
...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...
... Selamat Membaca...
...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...
Kekacauan yang sempat terjadi di Hypatia sudah tersebar luas hingga sampai di telinga para rakyat. Nama Sirena yang memang sudah buruk semakin buruk karena banyak bangsawan yang membuat informasi bahwa Sirena lah dalang dari kekacauan itu.
Setelah kekacauan itu terjadi, penjagaan terhadap Nervilia semakin ketat. Bahkan Elephas menyuruh secara pribadi kepada Sirakusa untuk menjaganya dari marabahaya seperti serangan roh, khususnya malam ini. Malam di pesta pernikahan Nervilia.
Nervilia tengah di kamarnya sembari menunggu gaun yang akan dia kenakan.
Cklek
Nervilia menoleh ke belakang, mendapati sosok ibundanya yang belakangan ini diliputi kegembiraan.
"Ibunda ..." Nervilia segera berdiri dan memberi salam hormat kepada orang yang sudah melahirkannya itu.
Ratu Amanita tersenyum, mengusap kepala Nervilia, "Kau sudah menjadi anak yang berbakti selama ini, Nervilia. Aku bangga padamu."
Nervilia memberikan senyum terbaiknya, "Terima kasih, ibunda ..."
"Kalau begitu, apa kau sudah tahu kapan Elephas akan dinobatkan sebagai Kaisar?"
Senyum Nervilia luntur, dia mencoba menahan rasa takut yang sedari tadi dia sembunyikan, "Elephas belum memberitahuku, ibunda ..."
Senyum Ratu Amanita menghilang, raut wajahnya berganti menjadi datar, tangan Ratu Amanita bertengger manis di leher Nervilia, "Aku sudah melakukan hal besar sampai sejauh ini, jangan sampai apa yang aku lakukan sia-sia, Nervilia ..."
"S-sece-patnya i-ibun-da ... A-aku a-akan b-berusaha ..."
Ratu Amanita melepas cekikannya, "Ingat, Nervilia! Meskipun kau anakku, aku tak akan segan untuk membunuhmu kalau kau tak bisa melaksanakan tugas dengan sebaik mungkin."
Nervilia memegang lehernya yang terasa begitu sakit, "Baik, ibunda ... Kebahagiaan ibunda adalah yang utama."
Ratu Amanita tanpa mengatakan apapun langsung melenggang pergi dengan langkah anggun. Tepat saat keluar dari kamar Nervilia, Ratu Amanita berpapasan dengan Elephas yang baru saja datang.
"Ibunda ..." Elephas menundukkan kepalanya, lalu kembali memandang Ratu Amanita yang sudah menjadi mertuanya itu, "Apa kondisi ibunda sudah baik-baik saja?"
"Aku sudah lebih baik, Elephas menantuku." Ratu Amanita membalas dengan senyuman khas dirinya.
"Syukurlah kalau begitu." Elephas bernapas lega, "Kalau semuanya baik-baik saja, saya akan tenang mengadakan pesta pernikahan ini."
Untuk mengobati luka para tamu undangan, Elephas mengerahkan banyak farmos terbaik Kekaisaran untuk bisa menyembuhkan dalam waktu yang cepat. Beruntung luka yang dialami oleh para tamu adalah luka ringan.
"Pesta pernikahan kalian tetaplah harus berjalan lancar. Tunjukkan pada semua orang, bahwa pesta pernikahan adalah bukti hari bahagia kalian setelah melewati masa sulit akibat ulah anak itu." Ratu Amanita menepuk pundak Elephas dua kali, "Pastikan pesta pernikahan kalian juga aman. Kau tahu sendiri bukan bahwa yang mengurus pesta pernikahanmu adalah anak itu."
Elephas mengangguk, "Saya sudah menyuruh beberapa murid Sirakusa bahkan Sirakusa sendiri untuk memastikan keamanan pesta pernikahan kami. Baru saja Sirakusa melapor pada saya bahwa pesta pernikahan kali ini aman."
"Kalau begitu selamat menikmati hari bahagia kalian malam ini." Ratu Amanita lantas berpamitan pada Elephas.
Elephas pun masuk ke dalam kamar, mendapati sosok Nervilia yang duduk termenung.
Elephas memeluk Nervilia dari belakang, "Apakah ada yang mengganggu pikiranmu, sayang?"
Nervilia terkejut dengan kehadiran Elephas, "E-em, aku hanya takut pesta pernikahan kita akan mengalami hal serupa seperti kemarin."
Elephas mengecup pipi kanan Nervilia, "Kau tenang saja, semuanya akan baik-baik saja." Sekali lagi, Elephas mengecup pipi kanan Nervilia.
Nervilia merasakan hatinya menghangat akibat perlakuan manis Elephas. Dia sangat senang, akhirnya bisa bersatu dalam ikatan yang kuat dengan Elephas, orang yang paling dicintainya.
Nervilia berbalik, kemudian memeluk Elephas erat, "Elephas ... Aku sangat mencintaimu ..." Nervilia memejamkan matanya, membayangkan hari kedepannya akan seperti apa dengan Elephas.
"Aku tahu ... Aku juga mencintaimu, sangat!"
Sudut mata Nervilia meneteskan air mata yang jatuh di pundak Elephas, dengan cepat Nervilia menghapusnya, 'Maaf untuk hari sebelumnya, hari ini, dan hari yang akan datang, Elephas ...'
...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...
Disudut penjara yang paling gelap, Sirena tengah mengusap kepala France yang tertidur. Pikiran Sirena terus melayang kemana-mana. Mulai dari datangnya roh-roh iblis yang mengatasnamakan dirinya, serta telapak tangannya yang mengeluarkan sinar putih.
"Hhhft! Rasanya gue pengen nyerah aja, gue capek ..." Sirena mendesah lelah. Tangannya yang semula mengusap kepala France dengan lembut beralih memegang liontin kalung steorra miliknya. Berharap bahwa Sirena asli akan menemuinya.
"Gue bahkan nggak punya kesempatan buat mencari tahu soal kalung steorra dimana lo berada, Sirena ..."
Sirena memejamkan matanya, mencoba mengistirahatkan tubuh serta pikirannya. Dia bahkan tidak tahu apakah hari ini sudah siang atau malam, mengingat dia berada di penjara bawah tanah istana Kekaisaran.
"Calon istriku harus terlihat cantik di depan semua orang."
Ucapan Athanaxius malam itu seketika terlintas, Sirena kembali membuka matanya. Bibirnya menyunggingkan senyum sedih, "Maaf, Athan ... Gue bahkan nggak bisa hadir di pesta pernikahan Nervilia, gimana mau terlihat cantik di depan semua orang?"
"Kak Nana,"
Sirena terkejut, ternyata France belum tidur sepenuhnya. France yang kepalanya berada di atas pahanya itu kini tengah menatapnya, "Kak Nana selalu terlihat cantik di manapun Kak Nana berada."
Hanya senyuman yang bisa diberikan oleh Sirena, 'Wajah Sirena kan emang cant-'
"Bukan perihal rupa, melainkan hati Kak Nana." Sambung France yang membuat Sirena terdiam.
Elusan lembut dari tangan kecil France Sirena rasakan di pipinya, "Kak Nana orang yang baik. Kak Nana harus yakin, bahwa kebahagiaan akan selalu menyertai Kak Nana."
Ini yang membuat France berbeda dari anak seusianya. France berpikiran terbuka, selayaknya orang dewasa.
"Kata-katamu sukses membuatku terharu ... Sini, peluk aku!!" France langsung bangkit kemudian memeluk Sirena.
"Menurutmu, kebahagiaan itu seperti apa, France?"
France mengurai pelukannya, memandang wajah ayu Sirena. Mata coklat Sirena nampak berbinar saat bertanya, "Kebahagiaan itu saat kita bisa tersenyum atau tertawa dengan bebas tanpa memikirkan beban kehidupan untuk sesaat." France menarik sudut bibir kanan dan kiri Sirena membentuk sebuah senyum, "Seperti saat aku melihat Kak Nana, aku merasa bahagia."
France benar. Selama ini yang dipikirkan Sirena tentang kebahagiaan adalah saat akhirnya kita mendapatkan apa yang seharusnya kita dapat setelah sekian lama menderita, dan ternyata arti kebahagiaan bukan itu. Akhirnya Sirena menemukan jawaban yang selama ini Sirena ingin tahu. Dan itu semua berkat anak kecil di depannya.
"Putri Sirena, aku akan membebaskanmu!"
Sirena dan France mengalihkan perhatiannya ke arah sumber suara. Sirena terkejut bukan main saat mendapati Phyron yang ada dibalik jeruji besi, memegang sebuah kunci.
"Pangeran Phyron? Apa yang Anda lakukan?"
...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...
"Phyron! Menurutmu, diantara Putri Grifilda dan adiknya, lebih cantik yang mana?"
'Aku harus menemui ayahanda! Aku tak akan membiarkan Sirena hidup di dalam penjara.' Phyron tak menanggapi pertanyaan Phyton yang ada di sebelahnya.
Phyton berdecak sebal, "Phyron!"
Phyron menoleh, memandang saudara kembarnya dengan tatapan datar, "Apa?"
"Apa? Astaga! Kau sungguh menyebalkan! Aku bertanya padamu, diantara Putri Grifilda dan adiknya, lebih cantik yang mana? Tapi apa? Kau mengabaikanku!" Phyton benar-benar kesal. Saudaranya ini memang tidak berubah, selalu saja bersikap datar kepada siapapun.
"Lebih cantik ..." Phyron menerawang, bayangan Sirena saat tertawalah yang muncul, "Putri Sirena."
"HAH?" Otak Phyton mencoba mencerna, "Astaga-astaga! Jangan bilang kalau wanita yang menolak lamaranmu adalah Putri Sirena,"
"Ck!" Decak Phyron. Seharusnya dia tak menanggapi ocehan Phyton, hanya membuatnya pusing saja.
Phyron berdiri setelah lama duduk bersama saudara kembarnya yang cerewet itu. Dia akan menemui Kaisar Helarctor, ayahnya yang sedang ada di kamar tamu. Keluarga Kekaisaran saat ini memang tengah berada di istana Kerajaan Willamette.
"Mau kemana kau? Sebentar lagi pestanya akan dimulai!"
Phyron terus berjalan tanpa menjawab pertanyaan Phyton. Dia melangkah pergi meninggalkan taman belakang istana Kerajaan Willamette.
Di sepanjang perjalanan, Phyron bertemu banyak wanita-wanita bangsawan yang menyapanya. Namun bukan Phyron kalau dia menanggapi, Phyron mengabaikan mereka. Dia tak peduli mau dibicarakan karena sikapnya yang terlalu acuh tak acuh.
Akhirnya Phyron sampai di depan kamar ayahnya yang mana penjagaan jauh lebih ketat dan mendapatkan kamar yang paling bagus. Itu semua terlihat dari pintu kamar yang nampak menonjol dari pintu kamar yang lain. Untuk itu Phyron mengakui, Raja Monachus pandai dalam memperlakukan manis tamu-tamunya.
"Aku ingin bertemu ayahanda."
Legion yang bertugas di depan kamar ayahnya adalah legion dari Kekaisaran, semua itu terlihat dari kain berlambang bunga sepatu yang diikat di lengan kanan.
Baru saja legion itu ingin memberitahukan kedatangan Phyron, pintu kamar sudah terbuka. Menampilkan sosok ayahnya yang memakai jubah kebesaran Kaisar Alhena.
"Apa yang kau lakukan disini, Phyron?" Kaisar Helarctor tentu saja heran, pasalnya Phyron jarang sekali menyapanya. Dan sekarang, lelaki itu berdiri di hadapannya.
"Bebaskan Putri Sirena."
Wajah Kaisar Helarctor mengeras, "Tidak!" Kaisar Helarctor ingin masuk kembali ke dalam kamar, namun tidak jadi saat mendengar penuturan dari Phyron.
"Bebaskan atau saya akan melepaskan diri dari anggota Kekaisaran." Suara Phyron terdengar sangat dingin.
Kaisar Helarctor menoleh, memandang wajah anaknya yang paling pendiam diantara yang lain, "Mengapa kau bersikeras sekali?"
"Dia adalah wanita yang menolak lamaran saya, wanita yang saya cintai."
Terkejut? Tentu saja terkejut, sebagai seorang ayah yang sudah mencarikan banyak sekali wanita untuk anak dinginnya ini, ternyata anaknya mencintai Putri bodoh dengan segala tingkah buruknya.
"Apa yang membuatmu mencintai Putri bodoh itu? Ingatlah, karena wanita itu, pernikahan kakakmu kacau."
"Dan karena wanita itulah saya berdiri dihadapan Anda, mempertaruhkan posisi saya sebagai Pangeran Ketiga Kekaisaran Alhena." Jawaban Phyron membuat Kaisar Helarctor tak bisa berkata-kata.
Pembicara serius kali ini tentu saja terdengar oleh para legion. Akan lebih baik kalau mencari tempat yang lebih bagus dan sepi.
"Ikutlah denganku." Kaisar Helarctor berjalan menuju lorong yang berada di dekat kamarnya.
Phyron mengikuti, meskipun ini semua hanya membuang-buang waktu.
"Katakanlah, apa keuntunganku membebaskan wanita yang kau cintai itu."
Phyron menggertakkan giginya kuat-kuat, melawan ayahnya hanya akan membuatnya jatuh pada lubang yang sama, sengsara.
"Saya akan menyetujui siapapun wanita pilihan ayahanda dan akan menikahinya." Itu bukanlah kemauannya. Phyron hanya ingin menikah dengan orang yang dia cintai, dan orang itu adalah Sirena.
Kaisar Helarctor tersenyum penuh kemenangan, tangannya menepuk bahu anaknya dua kali, "Itu baru anakku." Setelahnya Kaisar Helarctor pergi meninggalkan Phyron.
"Sialan!" Tangan Phyron terkepal erat. Nafasnya memburu akibat menahan gejolak amarah yang kian membuncah.
Ini demi Sirena. Dia melakukan ini untuk menebus kesalahannya. Setidaknya Phyron tidak akan diam saja seperti masa lalu, dimana dia hanya diam saja saat melihat Sirena dihukum. Phyron bersandar pada dinding dengan mata tertutup, "Putri Sirena ... Berbahagialah dengan pilihanmu."
•───────•°•❀•°•───────•
Terimakasih sudah membaca.
Ini cerita kedua saya, mohon dukungannya ya:)
Saya menerima kritik dan saran. Apakah cerita ini menarik?