The Miracles Of Two Souls

The Miracles Of Two Souls
Chapter 9: Athanaxius, Pangeran Kematian.



...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...


...         Selamat Membaca...


...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...


Kekaisaran Alioth.



Kekaisaran Alioth terletak di benua Archernar, juga salah satu kekaisaran terkuat setelah kekaisaran Alhena. Kekaisaran Alioth saat ini dipimpin oleh Kaisar Hylobates Muelleri Lyn Alioth yang tegas, adil, dan bijaksana.


Kaisar Hylobates memiliki lima putra. Tiga putra dari sang Permaisuri, dua putra dari Selir Agung. Salah satunya adalah Pangeran Athanaxius Deimor Lyn Alioth. Putra pertama dari Selir Agung Airith Mayzetta dengan Kaisar Hylobates, selisih satu tahun dengan Putra Mahkota Hydrasa Meika Lyn Alioth.


Di penjuru Kekaisaran Alioth, Pangeran Athanaxius terkenal dengan pesonanya yang menjerat siapapun yang menatapnya, pesona menjerat menuju kematian. Pangeran Athanaxius dikenal sebagai Pangeran Kematian. Rumor di Kekaisaran Alioth mengatakan bahwa Pangeran Athanaxius memiliki kelainan, bahkan rumor terparahnya adalah memiliki kutukan.


Kutukan mata merah. Rumor itu mengatakan bila menatap tepat pada mata Pangeran Athanaxius, maka akan mati, terbunuh oleh Pangeran Athanaxius.


Rumor itu dibenarkan setelah banyaknya bukti korban yang disebabkan oleh Pangeran Athanaxius. Kaisar Hylobates selaku ayahanda tak bisa membiarkan rakyatnya menderita akibat anaknya sendiri. Maka dari itu, Kaisar Hylobates memutuskan untuk mengurung Pangeran Athanaxius di Manor Asphodel dengan bantuan sihir pelindung dari Efarish Bardas Alfonso.


"Bardas, aku meminta padamu, segeralah cari dimana anak itu berada sekarang! Aku khawatir dia membuat kekacauan lagi." Kaisar Hylobates memijit pelipisnya yang terasa pusing di kursi singgasana.


"Adiose, jangan berburuk sangka terlebih dahulu. Athan sudah berjanji padaku, dia tak akan membuat keributan." Selir Agung Airith Mayzetta yang duduk di sebelah kiri  kursi singgasana mencoba menenangkan suaminya.


"Selir Airith benar, Adiose, jangan berburuk sangka terlebih dahulu. Sudah dua hari kepergiannya, tetapi tidak ada pengaduan rakyat soal Athan." Permaisuri Spizalica Athra yang duduk di sebelah kanan kursi singgasana juga turut menenangkan Kaisar.


"Kukira sihir penghalangku cukup kuat untuk waktu yang lama. Hm ... Bukankah hamba sudah pernah bercerita soal kutukan yang dimiliki Pangeran Athanaxius, Yang Mulia Kaisar Hylobates?"


"Kutukan mata merah? Sepertinya kau sudah pernah menyinggung soal itu, tapi aku tak ingat."


Bardas mengangggukkan kepalanya, "Ya, kutukan mata merah itu. Kutukan mata merah itu bisa hilang bila ada wanita yang mencintai Pangeran Athanaxius. Aku pernah membaca sebuah buku di perpustakaan Kekaisaran Alphard. Disana dijelaskan asal muasal kutukan mata merah. Kutukan mata merah, berasal dari ilmu sihir jahat seseorang yang merupakan seorang pemuja iblis yang ditujukan pada orang, salah satunya adalah Pangeran Athanaxius."


"Cih! Bagaimana bisa ada wanita yang mencintai seorang pembunuh sepertinya?"


"Salamandra Azuera! Jaga bicaramu!" Permaisuri Spizalica Athra memperingati putra keduanya, "Bagaimanapun juga, dia adalah kakakmu."


Salamandra, Pangeran yang terkenal dengan sifatnya yang sombong dan keji. Dia adalah Pangeran yang paling membenci Athanaxius.


"Tidak sudi aku mengakuinya sebagai saudara! Aku tak memiliki saudara aneh sepertinya!"


"Salamandra Azuera! Kembali ke tempatmu! Aku tak menyuruhmu untuk berbicara, jadi diamlah!" Kaisar Hylobates menegur Salamandra, Kaisar lanjut menatap Bardas, "Lanjutkan, Bardas!"


"Dijelaskan dalam buku itu, kutukan mata merah akan membuat orang yang terkena kutukan menjadi hilang rasa kemanusiaan. Kutukan itu akan bereaksi bila menatap langsung tepat pada matanya. Itu alasan mengapa iris abu-abu milik Pangeran Athanaxius bisa berubah menjadi semerah darah. Sebisa mungkin jangan menatap matanya."


Seisi ruangan diam dengan pikiran masing-masing. Kutukan yang membawa malapetaka bagi Kekaisaran Alioth.


"Selain kutukan mata merah, aku melihat simbol separuh sayap hitam dan putih di punggung Pangeran Athanaxius. Apakah itu benar simbol sayap, Yang Mulia Selir Agung Airith Mayzetta?" Bardas menatap Selir Agung.



Selir Airith mengangguk, "Ya, itu memang benar. Sewaktu Athan masih bayi, simbol di punggungnya belum terlalu jelas, namun, semakin dewasa simbol itu terlihat jelas berbentuk sayap dengan warna separuh hitam dan separuh putih."


"Ku kira kau melukisnya, ternyata itu memang simbol." Permaisuri berceletuk.


"Memangnya sepenting apa simbol itu?" Kaisar Hylobates bertanya.


"Itu adalah simbol legendaris, Yang Mulia ... Simbol sayap adalah lambang hubungan Dewa Eunoia dan Dewi Elegi. Dewa dan Dewi yang rela keluar dari Niskala dan menjadi manusia biasa. Sayap hitam Dewa Eunoia adalah lambang sifatnya yang gelap tanpa kasih, sedangkan sayap putih  Dewi Elegi adalah lambang kebijaksanaan dan kepedulian. Simbol itulah yang membuat Pangeran Athanaxius mengeluarkan sayap hitam dan membuatnya berhasil keluar dari istana."  **( Niskala \= alam para Dewa dan Dewi )


BRAK


Pintu ruang singgsana terbuka secara kasat tiba-tiba, membuat seisi ruangan kaget.


"Apakah perkumpulan membosankan seperti ini yang sering kalian lakukan tanpaku, huh?"


Selir Airith berdiri dari duduknya, "Athanaxius Deimor! Dimana sopan santunmu itu? Beri salam untuk ayahmu! Bersikaplah selayaknya Pangeran!"


Athanaxius menyeringai ditempatnya, "Bersikap selayaknya Pangeran? Baiklah," Athanaxius kini berjalan lebih dekat hingga berjarak beberapa meter dari kursi singgasana sang ayahanda. Menghiraukan tatapan-tatapan yang dilayangkan padanya, entah dari dewan istana, saudara-saudaranya bahkan orang tuanya.


"Saya, Pangeran Athanaxius Deimor Lyn Alioth, memberi hormat untukmu, Ayahanda ... Semoga keselamatan dan kesehatan selalu menyertai Ayahanda." Athanaxius menundukkan sedikit tubuhnya dengan tangan kanan terkepal diletakkan di dada sebelah kiri, sedangkan tangan kirinya berada di punggung. Cara hormat seorang anak Kaisar atau Raja bila berhadapan dengan Kaisar atau Raja.


"Bagaimana kau bisa keluar dari Manor Asphodel, Athan?" Tanpa membalas hormat Athanaxius, Kaisar bertanya dengan nada dingin dan tentu saja tanpa menatap mata sang anak.


Athanaxius berdiri tegap setelahnya, dia menatap sang Ayah dengan raut datar, "Ayahanda tidak senang dengan kehadiranku?"


"Ya, aku tidak senang! Jadi enyahlah kau!" Salamandra yang berbicara, dia tak menatap Athanaxius tetapi dari nada bicaranya terdengar sarat kebencian.


"Salamandra! Jangan seperti itu!" Hydrasa yang sedari tadi hanya diam kini mulai menegur Salamandra.


Athanaxius menanti jawaban dari sang ayahanda. Melihat keterdiaman sang Ayah membuat Athanaxius sadar, dia memang tak seharusnya berusaha keluar dari Manor. Lalu tatapannya beralih pada Selir Airith, ibundanya.


"Ibunda ... Aku senang melihat ibunda masih terlihat sehat dan cantik. Apakah ibunda tidak rindu padaku?"


Sama seperti seisi ruangan yang tak menatapnya, seolah-olah Athanaxius adalah sosok tak terlihat, Selir Airith menggeleng, "Bagiku, Panthera Leonard sudah lebih dari cukup." Panthera Leonard adalah adik Athanaxius, mereka hanya berselisih tiga tahun.


Athanaxius mengepalkan tangannya kuat-kuat. Rasa sakit, sedih, dan marah bercampur menjadi satu. Senyum tipis muncul di bibirnya, "Begitu, ya? Hfft ... Kukira semua orang akan merindukanku, ternyata dugaanku salah, haha ..."


Ruangan hening, hanya ada tawa culas dari Athanaxius yang menggema.


"Mungkin memang sebaiknya aku berada di Manor. Kalian begitu takut aku membuat rusak nama Kekaisaran Alioth ini, bukan?"


Tidak ada yang menjawab pertanyaan Athanaxius, dia memutuskan untuk pergi saja. Namun langkahnya terhenti saat Bardas Alfonso berdiri di depannya dan menatap matanya.




"BARDAS! JANGAN MENATAP MATANYA!" Kaisar Hylobates berteriak panik.


"Jangan menatapku atau ... Ku bunuh!" Desis Athanaxius.


Bardas Alfonso tersenyum lantas menutup matanya. Saat itu juga rasa panas di tubuh Athanaxius perlahan hilang, iris matanya berubah seperti semula serta urat-urat hitam yang mulai hitam.


Bardas membuka matanya kembali masih dengan tersenyum, namun matanya tak menatap mata Athanaxius selayaknya orang saling berbicara, melainkan memeluk Athanaxius.


"Kaulah orangnya, Pangeran Athanaxius ..." Bisik Bardas yang hanya didengar oleh Athanaxius, "Entah benar atau tidaknya spekulasiku, kau adalah sang pengendali itu ..."


Athanaxius segera mendorong tubuh Bardas menjauh kemudian melakukan langkahnya untuk meninggalkan ruang singgasana.


"Yang Mulia Kaisar Hylobates ... Menikah adalah cara yang tepat untuk menghilangkan kutukan."


Langkah Athanaxius terhenti, dia berbalik cepat menghadap Bardas yang tengah tersenyum penuh arti. Meskipun tak melihat matanya, Athanaxius tahu senyuman itu untuknya.


"Benarkah itu caranya?"


Bardas berbalik untuk menghadap Kaisar, "Ya. Menikah adalah solusinya. Mulailah membuat surat lamaran bagi Putri-putri kerajaan atau kekaisaran yang lain."


Kaisar Hylobates terdiam sejenak, "Mungkin nanti setelah acara pernikahan Hydrasa dengan Putri Kaisar Alhena, aku akan mengirim beberapa surat lamaran."


Salamandra tertawa mengejek pada Athanaxius yang terdiam ditempatnya, "Memangnya ada wanita yang mau menikah dengannya? Aku pikir lamaran yang Ayahanda buat akan sia-sia!"


Athanaxius merasakan gejolak amarah di hatinya, rasa panas mulai menjalar ke seluruh tubuhnya, namun dia mencoba menahan emosinya.


"Tidak perlu melakukan apapun untukku, terutama mencarikanku istri. Aku akan mencari istri sendiri! Aku tak ingin didebat! Bila melanggar, aku tak segan membuat Kekaisaran ini menjadi pertumpahan darah."


"ATHANAXIUS!" Selir Airith berdiri dari duduknya lagi sambil menatap nyalang sang anak.


Athanaxius tak menghiraukan sang ibunda, dia memilih meninggalkan ruang singgasana dengan langkah teratur dan berwibawa.


...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...


Di dalam Manor miliknya, Manor Asphodel, Athanaxius berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai atas. Melewati anak tangga tanpa adanya penerangan sama sekali tak membuat Athanaxius kesulitan, dia sudah terbiasa hidup dalam kegelapan tanpa cahaya yang menerangi.



BRAK


Athanaxius membanting pintu kamarnya dengan kencang hingga menimbulkan getaran pada tembok disekitarnya.


Rasa amarah menyelimuti dirinya saat ini. Dia berjalan cepat menuju balkon kamarnya. Athanaxius berdiri memandang langit malam dengan bulan yang bersinar tak begitu terang.


Rasa panas tiba-tiba menjalar ke punggungnya, rasa panas yang sama saat malam dua hari lalu dia berhasil menghilangkan sihir penghalang yang membuatnya terkurung hingga lima tahun. Ya, lima tahun. Hidup di dalam Manor tanpa ada orang yang mempedulikannya.


Byar


Sayap hitam keluar dan membentang lebar dari punggungnya. Yang diinginkan Athanaxius saat ini hanyalah udara segar. Athanaxius pun terbang keluar istana, membuat para legion yang berjaga di Manor miliknya terkejut dan berteriak histeris.


Bahkan setelah keluar istana pun kehadirannya begitu menggemparkan, terlebih dengan sayap hitamnya itu.


"ASTAGA! DIA BENAR-BENAR PANGERAN ATHANAXIUS!"


"IBU AKU TAKUT! APAKAH DIA JELMAAN IBLIS?"


"PANGERAN ATHANAXIUS SEMAKIN TERLIHAT MENAKUTKAN!"


Athanaxius mencoba menghiraukan suara-suara yang berasal dari rakyat Alioth. Tujuan Athanaxius adalah sungai Lafayette, sungai yang berada di hutan Lafayetii, hutan perbatasan antara wilayah kekaisaran Alioth dan Alhena. Dan sungai inilah yang membatasi wilayah kekaisaran Alioth dan Alhena.


Athanaxius turun setelah terbang beberapa menit lalu. Menapaki tanah hutan yang sunyi dan gelap di malam hari. Kedua sayapnya kini tertekuk, dia berjalan dengan langkah tenang menuju sungai Lafayette.


Semakin masuk ke tengah hutan, suara aliran sungai Lafayette mulai terdengar.



Sesampainya di sungai Lafayette, Athanaxius menceburkan separuh dirinya di dalam air sembari menutup mata, membiarkan air dingin membantu menghilangkan rasa sesak di dadanya yang tak kunjung menghilang.


'Kau selalu mampu melewati banyak hal, Athanaxius ...' Athanaxius mencoba menenangkan dirinya sendiri.


"HUAHHH PSIKOPAT!!"


Athanaxius terlonjak kaget, dia membuka matanya yang semula terpejam. Entah kenapa suara wanita itu muncul begitu saja di dalam ingatannya. Padahal dia tak memikirkan siapapun sama sekali saat ini, apalagi memikirkan wanita yang melihatnya tengah bermain malam itu.


"Psikopat?" Athanaxius baru pertama kali mendapat sebutan 'psikopat', sebuah sebutan yang aneh menurutnya.


...•───────•°•❀•°•───────•...


Terimakasih sudah membaca.


Ini cerita kedua saya, mohon dukungannya ya:)


Saya menerima kritik dan saran.  Apakah cerita ini menarik?