Traffic Light

Traffic Light
HAN MEUBEL (Heleia Amrali Neftari)



Hari ini, hari yang indah untuk Leia. Mendengarkan detak jantung Darrel dengan seksama, layaknya metronom. Mengeluarkan suara dengan interval yang stabil, sangat menenangkan hati. Hembusan hangat nafas Darrel yang menerpa kening Leia, sungguh menggetarkan roma tubuhnya. Entah sejak kapan ia mulai terbiasa dengan pria yang dinikahinya secara dadakan itu.


Setelah puas menikmati mahakarya Tuhan yang dipersembahkan untuknya itu, Leia beranjak mengemas peralatan baby Eden untuk di bawa ke studio. Dirabanya bokong Eden, dirasa penuh popok bayi cantik itu, ia pun melepaskan popok Eden, lalu memandikannya. Setelah itu Leia membuatkan susu formula untuk baby Eden minum sebagai sarapan pagi ini. Beres menuntaskan ritual pagi bersama baby Eden, kini giliran Leia yang bersiap, sementara Eden masih anteng dengan empeng pengganti dot susu di mulutnya.


Ini hari perdana, dimana Eden, mengikuti maminya berkerja. Bayi itu terlihat exited dalam gendongan maminya. Beberapa hari ini Leia memang sangat sibuk. Pertemuan ibu dan anak itupun menjadi jarang.


Mungkin itu juga menjadi sebab, mengapa Darrel membawa putrinya ke studio Leia, senja lusa kemarin. Ah, Leia bersyukur sekali memiliki suami yang pengertian seperti Darrel. Tidak salah jika Leia menyebut suaminya perfect husband. Nyatanya Darrel memang pria yang hangat, pengertian dan perhatian, Darrel tidak sebrengsek yang ia pikirkan.


Karena studio miliknya berada di dalam gang, Leia lebih sering menggunakan motor ketimbang mobil. Bukan karena gangnya tak bisa di lalu mobil, tapi karena studio Leia tak memiliki lahan parkir yang cukup luas. Sehingga ia agak kesulitan memarkirkan mobilnya. Tidak mungkinkan, Leia sembarang memarkirkan mobilnya di badan jalan. Ia tak mau mengganggu pengguna jalan yang lewat.


Sekarang, Leia dan Eden mengarungi jalan kota yang mulai ramai. Eden berceloteh di dalam hipseat yang membendungnya. Sambil memandangi maminya, seolah sedang bercakap ria. Sesekali meraih rambut blonde Leia yang tergerai dimainkan angin, kemudian jemari mungil dan padat itu memasukkannya ke dalam mulutnya. Tapi Leia tak memperdulikannya, ia tetap fokus pada jalanan. Wanita itu sangat mementingkan keselamatan di jalan raya.


Dari kejauhan, Leia melihat pria tinggi sedang memperhatikan studionya yang tak berpagar. Hanya dinding kaca yang ditutupi gorden cream dari dalam. Di ujung gang, Leia sedikit menambah kecepatan laju vespanya agar segera sampai. Pikirnya itu pelanggan, ia merasa segan jika ada pelanggan yang menunggunya. Tindakan tidak sopan menurutnya.


Saat Leia hampir sampai dan hendak memarkirkan vespanya, pria yang memperhatikan studionya itu, pergi begitu saja. Sepertinya penduduk lokal ada yang ingin keluar dengan mobilnya. Ia tidak bisa melewati gang ini, karena terhalang mobil orang tadi, yang terparkir di badan jalan.


"Sudahlah, kalau ada perlu pasti kemari lagi" monolognya seraya mengeluarkan kunci studio dari dalam tas Hammer yang berisi peralatan baby Eden.


"Mbak!!"


Leia terkejut sampai menjatuhkan kunci studionya. Leia menghela nafas saat mengetahui alasan dirinya sampai kaget. Suara khas, halus mendayu ala-ala panggilan dedemit milik Hasna yang menjadi penyebabnya.


"Kaget mbak? Ampe jatuh gitu kuncinya"


Leia tak menjawab, malas. Sudah tau pake nanya! Ia hanya memutar bola matanya.


"Baru kali ini dedenya dibawa ke tempat kerja mba, daddy-nya lagi ga bisa jagain ya?" Hasnanya kepo.


"Iya" jawaban universal yang bisa mewakilkan segalanya. Leia malas berkisah, menjelaskan sebab membawa putrinya bekerja. Leia pun membuka kunci studionya.


Klining... Lonceng kuningan yang menempel pada pintu, berbunyi saat pintu studio dibuka.


"Mbak, hari ini mas Gagit ga masuk lagi apa yah? Ga ada kabar gitu?" Hasna bersiap memakai celemek kulitnya yang estetik. Semenjak tau Leia sudah menikah, Gagit tidak masuk kerja dari kemarin. "Jam segini dia belum nongol, biasanya juga paling pagi datangnya" ia mengambil sapu untuk menyapu sisa serbuk kayu.


"Jangan nyapu dulu, ada baby nih" protes Leia saat Hasna mulai memainkan sapunya.


"Ya Allah, lupa mbak!"


"Aku ke atas dulu, ke ruangan baby Eden" Leia bergegas ke atas seraya menutupi wajah baby Eden, takut terhirup serbuk kayu.


"Ternyata ruangan yang di renov itu buat bayinya toh. Pantesan unyu-unyu gitu ruangannya" Hasna bergumam selepas Leia naik ke lantai dua. Hasna pun melanjutkan aktivitasnya untuk membersihkan serbuk kayu.


_________________________________


Kewarasannya mulai menghilang, sampai kuku jempolnya hampir habis digigit olehnya sendiri. Pria itu tampak resah di dalam mobil X-Trail berwarna hitam. Rambut ikal yang semula rapi, berantakan tak tentu rudu. Beberapa kali pria itu menghentam stir mobil dengan keningnya lantaran kesal.


Bruukk!!!


Tampaknya pria yang sedang di kuasai amarah itu menabrak sesuatu dengan mobilnya. Apa??


Lama ia di dalam mobil, setelah menabrak sesuatu. Tanpa memeriksa apa yang telah ditabraknya. Ia hanya sibuk menggigiti kuku jemari yang bentuknya sudah begitu abstrak.


Sampai akhirnya ada pengendara lain yang melintas. Merasa janggal dengan mobil yang terparkir hampir ke tengah jalan, ada bercak darah yang merembes dari sisi ban mobil itu.


Wanita itupun menepikan sepeda motornya ke tepi jalan, memberanikan diri untuk mengecek mobil yang ada di depannya.


Tok tok tok...


Wanita itu mengetuk kaca jendela pintu mobil setelah melihat seekor anjing tergeletak di depan mobil.


Tampaknya anjing itu masih bisa diselamatkan, binatang itu masih bergerak mencoba untuk berdiri tegap. Kakinya terlihat patah dan perutnya sedikit sobek, mungkin karena bergesekan dengan aspal. Tak ada luka fatal di kepala atau perut yang terlindas ban, hingga membuat organ dalamnya pecah.


Pria itu menurunkan kaca mobilnya, ekspresinya kini berubah 180°. Ia memasang tampang panik tak berdaya dan mengeluarkan zat feromonnya yang memikat kaum hawa.


Sepersekian detik wanita terpesona dengan ketampanan dan wajah tak berdaya yang ditunjukkan pria berkulit sawo matang itu.


"Bagaimana ini? Saya yang menabraknya" suara yang begitu nge-bass pria itu menyadarkan wanita yang terpaku menatap pesona si pria.


"Ah... Ya!!" wanita itu tersentak kesadarannya. "Mmm, begini... Saya tau klinik hewan sekitaran sini. Tolong anda turun! Bantu saya mengangkat anjing ini" wanita itu bergegas membuka pintu mobil bagian kemudi, menarik baju pria itu supaya lekas menyelamatkan anjing ras golden retriever itu.


Tanpa wanita itu sadari, si pria berambut ikal berkulit sawo matang dan berwajah tampan itu tersenyum licik. Entah permainan apa yang akan dimainkan psikopat satu ini.


_________________________________


"Gagit!! Kamu datang!! Alhamdulillah..." Hasna mengusap dadanya penuh syukur, lantaran partnernya mengukir kayu tiba. Pukul sembilan lewat tiga puluh lima menit, Gagit terlambat dua jam tiga puluh lima menit.


Gagit masuk ke ruang karyawan untuk meletakkan tas di loker dan mengganti bajunya. Wajahnya tampak loyo tak bersemangat.


"Gapapa kamu datengnya telat, mbak Leia pasti maklum. Gimana? Udh beres nata hatinya kemarin, hem hem?" goda Hasna menaik-turunkan kedua alisnya, seraya tersenyum bodoh.


Gagit kaget saat Hasna tiba-tiba masuk saat ia membuka bajunya. "Aurat loh ini!!" Gagit menunjuk badannya yang shirtless. "Biasanya kamu kalo kesentuh dikit aja bilangnya 'Ish!! Bukan muhrim, Gagit!!', ckckck" Gagit menirukan Hasna yang ngomel, jika Gagit tak sengaja menyentuh tangan Hasna.


Hasna menggoyangkan telunjuknya kekiri dan kekanan, berbarengan dengan kepalanya yang menggeleng. "Ga gitu Git, batas aurat laki-laki itu dari bawah pusar sampe atas lutut, jadi ga dosa" Hasna menjelaskan dengan tangannya yang menunjuk bagian aurat yang dimaksud. "Kamu udelnya aja ga keliatan, trus masih pake celana panjang juga kan? Jadi gapapa" cengir Hasna dengan tampang polosnya. Hehe, imut.


"Pantesan suka liat boyband-boyband korea yang doyan pamer abs. Suka ya liatnya?" tanya Gagit sinis-sinis menggoda.


Hasna mengangguk dengan senyum polos bin dodol. Untuk sesaat, rasa terkhianati status bu bos cantiknya yang sudah menikah, terlupakan karena tingkah lucu Hasna. Untunglah ia kembali bekerja, Gagit sedikit merasa terhibur karena Hasna, wanita taat agama yang selalu dijahili nya.


To be continue...