
...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...
... Selamat Membaca...
...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...
Kepulangan Nervilia beserta rombongan sangat disambut antusias oleh Raja Monachus dan Ratu Amanita. Berbeda dengan Sirena yang masih bergumul dalam selimut. Hidup aman, nyaman, kaya raya dan tenang dalam mimpinya.
"Sirena! Astaga, anak ini! Hei, bangun!" Adelphie tidak tahu lagi harus membangunkan Sirena dengan cara apa. Terlebih lagi ada tamu agung yang berkunjung ke Manor.
"Saham saya meningkat sepuluh persen? Serius?"
Adelphie menganga lebar saat melihat Sirena yang malah meracau sembari menampilkan senyum penuh kesenangan.
"SIRENA! DIBAWAH ADA TAMU AGUNG! CEPATLAH BANGUN WAHAI SILUMAN KERBAU!" Adelphie yang sudah tidak tahu lagi dengan cara apa membangunkan Sirena akhirnya memilih berteriak di telinga Sirena.
"EBUSETTTT! MULUT APA TOA, ANJIR! BUDEG NIH KUPING GUE, KAMPRET!" Refleks Sirena terbangun sembari menutup kedua telinganya.
Tak sengaja tatapan Sirena bertemu dengan tatapan Adelphie yang menatapnya datar, sangat datar. Sirena terkekeh sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal, "Ehehehe ... Ada apa, Adelphie? Mengapa kau membangunkanku sepagi ini?
Adelphie menggelengkan kepalanya saking frustrasi dengan tingkah Sirena, "Pagi kau bilang? Ini sudah siang, bodoh!" Adelphie menempeleng kepala Sirena saking kesalnya.
"Adawww!!" Sirena mengelus kepalanya sembari menatap Adelphie kesal, "Terus kalau sudah siang kenapa, Adelphie yang ramah?" Sirena hendak kembali berbaring melanjutkan tidurnya.
"ASTAGA! JANGAN TIDUR LAGI, BODOH!" Adelphie menarik tangan Sirena hingga wanita itu tak jadi berbaring, "Kau dengar aku sekarang! Di bawah, para saudaramu mengunjungimu!"
Sirena yang tengah menguap lebar seketika melototkan matanya, "HAH? NGAPAIN?" Sirena sontak bangun dari tempat tidur, bergegas keluar kamar lalu menuruni anak tangga dengan cepat. Hingga tiba di ruang tamu Minor, dia dapat melihat para saudaranya yang terkejut memandangnya.
Agda yang baru saja menghidangkan beberapa makanan dan minuman juga terkejut memandang Sirena. Penampilan Sirena sungguh acak-acakan. Wajah khas bangun tidur, gaun terusannya yang nampak kusut, serta rambut singanya.
"Sirena, astaga!" Agda benar-benar takjub dengan Tuan Putri yang satu ini.
Nervilia tiba-tiba berdiri dari duduknya lalu menampar Agda.
Plak
"Lancang sekali kau! Bagaimana bisa luster rendahan sepertimu memanggil adikku hanya nama?" Nervilia memarahi Agda.
"Hoi, Nervilia!" Sirena langsung memasang badan di depan Agda, "Aku yang menyuruhnya! Apa maksudmu menampar luster pribadi sekaligus sahabatku ini, huh? Apa kau pernah lihat aku menampar atau menganiaya luster pribadimu?" Sirena melirik luster pribadi Nervilia yang diam menundukkan kepalanya, "Tidak kan?"
Nervilia menatap Sirena tak percaya, "Adikku, bagaimanapun mereka bukan bangsawan seperti kita. Kau tidak pantas berteman dengan mereka!"
"Sejak kapan kau mempedulikan pertemananku, hm?" Nervilia terdiam, "Duduklah dan jadi tamu yang mempunyai sopan santun!" Nervilia menghembuskan nafasnya sekali, mungkin tengah meredakan emosinya, Sirena tak ingin tahu.
Sirena lantas memandang saudaranya yang lain, "Jadi, ada apa Tuan-tuan dan Nona Nervilia datang kemari?"
"Sekedar melihat-lihat." Sahut Falco dengan nada malas.
Dia sebenarnya malas untuk menemani Nervilia berkunjung ke Manor Chysanthemum. Tapi Falco terkejut saat melihat perubahan Manor Chysanthemum. Sebelumnya Manor terlihat sangat tidak terurus, warna cat dinding yang sudah mulai memudar juga bunga-bunga di taman dibiarkan mati. Sekarang yang dia lihat, Manor ini lebih berwarna, terlebih di taman Manor yang ditanami berbagai macam pohon, tak hanya bunga.
"Oh, yasudah. Lihatlah sepuas mata kalian! Aku ingin melanjutkan tidurku!" Sebelum Sirena pergi, dia menyempatkan untuk melihat pipi Agda yang mulai membiru, "Astaga, Agda! Pipimu membiru! Ayo ikut aku! Aku akan mengompres pipimu!" Sirena langsung menarik tangan Agda menuju dapur, tak mempedulikan penampilannya.
Berbeda dengan Adelphie yang baru saja turun. Dia harus membereskan tempat tidur Sirena terlebih dahulu. Namun saat dia turun, dia melihat raut wajah para saudara Sirena yang nampak aneh.
"ADELPHIE!!! CEPAT KE DAPUR! AGDA BERADA DALAM KONDISI MENGENASKAN!" Teriakan Sirena membuat Adelphie kalang kabut. Dia langsung berlari melewati ruang tamu tanpa memberi salam pada tamu agung.
'Aku melihat ada banyak pelangi di sekelilingmu, Sirena. Apakah hidupmu tak lagi kelabu seperti dulu?' Nervilia bergumam dalam hati.
...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...
"Tuan Putri Sirena ingin bertemu dengan Anda, Yang Mulia ..." Suzdal yang berjaga di ruang kerja Raja memberitahu Raja Monachus yang masih berkutat dengan pekerjaannya meskipun malam sudah tiba.
Raja Monachus sangat dipusingkan dengan beberapa masalah ekonomi diberbagai wilayah. Apalagi waktu memberi upeti untuk Kekaisaran Alhena sudah dekat. Dia benar-benar pusing sekarang.
"Ada apa anak itu datang ke-"
BRAK
"Pak Raja lama sekali untuk menyilakan saya masuk! Hampir lumutan saya berdiri di luar." Sirena menggerutu pada Pak Raja yang menatapnya tak suka.
"Hamba ijin undur diri, Yang Mulia ..." Suzdal itupun langsung keluar dan menutup pintu.
Sirena mendudukkan dirinya di depan Raja Monachus. Mereka hanya dibatasi meja kerja saja. Jadi Raja Monachus bisa melihat, Putrinya yang keadaannya sudah membaik.
"Ada apa?" Tanya Raja Monachus.
"Oke, saya to the point saja. Apakah saya boleh menggunakan portal teleportasi kerajaan?"
"Tidak boleh." Raja Monachus kembali berkutat dengan kertas-kertas yang menggunung.
BRAK
Raja Monachus masih mengusap dadanya karena terkejut akibat ulah Sirena. Untung saja dia memiliki catatan kesehatan yang bagus.
"Nervilia memiliki tujuan yang jelas bila menggunakan portal kerajaan. Sedangkan kau? Terakhir kali kau menggunakan portal kerajaan untuk menculik Nervilia dan membawanya ke benua Canopus." Raja Monachus menatap tajam Sirena.
Sirena mendengus kesal, dia bersidekap dada sembari menatap sekeliling, "Saya kan sudah berubah. Tak ada niatan apapun terhadap Nervilia. Bahkan sekarang saya terlalu malas mengurusi hidup Nervilia. Hih, seperti tak ada kerjaan saja."
Melihat tingkah Sirena yang nampak lucu dan menggemaskan, Raja Monachus seketika teringat dengan Agalia. Dahulunya wanita itu begitu lucu dan lugu. Tapi dia tak menyangka, ternyata Agalia hendak meracuninya juga Ratunya karena ingin menguasai kerajaan.
"Kau boleh menggunakan portal kerajaan sesukamu, tetapi itu bersyarat."
Sirena menatap kembali Raja Monachus, "Nah kan! Sekali Anda memperbolehkan, pasti ada syaratnya. Anda memang merepotkan!"
Raja Monachus mendelik menatap Sirena, tidak ada orang yang berani berkata seperti itu, kecuali Sirena putrinya sendiri. Sebenarnya apa yang tidak diketahuinya tentang Sirena?
"Kau ..." Raja Monachus mencoba bersabar, "Pernikahan Nervilia akan tiba sebentar lagi. Dan aku menunjukmu untuk mengurusi pesta pernikahan Nervilia di istana kerajaan ini. Mulai dari tatanan dekorasi hingga hidangan untuk para bangsawan."
Sirena memandang wajah Raja Monachus horor, "PAK RAJA!"
BRAK
Lagi-lagi Raja Monachus dibuat terkejut akibat gebrakan meja Sirena. Tak dia sangka berbicara dengan Sirena akan berisiko memiliki penyakit jantung.
"INI TAK ADIL! PAK RAJA GILA, HAH?" Sirena benar-benar emosi sekarang. Tugasnya di dunia ini bertambah semakin banyak saja, "Setelah menugaskan saya untuk memakmurkan desa Osaka yang berat, lantas Anda masih memberi tugas saya untuk mengurusi pesta pernikahan Nervilia? Otak Pak Raja tersangkut dimana, hah? Dengkul?"
"K-kau ..." Raja Monachus kehabisan kata-kata untuk membalas ucapan Sirena. Sirena bahkan sudah berani memakinya sekarang.
"Sekali saja! Apa Pak Raja pernah berpikir dan bertanya kepada saya, apakah saya mampu atau tidak? Apakah saya mau atau tidak? Kenapa saya seolah-olah sudah dirancang untuk menerima semua perlakuan tak adil dalam istana ini?" Sirena menatap Raja Monachus dengan tatapan nanar.
"Sirena, ak-"
"Pak Raja dahulu sangat tahu, betapa saya mencintai Pangeran Elephas sejak lama. Tapi Pak Raja dengan tanpa bersalah membuat pesta pertunangan Pangeran Elephas dengan Nervilia tepat di hari ulang tahun saya. Apa Pak Raja pernah bertanya, apakah saya baik-baik saja selama ini? Tidak bukan?" Melihat keterdiaman Raja Monachus, Sirena berdiri dari duduknya.
"Untung saja hati saya bukanlah Sirena yang dulu. Mungkin Sirena yang dulu memilih mati bunuh diri daripada hidup dengan Anda sekalian!"
Raja Monachus menatap raut wajah Sirena yang kini terlihat dingin. Di mata putrinya itu, dia dapat melihat kilat kebencian untuknya.
"Terimakasih atas perlakuan Anda selama ini, Pak Raja. Saya akan mengenangnya selalu. Semoga kelak keturunan-keturunan saya tak ada yang memiliki sifat sama seperti Anda. Saya permisi." Sirena berjalan keluar meninggalkan ruang kerja Raja.
Sesampainya di luar, Sirena berteriak kesal, tak peduli dia masih dilingkungan istana utama.
"PAK RAJA KAMPRET! SIALAN! BABI! ARGHHH!!" Saking kesalnya, Sirena menendang dinding yang ada disampingnya dengan kakinya.
Sirena bahkan sudah melepas sepatunya. Membiarkan kakinya tanpa alas, lalu keluar dari istana utama dengan wajah bersungut-sungut.
Para legion yang bertugas disana tercengang melihat amarah Sirena. Beruntung Sirena tak memiliki sihir murni. Kalau iya, pasti tembok itu sudah hancur akibat ulahnya.
"Apa lihat-lihat!" Sirena menatap kesal pada Elanus dan Falco yang berpapasan dengannya.
Falco memandang Sirena yang menenteng sepatunya di tangan kanan dan kiri.
"Kau kenapa, Sirena?" Elanus mencoba bertanya.
"KAU TANYA SAJA PAK RAJA, BAPAK KALIAN!" Sirena lantas berlalu pergi meninggalkan Falco dan Elanus yang saling pandang.
"Anak itu ..." Gumaman seseorang membuat Falco dan Elanus refleks menoleh ke belakang. Mereka mendapati Raja Monachus yang juga menatap kepergian Sirena.
"Ayahanda ..." Kedua anak itu menundukkan kepalanya memberi hormat pada Raja Monachus. Setelahnya mereka kembali memperhatikan Sirena yang tengah tersandung.
"Apa yang terjadi dengan Sirena, Ayahanda? Kenapa dia bisa semarah itu?"
"Tapi dia terlihat lucu." Gumam Falco tanpa sadar. Senyum tipis muncul saat melihat Sirena yang tengah memarahi para legion yang tak menyingkirkan batu kecil hingga membuatnya tersandung.
"Aku memberinya tugas untuk mengurusi pesta pernikahan Nervilia di istana kerajaan ini. Anak itu bahkan mengataiku gila dan otakku di dengkul tadi ..." Raja Monachus mendengus saat mengingat kelakuan Sirena. Namun tak ayal Raja ikut tersenyum tipis melihat Sirena yang melempar sepatunya hingga tersangkut di pohon mangga.
Diam-diam Elanus memperhatikan raut wajah Raja Monachus dan Falco bergantian.
'Andai kau melihat ini, Sirena ...'
•───────•°•❀•°•───────•
Terimakasih sudah membaca.
Ini cerita kedua saya, mohon dukungannya ya:)
Saya menerima kritik dan saran. Apakah cerita ini menarik?