The Miracles Of Two Souls

The Miracles Of Two Souls
Chapter 98: Kebahagiaan yang Sama



...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...


...         Selamat Membaca...


...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...


Setelah dari butik dan membeli beberapa gaun, Devita dan Athanaxius tiba di halaman istana utama Kerajaan Willamette. Athanaxius terlebih dahulu turun dari kudanya lalu membantu Devita untuk turun.


Di belakang mereka terdapat Sirena dan Ambrogio yang juga menunggangi satu kuda dengan penampilan sederhana karena mereka tengah menyamar sebagai bangsawan biasa di pusat kota tadi.


Beberapa legion yang memang bertugas di istana utama menyambut kedatangan mereka berempat dengan menekuk sebelah kaki dan kepala yang tertunduk.


Devita memandang istana di depannya dengan perasaan yang haru. Rasanya seperti mimpi dia kembali menginjakkan kakinya di istana utama Kerajaan Willamette dan bukannya di Manor Chysanthemum.


"Ayo, Irena! Keluarga kita sudah menunggu kedatanganmu!" Sirena mengulurkan tangannya kepada Devita.


Devita yang masih separuh melamun akhirnya tersadar bahwa bila namanya kini berubah menjadi Irena Harmony Asthropel bila berada di depan publik. Panggilan Devita hanya khusus untuk orang yang benar-benar dekat dan tahu cerita asli pertukaran jiwa.


"Apa kau memberitahu mereka bahwa aku datang?" Devita menatap Sirena tajam.


Sirena tersenyum dengan wajah tanpa dosanya, "Hehehe, maaf,"


"Tcih!!! Tidak seru deh!" Devita menepis uluran tangan Sirena dan lebih memilih berjalan terlebih dahulu meninggalkan Sirena yang cemberut karena uluran tangannya ditolak oleh Devita.


"Tidak seru!" Athanaxius ikut mengejek Sirena dengan meniru ucapan Devita lalu berjalan cepat menyusul Devita sebelum Sirena memberi amukan untuknya.


"Astaga! Bagaimana bisa aku akan memiliki adik ipar sepertinya?" Sirena memegangi kepalanya yang terasa pusing.


"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Athanaxius memang seperti itu, pemancing emosi." Ambrogio menggenggam tangan Sirena dan mengajaknya masuk menyusul Athanaxius dan Devita yang menuju ruang singgasana untuk menemui Raja Falco.


Pesta perayaan Falco menjadi Raja pun sudah terlewat satu hari yang lalu dan di istana Kerajaan Willamette masih terdapat beberapa tamu dari Kerajaan lain karena mereka sekalian akan pergi ke pesta perayaan pengangkatan Kaisar dari Kekaisaran Alioth yang baru.


...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...


"DEVITAA!!"


Semua orang terkejut dengan tingkah Ratu baru mereka yang tidak lain adalah Galcinia. Saat Devita dan Athanaxius memasuki ruang singgasana, Galcinia langsung berteriak girang dan melompat dari kursi singgasana Ratu tanpa mempedulikan pandangan orang-orang terhadapnya.


"Aaaaa!!! Gue kangen sama lo! Huhu ..." Galcinia memeluk Devita erat yang dibalas oleh wanita itu tak kalah erat juga.


"Gue juga kangen sama lo!! Lo sehat-sehat kan disini? Dimanja-manja Kak Falco kan?" cecar Devita tanpa jeda.


Galcinia mengurai pelukannya, "Gue sehat kok! Falco juga nggak sedingin itu sama gue, dia pengertian sama gue dan nggak pernah maksa ngelakuin sesuatu yang gue nggak mau."


Devita mengacungkan jempolnya ke arah Falco yang tersenyum menyambut kedatangannya.


"Apakah aku boleh memelukmu, Irena?" Elanus datang bersama Agda dari arah belakang Devita.


Devita mengulas senyum, "Kenapa juga tidak boleh?" Devita merentangkan kedua tangannya, "Peluk aku, Kak Elanus ..."


Pria itu lantas memeluk Devita dengan erat untuk menyalurkan rasa rindunya, "Apakah kondisimu sudah membaik?"


Devita menepuk-nepuk punggung Elanus sembari memejamkan matanya. Perasaan haru menyelimutinya karena akhirnya dia memiliki keluarga yang menyambutnya dengan penuh kehangatan saat pulang. Devita juga akhirnya merasakan bagaimana rasanya dipeluk oleh seorang kakak laki-laki.


"Aku sudah baik-baik saja." Devita mengurai pelukannya karena saat membuka mata dia melihat Athanaxius yang nampak kesal.


Devita melirik Agda yang perutnya sudah terlihat besar daripada sebelumnya. Tetapi sampai sekarang dia belum menerima kabar soal pernikahan Elanus dan Agda.


"Kak Elanus, kenapa sampai sekarang aku belum mendengar kabar pernikahanmu? Kau mau menunggu sampai anakmu itu lahir duluan huh?"


"Aku juga sudah menanyakan hal yang sama, tapi pria itu justru selalu diam. Dasar bastard!" Galcinia ikut menambahkan garam dalam pembicaraan mereka.


Elanus yang dibicarakan pun menggaruk tengkuknya yang tak gatal, dia melirik ke arah Agda untuk meminta bantuan. Sedangkan Agda sendiri nampak menahan tawa melihat wajah kesusahan Elanus.


"Ehm, bukannya Elanus tidak mau menikahiku dengan segera, Dev," Agda pun memutuskan untuk membantu Elanus berbicara, "karena akulah yang meminta untuk tidak menikah sekarang."


"Kenapa?" Kali ini Athanaxius yang bertanya.


"Karena aku ingin melihat kalian berdua menikah terlebih dahulu, baru aku setelahnya." Agda menunjuk Devita dan Sirena dengan dagunya.


"Kami?" Beo Sirena dan Devita.


Agda mengangguk semangat. Dia juga meminta pendapat Falco yang sedari tadi diam menyimak di kursi singgasananya.


Perkataan yang diucapkan oleh Falco berhasil membuat Sirena dan Devita terhenyak. Bukan karena soal pernikahan itu, melainkan karena aura seorang pemimpin yang menguar dari Falco mampu membius Devita dan Sirena seolah-olah perkataan Falco adalah titah yang harus dijalankan.


"Kemarilah, adikku ..." Falco memanggil Sirena dan Devita.


Sirena dan Devita lantas mendekati Falco. Sesampainya di depan pria itu, dua bersaudara kembar itu terkejut karena Falco memeluk keduanya secara bersamaan.


"Maafku saja tidak cukup untuk semua kesalahan yang sudah kuperbuat kepada kalian berdua. Kalian adalah adik-adik hebatku yang kupunya sekarang."


Air mata yang sedari tadi ditahan oleh Devita akhirnya berhasil luruh, "Aku menyayangimu, Kak Falco ..."


"Apa kau juga menyayangiku, Sirena?"


"Aku selalu menyayangimu, Kak Falco. Tetapi keangkuhanmu dulu menutup kasih sayangku menjadi kebencian." Mata Sirena berkaca-kaca, "Aku ... " Sirena menutup mulutnya untuk menahan isakannya.


Meskipun Sirena sudah menjalani kehidupannya seperti biasa, tetap saja dia tidak sedekat itu dengan Falco. Dia masih merasa bahwa apapun yang dilakukan takutnya tetap terlihat salah di mata pria itu.


Falco pun ikut menangis bersama Sirena dan Devita. Pria itu meluapkan semua perasaan bersalah dengan menangis dan memeluk erat Sirena dan Devita.


Ditempatnya, Elanus pun menitikkan air matanya karena dia juga masih merasa bersalah karena dulu tidak terlalu mempedulikan Sirena terlebih lagi Devita yang keberadaannya dirahasiakan oleh ayahandanya.


...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...


Setelah makan malam usai, Falco memanggil Athanaxius dan Ambrogio ke ruang kerjanya untuk membicarakan hal penting.


Kedua pria tampan itu kini berhadapan dengan Raja baru Willamete, Raja Falco Badius.


"Jadi, kapan kalian akan menikahi adikku?" Falco menatap kedua pria tampan di depannya dengan kedua tangan terlipat di atas meja.


Tidak ada jawaban dari kedua pria di depannya. Hal itu tentu membuat alis kiri Falco terangkat karena heran akan sikap Athanaxius dan Ambrogio yang sama-sama membisu.


"Umur adik-adikku sudah memasuki tahap untuk menikah. Aku tidak ingin kedua adikku dirumorkan menjadi perawan tua karena tak kunjung ada yang menikahinya." Falco menambahkan.


Ambrogio ingin menjawab tetapi dia justru menoleh ke arah Athanaxius dan menyenggol lengan pria itu memberi isyarat agar menjawab pertanyaan Falco terlebih dahulu.


"Sebenarnya aku bisa kapan saja menikahi Devita," Athanaxius menegakkan duduknya, "hanya saja, reputasiku di Alioth masih buruk dan aku merasa tidak pantas untuk bersanding dengan adikmu karena reputasiku yang buruk."


"Memangnya Devita terlihat mementingkan reputasimu?" Falco menatap dingin Athanaxius.


Athanaxius menggeleng, "Tidak, hanya saja ak-"


"Aku bertanya kapan, jadi tentukan waktunya dan jangan bertele-tele." potong Falco dan mengatakannya dengan penuh penekanan.


Ambrogio yang berada di sebelah Athanaxius saja sampai merinding dibuatnya. Dia tidak pernah bisa membayangkan semenyeramkan apa jika mendiang Raja Monachus lah yang menanyakan pertanyaan itu.


Wajah Athanaxius masih terlihat tenang meskipun Falco memberinya tekanan besar untuknya saat ini.


"Satu minggu lagi. Aku juga akan memastikan bahwa reputasiku menjadi baik hingga aku pantas menjadi seorang suami untuk adikmu." Athanaxius menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.


"Lalu bagaimana denganmu, Ambrogio?"


Ambrogio menghela nafas panjang sebelum benar-benar menjawab, "Satu minggu."


Athanaxius menoleh pada Ambrogio, "Apa kau sudah yakin dengan keputusanmu itu? Kau ingin kita menikah pada hari yang sama?"


"Ya, aku yakin dengan keputusan yang aku ambil sekarang. Aku yakin Sirena pasti menginginkan pernikahan di hari yang sama dengan Devita, bagaimanapun mereka adalah saudara kembar. Kebahagiaan Devita adalah kebahagiaan Sirena juga. Aku ingin mereka mengingat bahwa mereka juga lahir di dunia pada hari yang sama dan mereka pantas mendapat kebahagiaan yang sama rata."


Ucapan Ambrogio mampu membuat Athanaxius dan Falco terdiam. Athanaxius tidak pernah terpikirkan soal itu karena dia hanya mengutamakan Devita. Sedangkan Falco diam-diam menahan sendu karena orang luar seperti Ambrogio begitu memikirkan kebahagiaan adiknya ketimbang dirinya yang dulu justru mengabaikan.


"Aku bisa berada disini menjadi manusia biasa juga berkat bantuan Sirena dan Devita. Jadi, aku akan berusaha keras untuk kebahagiaan mereka." Yang dikatakannya adalah sebuah kebenaran. Meskipun Ambrogio mencintai Sirena tetapi dia juga menyayangi Devita sebagai seorang adik.


Athanaxius menepuk bahu Ambrogio sekali, "Kau membuatku tersentuh."


Falco mengetuk meja dengan jemarinya tiga kali untuk mendapat perhatian dua pria tampan di depannya. Senyuman lebar dengan mata yang berkaca-kaca dia perlihatkan, "Selamat bergabung menjadi keluarga baruku ..."


Athanaxius dan Ambrogio tertawa sambil berangkulan satu sama lain. Tidak pernah disangka mereka akan menjadi keluarga.


•───────•°•❀•°•───────•


Terimakasih sudah membaca.