Traffic Light

Traffic Light
KILAS BALIK



Handoko menggendong Marriane keluar dari mobil, pria paruh baya itu meletakkan tubuh yang hanya berbalut selimut itu di atas brankar. Perawat mendorong brankar itu ke dalam ruang ICU.


Setelah melakukan registrasi dan administrasi rumah sakit, Handoko menunggu di depan ruang ICU. Beberapa waktu berselang, tampak Marriane sudah mengenakan baju pasiennya di atas brankar, kemudian brankar itu di dorong menuju ruang rawat inap.


Disusul dokter yang menangani Marriane keluar dari ruang ICU. "Keluarga pasien?" tanya dokter itu ramah pada Handoko. Pria paruh baya itu mengangguk menjawab pertanyaan dokter tadi.


Sang dokter menjelaskan tindakan yang ia lakukan pada Marriane selama di ruang ICU. Dokter itu mengusap punggung Handoko agar tabah dan bersabar atas kabar yang ia beritakan tadi.


___________________________________


Setelah Leia tak sadarkan diri, Darrel membawanya ke kamar. Yugi yang melihat Leia pingsan, langsung terpikirkan tuan Luke yang seorang Dokter. Ia pun berlari ke rumah sebelah, berharap Luke ada di rumah untuk memeriksakan keadaan nonanya.


Ting tong... Ting tong...


Bel rumah Luke berbunyi dengan intens, Luke sebenarnya baru pulang dari rumah sakit. Ia hendak mengistirahatkan dirinya selepas melakukan tugas kedokterannya. Rasanya Luke enggan untuk membukakan pintu, ia pun mengecek siapa yang bertamu di rumahnya melalui cctv.


"Yugi?" gumam Luke.


Dengan cepat Luke berpakaian, karena sebelumnya ia hanya memakai celana basket kebanggaannya di dalam rumah. Ia pun keluar untuk menemui Yugi dan menanyakan maksud kedatangan Yugi kerumahnya.


Belum Luke membuka mulutnya untuk bertanya pada Yugi, pria berseragam butler itu sudah mengatakan maksud dari kunjungannya ke rumah Luke. "Dokter, tolong!! Nona pingsan!!" ucapnya ngos-ngosan. Padahal Yugi baru saja menstabilkan efek dari serangan paniknya tadi. Demi nonanya, ia rela meski harus kehabisan nafasnya.


Luke langsung kembali ke dalam rumah untuk mengambil peralatan medisnya. Pria berdarah irlandia itu berlarian ke rumah putrinya, ia sampai melupakan keberadaan Yugi karena panik. Naluri kebapakkan Luke sepertinya mulai bangkit.


"Dimana? Dimana Leia?" ucap Luke yang sedang lari tergopoh mencari keberadaan Leia.


"Dokter di sebelah sini!!" seru Yugi di belakang Luke, yang nyatanya pria berkumis tipis itu telah melewati kamar Leia.


"Astaga, ternyata kelewatan" gumam Luke menepuk dahinya. Ia pun bergegas ke kamar yang di tunjukkan Yugi.


Di dalam kamar, ada Darrel yang tengah menggendong Eden yang tampaknya habis menangis. Ia juga mengolesi minyak angin di kepala Leia berharap istrinya itu sadar karena rangsangan minyak angin yang panas dan berbau menyengat.


"Minggirlah!! Biar aku periksa" Luke menyingkirkan tangan Darrel yang sedang memijiti Leia.


Dengan perasaan yang dongkol, Darrel menuruti perintah Luke. Tak ada pilihan lain, kondisi istrinya yang terpenting saat ini.


Luke memeriksa detak jantung dan tekanan darah Leia, tidak ada keanehan dan semuanya normal-normal saja. Pria bermata abu-abu itu mengerutkan dahinya, "Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Luke penasaran.


Yugi pun menjelaskan asal mula keriwuhan yang terjadi tadi pagi, mulai dari insiden Marriane sampai akhirnya sang nona pingsan. Darrel yang juga baru mendengar tentang insiden Marriane, langsung menelpon Handoko yang membawa Ann ke rumah sakit, menurut kronologi yang Yugi jabarkan.


Setelah menelpon Handoko untuk menanyakan kabar tentang Marriane, Darrel mengajak Luke untuk mengobati biang keladi yang telah membuat ketentraman rumah istrinya terganggu.


Atas perintah Luke, mobil ambulans yang datang tak menghidupkan sirinenya saat masuk ke dalam kompleks perumahan, agar tak menimbulkan kehebohan di sekitar kediaman Leia. Lalu, Nick pun di bawa ke rumah sakit didampingi Jeki yang baru saja datang atas perintah komandan bulenya.


Darrel mengeluarkan ponselnya, ia menghubungi jasa kebersihan andalannya untuk membereskan paviliun yang kacau itu. Ia pun masuk ke dalam rumah dan membuatkan putrinya susu, Eden begitu rewel, seolah merasakan kemelut yang terjadi hari ini.


___________________________________


Poros matahari tepat berada di atas pucuk kepala bumi, menandakan hari telah berganti siang. Tiga pria berbeda usia sedang resah gelisah karena wanita paling penting di hidup mereka tak kunjung sadarkan diri. Padahal tak ada yang salah dengan keadaan tubuh wanita itu, semuanya normal. Entahlah, apa yang membuat mata indahnya itu enggan terbuka.


Darrel masih menggendong Eden, seraya mengusap kepala istrinya dengan lembut. Sesekali, dikecup nya kening dan bibir sang istri, dengan harapan Leia akan terbangun seperti dongeng putri tidur.


Luke masih betah duduk di kursi samping kasur putrinya, untuk memastikan keadaan putrinya baik-baik saja. Walaupun matanya terkadang sulit untuk berkompromi, akibat kantuk yang menyerang dirinya.


Sedangkan Yugi, pria muda yang bersifat dewasa sebelum waktunya itu, memijiti kaki Leia yang sebenarnya sudah di anggap kakak olehnya. Anehnya, ia tak pernah merasakan panic attack saat bersama Leia.


"Mmhh" gumam Leia di saat kesadarannya mulai kembali. Ketiga pria itu langsung berebutan untuk melihat kondisi Leia, setelah mendengar gumaman wanita terpenting di hidup mereka itu.


Leia mengedip-ngedipkan matanya yang masih terasa kabur. Ia melihat siluet tiga pria yang sedang mengerubungi nya. Tapi fokus matanya jatuh kepada pria yang sedang menggendong bayi di depannya, perawakan yang tak asing.


"Oppa" lirih Leia setelah yakin dengan siluet yang tadi dilihatnya. Pandangannya sudah kembali jernih, tak kabur seperti sebelumnya, "Apa yang terjadi? Kenapa aku di sini?" tanyanya heran, Leia mencoba mendudukkan dirinya yang masih sempoyongan.


Seingatnya, ia sedang mengecek paviliun belakang dan terkejut dengan keadaan paviliun yang sudah berantakan.


Darel, dan Luke saling bertatapan aneh. sedangkan Yugi, ia hanya menanggapi biasa saja, seolah ia sudah pernah mengalami kejadian seperti ini sebelumnya.


"Bisa ceritakan ingatan terakhirmu?" tanya Luke, yang sebenarnya sedang melakukan pemeriksaan pada putrinya itu.


Leia agak heran dengan pertanyaan Luke, tapi ia tak ambil pusing, dan menceritakan yang ia lakukan sebelum ia tak sadarkan diri.


Di dalam otak kedokteran Luke, ia dapat menyimpulkan penyebab Leia bisa pingsan. Terdapat gurat ke khawatiran di wajah yang mulai keriput itu. Untuk memastikan diagnosanya, Leia perlu melakukan pemeriksaan lebih lanjut oleh pakarnya.


Luke melirik Darrel yang sedang menenangkan putrinya. Bayi berambut hitam tebal itu mulai rewel kembali.


Apa aku harus memberitahunya? Ahh, tidak, tidak... Aku akan bicara dengan Neftari nanti. Leia perlu melakukan pemeriksaan lanjut. Semoga saja rasa khawatir ku ini tak beralasan. Luke


"Semua sudah baik-baik saja, saya undur diri dulu" ucap Luke seraya beranjak dari kursinya. Pria yang memiliki warna rambut dan Lensa mata yang persis seperti Leia itu tersenyum dan mengusap sayang pucuk kepala Leia, sebelum ia benar-benar pulang ke rumahnya.


To be continue...