
...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...
...Selamat Membaca...
...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...
"Kau ingin kematian yang seperti apa untuk yang kedua kalinya, Devita?" Tanya Ratu Amanita dengan seringainnya.
"Tidakkah kau lelah dengan semua ini?"
Sihir yang tadinya ingin Ratu Amanita layangkan terhenti di udara saat mendengar pertanyaan itu dari mulut Devita.
Devita membuka matanya dan melihat tangan Ratu Amanita yang terhenti di udara, "Apa kau tidak lelah terus-menerus berjuang menuju kehampaan?"
"Berhenti bicara omong kosong!" Sentak Ratu Amanita dengan nafas yang memburu. Ratu Amanita menyerang Devita dengan sihirnya hingga membuat Devita muntah darah.
"Hahaha ..."
Tawa Devita membuat kening Ratu Amanita mengernyit. Dia mengira Devita akan merintih kesakitan seperti sebelumnya.
"Ibunda ... Haha ... Hiks ..." Tawa Devita berubah menjadi isak tangis, "Mengapa hatimu mati? Hiks ..." Kilasan kehidupan Devita sebelumnya terlintas di kepalanya, "Mengapa ibundaku tidak sehangat sang Surya? Mengapa ibundaku membenci anaknya bahkan melupakan anaknya sendiri?"
Tubuh Ratu Amanita menegang mendengar panggilan 'ibunda' dari Devita.
"Ibunda ... Tidakkah kau tahu bahwa aku sangat menyanyangimu lebih dari apapun? Tidakkah kau ingat betapa susahnya dirimu saat membuatku melihat indahnya dunia ini?" Tangan Devita terulur ke arah Ratu Amanita, "Mengapa hati ibunda mati?"
"Ibunda ... " Rintih Nervilia, Elanus dan Falco bersamaan.
Ratu Amanita menatap ke arah anak-anaknya saat mendengar panggilan lirih dari mereka.
"Kami merindukanmu ..."
Ratu Amanita semakin kebingungan dengan dirinya sendiri. Entah kenapa tubuhnya terasa lemas mendengar anak-anaknya mengucapkan kalimat rindu untuknya.
"Tiada yang lebih hangat melebihi pelukan seorang ibu. Tiada yang lebih indah daripada senyuman seorang ibu yang berhasil melahirkan anak-anaknya."
Brugh
Kaki Ratu Amanita semakin terasa begitu lemas hingga membuatnya jatuh berlutut mendengar ucapan Devita.
Asap-asap hitam nampak keluar dari tubuh Ratu Amanita membentuk sebuah bola hitam yang berkumpul di atas kepala Ratu Amanita.
"Peluklah anak-anakmu, ibunda ... Dunia akan menjadi milikmu saat kau memeluk anak-anakmu ..." Devita terus berusaha membuat Ratu Amanita sadar tentang siapa dirinya.
"Anak-anakku?" Setetes air mata lolos begitu saja dari sudut mata kiri Ratu Amanita.
'Kekuatan hitam itu perlahan keluar. Sekarang kau ikuti ucapanku, Dev. Aigrata euytariaxh vulcanicha dana oseanikgha vulcanicha, welcomatra tuanji!!' ( Pemusatan daratan Vulcan dan pemusatan samudra Vulcan, datanglah berkumpul! )
Devita tersenyum tipis, akhirnya dia berhasil memecahkan teka-teki yang diberikan Dewi Elegi tentang Ratu Amanita.
'Aigrata euytariaxh vulcanicha dana oseanikgha vulcanicha ,welcomatra tuanji!' ( Pemusatan daratan Vulcan dan pemusatan samudra Vulcan, datanglah berkumpul! )
"Aigatra euytariaxh vulcanicha dana oseanikgha vulcanicha, welcomatra tuanji!"
"Aigatra euytariaxh vulcanicha dana oseanikgha vulcanicha, welcomatra tuanji!"
Devita memejamkan matanya kembali saat merasakan angin segar menyapa tubuhnya, "Aigatra euytariaxh vulcanicha dana oseanikgha vulcanicha, welcomatra tuanji!"
Devita perlahan mengangkat kakinya yang ternyata sudah bisa digerakkan. Mulutnya kembali mengucapkan sihir pemanggil alam, "Aigatra euytariaxh vulcanicha dana oseanikgha vulcanicha, welcomatra tuanji!"
'Biarkan alam memberimu kekuatan. Ucapkan sekali lagi.'
"Aigatra euytariaxh vulcanicha dana oseanikgha vulcanicha, welcomatra tuanji!" Ucap Devita sekali lagi.
Saat membuka mata, Devita melihat gumpalan hitam di atas kepala Ratu Amanita semakin besar dan nampak mengerikan.
Tiba-tiba kedua tangan Devita terangkat dengan sendirinya. Devita melihat dengan kepalanya sendiri saat sebuah pedang muncul di tangannya.
Pedang itu berwarna merah diseluruh bagiannya. Mata pedangnya berukiran mawar merah lalu bagian gagang pedangnya terbentuk dari ranting duri mawar merah itu.
'Sihir pemanggil alam berhasil! Pedang Roseworld sudah ada di tanganmu. Gunakan pedang itu untuk menghancurkan kekuatan Iblis yang sudah keluar dari tubuh Amanita.'
"Musnahlah!"
"ARGHHHH!" Ratu Amanita menjerit kesakitan.
Devita terus mencabik-cabik gumpalan hitam itu dengan pedang Roseworld sekuat tenaga karena ternyata gumpalan hitam itu sulit dihancurkan.
"ARGHHH SAKIT!!!" Ratu Amanita masih menjerit kesakitan dengan tangannya yang memegang kepalanya.
"Kumohon ... Musnahlah! Keberadaanmu sudah tidak dibutuhkan!" Ucap Devita dan memegang gagang pedang lebih kuat lagi, "Hya!"
DUAR
Gumpalan hitam itu meledak beserta tubuh Ratu Amanita yang berubah menjadi abu.
"IBUNDAA!" Nervilia hanya bisa menangis tak berdaya melihat ibunya sudah tiada dan menjadi abu.
Akibat ledakan itu, tubuh Devita terhempas jauh ke belakang dan membuatnya tertusuk ranting pohon.
"Ugh ..." Devita melenguh saat mencoba menarik tubuhnya menjauh dari ranting pohon yang berhasil melubangi punggungnya.
Semua hal yang dilihat Devita terlihat mengabur. Samar-samar telinga Devita mendengar sebuah suara yang memanggil namanya.
"Devita ... Sudah saatnya kita kembali."
"Aku menunggumu ..."
Kesadaran Devita semakin tipis, akan tetapi Devita masih mampu merasakan tubuhnya yang menjadi begitu lebih ringan. Hingga sebuah cahaya warna-warni memenuhi indra penglihatannya, saat itu pula kesadaran Devita hilang.
...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...
"Devita ..."
Athanaxius berusaha mendekati tubuh Devita yang tergeletak tak sadarkan diri setelah berhasil melenyapkan Ratu Amanita.
Lagi-lagi wanitanya terluka parah dan Athanaxius tak bisa melakukan apapun untuk melindunginya. Sekuat apapun dirinya, ternyata masih belum bisa membuat Devita, wanitanya tetap aman.
Belum sempat tangan Athanaxius menyentuh wajah Devita, kupu-kupu warna-warni muncul dan mengerubungi tubuh Devita.
"Devita ..." Athanaxius tak berdaya, dia kalah cepat dengan kupu-kupu warna-warni itu yang membuat tubuh Devita menghilang.
Dengan sekejap mata, kupu-kupu itu juga turut menghilang. Hanya tersisa pedang Roseworld ditempat Devita tadi.
Athanaxius hanya bisa memejamkan matanya sembari menenggelamkan wajahnya di lipatan tangannya.
"Aku mencintai Devita tanpa batas kesanggupanku. Aku akan selalu mencintainya sampai kapanpun, kau dengar itu, Dewa Eunoia?"
Saat Athanaxius mengangkat kepalanya kembali, kupu-kupu yang tadinya hilang kini datang kembali dan mulai mengerubunginya.
"Ternyata ini ulahmu, Dewi Elegi," gumam Athanaxius yang tahu kalau kupu-kupu ini sebelumnya adalah kupu-kupu yang sama saat dia kembali ke Vulcan bersama Devita.
"Kembalikan Devita kepadaku, Dewi Elegi! D-dia milikku!" Athanaxius bergumam lirih kembali dengan harapan Dewi Elegi mendengarnya.
Rasa kantuk yang hebat menyerangnya hingga tak kuasa untuk membuka matanya sedikitpun. Namun sebelum benar-benar kesadarannya menghilang, dia mendengar sebuah suara yang dia kenal.
'Keajaiban dua jiwa yang ditakdirkan. Yang gelap akan terang, yang layu akan tumbuh, dan yang luka akan sembuh.'
•───────•°•❀•°•───────•
Terimakasih sudah membaca.
Aku kembali xixi ... Setelah memutuskan Hiatus dalam waktu lama buat istirahat akhirnya aku bisa lanjut nulis cerita lagi. Kangen banget sama cerita ini, semoga kalian juga kangen yaaa...
Maaf karena sempet gantung cerita ini dalam waktu lama. Tapi setelah ini aku tetep lanjutin cerita ini sampai tamat. Mohon dukungannya yaaa:)
Terima kasih.
salam kenal
Pipit_vie