The Miracles Of Two Souls

The Miracles Of Two Souls
Chapter 99: Keinginan yang Terkabul 2 (END)



...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...


...         Selamat Membaca...


...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...


Di sebuah ruangan bernuansa putih, seorang perempuan yang sudah lama terpejam dalam mimpi akhirnya terbangun juga.


Perempuan itu mengerjapkan matanya untuk memfokuskan pandangannya yang sedikit memburam sampai benar-benar fokus kembali.


Di ruangan yang beraroma obat khas rumah sakit, perempuan itu sendirian. Tidak ada siapapun yang berjaga bila sewaktu-waktu dirinya terbangun kapan saja.


"Haus ..." Perempuan itu menelan ludah saat tenggorokannya terasa begitu kering. Ingin bangun pun seluruh tubuhnya terasa mati rasa dan dia yang tak memiliki tenaga.


"Hftt ..."


Terdengar helaan napas panjang dari perempuan itu yang pasrah karena dia begitu lemas untuk sekedar meraih botol minum yang ada di meja sebelah brankarnya.


Pandangan mata perempuan itu tertuju pada langit-langit ruang inapnya yang hanya berhias satu lampu di tengah-tengah. Dia juga mendengar suara hujan yang begitu deras dari luar ruangannya. Saat menoleh ke jendela ternyata langit gelap yang menandakan bahwa sekarang adalah waktu malam.


Hujan dan tubuhnya yang tidak bertenaga. Bagaimana caranya dia meminta tolong? Untuk memencet tombol di atasnya saja dia tak sanggup apalagi harus berteriak meminta tolong?


"Gue benar-benar sendirian disini," gumam perempuan itu yang tidak lain adalah Irena yang sudah berada di dalam tubuh aslinya.


Irena harap ada sebuah keajaiban yang mendatanginya. Dia benar-benar butuh bantuan sekarang untuk membasahi tenggorokannya yang begitu kering.


Hingga ...


Cklek


Pintu ruang inapnya terbuka lebar dan munculah seorang wanita berpakain kasual dengan menenteng sebuah plastik hitam di tangannya. Wanita itu nampak diam mematung setelah melihat Irena yang sudah bangun dari komanya.


Irena mengernyitkan keningnya saat ingatan dalam tubuh ini memberikan gambaran masa lalu tentang wanita di depannya. Wanita itu adalah Margaretta, mantan sahabat ibunya, Desta.


Margaretta langsung berlari keluar dan memanggil dokter karena anak mantan sahabatnya itu akhirnya terbangun.


Tidak lama Margaretta datang bersama dengan dua orang dokter yang menangani tubuh asli Irena yang tertidur lama.


"Ini merupakan sebuah keajaiban karena putri Anda akhirnya terbangun, Nyonya. Tiga jam sekali kami akan datang untuk memeriksa perkembangan Nona Devita." Ujar dokter yang memakai jilbab coklat.


Margaretta mengucapkan terima kasih setelah dua dokter itu selesai memeriksa Irena dan menyuntikkan vitamin ke dalam tubuhnya.


Kepergian kedua dokter itu membuat suasana menjadi canggung. Canggung hanya untuk Margaretta karena Irena tidak berniat membuka suara terlebih dulu untuk sekedar menyapa atau berbasa-basi.


Karena rasa hausnya sudah mereda berkat bantuan dokter berambut pendek, Irena lebih memilih memejamkan mata dan mengabaikan keberadaan Margaretta.


Margaretta memperhatikan Irena yang memejamkan mata dan benar-benar mengabaikannya.


Karena merasa terus diperhatikan, Irena membuka matanya dan berdecak, "Silakan Anda pulang saja. Saya bisa menjaga diri saya sendiri disini."


Ucapan Irena membuat Margaretta membulatkan matanya. Cara bicara Irena pun terdengar formal tidak seperti biasanya.


"Saya ingin menjagamu. Apa ada sesuatu yang kamu inginkan?"


Irena mengangguk, "Saya ingin Anda pergi dari sini. Luka yang saya derita masih belum sepenuhnya sembuh dan ..." Irena menghela nafas sejenak, "Anda juga termasuk pelaku yang menorehkan luka pada saya."


Margaretta tidak tahu harus membalas apa. Dia justru membuka plastik hitam yang tadi dia bawa, "Saya beli bubur ayam di depan SD Sumber Kasih, katanya bubur ayam di tempat itu kesukaan kamu."


Irena melayangkan tatapan tajam untuk Margaretta, "Apa yang membuat Anda seperti ini? Bersikaplah seperti biasanya yang Anda lakukan pada saya."


Margaretta yang tadinya ingin membuka sterofoam berisi bubur ayam tidak jadi dibukanya. Tetapi melihat tubuh anak mantan sahabat di depannya menjadi kurus membuatnya tidak tega.


"Kamu pasti lapar kan? Saya suapi ya?" Margaretta membuka sterofoam yang dia bawa lalu mulai menyendok bubur ayam.


"Anda tidak perlu repot-repot. Saya masih punya kedua tangan lengkap untuk makan sendiri." Irena hanya ingin membalas semua perbuatan yang pernah dia terima. Meskipun hukum karma itu ada, tetapi Irena tetap ingin membalas orang-orang yang pernah menyakiti Devita.


'Semua ingatan yang diberikan tubuh asli gue rata-rata adalah kenangan buruk.' Irena merasakan sesak yang luar biasa di hatinya.


Dulu demi mendapat perhatian dari Margaretta, Devita selalu melakukan sesuatu hal yang disukai wanita itu. Tetapi usaha Devita hanya diabaikan.


"Saya akan cepat mati kok, jadi Anda tidak perlu repot-repot seperti ini kepada saya."


"DEVITA!" bentak Margaretta yang membuat Irena sedikit kaget, "Kenapa kamu berbicara seperti itu?!"


"Haruskah saya menjelaskan alasannya, Nyonya Margaretta?" Tidak sengaja Irena melirik ke arah pintu yangmana ada Desta berdiri, "Karena saya adalah sampah yang memang seharusnya dibuang. Rumah mana yang akan menampung sampah seperti saya?"


Tubuh Desta terlihat menegang di ambang pintu. Irena dan Desta bertemu tatap, namun dengan cepat Irena mengalihkan pandangannya.


"Bahkan di rumah Anda, saya juga diperlakukan seperti hantu yang tidak terlihat." lanjut Irena.


Lidah Margaretta terasa kelu, dia diam membisu karena ucapan Irena benar. Margaretta selalu menganggap kehadirannya seperti hantu yang tak kasat mata. Sosok Irena selama berada di dalam rumahnya juga luka untuknya karena mengingat suaminya yang pernah bermain belakang dengan mantan sahabatnya, Desta.


"Kamu harus makan seperti yang disarankan dokter, saya akan pergi jika kehadiran saya membuatmu tidak mau makan." Margaretta berdiri dari duduknya, "Kamu bisa panggil saya kapanpun karena saya berjaga di luar."


Irena tak membalas ucapan Margaretta, dia lebih memilih memejamkan matanya karena pusing yang tiba-tiba melandanya.


Klek


Mata Irena kembali terbuka setelah Margaretta keluar dari ruang inapnya. Dia melirik ke arah bubur ayam di sebelahnya. Hanya melihatnya saja karena dia masih belum bisa menggerakkan seluruh tubuhnya kecuali kepala.


"Gue pengen makan ..." lirih Irena yang begitu mementingkan egonya ketimbang rasa lapar.


Hingga sebuah kilatan cahaya yang masuk menembus ke dalam ruang inapnya mengejutkan Irena. Tidak lama suara gemuruh dari guntur terdengar memekakkan telinga.


Irena sampai memejamkan matanya erat saat suara guntur itu berbunyi begitu lama seolah-olah langit sedang mengutuk para manusia yang tinggal di bumi.


Saat suara guntur itu berhenti, lampu tiba-tiba padam. Tidak lama terdengar keributan dari luar ruangan yang mungkin tengah bertanya-tanya kenapa rumah sakit bisa mengalami listrik padam.


Cklek


"Dev, kamu nggak takut gelap kan?"


Pertanyaan Margaretta dibalas deheman singkat dari Irena. Irena justru senang dengan padamnya lampu sekarang. Dia jadi teringat momen saat masih berada di rumah nenek tetua Osaka yang sudah meninggal.


Nenek tetua itu bernama Miada, dia begitu baik kepada Irena yang notabenenya bukanlah Putri asli Kerajaan Willamette. Perlakuan nenek Miada begitu tulus terhadapnya.


"Saya akan kembali sebentar lagi, kamu tidak perlu khawatir sendirian. Saya ingin mencari tahu kenapa lampu rumah sakit tidak kunjung menyala."


"Iya."


Irena juga memikirkan hal yang sama. Bahkan setelah kepergian Margaretta sepuluh menit yang lalu pun lampu rumah sakit tak kunjung menyala. Padahal tempat-tempat khusus seperti rumah sakit kan menyediakan genset.


"Lama banget nyalanya,"


Irena memang tidak membenci kegelapan, hanya saja berada di kegelapan tanpa melakukan apapun membuatnya sesak seolah-olah oksigen perlahan menghilang.


Pintu ruang inapnya juga tertutup rapat agar angin dari luar tidak membuat Irena kedinginan. Tetapi Irena justru menginginkan pintu itu terbuka.


Brak


"Astaga!"


Jantung Irena hampir saja terlepas dari tempatnya karena jendela yang tadinya tertutup tiba-tiba terbuka dengan sendirinya. Ruangan yang tadinya gelap menjadi temaram lalu beberapa bulir hujan juga masuk dan terciprat ke wajah Irena.


"Ya ampun! Apa itu?"


Kilatan cahaya masuk ke dalam ruang inapnya hingga membentuk gumpalan asap putih bercampur biru yang cukup besar.


Irena menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya. Tidak mungkin hantu dengan beraninya memperlihatkan eksistensinya pada Irena bukan? Irena bukannya takut hantu, dia justru takut itu adalah sesuatu yang nantinya akan membuatnya terluka.


Gumpalan asap putih bercampur biru perlahan hilang dan digantikan dengan sebuah siluet seorang lelaki dewasa. Saat siluet itu berhasil memperlihatkan sosok lelaki dewasa, Irena begitu syok di tempat.


"B-bagaimana bisa?"


Lelaki itu juga sama terkejutnya seperti Irena. Mereka sama-sama saling diam membisu di tempat masing-masing dengan berbagai macam pikiran.


...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...


Di acara itu juga Athanaxius mengumumkan bahwa dia akan melangsungkan pernikahan bersama Devita satu minggu lagi dan diadakan bersamaan dengan pernikahan Sirena.


Sirakusa yang turut hadir disitu begitu menantikan momen yang tepat untuk bisa berbicara dengan Devita. Sirakusa bahkan memberikan sinyal kepada Devita bahwa dia ingin berbicara dan beruntung Devita peka akan itu. Mereka pun memutuskan untuk berbincang di taman istana Alioth.


"Ada apa, Sirakusa?" Devita yang baru saja sampai langsung menanyakan inti pembicaraan. Dia tak bisa berlama-lama meninggalkan Athanaxius karena pria itu bisa marah padanya.


"Aku ingin bertemu Irena, apa tidak ada cara agar aku bisa menemuinya?"


Sirakusa sudah bersabar untuk beberapa waktu. Tetapi dia tidak bisa untuk tetap menunggu tanpa adanya hasil yang jelas. Kalau dia menunggu kabar dari Athanaxius dan menunggu sampai kondisi Devita pulih maka sudah jelas itu hanya mengulur waktu.


Devita menggaruk kepalanya yang tak gatal, "Itu ... Kenapa kau menanyakannya padaku?"


Sirakusa tampak lesu, "Ku pikir kau tahu sesuatu."


Melihat keputus-asaan dari Sirajusa membuat Devita iba, "Aku benar-benar tidak tahu menahu soal itu. Tetapi ... Mungkin di rumah Irena tepatnya di perpustakaan bisa memberikan petunjuk untukmu. Bukankah dulunya itu adalah rumah tetua yang membantu ritual pertukaran jiwaku dengan Irena."


Wajah Sirakusa berubah berbinar, "Apa kau mengizinkanku untuk memeriksanya?"


Devita mengangguk, "Bilang saja pada Bang Indra bahwa aku yang mengizinkanmu masuk dan mencari buku atas permintaanku yang belum bisa kembali ke Osaka."


Dengan langkah yang begitu ringan Sirakusa menuju rumah Irena dan masuk ke perpustakaan. Sirakusa begitu penuh ketelitian untuk mencari sebuah petunjuk yang mungkin saja bisa mengantarkannya pada dunia Irena berada saat ini.


Sirakusa hampir berputus asa karena tak kunjung menemukan petunjuk apapun. Di perpustakaan yang kecil ini hanya terdiri dari dua rak saja dan Sirakusa sudah membaca buku dari dua rak tersebut.


Lelaki itu duduk di lantai yang berdebu dan bersandar pada meja di belakangnya. Karena dia terlalu keras menyandarkan punggungnya pada meja membuat salah satu pintu laci meja terbuka dan sebuah kotak hitam terjatuh.


Klotak


"Apa ini?"


Sirakusa yang penasaran lantas membuka kotak itu dan ternyata berisi sebuah batu permata berwarna biru saphire yang berkilauan.



Karena terpesona dengan batu permata tersebut, Sirakusa mengambilnya dan membawanya menuju dekat jendela agar kilauan dari batu ini lebih memancar.


"Batu ini menjadi dingin," gumam Sirakusa yang merasakan tangannya mulai membeku karena memegang batu permata, "mungkin ini bukan batu permata biasa."


Sirakusa berniat mengembalikan batu permata itu ke kotak sembari bergumam akan keinginannya yang butuh keajaiban untuk datang ke Bumi dan bertemu Irena.


"Sayang sekali, aku gagal mendapatkan petunjuk apapun. Tidak ada keaja-"


Batu permata yang belum sampai diletakkan kembali pada kotak berkilauan semakin cerah dan tiba-tiba meledak yang tidak bisa dihindari oleh Sirakusa. Sirakusa hanya bisa memejamkan matanya erat saat di sekelilingnya begitu dingin dan membuatnya hampir membeku serta tubuhnya yang seperti di terpa angin kencang.


Saat membuka mata, Sirakusa begitu terkejut melihat seorang perempuan terbaring di ranjang yang agak tinggi dan tengah menatapnya dengan tatapan terkejut.


...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...


Sirakusa tidak bisa berpikir jernih saat bertemu tatap dengan perempuan di depannya. Tetapi melihat tempat dimana dia berada sekarang, tempat ini mirip seperti yang dilihatnya di cermin kuno yang menampilkan seorang perempuan dengan berbagai alat bantu yang menunjang kehidupannya.


"Itu adalah raga Irena yang asli, raga yang pernah ditempati Devita sebelumnya."


Ucapan Galcinia terlintas begitu saja saat melihat perempuan yang setia berbaring dan menatapnya.


Kaki Sirakusa perlahan mendekati ranjang perempuan itu.


"Jangan mendekat!"


"Irena ..." Mata Sirakusa berkaca-kaca ketika bisa melihat rupa asli Irena dengan begitu dekat.


"Gue bilang jangan mendekat, sialan!" perintah Irena tak dihiraukan Sirakusa, Irena pikir pria itu tidak mengerti ucapannya karena bahasa Bumi dan Vulcan berbeda. Dia sendiri juga tidak bisa lagi berbicara menggunakan bahasa Vulcan.


"K-kenapa?" Sirakusa agak terkejut saat tahu dia menggunakan bahasa yang berbeda.


"Bagus! Akhirnya lo bisa bahasa Bumi. Ngapain lo disini? Lo nyasar atau gimana?" Pertanyaan Irena terdengar sarkas di telinga Sirakusa.


"Aku hanya ingin bertemu denganmu."


Mendengar bahasa baku yang diucapkan oleh Sirakusa hampir membuat Irena menyemburkan tawanya. Sebisa mungkin dia mempertahankan wajah ketusnya pada Sirakusa.


"Kenapa lo pengen ket-"


Irena diam membisu seketika saat Sirakusa mendekapnya. Dekapannya begitu erat bagaikan seorang kekasih yang sudah lama tidak bertemu dengan orang yang dicintainya.


"Gue sesek napas, bodoh! Lepasin!"


"Tidak akan! Susah payah aku datang kemari dan kamu menyuruhku untuk melepaskanmu begitu saja?"


Deg deg deg


Jantung Irena kembali terpompa begitu cepat selesai mendengar ucapan Sirakusa. Ingatannya kembali mengingat pertemuan terakhirnya dengan Sirakusa. Pria itu menyalahkannya karena dia yang memberi harapan untuk Sirakusa.


"Gue pikir semuanya udah selesai sampai disitu aja. Ternyata lo berusaha keras buat ketemu gue, ya ..." senyum tipis muncul di bibir Irena. Dia tidak lagi menyuruh Sirakusa untuk melepas pelukannya.


"Aku merindukanmu, Irena ..." Sirakusa mengurai pelukannya untuk bisa melihat wajah Irena. Jemarinya terjulur untuk mengusap pipi Irena sedangkan satu tangannya dia gunakan untuk menahan berat tubuhnya.


"Tapi gue nggak rindu lo, gimana?"


"Aku tidak peduli!" Sirakusa masih setia membelai pipi Irena, "Aku juga tidak peduli jika kamu tidak mencintaiku sama seperti aku mencintaimu."


"Lo bener-bener suka sama gue?" Irena tidak menyangka akan hal ini.


Sirakusa mengangguk, "Ya. Aku bahkan tidak memiliki waktu luang selain hanya memikirkanmu. Apa kamu sudah sehat atau belum? Kamu makan teratur atau tidak? Kamu nyaman tinggal disini atau tidak? Aku memikirkan itu semua!"


Irena tersenyum geli mendengar penuturan Sirakusa yang terdengar menggelikan, "Selama hidup sebagai Irena di Vulcan, lo adalah pria kedua yang peduli sama gue. Dan asal lo tahu, gue juga baru sadar beberapa jam yang lalu."


"Begitu, ya?"


"Sebaiknya lo cepet pergi dari sini atau kehadiran lo yang berpenampilan mencolok ini bakal bikin gempar."


"Tidak mau!" Sirakusa menegakkan tubuhnya. Dia lantas melihat Irena yang tidak menggerakkan tangan atau kakinya sama sekali, "Apa tubuhmu mati rasa?"


"Iya. Gue cuma bisa gerakin kepala doang. Lo mau bantu?" Irena hanya iseng mengatakan itu. Siapa yang tahu bila kemampuan sihir Sirakusa akan hilang saat berada di Bumi.


"Aku akan menyembuhkanmu." Sirakusa mengeluarkan sihir penyembuh dari kedua tangannya.


"Hah?" Irena menganga karena tidak percaya bila sihir Sirakusa masih efektif meskipun bukan di Vulcan.


Sirakusa mengarahkan sihirnya pada Irena hingga menimbulkan sensasi menenangkan pada Irena. Kepalanya yang terasa pusing pun hilang.


Tidak lama lampu pun menyala. Irena panik karena takut kehadiran Sirakusa diketahui oleh Margaretta.


"Sirakusa, ayo pergi dari tempat ini lewat jendela. Pastikan nggak ada orang yang bisa lihat kita." Ajak Irena yang sudah bisa mendudukkan dirinya sendiri.


"Mau kemana?" beo Sirakusa dengan wajah bingung.


"Pokoknya kita keluar dulu dari sini, cepet!!"


Sirakusa lantas menggendong Irena dipunggungnya setelah Irena mengambil plastik di atas meja yang berisi bubur ayam.


"Kamu sudah siap?" tanya Sirakusa.


Irena memasang wajah gembiranya, "Gue siap!!!"


•───────•°•❀•°•───────•


Terimakasih sudah membaca.


Dengan berakhirnya chapter ini, berakhir pula cerita The Miracles of Two Souls ini. Aku mengucapkan terima kasih banyak buat orang-orang yang sudah mendukung cerita yang nggak seberapa bagus ini. Dan menurutku ending cerita ini memuaskan untuk aku. Sirakusa bisa ketemu Irena dan si kembar itu juga bakal menikah.


AKU SANGAT SENANG AKHIRNYA CERITAKU INI SUDAH TAMAT.


TAMAT