Traffic Light

Traffic Light
PEKERJAAN RUMAH



Syahura baru saja dipindahkan ke rumah sakit universitas, tempat Luke berkerja. Gadis itu termenung, netra hitamnya menatap lekat hamparan langit di luar jendela. Rambut sebahunya yang tergerai, tampak kusut tak tertata.


Entah apa yang dipikirkan gadis itu, tatapan mata yang sayu itu, menarik Luke yang memang sedang melakukan pemeriksaan berkala pada pasiennya. Bule Irlandia itu melipat kedua tangannya di depan dada, lalu menyilangkan kakinya saat mendaratkan tubuh bagian kanannya di kusen pintu. Kepalanya turut bersender di kusen pintu yang menjadi tumpuannya.


Lima menit, Luke memperhatikan gadis tanpa lidah itu. Namun tak ada pergerakan sedikitpun dari gadis itu, selain dadanya yang naik-turun karena aktifitas bernapasnya. Sebelumnya, Luke mendapat kabar dari Leia tentang pemindahan Yugi dan seorang wanita tanpa kartu identitas. Atas bantuan Luke lah wanita malang itu bisa cepat dipindahkan tanpa kendala.


Di tubuh Syahura terdapat trauma luka berupa tusukan yang membakar kulitnya. Paling parah, luka yang terdapat di leher, jika tertusuk satu milimeter lagi saja, bisa mengakibatkan pendarahan fatal.


Yang membuat Luke tertarik dengan gadis ini adalah kemiripan trauma luka dengan mayat anggota dewan yang ia otopsi beberapa bulan lalu. Ada kesamaan pada pola penusukan dan jejak fetish di tubuh mereka, berupa gambar sketsa di kulit punggung. Saat mengotopsi anggota dewan yang bernama Fahri S.M. itu, Luke mengambil sample jaringan kulit, terkandung resin, zat pigmen dan senyawa surfaktan yang melekat pada jaringan kulit mayat itu. Walau sudah di hapus bekas tintanya, tetap saja ada sebagian yang menyerap ke epidermis kulit melalui pori-pori.


Sedangkan Syahura, tanpa di ambil jaringan kulitnya pun sudah ketahuan. Mungkin karena Syahura berhasil meloloskan diri dari pembunuh yang hendak merenggut nyawanya, sehingga coretan itu belum sempat dihapus oleh pelaku. Jadi coretan itu masih terlihat, meskipun jejak tintanya sudah memudar.


Aku harus melaporkan persamaan pattern dari kasus gadis ini dengan kasus kematian Fahri ke pihak kepolisan. Bisa jadi kedua kasus saling terhubung. Ah, tidak... Apa aku harus melaporkan ini pada menantu ku saja? Mungkin, skala kasus ini lebih besar. Luke


Sebulan terakhir investigasinya terhadap sang menantu berjalan mulus, sehingga Luke bisa menarik benang merah dari semua hasil penyelidikannya selama itu. Ya, Luke sudah mengetahui pekerjaan asli dari menantunya itu. Puluhan tahun ia berkomunikasi dengan Direktorat Intelijen Militer di negaranya dulu. Sehingga ia pun lebih sensitif dengan tindak tanduk seseorang. Kepekaannya juga meningkat lebih tajam dalam mengenali karakter lawan bicaranya.


Tck, kau pikir aku bodoh, Darrel!! Begini-begini, aku dijuluki father of forensics!! Kau pikir, aku akan membiarkan gadisku menikah dengan sembarang lelaki, huh? Aku masih mengawasi lelaki misterius itu. Luke.


Luke membenarkan posisi berdirinya, netra abunya menatap lekat gadis yang masih bergeming di brankar-nya. Perlahan, Luke menggeser pintu kamar Syahura hingga tertutup tanpa suara. Selanjutnya, ia melangkahkan kaki ke ruang inap yang di tempati asisten putrinya.


_________________________________


Leia merasa tak nyaman diperlakukan dengan dingin oleh suaminya. Sesampainya di rumah pun, Darrel masih mendiamkannya. Bahkan mengabaikan keberadaan opa dan eyangnya yang datang berkunjung. Ada yang berdenyut dalam dadanya karena sikap Darrel yang seperti itu.


Pada akhirnya Leia memutuskan untuk berdamai dengan suaminya. Seusai bercengkrama dengan Ayu, Baron, dan Neftari, Leia mempersiapkan amunisi untuk menggoda sang suami yang masih betah mengurung diri di kamar putrinya.


Leia mengganti bedcover baru, yang diantarkan binatu siang tadi. Leia memiliki kebiasaan membersihkan barang yang baru dibelinya dahulu sebelum ia gunakan.


Setelah beres dengan membersihkan medan pertempurannya, Leia mempersiapkan senjata yang pastinya akan meluluh-lantakkan suaminya nanti malam.


Sudah pukul dua dini hari, Darrel masih bersemedi di kamar Eden. Leia mendesah lemah, asanya ikut terbuang bersamaan helaan nafas yang ia hembuskan dengan kasar. Sebenarnya apa yang menyebabkan Darrel seperti ini?


Merajuk kah?


Ataukah dirinya ada melakukan kesalahan?


Entahlah, Leia bukan tipe wanita yang menye-menye alias melankolis akut yang suka menggonjang-ganjingkan perasaan haluwers.


Jadi Leia memutuskan tak ambil pusing jika sang suami masih tak mau menegurnya. Yang penting dia sudah menyiapkan amunisi dikala suaminya hinggap menghampiri dirinya. Buset dah, dikata bang Darrel itu kumbang apa? Pake ada kata hinggap segala, wkwk.


Jakun Darrel naik turun melihat pemandangan menggoda itu. Niatnya yang ingin mendinginkan kepala dari bara cemburu di kamar si imut Eden, malah tergantikan dengan berkobarnya bara gairah, pada batang yang perlahan mengacung menunjukkan kegagahannya.


Serigala mana yang menolak daging di depannya? Apalagi, ia sudah mencicipi betapa nikmat dan segarnya daging itu.


Entah perburuan atau peperangan yang terjadi di dalam kamar itu. Hanya erangan penuh kenikmatan yang menggema di dalam ruangan itu.


_________________________________


Terik matahari, menyengat bedcover yang tergantung di jemuran. Titik-titik air tampak jatuh membasahi bebatuan koral yang menjadi lantai tempat menjemur pakaian. Darrel baru saja menuntaskan tugas kenegaraan dari Leia, sebelum istrinya itu berangkat ke rumah sakit untuk mengunjungi Yugi dan Syahura.


Tadi pagi, Darrel habis-habisan diomeli Leia. Akibat dari pergumulan erotis dini hari tadi, menyebabkan limbah pabrik sisa pergumulan itu mengotori bedcover yang baru diganti Leia semalam. Padahal, hasil limbah pabrik itu diproduksi oleh Darrel dan Leia juga. Tapi Leia menberengut kesal dan tak terima alas tidur barunya itu dikotori. Aneh, istrinya Darrel itu, lempar batu sembunyi tangan dia. Ckckck...


Begitulah cara mereka berdamai dari keheningan yang sesaat melanda biduk rumah tangganya. Dengan melakukan peleburan antara laki-laki dan perempuan itu, menghangatkan keadaan yang sempat mendingin di antara mereka. Darrel berhasil menguasai topengnya kembali, sementara Leia menepis praduga yang berseliweran tentang pembunuh ayahnya.


Memikirkan tentang masa lalu, membuat Leia lengah akan masa yang akan datang. Sekarang saatnya Leia bahagia dengan suami dan buah hati cantiknya, bukan?


Alhasil, Darrel disuruh untuk mencuci bedcover itu. Di rumah ini tidak ada asisten rumah tangga. Bersih-bersih, mencuci baju, dan memasak dilakukan secara mandiri. Terkadang Yugi yang melakukan tugas itu, tapi dia hanya melayani kebutuhan Leia saja, jadi dia tidak berkewajiban jika bukan Leia yang menyuruh. Pakaian ala-ala butlernya itu ternyata hanya gaya-gayaan, biar pamor nonanya tidak jatuh. Lagipula, pria kurus itu sedang terbaring di ranjang rumah sakit. Tak mungkin ia melakukan tugas rumah tangga yang selama ini ia anggap remeh.


Darrel meletakkan pipi kanannya di permukaan meja kaca yang letaknya di antara ruang cuci dan tempat jemuran. Sinar biru yang terefleksi dari kanopi transparan berwarna biru itu, menyentuh permukaan pipi kiri Darrel. Saking panasnya, pembuluh darah di pipinya melebar, mencetak rona kemerahan di kulit putihnya setelah terpapar sinar matahari.


Baru kali ini Darrel mencuci dengan kedua tangannya sendiri. Selama ini dia mana pernah perduli dengan pekerjaan rumah tangga seperti ini. Dirinya selalu menggunakan jasa kebersihan, saat tinggal di apartemen, selama seminggu sekali.


Hanya di rumah Leia, Darrel baru merasakan satu persatu pekerjaan rumah tangga yang ternyata lebih melelahkan dari pada mengintai target. Lebih mudah untuknya memanjat gedung atau menyebrang dari satu gedung ke gedung lainnya dengan menggunakan kabel.


Beruntung hembusan angin masih bersahabat dengannya, sepoi-sepoi angin menyejukkan tubuhnya. Ditambah hijaunya kebun halaman belakang yang terawat. Membuat matanya ikut mendayu-dayu. Darrel memejamkan matanya yang semakin memberat. Padahal sekarang masih jam sembilan pagi, tapi kantuk sudah melandanya.


Tapi keadaan berkata lain, bayi mungil yang selama ini menemaninya mencuci bedcover, tampak merengek dalam baby walker-nya. Darrel kembali membuka mata, ia lupa sesaat dengan bayi yang dilahirkan oleh kawan sejawatnya itu. Mungkin saja bayi itu rewel karena kepanasan juga, sama sepertinya.


Darrel menarik Eden dari baby walker-nya, mencium pipi yang sudah banjir dengan air mata itu dengan gemas. Berharap dengan kecupan sayangnya itu bisa meredakan suhu di pipi malaikat kecilnya.


"Cup cup cup cup... Wae geuraeseo, huh? (Kenapa sih, huh?) Tteugeowo?? (Kepanasan??) Utuk utuk utuk... Appaga deowileul najchulgeoya... (Biar ayah yang turunkan panasnya) Ireohge... (Seperti ini...) Cup cup cup..." Darrel kembali menciumi tubuh putrinya dengan brutal. Daru perut, hingga menjalar ke tangan dan kaki mungil Eden. "Eottoke?? (Gimana?) Siwonhae? (Segar, kan?) Hem??" Gadis kecil itu seolah mengerti ucapan sang ayah, ia pun berhenti menangis.


Netra hijau Eden memandang Darrel dengan sendu. Walaupun sudah tak menangis, bibir mungilnya masih mencebik lucu. "Aigoo... Aju gwiyowo uri ttal, eottokeo!!" serunya sambil memencet kedua pipi Eden dengan jempol dan telunjuknya, sehingga bibir yang penuh liur itu manyun. Darrel tak bisa menahan tawanya, dia benar-benar tertawa, bukan sekedar topeng. Dan kejadian itu disaksikan oleh nenek mertuanya yang baru datang kemarin.


To be continue...