
...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...
... Selamat Membaca...
...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...
Malam kian larut, namun Devita belum bisa tidur karena tengah membuat perencanaan yang sudah terangkai di dalam otaknya. Ada banyak hal yang harus dia lakukan untuk desa Osaka.
Melihat beberapa keluarga yang tinggal dalam satu tenda membuat Devita berpikir keras. Rumah yang masih utuh ada sepuluh, itupun rumah tanpa penghuni karena sang pemilik sudah mati karena monster.
"Kalau tahu rumah yang masih utuh itu kosong, kenapa rakyat Osaka tidak mengungsi di situ?"
Devita menoleh ke samping, dimana Sirena dengan wujud aslinya berada, "Pendapat gue sih karena mereka menghargai si pemilik rumah."
Setelah hujan reda, Sirena mengajak Devita untuk menikmati suasana malam di atas pohon apel yang terletak di ujung desa. Sirena dan Devita memandang kondisi desa Osaka yang nampak sepi, hanya ada beberapa legion istimewa yang berpatroli bergantian.
"Apa yang akan kau lakukan terlebih dahulu?" Sirena mengayun-ayunkan kakinya yang bergelantung. Sirena tak menyangka Devita juga pandai memanjat pohon.
"Gue akan mulai dari benteng terlebih dulu. Kalau benteng desa ini diperkuat, setidaknya bisa menghalau bahaya yang akan datang. Gue juga bakal minta Athanaxius atau Sirakusa gunain sihir pelindung untuk melapisi benteng."
"Ide yang bagus, Devita!" Sirena tersenyum cerah, namun senyuman itu hanya bertahan sebentar, "Seandainya aku bisa sepintar kau, Devita ..."
Devita menatap wajah Sirena yang terlihat muram, "Lo juga bisa pinter kok!"
"Bagaimana? Aku saja tidak lulus tes masuk akademi. Semua orang mengataiku Putri bodoh dari Kerajaan Willamette." Sirena mendesah lelah.
"Gue yakin lo bisa. Em ... Sekarang gue tanya, kalau rencana lo untuk desa Osaka ini gimana?" Devita tidak bermaksud apa-apa. Dia hanya ingin memastikan bahwa Sirena sebenarnya pintar.
Sirena tak langsung menjawab yang membuat Devita menatap Sirena dengan rasa penasaran.
"Setelah mendengar rencanamu yang ingin memperkuat benteng, maka aku ingin meninjau gunung Yahrimun ini. Apakah ada sesuatu yang menguntungkan bagi desa ini kedepannya atau tidak. Kita bisa melakukannya dengan membagi tugas. Para lelaki bertugas membangun benteng, sedangkan para wanita meninjau gunung Yahrimun ditemani sebagian legion."
Sedikit demi sedikit Devita paham dengan penjelasan Sirena, "Rencana lo boleh juga, Na." Devita merangkul Sirena, "Besok gue bakal ajak para wanita disini menyusuri gunung Yahrimun."
Pembangunan wilayah dibutuhkan modal besar. Bila Devita mengandalkan uang yang dia bawa dan uang pemberian Raja Monachus pasti akan langsung habis. Maka dari itu harus ada pemasukan dana, mungkin dengan menjual sesuatu.
"Bagaimana dengan rakyat yang sakit?"
"Mereka bakal gue tempatin di rumah kosong itu." Devita hampir melupakan rakyat yang terjangkit demam berdarah. Sebelumnya, Devita mengira penyakit yang diderita rakyat Osaka adalah penyakit parah. Namun saat melihat sendiri, ternyata itu adalah demam berdarah.
"Rumah kosong itu juga bisa kita jadikan lumbung padi nantinya. Intinya, kita bisa manfaatin rumah kosong dengan baik."
"Karena besok kau sangat sibuk, bukankah kau seharusnya beristirahat?"
Devita cengengesan, "Hehe ... Kebiasaan, gue emang suka begadang dulunya. Biasanya menjelang pagi gue baru tidur."
Sirena membulatkan matanya tidak percaya dengan ucapan Devita. Apakah ada seorang wanita yang suka begadang seperti Devita? Atau dia yang tak tahu apa-apa mengenai wanita sekarang?
"Kalau begitu kau harus segera kembali dan tidur!" Sirena melepas rangkulan tangan Devita sembari menatap tajam Devita.
"Iya-iya, Bu Sirena ..." Devita memberikan tatapan mengejek untuk Sirena.
"Kau menyebalkan sekali, Dev!" Karena kesal, Sirena lantas memukul lengan Devita pelan.
"Kau sendiri, tidak istirahat?"
Sirena menggeleng, "Aku ingin merasakan menjadi roh yang gentayangan setiap malamnya untuk sekarang."
Devita tertawa kecil mendengar itu, "Ya sudah, kalau begitu aku turun terlebih dahulu, ya? Kau berhati-hatilah!"
"Ya-ya ..."
...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...
Suasana desa Osaka saat malam benar-benar lengang sekali. Hanya terdengar suara hewan malam yang menjadi pengantar tidur bagi mereka.
Devita merapatkan mantel miliknya karena udara malam yang dingin semakin menusuk tulang-tulangnya.
Krek
Suara ranting yang terinjak entah darimana membuat langkah Devita terhenti. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari tahu apakah ada orang yang membuntutinya atau tidak.
Hingga netra coklatnya melihat sosok perempuan bermantel lusuh nampak berada di dekat salah satu tenda. Perempuan itu membelakangi Devita hingga dia tak bisa melihat apakah itu perempuan tua atau muda. Dia nampak tengah memungut sesuatu di tanah.
Dengan perlahan Devita melangkah mendekati perempuan itu, "H-hei ... Se-sedang apa kau?"
Perempuan itu berdiri membelakangi Devita setelah tersadar ada orang yang menyadari kehadirannya. Dia sama sekali tidak menyahut ataupun berniat menyapa balik Devita.
"Mengapa kau belum tidur? Apa kau lapar?" Jarak Devita dan perempuan itu mulai dekat.
"Sirena!"
Seruan dari seseorang membuat Devita menoleh, ternyata yang memanggilnya adalah Athanaxius. Lelaki itu berjalan menghampirinya kemudian menyampirkan mantel miliknya kepada Devita.
"Malam kian larut, udara juga sangat dingin, mengapa kau masih ada diluar, hm?" Athanaxius bertanya sembari membenarkan mantel.
Athanaxius turut memandang ke arah yang Devita tunjuk, namun hanya sebuah pohon yang dia lihat, "Tidak ada siapa-siapa." Athanaxius kemudian meraih tangan Devita dan menariknya menuju tenda Devita berada.
Sesampainya di tenda miliknya, Sirakusa yang belum tidur lantas menghampiri Devita dengan raut wajah khawatir.
"Kau darimana saja? Mengapa kau pergi diam-diam?"
"Ehm ..."
Sirakusa menatap Athanaxius sekilas lalu kembali menatap Devita yang memakai mantel milik Athanaxius. Lelaki itu kemudian melepas mantel miliknya dan menyampirkan mantelnya ke tubuh Devita.
Devita hanya tercenung melihat tubuhnya yang tenggelam karena mantel besar milik kedua pria ini. Hanya helaan nafas lelah yang keluar dari bibir Devita sebelum akhirnya memilih masuk ke dalam tenda miliknya, membiarkan kedua pria ini menatap kepergiannya.
...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...
"Aysun, Norma ... Apakah kalian bahagia sekarang?"
Sirena merindukan kedua luster sekaligus sahabatnya itu. Biasanya saat melakukan perjalanan keluar Willamette, ada dua sahabatnya itu yang selalu memperhatikan dirinya. Dan sekarang? Sirena tak bisa merasakannya lagi.
Sirena lantas mengangkat kedua tangannya, sudah setengah jam dia berada dalam wujud nyata. Sekarang wujudnya mulai menghilang secara perlahan.
Saat wujudnya sudah sepenuhnya hilang, Sirena melihat sosok anak kecil yang dia kenal tengah berjalan menuju sungai yang ada di desa Osaka.
"France?"
Beruntung wujudnya sudah menghilang, jadi dia tak akan ketahuan sedang membuntuti anak itu.
Hingga sampai di bibir sungai, France berdiri sembari mendongak menatap langit. Tiba-tiba saja tubuh kecilnya berubah menjadi seukuran lelaki dewasa yang membuat Sirena terkejut bukan main.
"Astaga!" Dan saat itu pula wujud nyata Sirena terlihat. Sirena semakin terkejut dengan dirinya sendiri.
'AKU HARUS SEMBUNYI!'
Sayang, sebelum mencari tempat sembunyi, Sirena dikejutkan dengan suara bariton yang membuatnya mematung di tempatnya.
"Apakah kau Sirena?"
Ambrogio menatap sendu ke arah sosok wanita yang berdiri membelakanginya. Akhirnya dia menemukan Sirena yang asli dan itupun tanpa disengaja. Ambrogio merasa ini adalah sebuah keajaiban yang tak terduga.
Dengan langkah lebarnya, Ambrogio menghampiri Sirena kemudian memeluk Sirena erat dari belakang.
"Aku hampir gila karena setiap hari memikirkanmu, Sirena ..." Bisik lelaki itu tepat di telinga Sirena.
"S-siapa k-kamu?"
Ambrogio tak menjawab, dia memilih memejamkan matanya menikmati momen yang bisa saja tidak dia dapatkan lagi dilain waktu. Aroma mawar memasuki Indra penciumannya tatkala menghirup rambut hitam Sirena.
"L-lepaskan aku ..." Nada bicara Sirena bergetar, entah kenapa dia ingin menangis berada di dekapan pria yang memeluknya ini.
"Aku, Ambrogio Agafya ..."
'R-raja i-iblis?'
"Aku bukan lagi Raja Iblis, Sirena ... Sekarang aku hanyalah manusia biasa selayaknya dirimu. Aku melepas gelar Raja iblis agar bisa bersamamu, seseorang yang ditakdirkan untukku."
Ambrogio mengurai pelukannya kemudian memutar tubuh Sirena hingga berhadapan dengannya. Matanya menatap penampilan Sirena yang terlihat sederhana.
'Bagaimana bisa wujud nyataku kembali terlihat?' Sirena masih memikirkan hal itu.
"Bagaimana kabarmu? Apa kau baik-baik saja tubuhmu diambil alih oleh Devita?" Ambrogio memberanikan diri menyentuh pipi Sirena.
"A-aku baik-baik saja. H-hanya saja aku tidak bisa bertahan lama dalam wujud nyataku ini." Setelah mengatakan itu, kalung steorra miliknya bersinar biru yang membuat Ambrogio menutup mata saking silaunya.
Saat sinar biru itu hilang, hilang pula sosok Sirena. Ambrogio membuka matanya dan tak mendapati siapapun.
"Sirena? Kau ada dimana?" Ambrogio memutar tubuhnya ke kanan dan kiri untuk mencari sosok wanitanya.
"SIRENA!"
"SIRENA!"
Namun setelah beberapa menit mencari sosok Sirena, Ambrogio tak menemukannya. Hanya keheningan yang setia menemaninya sejak tadi.
Ambrogio memutuskan untuk duduk di bibir sungai, mencelupkan kakinya ke dalam air sungai yang bisa membuat kakinya membeku.
"Menyedihkan sekali ..." Ambrogio terkekeh pelan meratapi nasibnya.
Merasa sudah terlalu lama dipinggir sungai, Ambrogio memutuskan untuk kembali ke tenda. Dia tak ingin membuat Devita khawatir dan mempersulit wanita itu nantinya.
•───────•°•❀•°•───────•
Terimakasih sudah membaca.