The Miracles Of Two Souls

The Miracles Of Two Souls
Chapter 29: Diujung Tanduk



...╭┉┉┅┄┄┈•◦ೋ•◦❥•◦ೋ...


...         Selamat Membaca...


...•◦ೋ•◦❥•◦ೋ•┈┄┄┅┉┉╯...


Suasana istana kerajaan Willamette nampak ramai oleh kegiatan para luster dan Legion yang tengah mempersiapkan tempat istirahat untuk para tamu yang datang dari jauh.



"Persiapkan semuanya dengan baik! Jangan sampai para tamuku tidak betah akibat kelalaian kalian!" Nervilia tengah mengawasi kegiatan para luster dan legion di istana utama.


"Tuan Putri Nervilia nampak sibuk sekali,"


Nervilia sontak menoleh saat ada suara dari belakangnya. Matanya terkejut saat mendapati Phyron datang berkunjung. Dia lantas memberikan salam untuk Phyron.


"Dimana Putri Sirena?" Tanya Phyron tanpa basa-basi.


"Dia masih mengurus sesuatu di luar istana, Pangeran Phyron."


Phyron menaikkan sebelah alisnya, "Kapan dia akan pulang?"


Nervilia menggeleng, "S-saya tidak tahu pasti,"


Phyron menghela nafas kecewa, dia gagal bertemu Sirena. Padahal dia sudah semangat sekali untuk bertemu Sirena, tapi sangat disayangkan dia tak bertemu.


"A-anda ingin m-minum teh, Pangeran Phyron? M-mungkin sebentar lagi Sirena akan pulang."


"Hanya denganmu?"


"T-tidak!" Nervilia membalas cepat, "Saya akan memanggil kedua kakak saya untuk menemani Anda berbincang. Kebetulan ayahanda juga sedang memiliki waktu luang."


"Kalau begitu panggil semua saja sekalian." Balas Phyron sarkas.


Dengan polosnya, Nervilia mengangguk. Dia kemudian pamit pergi untuk memanggil Raja Monachus dan kedua kakaknya.


Phyron memandang kepergian Nervilia dengan wajah datar, "Wanita bodoh!" Matanya beralih memandang salah satu luster yang tak jauh darinya, "Kau!"


Luster yang merasa dipanggil itu sontak berjalan dengan menundukkan setengah badannya ke arah Phyron, "H-hamba, Pangeran ... A-ada sesuatu y-yang Pangeran inginkan?"


"Beritahu pada para Tuanmu. Aku menunggu mereka di taman istana utama."


"B-baik, Pangeran ..."


Phyron pun melangkahkan kakinya menuju taman istana utama. Tak berapa lama, Raja beserta anak-anaknya menyusul Phyron. Mereka ingin tahu tujuan Phyron datang kemari.


Raja Monachus dan ketiga anaknya memberi hormat pada Phyron, bagaimanapun status Phyron lebih tinggi karena dia anak Kaisar.


"Bagaimana kabar Anda, Pangeran Phyron? Sudah lama sekali Anda tidak berkunjung ke istana kecilku ini."


Phyron menyesap teh chamomil yang disediakan untuknya, setelah itu dia memandang Raja Monachus yang bertanya padanya, "Jauh lebih baik setelah Putri Sirena membuatku tertarik."


Falco dan Elanus saling pandang, "Maksudnya, Pangeran menyukai adikku Sirena?" Falco bertanya.


Phyron mengangguk, "Ya. Dan kedatanganku kemari untuk mengajukan lamaran untuknya."


Ke empat orang itu terkejut dengan ucapan Pangeran Phyron. Bagaimana bisa seorang Pangeran yang dikabarkan tak menyukai wanita bisa tertarik kepada Sirena?


"Apa Anda serius, Pangeran?" Elanus menatap Phyron bertanya dengan tatapan tajam.


"Kapan aku pernah main-main dengan ucapanku, hm?" Phyron mengangkat sedikit sudut bibirnya.


Raja Monachus menggelengkan kepalanya, "A-ah maafkan Elanus bila dia meragukan Anda, Pangeran. Tentu saya akan menerima lamaran Pangeran untuk Sirena." Ujar Raja Monachus tertawa pelan.


Phyron menyeringai, "Anda menerima, tetapi apakah Putri Sirena menerimanya?" Dia sangat tahu perangai Raja Monachus, "Aku akan menunggu kepulangan Putri Sirena untuk menanyakan apakah dia menerima lamaranku atau tidak."


...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...


Tak terasa malam pun tiba, makan malam sudah terlaksana sejak tadi. Namun Sirena belum juga kembali pulang.


Di ruang tamu istana utama, Raja Monachus merasa tak enak kepada Phyron yang sudah lama menunggu kedatangan Sirena.


Sedangkan Phyron sendiri, lelaki itu memperhatikan ruang tamu istana yang terdapat banyak sekali lukisan keluarga, namun dia tak menemukan sosok Sirena di dalam lukisan itu. Sirena seolah terlupakan.


Phyron seketika teringat dengan Sirena kecil. Bisa dihitung jari dia datang ke istana kerajaan Willamette untuk menemani Elephas. Waktu dia berusia sekitar lima tahun, usia sembilan belas tahun dan saat ini.


"Hei patung beljalan!" Phyron yang sedang berdiam diri di taman istana utama kerajaan Willamette seketika menoleh saat mendapati sosok gadis kecil berambut pirang.


"Woahh! Kau manusia? Aku mengila kau patung yang bisa beljalan." Sirena kecil menatap penuh binar ke arah Phyron yang hanya memandang Sirena dengan wajah datar.


"Kau pikir aku siluman? Tentu saja aku manusia." Ketus Phyron yang saat itu berusia lima tahun.


"Hihi ... Maaf, aku tidak tahu," Sirena kecil meminta maaf sembari tertawa yang membuat Phyron terpana akan tawa menggemaskan milik Sirena.


Senyum tipis muncul saat ingatan itu terlintas di otaknya. Sayang sekali, tawa menggemaskan milik Sirena tak terlihat lagi setelah dia kehilangan ibundanya.


"YANG MULIA RAJA!!! hiks ... hiks ... YANG MULIA!"


BRAK


Semua orang yang ada di dalam ruang tamu terkejut akan kedatangan Agda luster pribadi Sirena yang menangis tersedu-sedu.


"HEI! DIMANA TATA KRAMAMU, LUSTER RENDAHAN!" Selir Agung Cordyline yang berada di sebelah Raja Monachus menatap marah Agda.


Agda seolah tidak peduli dengan teriakan marah dari Selir Agung. Yang terpenting, dia harus menyampaikan kepada Raja bahwa Sirena dalam bahaya.


"P-putri S-sirena hiks ..." Agda pun menjelaskan apa yang terjadi. Dimana dia dilempar ke dalam portal teleportasi oleh Sirena sedangkan Sirena masih di desa Aibek untuk membantu rakyat melawan monster yang menyerang.


"Bukankah itu bagus? Dia bertanggungjawab atas kesalahannya. Monster datang karena dikendalikan oleh Raja iblis yang dibangkitkan sendiri olehnya, bukan?" Selir Agung Cordyline yang berbicara. 


"Bagaimana Anda bisa sesantai itu dalam berucap, Selir Agung Cordyline Macrousa?" Phyron menatap tajam Selir Agung dengan tangan terkepal, "Ini bukan hanya persoalan tanggungjawab Putri Sirena, melainkan keselamatan rakyat Aibek! Dimana otak Anda?"


Selir Agung Cordyline terkejut dengan ucapan Phyron, tangannya memegang dadanya. Sedangkan Raja Monachus merangkul istri keduanya itu mencoba menguatkan. Raja kemudian menatap tak enak pada Phyron.


"Tenangkan diri Anda, Pangeran Phyron. Saya akan bertindak untuk kejadian ini demi menolong rakyat." Raja kemudian menatap Falco dan Elanus bergantian, "Falco, periksalah keadaan desa Aibek saat ini, jangan lupa membawa legion istimewa serta Sirakusa untuk menemanimu. Dan kau, Elanus, segeralah mempersiapkan bala bantuan untuk rakyat atas kekacauan yang dibuat oleh para monster."


Nervilia duduk cemas ditempatnya, dia merasa khawatir dengan Sirena. Dia hanya takut Sirena terluka parah, bagaimanapun Sirena masihlah sama, lemah dan tak memiliki sihir murni untuk melindungi diri.


Tepat setelah kepergian Elanus, Adelphie datang dengan langkah tergesa-gesa. Adelphie memberi hormat kepada Raja terlebih dahulu.


"Putri Sirena sudah berada di Manor, namun dalam kondisi terluka parah, Yang Mulia ..." Adelphie melirik ke arah Agda yang menatapnya terkejut.


Mendengar ucapan Adelphie, Phyron bergegas menuju Manor Chysanthemum tanpa menunggu Raja Monachus.


Raja Monachus beserta yang lain bergegas menuju Manor.


...-ˋˏ ༻❁༺ ˎˊ-...


Athanaxius tak menyangka, jalan-jalan mencari angin akan membawanya ke tempat dimana Sirena dalam bahaya. Dan Athanaxius juga bingung, mengapa dia harus sepeduli itu pada nyawa Sirena.


Seperti saat ini, dia tengah mengerahkan seluruh kekuatan sihir penyembuhnya untuk menutup luka Sirena yang menganga dan terus mengeluarkan darah.


"Kau harus hidup! Aku bahkan belum mengajukan imbalan kedua untukmu!" gumam Athanaxius saat melihat tubuh Sirena tak ada tanda-tanda merespon sihir penyembuh miliknya seperti yang sudah-sudah.


BRAK


Pintu kamar Sirena dibuka kasar oleh Phyron yang mematung melihat kondisi Sirena. Bukan hanya Phyron, tetapi Raja dan saudara-saudara Sirena yang lain.


Elanus, Falco, dan Sirakusa yang tadinya hendak pergi justru berbalik arah untuk melihat kondisi Sirena. Dan mereka sama terkejutnya melihat betapa parahnya Sirena saat ini.


"Jangan kemari bila hanya ingin menonton." Sindiran dari Athanaxius membuat mereka sadar akan hadirnya. Sirakusa pun maju, lalu ikut menyalurkan sihir penyembuh untuk Sirena.



"Mengapa kau bisa ada disini?" Tanya Sirakusa disela-sela penyembuhan.


"Apa aku harus menjawab pertanyaanmu?"


Athanaxius menghentikan sihir penyembuhnya karena kelelahan. Tak lama, Sirakusa pun juga begitu. Mereka saling pandang untuk sesaat.


"Mengapa berhenti?" Tanya Phyron cemas.


"Tubuhnya tak merespon sihir penyembuh yang kami salurkan dan kondisinya akan semakin parah bila lukanya tak menutup. Luka yang diderita oleh Sirena setara dengan tertusuk pedang dari punggung hingga tembus ke perut." Jelas Sirakusa.


"Tidak adakah cara lain untuk menahan pendarahannya hingga farmos Sentrasenda datang?" Raja Monachus menatap Sirena dengan pandangan yang sulit diartikan. Dia kemudian menoleh ke belakang, menatap Falco juga Elanus, "Mengapa kalian masih disini? Segeralah jemput Sentrasenda agar segera sampai kemari! Nyawa Sirena dalam bahaya!" Tanpa sadar Raja membentak kedua anaknya itu.


"Ada."


Semua orang menatap sosok Athanaxius yang pandangannya terus tertuju kepada Sirena.


Athanaxius melangkahkan kakinya mendekati ranjang. Dia kemudian naik ke atas ranjang. Tangannya dia gunakan untuk mengangkat tubuh Sirena. Dia berposisi di belakang Sirena. Hal yang dia lakukan seperti sebelumnya saat menyembuhkan Sirena. Tadinya dia mengira Sirena akan merespon sihir penyembuh miliknya meskipun dia tak menyentuh Sirena. Namun karena melihat kondisi Sirena, dia harus menyentuh atau lebih tepat mendekapnya erat dari belakang.


Kepala Sirena dia sandarkan pada bahu lebarnya. Sedangkan kedua matanya mulai menutup untuk memfokuskan kekuatan sihir penyembuhnya.


"Sirakusa, salurkan sihir penyembuh milikmu bersamaan denganku." Athanaxius mulai menyalurkan sihir penyembuh miliknya. Karena dua sihir penyembuh itu, kamar Sirena begitu terang dengan warna hijau, warna sihir penyembuh.


Setengah jam sudah berlalu, Sirakusa sudah kelelahan untuk menolong Sirena, bahkan Sentrasenda yang turut serta menyalurkan sihir penyembuh miliknya juga sudah kelelahan. Namun tubuh Sirena tak ada tanda-tanda merespon sihir penyembuh. Semuanya memandang ngeri ke arah kasur putih yang sudah memerah akibat darah dari Sirena yang tak kunjung berhenti.


'Apa kau sudah menyerah, Sirena? Apa sampai disini saja batas kemampuan bertahanmu?' Batin Sirakusa yang benar-benar sudah kelelahan untuk menyalurkan sihir penyembuh miliknya.


Berbeda dengan Athanaxius. Lelaki itu terus mengalirkan sihir penyembuh miliknya meskipun dia tahu detak jantung Sirena sudah mulai melemah.


"Hiks ... Sirena ... A-apa dia akan s-selamat?" Agda menangis di pelukan Adelphie yang juga menangis.


"D-dia p-pasti selamat!" Adelphie benar-benar yakin kalau Sirena pasti selamat.


Suasana di kamar Sirena saat ini sangatlah menegangkan, dimana sang pemilik kamar nyawanya berada diujung tanduk.



Athanaxius mendekatkan bibirnya ke telinga Sirena, "Kembalilah, Sirena! Masih banyak alasan untukmu bertahan hidup. Apa kau akan menyerah setelah berkali-kali akan mati?" Suara bisikan terdengar pelan di telinga semua orang.


Athanaxius sudah merasakan kelelahan. Bila dia terus memaksakan diri, kondisi kesehatannya akan menurun drastis.


"Masih ada kesempatan, Sirena. Kembalilah! Apa kau mendengar suaraku?"


Perlahan, Athanaxius bisa mendengar detak jantung Sirena yang sudah normal kembali, tak seperti tadi. Athanaxius tersenyum tipis, "Bagus! Kau harus bertahan demi dirimu sendiri."  'Dan aku.' sambung Athanaxius dalam hati.


Melihat Sirena yang sudah merespon sihir penyembuh. Sirakusa dan Sentrasenda kembali menyalurkan sihir penyembuh untuk mempercepat pemberhentian pendarahan di perut Sirena.


Setelah pendarahan itu berhenti dan wajah Sirena tak sepucat mayat seperti tadi, Athanaxius kembali membaringkan tubuh Sirena. Dia beranjak dari tempat tidur untuk membiarkan Sentrasenda menjalankan tugasnya.


"M-mama hiks ..." Racau Sirena yang sudah melewati masa kritisnya.


...•───────•°•❀•°•───────•...


Terimakasih sudah membaca.


Ini cerita kedua saya, mohon dukungannya ya:)


Saya menerima kritik dan saran.  Apakah cerita ini menarik?