
...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...
... Selamat Membaca...
...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...
Tap tap tap
Suara langkah kaki yang teratur terdengar memasuki sebuah kuil terlarang, kuil untuk menyembah iblis.
Seseorang itu mengenakan jubah hitam dengan tudung yang menutupi wajahnya. Dengan obor di tangannya untuk membantu penerangan di tempat itu. Suara burung gagak saling bersautan dan menari-nari diatas kuil terlarang itu.
Sudah ada beberapa orang yang menunggu kedatangan seseorang itu. Penampilan mereka tak jauh berbeda, sama-sama menggunakan jubah hitam dengan tudung kepala yang menutupi wajah.
Orang-orang disana menunduk hormat menyambut seseorang yang baru saja sampai.
"Yang Mulia ..." Ucap mereka bersamaan.
Seseorang itu sedikit mengangkat tudung yang menutupi wajahnya hingga terlihat wajahnya.
"Bangunlah!" Seseorang itu berseru, kemudian berjalan menuju tempat duduk yang memang sudah disediakan untuknya.
Seseorang itu duduk dengan anggun, obor yang semula di tangannya sudah diserahkan kepada orang-orang yang menunduk hormat padanya.
Seorang lelaki membuka tudung hitam jubahnya, lalu menunduk di depan seseorang itu, "Yang Mulia ... Raja iblis Ambrigio Agafya sudah bangkit. Lantas, kapan waktu yang tepat untuk kita bertemu dengannya?"
Seseorang itu menyeringai cantik, hingga membuat lelaki yang menunduk itu sedikit terpesona saat tak sengaja melihatnya. Padahal lelaki itu tau bahwa seseorang di depannya sudah tak lagi muda. Namun aura kecantikannya begitu mempesona.
"Secepatnya. Sirena ... Anak itu lagi-lagi masih bisa bertahan setelah aku membuatnya hampir mati." Wanita itu menggeram marah, "Kalau seperti ini, semua rencanaku bisa gagal! Bila dia masih hidup, maka sudah pasti dia akan mencari tahu dimana keberadaan Zifgrid sang pengendali untuk melepas kutukannya dan membuat Raja iblis takluk dibawah kuasa Zifgrid sang pengendali. Ini tak bisa dibiarkan!"
"Mohon ampun, Yang Mulia ... Bukankah Putri itu juga bisa kita manfaatkan lagi?" Seorang wanita berusia tiga puluhan kini ikut maju, menunduk di sebelah lelaki tadi.
"Apa maksudmu?"
"Maka dari itu, jangan sampai Putri Sirena bertemu dengan Zifgrid sang pengendali. Buat dia terikat dengan Raja iblis. Ku dengar, Raja iblis akan mencari tahu siapa orang yang sudah membangkitkannya lalu akan menjadikannya miliknya bila dia seorang wanita." Jelas wanita itu.
Wanita yang duduk di kursi kebesarannya itu menyeringai mendengar penjelasan pengikutnya, "Kau memang selalu bisa kuandalkan, Cordyline. Kalau begitu, kau yang kuandalkan untuk membuat Sirena terikat kepada Raja Iblis."
"Jangan terburu-buru, Ratuku ..." Seorang laki-laki datang tanpa memberikan hormat padanya, "Sebelum membuat Sirena terikat dengan Raja iblis, kita harus membuat kesepakatan dengan Raja iblis terlebih dahulu."
"Jaguisa ... Kau memang jenius!" Wanita itu berdiri, lalu memberikan kecupan singkat di pipi lelaki yang dipanggil Jaguisa.
Wanita itu kemudian menatap pengikutnya, "Pertemuan hari ini cukup. Kalian bisa kembali,"
Semua pengikutnya menunduk hormat, "Yang Mulia ..."
Setelah mendapat anggukan dari wanita itu, mereka membubarkan diri, meninggalkan kuil terlarang itu.
...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...
Langit malam yang sudah gelap terlihat semakin gelap kala awan mendung menguasai langit. Angin bertiup begitu kencang hingga membuat tirai jendela tersingkap. Sepertinya hujan besar akan segera turun.
Sirena sendiri, kini tengah makan malam di atas tempat tidur setelah beberapa menit lalu seorang luster mengantarkan makanan untuknya.
Selesai makan, Sirena meletakkan piring dan gelas kotor itu dinampan. Sirena kemudian duduk didepan cermin rias. Sirena memandang pantulan dirinya yang masih terlihat pucat, namun aura kecantikannya tidak pernah hilang.
"Lo cantik, Sirena ... Nggak pantes kalau lo yang ngejar-ngejar cowok macem Elephas! Seharusnya lo yang dikejar! Padahal lo lebih cantik dibanding si Nervilia." Gumamnya seolah-olah Sirena asli berada disampingnya.
Sirena terdiam mematung, dia kembali teringat dengan ucapan Sirakusa. Satu-satunya cara untuk melepas simbol kutukan ini adalah dengan mencari Zifgrid sang pengendali. Tetapi bagaimana caranya? Bagaimana dia bisa mengenali Zifgrid sang pengendali di dunia Vulcan yang luas ini?
"Argh!! Gue harus mulai nyari darimana? Kalau nggak begini, kasian Sirena asli. Bahagia yang gue janjiin ke dia nggak berhasil dong ..." Sirena mengusap wajahnya frustasi.
Sirena pun memutuskan untuk menghirup udara segar, berharap agar mendapat pencerahan. Sirena membuka pintu balkon yang ada di kamar yang sekarang dia tempati.
Sirena memejamkan matanya saat angin malam menerpa wajahnya. Seketika sekelebat ingatan milik Sirena asli tentang kedua lusternya muncul.
"Tuan Putri! Mohon dengarkan ucapan saya, tidak baik berada diluar saat malam hari. Kesehatan Tuan Putri begitu penting!"
"Norma, jangan berlebihan. Aku tak suka kau memandangku selemah itu!" Sirena menatap tak suka Norma.
"Bukan bermaksud seperti itu, Tuan Putri. Norma khawatir dengan Tuan Putri ..."
Sirena menoleh ke belakang, "Aysun ..."
Sirena membuka matanya dengan nafas yang terengah-engah. Rasanya dia seperti habis berlari maraton. Sekelebat ingatan Sirena asli mampu membuatnya kesakitan sekarang. Tubuh kurus itu bergetar dan berkeringat dingin.
Sirena memilih untuk masuk kembali ke dalam kamar dan mengunci pintu balkon. Dengan langkah tertatih dia berjalan menuju tempat tidurnya. Duduk di tepi ranjang.
"ARGHH!!" Sirena mengerang kesakitan tatkala merasakan kepalanya yang seperti dipukuli dengan batu.
Sekelebat ingatan Sirena asli muncul kembali. Ingatan dimana lusternya, Aysun Maia meninggal.
"TUAN PUTRI! AWAS!"
Sirena yang saat itu tengah menikmati pemandangan indah taman belakang kekaisaran Alhena tiba-tiba tersungkur jatuh.
Brugh
Sirena membelalakkan matanya saat melihat Aysun juga tersungkur dengan mulut yang penuh darah. Sirena dapat melihat punggung Aysun yang tertancap anak panah.
"AYSUN!!"
Sekelebat ingatan itu membuatnya menangis sesenggukan. Meskipun dia bukanlah Sirena asli, tetap saja ingatan itu membuatnya sedih dan merindukan kedua lusternya. Kedua luster yang rela mati untuknya.
...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...
Pagi-pagi sekali Sirena sudah dibangunkan oleh luster kekaisaran yang ditugaskan untuk melayaninya.
"Hamba ditugaskan untuk membantu Tuan Putri bersiap-siap."
Sirena menaikkan sebelah alisnya, "Siap-siap untuk apa?"
Luster itu masih menunduk hormat pada Sirena, "Kepulangan Tuan Putri juga keluarga Tuan Putri. Tuan Putri beserta keluarga kerajaan akan pulang hari ini. Maka dari itu, hamba ditugaskan untuk membantu Tuan Putri bersiap-siap."
"Begitu, ya?" Sirena menganggukkan kepalanya. Dia kemudian bangun dari tempat tidur.
"Luster Maida," panggil Sirena pada luster yang masih setia menundukkan kepalanya.
"Saya, Tuan Putri ..."
"Kau pergilah! Aku bisa mempersiapkan diriku sendiri." Sirena tak bisa membayangkan bila dirinya dibantu mandi oleh luster Maida yang hanya akan membuatnya malu. Bagaimanapun juga, dia bukanlah Sirena asli yang terbiasa mendapatkan pelayanan seperti itu.
"Tapi Tuan Putri, hamba sudah ditu-"
"Aku serius, Luster Maida! Kau tak perlu membantuku." Sirena mendorong luster Maida keluar dari kamarnya. Sesampainya di ambang pintu, Sirena menyunggingkan senyum, "Daripada membantuku, kau sebaiknya pergi sarapan, luster Maida. Aku mendengar cacing-cacing diperutmu sudah meminta jatah."
Wajah luster Maida memerah pertanda malu, setelahnya Maida membungkukkan setengah tubuhnya, "Saya ijin undur diri, Tuan Putri Sirena ..." Setelah itu luster Maida lari terbirit-birit.
Sirena melambaikan tangannya, "Dada ..." Masih dengan tawanya, Sirena menutup pintu kamarnya lalu bersiap untuk mandi.
Menjadi Tuan Putri bukan menjadi alasan untuk Sirena mandi hingga berjam-jam lamanya. Dia hanya membutuhkan waktu singkat. Yang membutuhkan waktu lama adalah mengenakan gaun.
Setelah selesai bersiap-siap, Sirena memutuskan untuk keluar kamar untuk sarapan pagi bersama keluarga kekaisaran. Tadi saat dia sedang berdandan, luster Maida datang lagi memberitahukan bahwa Kaisar Helarctor mengundangnya sarapan pagi bersama.
Sirena bingung arah menuju ruang makan dimana, "Dimana letak ruang makannya?" Saking fokusnya menatap sekeliling, Sirena sampai menabrak seseorang.
Bruk
Hampir saja pantatnya menyentuh lantai kalau saja tidak ada yang menahan pinggangnya.
"Perhatikan langkahmu." Suara bariton itu membuat Sirena membuka matanya dan bertatapan langsung dengan iris biru Pangeran Phyron Morulus Xa Alhena, putra Kaisar dengan Selir Agung Mirabilis Japala.
Sirena segera berdiri tegap, "T-terima kasih,"
Phyron agak terkejut kala mendengar ucapan terimakasih yang dilontarkan oleh Sirena, pasalnya Sirena adalah tipe wanita dingin dan tak tersentuh.
"Apa kau lupa jalan menuju ruang penjamuan?"
"Ha?" Sirena menjadi malu sendiri, apa lagaknya yang tidak tahu dimana sarapan diadakan begitu terlihat di mata Phyron?
"Ingin pergi ke sana bersamaku? Saudara kembarku sudah ke sana terlebih dahulu meninggalkanku."
Sirena mengerjapkan matanya berkali-kali karena tidak tahu harus menjawab apa. Sirena menghela nafas, daripada dia tersesat, lebih baik dia mengiyakan ajakan Phyron.
Sebagai jawaban, Sirena hanya mengangguk. Keduanya pun berjalan beriringan menuju ruang penjamuan.
Sesampainya di ruang penjamuan, Sirena duduk di sebelah kanan Nervilia.
"Kau kemana saja? Kaisar sudah menunggumu lama. Jangan terbiasa membuat orang menunggumu!" Raja Monachus menegur Sirena yang baru saja duduk.
Sirena hanya menatap bosan ayahnya itu, tak berniat untuk menjawab. Menurutnya, ayahnya itu terlalu berlebihan.
"Tidak perlu dipermasalahkan, Monachus. Kita mulai saja sarapan paginya." Ucap Kaisar Helarctor, lelaki paruh baya itu mulai memotong roti bakar yang ada di piringnya. Semua orang pun mengikuti.
Sirena sendiri tengah menatap roti bakar miliknya sembari membatin dalam hati, 'Yaelah, makan roti bakar aja segala pake garpu sama pisau.'
Tak ingin terlalu ribet, Sirena langsung memakan roti bakar itu dengan kedua tangannya.
Suasana sarapan yang sudah hening menjadi tambah hening saat semua orang melihat cara makan Sirena.
Sirena yang baru sadar ditatap oleh semua orang menghentikan kunyahannya, "Kenapa?"
"Apa kau tidak tahu cara makan bangsawan yang benar?" Permaisuri Rafflesia bertanya dengan nada menyindir.
Sirena menelan makanannya, kemudian meminum air putih yang sudah tersedia. Setelahnya dia menatap Permaisuri Rafflesia, "Tahu. Hanya saja aku terlalu malas melakukannya. Aku tak ingin makan terlalu lama seperti yang kalian lakukan hanya demi roti bakar."
"Sirena! Jaga bicaramu!" Tegur Ratu Amanita yang berada di sebelah Nervilia.
"Ups! Maafkan mulutku ini, Yang Mulia Permaisuri Rafflesia Arnoldi Xa Alhena ..." Sirena menundukkan kepalanya kemudian lanjut makan roti bakar menggunakan tangannya.
Semua orang begitu terkejut dengan perubahan Sirena. Sirena yang mereka kenal bukan Sirena yang sekarang ada bersama dengan mereka.
...•───────•°•❀•°•───────•...
Terimakasih sudah membaca.
Ini cerita kedua saya, mohon dukungannya ya:)
Saya menerima kritik dan saran. Apakah cerita ini menarik?