mati, untuk apa Yugi melakukannya?


_________________________________


'Papa pengangguran', julukan itu sepertinya cocok disematkan khusus untuk Darrel. Saat ini pria itu sedang mengasuh Eden. Bayi yang belum genap setahun itu sedang mengendarai baby walker-nya.


'Papa pengangguran' itu sedang aktif menyuapi gongju-nim, yang juga sedang aktif menggerakkan kakinya kesana-kemari sehingga baby walker yang ditungganginya mengikuti gerak tubuhnya kesana-kemari.


Eden sudah bisa tegap berdiri tanpa harus ada penopang yang menjaga tubuhnya seimbang. Darrel rasa bayi yang tulangnya masih rawan itu sudah bisa diajari berjalan. Pria itu sangat antusias jika sudah bersinggungan dengan tumbuh kembang Eden.


"Setelah ini, kita belajar berjalan ya, baby? Appa yang akan mengajarimu. Kita tunggu mami pulang ya, sayang" Darrel mencium gemas pipi gembul yang belepotan bubur bayi, kepunyaan baby Eden.


Sepintas, Darrel mengingat sosok kakek Eden yang menyebalkan minta ampun. Sosok Handoko bagai hilang ditelan bumi, sudah seminggu yang lalu, sejak terakhir Darrel menghubungi pria tua itu. Namun setelahnya, Handoko sukar dihubungi, Darrel lost contact dengan Handoko.


Darrel mengeluarkan ponsel dari saku jaket training-nya dan menghubungi Jeki


Darrel merasa janggal, ia takut pria tua menyebalkan-nya itu, menjadi target dari psikopat laknat yang telah membunuh para rekannya itu. Predikat buronan masih disandang oleh psikopat itu, membuat Darrel khawatir.


To be continue...