Traffic Light

Traffic Light
SAUDARA?



Tubuh Darrel terasa remuk setelah melakukan pekerjaan rumah yang lain. Menyapu, mengepel, mencuci piring, memandikan Eden, memberi Eden makan, dan terakhir ia menidurkan bayi cantiknya itu. Beruntung mertuanya yang memasak, berhubung ada kakek dan nenek mertuanya yang berkunjung di rumah.


Pria itu merebahkan tubuhnya di kursi malas yang ada di ruang tengah. Matahari sudah menyingsing tepat di atas kepala. Sudah saatnya jam makan siang. Perutnya lapar, tapi tubuh lelahnya tak bisa diajak berkompromi.


Eden sudah terlelap tidur di dada Darrel dengan posisi tengkurap, setelah habis menyesap susu botolnya. Tengkurap di atas dada bidang appa-nya merupakan posisi kesukaan baby Eden.


Dalam posisi setengah sadar pun, tangan besar Darrel masih menepuk pelan bokong Eden, supaya gadis kecil itu semakin tidur dengan nyenyak. Darrel kembali terserang rasa kantuk, belum lagi terpaan angin yang dihasilkan oleh kipas angin di pojok ruangan ikut membelainya.


Sayup-sayup terdengar suara sendal yang bergesek dengan lantai. Tapi mata Darrel masih enggan terbuka, sekedar mengintip pun rasanya begitu berat. Padahal Darrel penasaran, siapa gerangan orang yang mengenakan sendal di dalam rumah ini. Penghuni rumah ini terbiasa bertelanjang kaki saat di dalam rumah, pikirnya.


Suara derit kursi yang diduduki terdengar jelas di telinga Darrel. Darrel yakin, sosok yang menggunakan sendal di dalam rumah itu, pasti sedang duduk di dekatnya.


"Suaminya Leia ini ga kerja, ya? Istrinya pergi berkerja, dia malah molor di sini!!" omel wanita yang sudah dapat Darrel tebak identitasnya.


"Kata Baron dia anaknya pengusaha dari Belgia. Kenapa modelannya kayak gini? Tipe-tipe bapak rumah tangga ini sih, tck..." wanita tua berpakaian sifon dengan motif daisy itu terlihat kesal. Ia membenarkan selendang yang membalut bahunya. "Dari tadi mamah perhatiin, dia yang melakukan tugas Leia, istrinya" Lalu memperhatikan wajah cucu menantunya itu. "Untung tampan" gumamnya, tapi masih terdengar Darrel.


Darrel hendak mengangkat kepalanya, menyapa nenek mertua yang sedang mengghibahi dirinya, tepat di hadapannya. Namun diurungkan, saat mendengar suara sang ibu mertua membelanya.


"Dia kaya mah, ga perlu kerja. Dia begitu karena habis beberes rumah, ngurus anaknya juga. Terus, liat tuh..." Neftari menunjuk jemuran yang masih nampak dari ruang tengah, bedcover itu melambai-lambai seolah menyapa mereka. "Dia juga nyuci bedcover itu, bantuin pekerjaan rumah istrinya. Suami idaman banget, kan?" imbuhnya lagi.


"Tck... Mamah ga abis pikir aja. Apa emang dunia udah kebalik?" nenek-nenek yang terlihat awet muda itu masih merengut kesal. "Sekaya apa sih emangnya? Emangnya lebih kaya dari kita?" sombongnya.


Ayu masih tak terima. Menurutnya pria yang pemalas itu tidak pantas untuk dijadikan suami, apalagi ini menyangkut pernikahan cucu semata wayangnya. "Udah nikahnya diam-diam, ga minta restu orang tua, tau-tau udah bikin cucu semata wayang ku ngebrojolin anak aja!!" nenek itu mengomel terus, berusaha meredam kekesalannya dengan menyalahkan Darrel.


"Sudahlah mah... Kalau dia malas, ga mungkinkan dia ngerjain kerjaan yang semestinya Leia kerjain. Lagian, ini udah jadi keputusan Leia"


Tiba-tiba suasna berubah sendu, "Salah kita juga, yang udah ga perhatikan Leia selama ini"


"Wajar, dia ga kasih tau kabar bahagia ini ke kita, karena udah jadi pertimbangannya. Aahh... Tari kesel, tapi ga bisa marah setelah mendengar ucapan Leia, waktu tau pertama kali tentang pernikahan dia" dadanya sesak mengingat kejadian pertama kali kakinya menjejak tanah air setelah empat tahun.


Mata Neftari kian memerah tatkala mengenang keegoisannya dahulu mementingkan rasa sakitnya sendiri. "Ngga!! Di sini aku yang salah. Andai saja aku bisa-" Neftari menangkupkan telapak tangannya hendak menutupi wajah yang teririgasi air mata.


Terlintas tragedi empat tahun yang lalu dalam benak wanita yang terlihat anggun meski memiliki keriput di kedua ujung matanya. Kemalangan yang menimpa Tari, putrinya. Mungkin memiliki sangkut paut dengan dosanya di masa lampau.


Ayu beranjak dari kursinya lalu menghampiri sang putri yang muram. "Hhssss... Sudah... Disini mamah yang salah, mamah. Mamah terlalu mengkhawatirkan putri kesayangan mamah sampai melupakan cucu mamah" Ayu mengelus kepala Neftari begitu lembut, menyalurkan kasih sayangnya yang begitu dalam layaknya seorang ibu.


Darrel mengintip ibu dan anak itu saling berpelukan, menumpahkan kesedihannya. Darrel serba salah, ia bingung harus menyikapi situasi saat ini. Tidak mungkin kan, dirinya tetap pura-pura tidur setelah keriuhan oleh isak tangis mertuanya, kentara sekali bohongnya. Dia pun menegakkan badannya pelan-pelan supaya tak membangunkan putrinya.


"Ada apa bu?" tanya Darrel, menimpali percakapan mertua dan nenek mertuanya itu.


Tari melerai pelukannya dengan sang ibunda, lalu berbicara pada menantunya, "Kamu ke kamar gih tidurin cucu ibu


di kasur. Kasian dia, baru aja tertidur kan?" ucap Neftari seraya mengusap wajahnya yang basah akan air mata.


Darrel mengangguk dan meninggalkan kedua mertuanya itu di ruang tengah.


"Salah mamah... Salah mamah... Semua salah mamah..." urat di leher wanita tua itu tampak menegang, kerutan-kerutan halus mengikuti gerak isakannya. "Ini hukuman!! Ini ganjaran atas dosa yang mamah perbuat!" bahu ayu terlihat bergetar.


Neftari tercengang, ia masih tak paham atas penuturan ibunya. "Maksud mamah apa?" tanyanya.


"Karena sudah membuang saudaramu..." lanjut Ayu lagi.


Neftari semakin dibuat terkejut sekaligus bingung, sekarang gilirannya yang mengusap punggung renta wanita yang telah melahirkannya itu. Leia merenggangkan pelukannya lagi, menatap sesaat wajah basah ibunya yang penuh penyesalan. "Tari ga paham, mah" ucapnya seraya menyeka air mata yang membasahi kantung mata ibunya.


"Pasti dia ingin membalas kejahatan mamah dengan cara menyakitimu. Mengambil hal yang berharga darimu hingga membuatmu seperti ini..." ungkap Ayu kembali tersedu, lalu menjatuhkan wajahnya di pundak Neftari.


Tanpa mereka sadari, bule Amerika bernetra hijau menyimak percakapan tersedu di antara kedua orang terkasihnya. Sesaat otak rentanya mulai ter-connect, barulah ia tau benang merahnya.


"Tyas!! Apa maksudmu??!!" gelegar suara itu memacu detak jantung Ayu semakin cepat. Hanya Baron yang memanggil Ayu dengan nama Tyas. Tanpa menoleh pun ia tau siapa pemilik suara itu.


Wanita itu menegakkan kepalanya, pupil mata Ayu mengecil tatkala melihat wajah Baron yang terlihat tak ramah. Pria yang selalu lembut dan hangat kepada keluarganya itu, baru pertama kali menunjukkan ekspresi seperti itu. "Sa, sayang--" sepatah kata yang berhasil lolos dari tenggorokan yang tercekat.


"Apa maksudmu??!!" tanya Baron mengintimidasi. Bola matanya memerah, membungkus netra hijaunya.


Sementara di dalam kamar yang dinaungi Darrel dan Eden, bule oppa itu membuka MacBook-nya yang terhubung dengan jaringan keamanan di rumah itu. Sehingga ia bisa mengintip sekaligus menguping kejadian di ruang tengah tanpa ketahuan.


To be continue...