
...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...
... Selamat Membaca...
...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...
"Aku tahu tujuan kalian bukanlah seperti yang dikatakan oleh Beta Alfon. Katakanlah!"
Devita dan Irena saling senggol untuk berbicara lebih dulu. Melihat wajah tak bersahabat milik Kaisar Yerikho membuat Irena dan Devita takut. Sirena sendiri juga takut, maka dari itu dia belum menunjukkan wujud aslinya meskipun sudah berada di ruang kerja Kaisar Yerikho.
Setelah pertemuan selesai, Kaisar Yerikho menyuruh Devita dan Irena untuk mengikutinya dan Beta Alfon tidak diperbolehkan ikut. Karena itulah sekarang tidak ada yang membantu mereka berbicara dengan Kaisar Yerikho.
"J-jadi b-begini ..." Devita menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "Kami datang kemari ingin meminta izin kepada Anda, k-kami ... apakah boleh m-meminjam cermin kuno milik mendiang Permaisuri Daisy?" Devita berbicara dengan kepala menunduk.
"Untuk apa kalian meminjamnya?"
Tidak ada jawaban dari Irena maupun Devita.
Sirena pun memutuskan untuk menunjukkan wujud aslinya yangs membuat Kaisar Yerikho tersentak kaget.
"Kami sedikit kesulitan dalam menjawab pertanyaan Anda, Yang Mulia Kaisar Yerikho. Mungkin buku milik mendiang ibunda mampu menjawab pertanyaan Anda." Sirena lantas meletakkan buku diary itu di atas meja kerja Kaisar.
Setelah menetralkan raut wajahnya, Kaisar Yerikho mengambil buku itu, kemudian membukanya.
"Anda harus meniupnya tiga kali agar tulisannya bisa Anda baca."
Mendengar itu, Kaisar Yerikho sempat ragu tapi tak ayal melakukan hal yang dikatakan Devita.
Mereka bertiga pun berdiri diam menunggu Kaisar Yerikho yang tengah membaca lembar tiap lembar tulisan di buku diary itu.
"AYAHANDA!!"
Keempat orang itu terkejut saat pintu ruang kerja Kaisar dibuka paksa oleh seorang perempuan bergaun mewah dan sangat cantik.
Perempuan itu terkejut saat melihat ada tiga kembar berada di dalam ruang kerja Kaisar Yerikho.
"Siapa mereka, ayah?" Tunjuk perempuan itu pada Devita, Irena dan Sirena.
"Dimana sopan santunmu, Virga?"
Perempuan itu adalah Putri Bungsu Kekaisaran Alphard, Putri Virgalea Xaura De Alphard.
Virga tak mengindahkan pertanyaan Kaisar, dia lebih memilih mengitari Sirena, Devita dan Irena. Setelah mengitari ketiga kembar itu, Virga lantas berdiri di depan mereka sembari bersidekap dada.
"Sepertinya aku pernah bertemu denganmu, tapi dimana 'ya?" Virga memandang ke arah Irena.
"Kalau tidak ada hal yang perlu dibicarakan, lebih baik kau istirahat sekarang. Ini sudah larut malam."
Virga lantas menepuk jidatnya, dia kemudian berbalik dan berkacak pinggang menghadap ke arah Kaisar yang berwajah datar itu.
"Ayahanda! Mengapa kau menempatkan banyak sekali legion di istanaku?"
"Demi keamananmu." Balas Kaisar Yerikho lalu kembali membaca buku diary milik sahabat mendiang istrinya itu.
"Jadi namanya Putri Virga?" Sirena bergumam sembari mengangguk-angguk kepalanya pelan.
"Sebenarnya yang jadi masalah itu, apa kita harus berdiri terus kayak gini?" Devita berbicara dengan nada pelan. Jujur, kakinya sudah pegal karena berdiri terlalu lama.
"Sstt! Tuan rumahnya tidak ramah." Sahut Sirena yang membuat ketiga orang itu terkikik pelan.
"Apa yang ayahanda lakukan sudah benar.
Bila kau terus merengek seperti ini, penjara bawah tanah menantimu."
"Kejam sekali!" Irena berbisik.
"AYAHANDA JAHAT!" Virga lantas berlari keluar dari ruang kerja Kaisar dengan perasaan marah.
Di mata Devita, sikap Kaisar Yerikho terhadap anaknya begitu keras, tidak ada kelembutan yang menciptakan rasa cinta di hati anak perempuannya. Andaikata Kaisar Yerikho menjelaskan alasan yang sebenarnya, mungkin Virga akan memahami maksud tindakan Kaisar.
Setelah lama menunggu hingga membuat kaki ketiga orang itu keram bahkan wujud Sirena yang mulai memudar, Kaisar sama sekali belum membuka suara.
Saat wujud nyata Sirena menghilang, Kaisar menutup buku diary itu kemudian meletakkannya di atas meja. Mata Kaisar melirik keberadaan Sirena yang sudah tidak terlihat.
"Apa aku terlalu lama?" Pertanyaan retoris dari Kaisar begitu menjengkelkan di telinga Irena yang memang sudah menahan kekesalan sedari tadi.
"Anda mempermainkan kami?" Sirena dan Devita sontak menatap Irena yang nampaknya sudah habis kesabaran.
Kaisar Yerikho tersenyum tipis, "Aku tidak mempermainkan kalian. Aku hanya mengajarkan kepada kalian, bahwa ada kesabaran untuk mendapatkan apa yang kalian inginkan." Kaisar Yerikho lantas berdiri dari duduknya, "Duduklah! Aku tahu kalian lelah."
Tanpa berpikir lagi, Devita dan Irena bergegas duduk kemudian meluruskan kedua kakinya masing-masing. Devita merasa seperti habis ucapara hari Senin.
"Welcome to my palace... " (Selamat datang di istanaku ...) Kaisar kembali duduk di kursinya, "Perihal cermin yang kalian maksud, aku sudah menyerahkan hak cermin itu pada Putriku, Virga. Kepada Virga lah kalian harus meminta izin, bukan kepadaku."
Irena mengepalkan tangannya kuat-kuat, "Kenapa Anda tidak bilang sedari tadi saat Putri Virga ada disini?"
Kaisar Yerikho justru tertawa, "Aku ingin mencari hiburan dengan mengorbankan kalian."
...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...
Setelah kejadian tadi malam yang begitu menjengkelkan untuk Devita dan Irena. Mereka akhirnya diperlakukan sebagai tamu Kekaisaran oleh Kaisar Yerikho. Tidak hanya itu, mereka juga mendapat kebebasan untuk mendekati Putri Virga.
Berdekatan atau berteman dengan Putri Virga bukanlah hal yang mudah. Putri Virga sangat dijaga ketat oleh Kaisar Yerikho. Itu semua dilakukan demi keamanan Putri Virga, yang merupakan kelemahan Kaisar Yerikho.
Karena tak ingin membuang-buang waktu, Devita, Irena dan Sirena segera ke istana Celandine dimana Putri Virga tinggal.
Baru saja tiba di dekat gerbang istana Celandine, ketiganya terkejut mendapati banyaknya legion yang berpatroli. Pantas saja Virga protes terhadap Kaisar Yerikho.
"Gue yakin, nggak lama lagi Virga bakal stress kalau kayak gini terus-terusan."
Plak
Devita sontak memukul lengan Irena yang asal bicara, "Jangan asal bicara!"
"Tapi yang dikatakan Irena benar juga sih. Aku pun kalau di situasi yang sama dengan Putri Virga lama-lama juga bisa gila." Sirena tak bisa membayangkan bagaimana rasanya terkekang dalam sangkar emàs.
Setelah berbincang sebentar, ketiganya pun masuk ke istana Celandine dengan menunjukkan token tamu yang diberikan oleh Kaisar Yerikho.
Karena tidak tahu letak kamar Virga, beberapa luster mengiring mereka menuju kamar Virga berada.
Selayaknya Putri Kaisar pada umumnya yang mana mendapat istana dan kamarnya sendiri, jujur saja membuat Sirena iri. Iri karena dulu dia tidak diperlakukan selayaknya anak Raja.
"Ini adalah kamar Putri Virga." Luster itu memberitahu.
"Terima kasih sudah mengantar kami, luster Alda."
Luster Alda mengangguk dan tersenyum ramah sebagai kepala luster di istana Celandine ini. Luster Alda lantas mengetuk pintu kamar Virga.
"Tuan Putri, tamu Kaisar ingin bertemu dengan Anda ..."
"SURUH SAJA MEREKA MASUK!" Virga berteriak dari dalam kamar.
Ketiganya pun masuk ke dalam kamar Virga setelah Luster Alda pamit pergi. Lalu di sudut ruangan, Virga sudah duduk menyilang kakinya melihat Devita dan Irena.
"Dimana kembaran kalian yang berambut hitam?"
Sirena lantas menunjukkan wujud nyatanya yang membuat Virga terkejut bukan main.
"ASTAGA!"
"Aku mengejutkanmu?"
Virga mengangguk kaku menjawab Sirena. Setelah rasa kagetnya hilang, Virga mendekati ketiga kembar itu.
"Ada apa kalian menemuiku? Aku kira kalian hanya bertujuan bertemu dengan Ayahanda."
"Kami ingin meminjam cermin kuno milik mendiang ibundamu, apakah boleh?" Sirena menatap Virga dengan pandangan memelas.
"Kami sangat membutuhkan cermin kuno itu untuk kehidupan kami." Devita menambahkan lalu tangan Devita menyenggol Irena agar mengatakan sesuatu.
Irena memutar bola matanya malas, "Mereks berdua benar. Kami tidak bisa kembali tanpa cermin kuno itu."
Virga menggaruk pelipisnya yang tak gatal, "Maksudnya? Aku tak paham dengan apa yang kalian ucapkan."
Sirena pun menjelaskan pada Virga tentang pertukaran jiwa yang pernah dilakukan oleh Selir Agalia dan membuat jiwa mereka terpecah.
"Jadi, apakah boleh kami meminjam cermin kuno itu?"
"Tentu saja tidak."
"APA?"
Virga tertawa terbahak-bahak melihat raut wajah ketiga orang di depannya yang menurutnya sangat lucu.
"Tangan gue gatal banget, asli!" Irena ingin sekali menggaruk mulut Virga agar berhenti tertawa.
"Virga, kami serius! Kami juga diburu waktu. Apa kau tidak tahu perihal ramalan yang mengatakan bahwa perang melawan kegelapan akan tiba?" Devita menahan lengan Virga.
Akhirnya Virga berhenti tertawa, wajahnya berubah menjadi datar, "Aku tahu." Dengan pelan Virga menyingkirkan tangan Devita dari lengannya, "Ada syaratnya bila kalian ingin meminjam cermin kuno itu."
"Apa syaratnya?"
"Aku ikut kalian pulang. Aku sangat bosan berada di dalam istana terus menerus!" Virga berbicara dengan nada frustasi. Dia benar-benar bosan berada di istana karena Kaisar Yerikho melarangnya keluar istana.
Mendengar syarat itu, tubuh Sirena dan Devita melemas. Persyaratan yang diberikan Virga sama saja mengibarkan bendera perang kepada Kaisar Yerikho yang overprotektif terhadap Virga.
•───────•°•❀•°•───────•
Terimakasih sudah membaca.
Kira-kira bisa nggak ya sampai 100 chapter lebih? Kalau aku bisa buat sampai 100 chapter, kalian komen 'Asik' di kolom komentar ya gesss! :(