
...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...
... Selamat Membaca...
...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...
"Diantha Efigenia, Zifgrid yang akan membantu Sirena dan Devita berlatih melawan Ratu Amanita, sang Dryas."
"Wow! Sungguh diluar perkiraanku," Ratu Amanita berbicara dengan nada senang setelah mengetahui siapa yang akan menjadi lawannya, "ini menyenangkan sekali, hahaha ..."
"Apa yang kau lihat, Ratuku?" Jaguisa yang sedari tadi duduk menunggu Ratu Amanita yang menutup mata pun penasaran, mengapa setelah membuka mata Ratu Amanita sebahagia itu.
"Siapa yang menyangka anak Agalia yang akan menjadi lawanku nanti?" Ratu Amanita tersenyum remeh, "Menurutmu, haruskah aku menyerang kembali Osaka?"
"Ide bagus! Kali ini kau bisa menyerang dari dalam karena kau memiliki Athanaxius."
"Hahaha, kau benar, Jaguisa!" Ratu Amanita tertawa puas, "Aku tak akan membiarkan anak-anak Agalia berhasil kembali ke tubuh asli mereka." Dengan begitu, dia tak akan memiliki lawan yang mampu membuatnya terancam.
... -ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...
"Irena, apa kau juga akan ikut bersama kami?" Sirena memandang Irena yang bersandar santai di dinding belakangnya.
Irena mengendikkan bahunya, "Menurutmu, haruskah aku ikut?"
"Lo harus ikut!" Devita menepuk bahu Irena hingga membuat wanita itu tak lagi bersandar pada dinding.
"Kalau gue nggak mau?" Irena bersidekap dada, "Gue mending disini nunggu hasil kerja kalian."
Sirena mendengus kesal, sudah lama dia menahan kesabaran menghadapi sifat Irena yang menurutnya acuh tak acuh dan begitu menyebalkan di matanya, "Irena! Rasanya aku ingin memakanmu sekarang!"
"Makan aja dia! Emang ngeselin banget nih orang!" Kompor Devita.
"Terserah kalian berdua! Gue mau tidur!" Irena pun hendak pergi dari ruang tamu, namun tangannya langsung ditahan oleh Sirakusa.
Melihat tangannya ditahan oleh Sirakusa, Irena sontak menghentakkan tangan Sirakusa, "Siapa kau berani-beraninya menyentuh tanganku?"
"Kau harus ikut, Irena! Bagaimanapun tubuh yang kau gunakan adalah milik Devita. Akan lebih baik bila kau ikut." Ucapan Sirakusa membuat Irena sedikit tersinggung.
"Apa aku menginginkan ini semua?" Irena tertawa hambar, "Hahaha, tidak! Aku tak menginginkan berada di tubuh ini. Meskipun tubuh ini bagus dan sangat cantik, tapi ini bukan diriku, juga tentang dunia ini!"
"Sirakusa tak bermaksud seperti itu, Ren. Dia ha-"
"Dia apa?" Irena memotong ucapan Sirena, "Aku benci diatur!" Setelahnya Irena melenggang menuju kamarnya.
Semua orang melihat betapa marahnya Irena, kecuali Athanaxius yang sedari tadi hanya diam tanpa ekspresi.
"Haruskah Irena ikut, Diantha?" Raja Monachus bertanya pada Diantha.
Diantha mengangguk, "Akan lebih baik bila Irena ikut." Diantha lantas menatap Ambrogio, "Aku mempercayaimu untuk menjaga mereka. Dan soal Irena, tak lama lagi dia akan kembali kesini."
"Hanya aku?" Ambrogio menunjuk dirinya sendiri.
"Aku akan ikut."
"Nervilia?" Sirena dan Devita bergumam bersamaan.
Nervilia tak datang sendiri, dia bersama Elephas suaminya.
"Biarkan aku menebus rasa bersalahku dengan menjaga mereka." Tatapan Nervilia terfokus pada Sirena dan Devita.
"Memangnya kau sudah sehat, heh?" Irena turun dari tangga dengan pakaian yang sangat tertutup, tak lupa wajahnya juga tertutupi cadar yang hanya menyisakan mata.
"Lo jadi ikut?" Devita menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil menatap Irena yang sudah berdiri di sebelahnya.
Irena tak menjawab Devita, dia kembali menatap Nervilia yang masih terlihat pucat, "Jangan memaksakan dirimu, Nervilia."
"Kau tak perlu cemas, aku yang paling tahu batas kemampuan diriku sendiri. Bila aku bilang mampu maka aku mampu." Keukeuh Nervilia.
"Aku juga ingin ikut, apa boleh?" Kayanaka mengajukan dirinya.
"Sebaiknya jangan terlalu banyak orang." Sirakusa yang menanggapi Kayanaka.
"Sirakusa benar. Lagipula aku juga tak ingin merepotkanmu, Kayanaka." Devita turut menyahut, dia tak ingin Kayanaka ikut.
"Kalau begitu, kalian bergegaslah menuju sungai ujung desa. Aku hanya bisa membuat portal disana dan kalian akan sampai di sungai ujung pusat kota Kekaisaran Alphard."
...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...
Athanaxius menyaksikan semuanya dengan rasa cemas hatinya. Dia mengkhawatirkan sesuatu yang buruk akan terjadi, terlebih suara yang ada didalam pikirannya yang menyuruhnya untuk menghentikan kepergian Devita dan Sirena.
'Hentikan mereka! Kalau perlu bunuh!'
Athanaxius mencoba mengambil alih dirinya dari kontrol seseorang, namun sama sekali tak berhasil.
'Hahaha, kau tak akan mampu melawanku, Athanaxius!'
Suara itu kembali muncul dan membuat kepala Athanaxius serasa dipukul oleh batu besar.
"Arghhh!" Athanaxius mengerang sembari memegang kepalanya.
'Bunuh mereka, Athanaxius!'
"Arghhh!!"
Erangan dari Athanaxius berhasil membuat Devita dan yang lain menghentikan langkah mereka menuju sungai. Kayanaka yang ada di sebelah Athanaxius merasa khawatir melihat Athanaxius kesakitan.
"Dei, kau baik-baik saja?"
Sayap hitam milik Athanaxius tiba-tiba saja muncul dan membuat baju yang dia kenakan robek. Tangan Athanaxius terangkat ke atas lalu muncul sebuah pedang yang pernah dilihat oleh Devita sebelumnya. Pedang yang pernah digunakan Athanaxius sewaktu melawan monster di hutan kala itu.
Devita yang juga merasa khawatir pun melangkah mendekati Athanaxius, namun dia justru terhempas akibat kepakan sayap Athanaxius.
"Tak akan kubiarkan kalian pergi!" Ucap Athanaxius yang terkesan begitu dingin di telinga siapapun.
Sirakusa yang menyadari perubahan tak biasa Athanaxius langsung memasang badan melindungi Devita lalu mengeluarkan pedang miliknya.
"Keluarkan senjata kalian. Kita akan menghadapi Pangeran terkutuk ini." Sirakusa memberitahu.
Nervilia, Elephas, Raja Monachus dan yang lain lantas mengeluarkan senjata mereka. Mereka membentuk benteng untuk melindungi Sirena, Irena dan Devita. Berbeda dengan Kayanaka yang masih setia di samping Athanaxius. Wanita itu akhirnya sadar bahwa sekarang Ratu Amanita sedang mengendalikan Athanaxius.
"Kayanaka, menjauhlah darinya!" Nervilia berseru memperingati Kayanaka.
"Ouh! Aku takut sekali ..." Setelahnya Kayanaka tertawa kencang, "Hahaha ... Aku akan membantu Athanaxius kali ini." Kayanaka kemudian mengeluarkan anak panah sihir miliknya.
Athanaxius terkekeh sembari mengusap kepala Kayanaka, "Kau yang terbaik, sayang."
Tanpa aba-aba, Athanaxius melancarkan serangan-serangan yang membuat Sirakusa dan yang lain kuwalahan. Terlebih lagi Kayanaka juga meluncurkan anak panahnya yang dia fokuskan kepada Devita, tepatnya pada jantung Devita.
Karena terlalu fokus menghadapi serangan Athanaxius, Devita kini dengan mudah menjadi target Kayanaka yang memang menginginkan wanita itu celaka agar dia bisa memiliki Athanaxius.
"DEVITA, AWAS!!" Sirena lantas melindungi Devita hingga membuat punggung Sirena tertancap anak panah itu.
"SIRENA!!" Ambrogio bergegas menghampiri Sirena yang terjatuh di pelukan Devita.
"Sirena! Lo nggak seharusnya bertindak gegabah!" Devita memarahi Sirena yang kini tengah merintih kesakitan dengan air mata yang mulai membanjiri pipinya.
Meskipun Sirena berhasil terkena serangan dari Kayanaka, Athanaxius tak kunjung mengentikan serangannya hingga membuat mereka tak bisa melakukan pertolongan pertama untuk Sirena.
Ambrogio yang berhasil menghampiri Sirena dan Devita lantas mengambil alih tubuh Sirena, kemudian menyalurkan sihir penyembuh agar Sirena tak terlalu banyak kehilangan banyak darah.
"Ambrogio, bawa Sirena ke tempat yang aman dulu!" Dengan panik Devita berbicara.
Ambrogio mengangguk, namun matanya tak sengaja menangkap sosok Diantha yang berada di salah satu pohon hanya menyaksikan pertarungan mereka.
'Mengapa kau tak membantu kami, Diantha?'
Diantha mendengar suara batin Ambrogio, 'Aku tak bisa, ku harap kau mengerti, Ambrogio. Sebagai gantinya aku akan menyembuhkan Sirena dan segera mengirim kalian pergi.'
Mendengar balasan dari Diantha, Ambrogio tak bisa berbuat apa-apa. Dia melihat sosok Athanaxius yang berhasil membunuh Raja Monachus.
"AYAHANDA!!!"
Devita menjerit saat melihat pedang tajam Athanaxius menembus jantung Raja Monachus.
Sirena yang perlahan mulai pulih tak bisa untuk tak terkejut melihat ayahnya yang sudah tumbang di tanah.
"SIALAN!" Irena mengumpat kencang dan langsung melemparkan batu besar pada Kayanaka yang tertawa melihat kematian Raja Monachus.
Keberuntungan memihak Irena karena lemparan yang mengandung kemarahan itu berhasil mengenai mulut Kayanaka hingga membuat wanita itu berteriak kesakitan.
"Apakah ini sakit, sayang?" Athanaxius mengusap mulut Kayanaka yang berdarah.
Rasa kesal, kecewa menguasai hati Devita saat melihat sosok Athanaxius yang justru khawatir dengan luka kecil Kayanaka.
"Gue bakal inget rasa sakit ini, Athanaxius ..." Setelah mengatakan itu, Devita merasakan dirinya tertarik ke sebuah lingkaran yang membuatnya pusing.
•───────•°•❀•°•───────•
Terimakasih sudah membaca.