
Terdengar suara bel rumah berbunyi, Leia terbangun dari tidurnya, ia mengucek matanya dan melihat jam yang menempel di dinding kamar. "Orang gila mana yang bertamu jam satu malam begini??" keluhnya sambil berjalan ke arah pintu rumahnya. Ia melihat layar kecil yang memperlihatkan seseorang yang menekan bel pintu rumahnya. "Stevi?" ia pun langsung tersadar dari kantuknya dan bergegas membukakan pintu gerbang rumahnya.
Iris mata Leia mengecil, saat membukakan gerbang rumahnya, di dapati nya Stevi dalam keadaan tergeletak di aspal dengan baju yang berlumuran darah. Saat itu yang terlintas di pikiran Leia adalah profesor dokter yang baru pindah di sebelah rumahnya. Sontak ia berlari ke rumah tetangga barunya itu, kemudian menggedor dan memencet bel secara bersaman karena panik.
Cklek, pagar rumah tuan Luke terbuka.
"Paman, tolong saya!!" Leia menarik Luke yang masih setengah sadar dari tidurnya.
"Ya Tuhan!! Apa yang terjadi padanya??" teriak Luke
kesadaran paman Luke langsung kembali saat melihat seorang wanita yang terjengap - jengap mengambil napasnya itu. Keadaan nya sangat kritis, wanita itu sedang hamil besar dan ada luka tusukan pada bagian dadanya. Sepertinya belum lama ia tertusuk. Luke menelpon ambulance rumah sakit universitas dan menelpon asisten nya untuk segera menyiapkan ruangan dan dokter obgyn untuk melakukan operasi darurat, Luke bergegas kembali ke kediamannya untuk mengambil barang.
"Stev, bertahan lah" Leia menggenggam telapak tangan Stevi yang mulai mendingin.
Tak sampat 2 menit, Luke datang membawa tas yang berisi peralatan medis.
"Apakah kamu mengenalnya?" Luke berbicara pada Leia sambil melakukan pertolongan pertama.
"Ya, dia teman SMP saya"
"Apa kamu bisa menghubungi walinya? Kita harus melakukan operasi sesar untuk menyelamatkan bayinya" Luke menatap Leia dengan keringat mengucur di dahinya.
"Sa.. Saya.. tidak tau!" Leia tergagap karena bingung. Matanya memandang Stevi
"Aku yang akan bertanggung jawab, Stevi yatim piatu. Jadi, biarkan aku yang menjadi walinya" tegas Leia.
Tak lama waktu berselang, ambulance datang dan memboyong Stevi, Luke berserta Leia ke rumah sakit universitas Benua Samudra. Di perjalanan Leia menggenggam tangan Stevi, dalam keadaan setengah sadar, Stevi merogoh sesuatu dalam saku celananya dan memberikan sesuatu ke Leia. Mata jernih Leia kebingungan, Stevi memberinya buku kecil berwarna cream.
Sesampainya di rumah sakit, Stevi dengan mulus masuk ke ruang operasi berkat instruksi tuan Luke. Leia di tarik oleh seorang perawat untuk menyelesaikan administrasi dan menandatangani surat perjanjian operasi Stevi.
Setelah selesai mengurus itu semua Leia berlari ke depan ruang operasi. Ia menautkan tangan nya, berdoa kepada Tuhan agar menyelamatkan Stevi berserta bayinya.
Hampir 30 menit berlalu, lampu tanda sedang melakukan operasi masih menyala. Leia duduk di kursi tunggu karena lelah berdiri. Ia mengambil buku yang di berikan oleh Stevi tadi. Dilihatnya lembar demi lembar buku yang berukuran 3x2 inci itu. Tertulis "Jalan Timur, W Castle, lantai 11, unit 333 (daddy's baby) Darrel Kalevi."
"Ini pasti alamat ayah si bayi" gumamnya.
Sudah 3 kali perawat bolak balik ke ruang operasi untuk mengambil kantung darah. Apa sulit operasinya? Ataukah operasinya tidak berjalan lancar? Bagaimana keadaan Stevi dan bahinya sekarang? Pikiran seperti itu bergejolak di otak Leia, keringat dingin menggerogoti tubuhnya, perasaan tak tenang membuatnya gelisah. Ke sana kemari, lalu duduk, kemudian berdiri lagi, ia menggigit bawah bibir tipisnya seraya merapal doa. Dua jam telah berlalu, lampu tanda operasinya padam. Leia terkesiap lalu dengan cepat menghampiri ke depan pintu ruang operasi. Luke membuka pintu, wajahnya tak baik, ia menggeleng pada Leia.
"Ibunya mengalami henti jantung saat kami menutup bekas operasi pada paru - parunya yang tertusuk, anaknya berhasil kami selamatkan pada operasi pertama"
SSEEERR... Seakan tersengat listrik ubun - ubun Leia, ia terjatuh ke lantai, kakinya melemas.
To be continue...