The Miracles Of Two Souls

The Miracles Of Two Souls
Chapter 59: Dilema France



Kalian nggak bingung kan sama pergantian namanya? Devita akan dipanggil Sirena pada dialog ataupun narasi yang diperlukan. So, enjoy this story ...


...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...


...         Selamat Membaca...


...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...


Sudah terhitung satu minggu semenjak kepergian Adelphie membuat Devita harus turun tangan untuk mengurus bisnis yang selama ini diurus oleh Adelphie. Bisnis tempe yang dia targetkan untuk rakyat jelata kini mulai diminati oleh para bangsawan.


Ada beberapa bangsawan yang mulai menawarkan kerjasama padanya, tetapi Devita menolak untuk beberapa alasan. Bila Devita menerima kontrak kerjasama itu, otomatis dia akan sibuk mengurus bisnis di Willamette, sedangkan dia sudah diberi tugas oleh Raja Monachus untuk memakmurkan kembali desa Osaka.


Meskipun Adelphie sudah pergi, Devita masih memiliki orang yang bisa diandalkan dalam mengurus bisnis juga Manor sekaligus.


"Kau ingin aku mengelola bisnis tempe milikmu?"


Devita mengangguk, "Iya, Bang Indra. Bagaimana? Kau mau kan? Ayolah ..." Devita memasang wajah memelas, "Aku harus pergi ke desa Osaka dan di Manor ini selain Adelphie, aku hanya percaya kalau kau bisa mengurus bisnis juga Manor ini, Bang,"


Aindrea nampak berpikir, "Tetapi siapa yang akan menjagamu selama kau di desa Osaka?"


"Ada Sirakusa yang akan menjagaku."


Aindrea terkejut, "Apa kau bercanda?"


Devita menatap malas Aindrea, "Karena dia diperintah oleh Pak Raja. Aku sendiri ingin menolak, kenapa harus Sirakusa tahi kuda itu!"


"Ehm ..."


Kedua orang yang sibuk berbincang itu tak menyadari kedatangan orang yang baru saja dibicarakan. Deheman dari Sirakusa berhasil membuat Devita dan Aindrea menyadari keberadaannya.


"Jadi, Tuan Putri Sirena ingin menolak pengawalan dari hamba? Bisa beritahu apa alasan Tuan Putri menolak saya? Saya bisa mengatakan keberatan Tuan Putri Sirena kepada Yang Mulia Raja Monachus." Sirakusa menundukkan kepalanya memberi hormat pada Devita yang nampak elegan dengan mahkota Putri Willamette di kepalanya.


Devita mendengus, "Dasar pengadu!"


Sirakusa sendiri tak percaya, selama ini Raja Monachus memerintahkannya untuk menjaga Nervilia selalu, namun sekarang Raja Monachus justru menyuruhnya untuk menjaga Sirena selama di desa Osaka. Ini hal langka, sejak kapan Raja Monachus peduli terhadap Sirena?


"Silahkan duduk, Tuan Sirakusa. Mohon maaf, saya tidak bisa menjamu Tuan selayaknya Tuan Putri Nervilia. Jadi, ada apa Tuan Sirakusa datang ke tempat saya?" Setelah melihat Sirakusa duduk di sebelah Aindrea, Devita menutup buku laporan keuangan miliknya.


"Tidak ada. Saya hanya melihat-lihat." Sahut Sirakusa dengan pandangan yang dalam ke arah Devita.


'Melihat wajahmu.' Hati dan mulut Sirakusa berkata berbeda.


Aindrea sedari tadi memperhatikan Sirakusa yang menatap Devita selayaknya laki-laki yang tertarik pada perempuan.


'Apa Tuan Sirakusa menyukai Sirena?'


"Kalau begitu, mohon maaf sekali, Tuan Sirakusa. Pintu Manor ini terbuka lebar untuk orang yang memiliki tujuan yang jelas. Kalau tidak ada yang penting, silahkan tutup pintunya dari luar. Kebetulan saya sedang sibuk sebelum pergi ke desa Osaka besok." Devita memberikan senyum manis ke arah Sirakusa.


"Sibuk?" Sirakusa menyeringai sebelum akhirnya berdiri, "Saya minta maaf telah mengganggu waktu berharga An-"


"Ya, benar! Kau sangat mengganggu." Devita memotong ucapan Sirakusa sembari menganggukkan kepalanya.


Sirakusa seketika merasa kesal. Kenapa Sirena yang sekarang sangat menyebalkan? Sirakusa lebih suka Sirena yang pendiam dan jarang tersenyum seperti dulu.


"Tunggu apalagi? Silahkan ..." Devita menjulurkan tangannya menunjuk pintu keluar dari ruang kerjanya.


"Kalau begitu, Achilles Aindrea juga ikut pergi bersamaku." Tanpa meminta persetujuan dari Aindrea, Sirakusa merangkul leher lelaki itu dengan erat lalu menyeretnya keluar dari ruang kerja Devita.


Teriakan tak terima dari Aindrea mengiring kepergian mereka. Setelahnya Devita menghela nafas. Bang Aindrea belum menjawab setuju atau tidaknya.


"Kampret emang si Sirakusa!" Umpat Devita.


Karena merasa lelah, Devita bersandar pada kursi yang dia duduki. Matanya menelisik seisi ruang kerjanya ini. Ruang kerja yang memang sudah ada di Manor ini namun tidak pernah dipakai oleh Sirena.


Merasa ada yang aneh, Devita menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri, "Dimana Sirena?" Bukankah tadi, wanita itu menemaninya bekerja? Tetapi sekarang tidak ada.


Devita berdiri dari duduknya, dia hendak keluar dari ruang kerja untuk mencari Sirena. Siapa tahu dia sedang ada di kamar mendiang ibundanya.


Baru saja Devita hendak membuka pintu, Sirena muncul dari jendela yang membuat Devita terkejut, "ASTAGA!" pekik Devita.


"Apa aku mengagetkanmu?" Dengan wajah polos Sirena bertanya.


Pertanyaan yang dilontarkan Sirena membuat Devita kesal, "Yaiyalah! Pake nanya lagi!"


Sirena hanya bisa tertawa pelan, "Hehe ... Maaf Devita, aku tak sengaja."


"Hm." Setelah merasa jantungnya berdetak normal, Devita pun menatap Sirena yang nampak khawatir, "Abis darimana lo? Terus muka lo kenapa? Kayak khawatir gitu?"


"I-itu ... Aku ingin memberitahumu, France hujan-hujanan di taman belakang. Agda sudah mengajaknya berteduh tetapi France masih tidak mau dan tetap hujan-hujanan. Aku juga melihat wajahnya sudah pucat dan tubuhnya menggigil kedinginan."


Mengingat France, semenjak Devita sadar dari pingsannya, dia merasa aneh dengan tingkah France. Anak itu biasanya aktif dan banyak bicara. Tetapi seminggu ini, France lebih banyak murung dan mengabaikan Devita.


Sesampainya di taman belakang Manor, benar saja. Di dekat kolam France berdiri di tengah hujan deras. Devita pun berlari menghampiri France, tidak peduli gaunnya akan kotor atau rusak karena terkena hujan juga tanah.


France yang tengah melamun tersentak kaget saat Devita menyampirkan jaket ke bahunya. France berbalik kemudian menatap Devita yang juga menatapnya dengan rasa cemas.


"Mengapa kau hujan-hujanan? Kau sedang menangis, ya?"


France menggeleng, tatapan datar dia layangkan kepada Devita. Mulutnya bungkam, tak berbicara satu patah katapun sampai Devita berhasil mengajaknya untuk berteduh.


"Agda, tolong buatkan minuman hangat untuk France." Devita sibuk mengeringkan tubuh France dengan handuk.


"Kau membuatku khawatir, France! Hujan yang turun pertama kali itu tidak baik untuk kesehatan, apa kau mengerti? Jangan hujan-hujanan lagi!" oceh Devita, namun tak mendapatkan respon apapun dari France.


"Hei! Mengapa kau memandangku seperti Athanaxius? Apa kau marah padaku?" Devita mengapit kedua pipi France dengan tangannya, "Katakan saja apa kesalahanku, aku minta maaf, okey? Jangan mengabaikanku, France ..."


'Kau tak membuat kesalahan ... Hanya saja aku masih belum bisa menerima fakta bahwa kau bukanlah Sirena yang selama ini aku inginkan.' France menatap nanar wajah Devita. Salahkan dirinya sendiri yang terlalu berekspektasi berlebihan.


Memang benar, manusia dengan ekspektasinya adalah perpaduan yang sempurna untuk terluka.


...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...


Hari ini adalah hari dimana Devita akan pergi menuju desa Osaka. Pagi yang temaram tanpa sinar matahari mengawali hari Devita. Devita sendiri sudah bersiap sejak subuh dibantu oleh Agda.


Kabar mengenai rakyat desa Osaka yang menolak kedatangannya tentu saja sudah Devita ketahui. Maka dari itu, dia sudah membuat rencana untuk menarik perhatian mereka. Devita membawa banyak oleh-oleh yang akan dia bagikan untuk rakyat Osaka.


"Gitar? Untuk apa kau membawa gitar?"


Devita yang tengah membenarkan mahkotanya menoleh ke arah Agda, "Tentu saja untuk dimainkan." Devita kembali berkutat dengan aktivitasnya.


Agda sendiri akan ikut bersamanya. Urusan Manor dan bisnisnya, Aindrea setuju untuk mengurusnya. Dengan begitu, Devita merasa lega karena bisnisnya dipegang oleh orang kepercayaannya.


Devita yang sudah selesai pun mengajak Agda untuk segera ke depan gerbang istana, dimana kereta kuda yang disiapkan untuknya berada. Raja Monachus tidak memperbolehkan Devita menggunakan portal teleportasi Kerajaan.


"Kak Nana!"


Saat Devita dan Agda selesai berpamitan dengan warga Manor, France datang sambil berlari menuju ke arahnya.


"Kau kan masih bisa berjalan, tidak perlu berlari seperti tadi. Kalau kau jatuh dan terluka bagaimana?" Devita memarahi France.


Bukannya membalas ocehan Devita, France justru memeluk Devita. Pelukan yang diberikan France sangat erat.


Devita sendiri hanya bisa tersenyum tipis. Dia sangat menyayangi France seperti adik kandungnya sendiri. Saat dia memutuskan merawat France, dia sudah bertekad untuk membuat masa kecil France tidak sesuram masa kecilnya.


France terbuai dengan elusan yang dia terima di kepalanya, 'Aku sudah memutuskan. Aku tetap menyayangimu meskipun kau bukan Sirena, Devita. Kau sudah berlaku baik selama ini terhadapku. Aku akan membalas semua kebaikanmu semampuku.'


"Apa kau akan terus memelukku, France? Aku harus segera berangkat atau Sirakusa mengamuk karena aku telat."


France melepas pelukannya, "Bolehkah aku ikut? Aku janji tidak akan merepotkan Kak Nana!" France memasang wajah memelas yang sangat sulit ditolak oleh Devita.


"Jangan pasang wajah seperti itu! Aku mana bisa menolak permintaanmu, huh?" Devita mendengus.


France tersenyum, "Tenang saja, Kak Nana, aku sudah mempersiapkan segala keperluanku sendiri, hehe ..."


"Nakal! Jadi kau sudah merencanakan ini semua, hm?" Devita mengacak-acak rambut France gemas, "Ya sudah, ambil barang milikmu. Kita harus bergegas!"


France mengangguk, dia berlari masuk ke dalam Minor untuk mengambil barang-barangnya.


Tak menunggu waktu lama, France pun keluar sembari menenteng barang bawaannya. Setelah itu, Agda, France, dan Devita pun menuju depan istana.


Sesampainya di depan gerbang istana. Devita terkejut melihat Raja Monachus beserta istrinya serta saudara-saudara Sirena yang hadir disana. Tak hanya itu, dia juga melihat Athanaxius yang duduk di atas kuda hitam miliknya.


Sirena yang beberapa waktu lalu menghilang, kini kembali muncul bersebelahan dengan Devita.


"Pangeran Athanaxius memaksa untuk turut serta menjagamu." Ucap Raja Monachus menyambut kedatangan Devita.


•───────•°•❀•°•───────•


Terimakasih sudah membaca.


Kalian udah nonton trailer cerita ini belum? Huhuhu ... Kalau belum, tonton dungs di reels Instagram punyaku @Vita_khrsm


Aku udah susah-susah edit buat kalian :(


Yuk tonton!!!