The Miracles Of Two Souls

The Miracles Of Two Souls
Chapter 83: Perang dan Kehancuran



...​╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...


...Selamat Membaca...


...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...


Semua orang yang ada dipertemuan itu lantas menyusul Devita yang keluar rumah. Para legion yang tadinya berjaga-jaga merasa heran mengapa para pemimpinnya keluar rumah secara tiba-tiba.


KLAAKK KLAKKK


Devita sontak mendongak ke arah langit saat mendengar suara burung gagak.


Ada banyak burung gagak yang beterbangan di atas kepala mereka. Burung-burung gagak itu bergerak memutar hingga membentuk sebuah lingkaran hitam.


"MASUK KE PERSEMBUNYIAN!!" Devita sontak berteriak nyaring memperingati para rakyat Osaka yang berada di luar rumah.


Rakyat Osaka lantas berlarian masuk ke dalam rumah kesehatan, tepatnya ke ruang bawah tanah yang sudah senantiasa dijaga oleh Agda. Sementara para legion sudah mempersiapkan diri masing-masing, sudah pasti ada yang tidak beres berkat kedatangan burung gagak yang begitu banyak.


Lingkaran hitam itu membesar lalu perlahan mengecil menurun ke tanah. Saat itu pula debu-debu bertebaran dan burung-burung gagak itu hilang. Karena debu itu, Devita tak bisa melihat apa yang ada disekitarnya.


Debu-debu itu perlahan menghilang dan digantikan oleh tiga sosok orang yang tengah menatap Devita.


Devita lantas membuka matanya kembali untuk melihat apa yang terjadi. Namun tatapannya tertuju pada sosok orang yang selama ini menganggu pikirannya.


"Jadi, jangan menyesal telah mencintaiku ... Karena aku merasa istimewa saat bersamamu."


"Athanaxius ..." Lirih Devita. Matanya menyaksikan perubahan Athanaxius yang begitu kentara. Tatapan lelaki itu jauh lebih bengis dan penuh dendam.


Semua orang yang ada didalam rumah Irena lantas keluar. Elanus, lelaki itu terpaku melihat sosok ibundanya yang sudah berubah, "Ibunda ..."


"OH ASTAGA! MONSTER APAKAH ITU!" Teriakan Virga menyadarkan Devita dari pikirannya sendiri.


"Lama tidak bertemu ... Bagaimana kabar kalian, anak-anakku?" Ratu Amanita bertanya dengan seringaian di bibirnya.


"Apa yang kau lakukan disini?" Devita menatap tajam Ratu Amanita.


Mata Ratu Amanita lantas tertuju pada Devita, "Kau ... Sirena atau Devita?"


"Apa itu penting?" Devita maju satu langkah yang langsung mendapat teriakan histeris dari Virga.


"YA AMPUN, DEV! MUNDUR, DEV! MEREKA MONSTER!!"


Ratu Amanita, Kayanaka tertawa mendengar Virga menyebut mereka monster. Berbeda dengan Athanaxius yang justru terpaku pada sosok Devita.


"Berhentilah tertawa, sialan!" Devita merengsak maju dan mencengkram leher Ratu Amanita kuat-kuat.


"Jangan menyentuhnya!" Athanaxius dengan cepat menghempaskan tubuh Devita menggunakan sihirnya.


"Ugh ..." Devita meringis kesakitan karena dia terjatuh dan perutnya membentur batu berukuran sedang dengan keras.


"Devita!" Irena berlari menghampiri Devita.


Ratu Amanita menggerakkan kepalanya seperti melakukan peregangan otot. Dia lantas menatap tajam Devita yang berani sekali menyentuhnya.


"Lemah! Apa seperti ini sosok keturunan terakhir Asthropel yang akan melawanku?" Ratu Amanita menatap mengejek ke arah Devita yang membalas tatapannya.


"Kenapa ibunda berubah?" Lirihan Elanus membuat Ratu Amanita mengalihkan pandangannya.


"Anakku, apa kau merindukan ibundamu ini? Kemarilah, Nak ..." Ratu Amanita merentangkan tangannya untuk menyambut pelukan dari Elanus.


Elanus perlahan melangkah ke arah Ratu Amanita. Yang ada dipikiran lelaki itu saat ini adalah ingin merasakan kembali pelukan hangat sang ibu yang sangat dia rindukan.


"BERHENTI, ELANUS! DIA BUKAN LAGI IBUNDA KITA YANG DULU!" Falco berlari dengan cepat dan langsung menarik mundur Elanus.


"DIA IBUNDA KITA!" Elanus berteriak marah, "BIARKAN AKU MEMELUK IBUNDA!" Elanus memberontak ingin kembali mendekati Ratu Amanita.


"JANGAN BODOH, SIALAN!"


Bugh


Dengan terpaksa Falco memukul rahang Elanus untuk menyadarkan lelaki itu hingga tersungkur.


"Andai kalian berada dipihak ibunda, kalian tidak akan saling pukul seperti ini ..." Ratu Amanita berbicara dengan nada remeh yang membuat Elanus kembali sadar.


"Bila kalian menyerah dan tunduk padaku, aku akan mengampuni nyawa kalian." Ratu Amanita tersenyum kejam, tangannya mengeluarkan sebuah sihir yang membuat tongkat hitam dengan kepala iblis diujungnya ada di genggaman tangannya.


Ratu Amanita lantas mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi. Tongkat itu mengeluarkan sihir hitam yang menyebar ke arah belakangnya.


Diantha yang sedari tadi diam ditempat, terkejut menyadari sesuatu hal besar akan terjadi secepat ini.


Sihir itu ternyata mengundang begitu banyak jenis monster yang berbaris rapi di belakang Ratu Amanita, Athanaxius dan Kayanaka.



"Jadi, bagaimana?"


"KAMI TIDAK AKAN TUNDUK PADAMU!" Devita berteriak lantang. Dengan sempoyongan Devita berdiri, lantas menatap angkuh Ratu Amanita.


"Sekalipun tidak pernah terpikirkan untuk tunduk padamu, iblis!" Devita menyeringai.


"Jadi kau lebih memilih untuk melawanku begitu?"


"Ya. Aku akan melawanmu!" Dengan lantang Devita mengatakan itu. Rasa takut yang beberapa waktu lalu mengganggunya kini sudah hilang entah kemana.


"KAMI JUGA AKAN MELAWANMU!"


Devita menoleh ke belakang, disana para Raja dan Kaisar Yerikho berseru bersamaan sembari mengangkat pedang mereka. Devita lantas kembali memandang ke arah Ratu Amanita.


"Apa kau sudah melihatnya?" Meskipun Devita tak memiliki sihir sedikitpun, dia tak akan mundur. Dia tahu pasti akan sangat mudah dikalahkan oleh Ratu Amanita, tapi setidaknya dia harus mencoba.


Ratu Amanita tersenyum dingin, "Baiklah, itu keputusan kalian, aku akan menghargainya." Ratu Amanita kembali mengangkat tongkatnya ke langit dan tiba-tiba berseru lantang, "SERANGG!!!"


...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...


Seperti yang telah tertulis dalam buku ramalan, perang melawan kegelapan akhirnya terjadi.


'Saat rasa putus asa menyapa lalu dua kubu akhirnya bertemu. Perang tak akan terelakkan.'


Devita tak akan menyangka peperangan ini akan terjadi di Osaka dengan lawan yang tidak seimbang, yaitu manusia menghadapi pasukan monster dalam waktu yang begitu cepat.


Trang


Trang


Sring


"ARGHHH!!"



Suara tusukan, pedang yang saling beradu serta teriakan bercampur menjadi satu hingga memekakkan telinga. Peperangan ini sangatlah tidak imbang.


Devita sendiri begitu kualahan menghadapi serangan dua monster yang tengah menyerangnya. Monster itu berwujud manusia tetapi kepalanya kepala banteng. Terlihat mengerikan memang, tetapi Devita tetap harus menghadapinya dan menemukan titik kelemahan monster jenis ini.


Monster yang menyerang Devita memegang senjata tongkat pemukul yang dibagian ujungnya terdapat pakunya. Karena senjata itu, pipi serta Devita terluka.


"Hahaha ..." Dua monster itu tertawa melihat Devita yang jatuh tersungkur setelah berhasil mengenai punggung Devita.


Devita langsung berguling ke samping saat monster yang satunya mengayunkan senjata ke arahnya. Devita lantas melakukan gerakan rolling depan dan dengan cepat berdiri lantas menyerang monster itu. Dengan keyakinan penuh, Devita mengayunkan pedangnya untuk menebas leher monster itu.


Sring


Devita memejamkan matanya saat darah hitam monster itu terciprat ke wajahnya. Devita kemudian membuka matanya kembali dan dengan cepat berbalik untuk melawan monster satunya.


Sring


Untuk kedua kalinya Devita berhasil mengalahkan monster itu. Tetapi Devita baru sadar bahwa pihaknya sudah terdesak. Devita melihat Diantha dan Ambrogio yang sudah terluka parah akibat melawan Ratu Amanita. Lalu saat menoleh ke arah utara, Devita melihat Falco yang kuwalahan melawan Athanaxius. Devita lantas menghampiri Falco dan Athanaxius berada.


"KAK FALCO, AWAS!!" Devita sontak melempar pedang yang dia pegang dengan sekuat tenaga untuk menghalau pedang sakti Athanaxius yang hendak melukai Falco.


Trang


Pedang milik Devita berhasil menghempas pedang Athanaxius hingga terpental jauh. Melihat itu Devita lantas mempercepat langkahnya kemudian berdiri didepan Falco untuk melindungi lelaki itu.


"Jangan harap kau bisa melukai keluargaku lagi, Athan!" Ucap Devita dengan matanya yang fokus pada Athanaxius.


"Keluarga?" Athanaxius menyeringai, "Kau anggap mereka keluarga? Tidakkah kau mengingat semua perbuatan yang mereka lakukan padamu?"


"AKU TIDAK APA-APA! AKU TIDAK MASALAH DENGAN PERBUATAN MEREKA!" Nafas Devita naik turun setelah mengatakan itu.


Devita lantas maju hingga berjarak lebih dekat dengan Athanaxius. Devita lantas menarik kerah baju Athanaxius, "Apa kau sadar dengan apa yang kau lakukan saat ini, Athan?" Lirih Devita dengan air mata yang mengalir, "KATAKAN BAHWA KAU TIDAK MENYADARINYA! KATAKAN, ATHAN!"


"ARGHHH!!!"


"ARGHHH!!"


Mendengar suara teriakan yang menyakitkan itu membuat Devita melepaskan tangannya lalu menoleh ke belakang.


Devita terduduk lemas saat melihat Elanus, Diantha, Irena, dan yang lainnya disiksa oleh Ratu Amanita dengan kekuatannya sekaligus.


"HAHAHAHA" Ratu Amanita tertawa puas melihat ketidakberdayaan mereka, terutama Devita.


Dengan kekuatannya, Ratu Amanita kini tiba-tiba sudah berada di depan Devita dan langsung melayangkan pukulan bertubi-tubi ke arah Devita.


BRAK


Tubuh Devita terhempas jauh hingga membentur sebuah gerobak kayu sampai hancur.


"Uhuk-uhuk ..." Tubuh Devita terasa remuk bahkan matanya berkunang-kunang. Devita menggelengkan kepalanya untuk mendapatkan fokusnya kembali.


"Hanya ini kemampuan yang kau miliki, Devita?"


Devita mendongak untuk melihat sosok Ratu Amanita yang memandangnya angkuh.


"Masih ingin melawanku?"


Belum sempat Devita membalas ucapan Ratu Amanita, lagi-lagi Devita mendapat serangan sihir dari Ratu Amanita yang membuatnya kembali terhempas dan punggungnya mengenai pohon apel.


Bugh bugh bugh


"ARGHHH!!" Devita berteriak kesakitan karena mendapat serangan sihir dari Kayanaka juga. Serangan sihir itu seolah-olah memberikan pukulan yang begitu keras di seluruh tubuhnya dan membuatnya begitu sangat tersiksa.


"ARGHHH!! H-henti-k-kan hiks ..." Ini adalah penyiksaan raga yang sangat menyakitkan, Devita tidak tahan dengan rasa sakit yang terus menyerangnya bertubi-tubi.


Dengan sisa kesadarannya, Devita menatap Athanaxius yang hanya diam menyaksikan dirinya disiksa.


"A-than-naxius hiks ..." Hanya satu harapan Devita saat ini, "t-tol-long a-aku ..." Devita berharap Athanaxius sadar lalu menolongnya.


"HAHAHAHA" Ratu Amanita dan Kayanaka tertawa bersama melihat Devita yang tidak berdaya, maka dari itu Kayanaka memutuskan berhenti menyerang.


"Uhuk-uhuk ..." Darah segar keluar dari mulut Devita begitu banyak. Devita tak sanggup mengeluarkan sepatah kata apalagi berdiri untuk menyerang mereka kembali.


Devita akhirnya terbebas dari sihir yang sangat menyiksanya itu. Akan tetapi rasa kecewa yang begitu besar menyelimutinya karena Athanaxius sama sekali tidak bergerak dari tempatnya.


"Menyerahlah, Devita! Lihatlah sekelilingmu! Mereka semua akan mati! Hahaha," Kayanaka berseru jumawa.


"Dia mungkin belum ingin menyerah, Kayanaka." Ratu Amanita tersenyum remeh, "Mungkin dengan cara ini yang akan membuatnya menyerah." Ratu Amanita lantas memandang Athanaxius, "Athanaxius! Bawa kemari Sirena dan cermin itu!"


Lelaki itu lantas melakukan perintah Ratu Amanita. Dalam waktu singkat, Sirena dan cermin kuno itu berhasil dibawa Athanaxius. Athanaxius menyerahkan keduanya di depan Ratu Amanita dalam diam.


Devita terkejut saat melihat kondisi Sirena yang sama mengenaskannya dengan dirinya. Sirena diletakkan di dalam sebuah kotak kaca yang dilindungi oleh sihir.


"Si-sirena!" Devita menangis sembari memanggil nama Sirena.


Devita menyeret tubuhnya untuk mendekati kotak kaca berisi Sirena di dalamnya. Hati Devita begitu sakit melihat Sirena yang terluka di dalam kotak kaca itu.


PYAAR


"TIDAKKKKKK!!"


Devita menghentikan gerakannya menyeret tubuh. Tatapannya berubah kosong saat melihat cermin kuno itu hancur berkeping-keping seperti hatinya.


Athanaxius menghancurkan cermin kuno itu.


Linangan air mata Devita semakin deras membasahi pipinya. Apakah lelaki yang dicintainya itu sudah benar-benar berubah?


"S-seperti inikah c-caramu m-memba-las c-cintaku, Athan?"


•───────•°•❀•°•───────•


Terimakasih sudah membaca.